Menikmati Perbedaan Membuang Fanatisme Sempit
Desember 14, 2007 at 6:36 pm | In Agama, Artikel, Islam, Komunikasi, Pendidikan, Pesantren Pondok Iqra' | 12 CommentsSebelumnya mohon maaf, postingan ini miskin dalil karena saya fakir dalil. Postingan ini lebih sebagai bahan perenungan untuk kita yang masih gemar bertengkar, saling memaki, saling mengkafirkan, saling membid’ahkan bahkan unjuk kekerasan dengan orang lain yang kita anggap “berbeda”.
Bahwa perbedaan itu sunnatullah dan manusia hidup dalam keriuhan perbedaan, semua orang telah tahu. Namun, bahwa manusia bisa menghargai dan menerima perbedaan? Nah, yang terakhir ini banyak orang yang tidak mampu atau pura-pura kurang memahaminya.
Padahal, kita sendiri lahir dan besar dalam atmosfir perbedaan. Ayah dan ibu kita jelas saling berbeda: jenis kelamin, watak, emosi, perilaku, hobi, dan lain-lain. Lalu, semua perbedaan keduanya berkumpul di dalam diri kita. Sehingga kalau kita marah ada orang berkata, “kamu mirip ayahmu“. Ketika sedang tertawa terkadang orang berkata, “senyummu itu mengingatkanku pada ibumu“.
Oleh karena itu sungguh aneh, bila ternyata banyak orang yang tidak mampu menghargai perbedaan dan tidak mau menerimanya. Betapa banyak orang yang menderita dan mengalami kepahitan hidup karena hal tersebut.
Fanatisme Sempit
Mengapa orang tidak bisa menerima dan menghargai perbedaan? Salah satu sebabnya adalah sempitnya ilmu dan pengetahuan. Sehingga seseorang melihat lalu menghakimi orang lain berdasarkan keterbatasan ilmu yang dimilikinya. Selain sempitnya ilmu dan wawasan, yang paling berbahaya -dan menjadi sebab utama orang tidak menghargai serta menerima perbedaan- adalah kuatnya sikap fanatisme.
Fanatisme adalah satu keyakinan merasa diri atau pendapatnya paling benar, sehingga ketika melihat orang lain tidak sesuai dengan pendapatnya, ia akan menganggapnya sebagai orang yang salah dan keliru. Sebenarnya menganggap orang lain salah dan keliru bukanlah hal yang terlalu buruk, selama kita tidak menganggap orang yang salah dan keliru itu sebagai musuh. Celakanya, orang fanatik biasanya akan menganggap orang yang salah atau keliru sebagai musuh yang halal darahnya dan tidak lagi dianggap sebagai manusia yang memiliki hak asasi.
Saya masih ingat ketika dalam sebuah kesempatan pengajian harian, guru di pesantren mengajarkan bahwa orang yang tidak wudlu tidak boleh menyentuh Al-Qur’an. Alasannya, firman Allah, “Al-Qur’an tidak disentuh kecuali oleh orang-orang suci“. Ketika kemudian mendiskusikannya bersama teman-teman di kobong (kamar santri di asrama), ternyata seorang teman tidak sependapat. Katanya, orang-orang suci dalam ayat itu artinya umat Islam. Jadi, orang Islam baik memiliki wudlu atau tidak boleh menyentuhnya. Kata teman yang lain lagi, maksud orang-orang suci itu adalah para malaikat, karena hanya malaikat yang suci dari dosa. Semakin lama berdiskusi semakin banyak pendapat yang mengemuka, tentu saja masing-masing yang mengemukakan pendapatnya menyertakan argumentasi berdasarkan ulumul quran, ulumul hadist, ilmu alat dan sebagainya.
Pada suatu kesempatan Rasulullah pernah menyatakan bahwa Islam akan hancur karena umara (penguasa) dan fuqaha (ahli fiqh) yang kurang ilmu dan tidak bijak. Lalu apakah orang berilmu dan berwawasan luas serta merta bisa menerima dan menghargai perbedaan? Belum tentu juga. Mungkin kita pernah bertemu sejumlah kyai atau dosen yang tidak suka bahkan boleh jadi sangat benci jika ada santri atau mahasiswanya berani mempertanyakan, mendebat dan membantah pendapatnya. Padahal semua orang tahu mereka memiliki segudang ilmu.
Ketidaksiapan menerima pendapat yang berbeda dari orang lain biasanya berasal dari fanatisme sempit. Bila diselidiki lebih lanjut, fanatisme itu sendiri muncul dari sifat egosentris yang berlebihan, dalam istilah akhlak dinamakan sebagai sifat ananiyah. Pada akhirnya, sifat ini hanya akan mengarahkan kita pada keangkuhan yang membawa bencana -jangan lupa bahwa Allah mengutuk siapa saja yang berjalan di muka bumi ini dengan penuh keangkuhan-.
Orang yang awam tapi tidak memiliki sifat fanatik, masih mungkin untuk menerima perbedaan. Lain halnya dengan orang fanatik, sekalipun ia berilmu. Bagi siapapun yang berbeda pendapat dengannya, tidak tanggung-tanggung label yang meluncur keluar dari mulutnya : ingkar sunnah, bid’ah, sesat, kafir, musyrik, dan sebagainya.
Orang buta dan Gajah
Barangkali pembaca masih ingat kisah 3 orang buta dengan seekor gajah. Konon, salah seorang dari mereka mengajak yang lain untuk mengenali bentuk gajah. Orang buta pertama maju dan memegang kaki gajah. Dia bilang, “gajah itu bulat dan keras seperti batang pohon”. Orang kedua maju dan memegang belalainya. Dia sampaikan, “gajah itu bulat dan panjang seperti ular”. Lalu, orang ketiga maju dan memegang kupingnya. Ia berteriak, “gajah itu tipis seperti kipas!”
Tentu saja, bagi orang kebanyakan ketiga pandangan mereka itu ‘keliru’ (sebenarnya lebih tepat bila disebut tidak lengkap). Hanya saja, haruskah mereka disalahkan? Kita hanya harus memaklumi karena sebatas itulah kemampuan mereka untuk melakukan exposure (persentuhan atau perkenalan). Jika saja mereka bisa melihat, tentu pendapat mereka tidak seperti itu. Akan tetapi, bayangkan bila 3 orang buta itu kemudian duduk bersama dan mendiskusikan temuan masing-masing dalam suasana keterbukaan. Saya yakin akhirnya mereka sanggup mendeskripsikan bentuk gajah secara tepat. Justeru dengan adanya perbedaaan persepsi, ilmu dan pengetahuan akan terus berkembang.
Mencontoh Pasar dan Pedagang
Ironisnya, perbedaan justeru paling sering dipermasalahkan di bait Allah dan forum-forum agama. Sedemikian kerasnya resistensi terhadap perbedaan, hingga samasekali mengabaikan nilai-nilai akhlaqulkarimah yang sebenarnya merupakan ciri Islam.
Di Pakistan, pernah terjadi seorang jemaah yang telunjuknya dipatahkan hanya karena Ketua Dewan Masjid meyakini bahwa menggerakkan telunjuk diwaktu tasyahud itu bid’ah. Bahkan pernah, orang yang berdoa di hadapan makam nabi di mesjid Nabawi Madinah, babak belur dipukuli oleh ‘Asykar’ setempat. Bila bait Allah yang notabene adalah suaka perlindungan semua umat tidak bisa menjamin keselamatan seseorang yang kebetulan berbeda, lalu kemana lagi kita berpaling mencari jawaban?
Konon, tempat yang paling bisa menerima perbedaan adalah pasar, dan orangnya adalah pedagang. Di pasar, semua orang tumpah ruah. Jenis kelamin, agama, organisasi, bangsa apapun bisa saling bertemu dan akrab. Para pedagang juga tidak pernah memilah antara uang suku ini atau suku itu. Mereka juga tidak pernah bertanya lebih dulu tentang identitas pembelinya. Kita tidak pernah mendengar seorang pedagang berkata, “saya enggak terima uang dari penyanyi dangdut!” (Mungkinkah ini sebabnya Allah membuka pintu rizqi paling banyak di sektor perdagangan?). Dalam sebuah hadist dikabarkan bahwa Rasulullah berkata, “Allah membuka 20 pintu rizqi dan 19 di antaranya dari perdagangan”.
Semua itu terjadi karena semua agent (pelaku) pasar menempatkan tujuan yang lebih besar dalam skala prioritasnya, yaitu memperoleh laba (pedagang) dan memperoleh barang yang dibutuhkan (pembeli). Hal-hal lain di luar itu tidak dianggap sebagai sesuatu yang penting. Tidak pernah saya menemukan pedagang dan pembeli berkelahi karena tidak sepakat dalam menentukan harga. Bila harga memang tidak bisa cocok, berarti tidak ada transaksi dan masing-masing akan berlalu dengan urusannya masing-masing.
Mengapa kita tidak bisa menerapkan cara yang sama di bait Allah? Marilah kita mulai menempatkan kita pada tujuan yang lebih besar dalam skala prioritas kita. Islam diturunkan kepada umat manusia dengan tujuan menebarkan rahmat keselamatan dan kedamaian ke seluruh penjuru bumi. Ini berarti, selain dari itu tidaklah penting artinya. Ketidaksukaan kita kepada praktek-praktek ibadah tertentu tidak perlu memancing perdebatan “berdarah-darah”. Perbedaan latar belakang seseorang tidak sepantasnya menghilangkan akses orang itu terhadap bait Allah. Kenyataan yang terjadi, mesjid-mesjid seringkali diberi label organisasi-organisasi atau mazhab-mazhab tertentu yang menghalangi akses orang luar. Dalam kasus-kasus ekstrim, sepetak kecil lantai bekas shalat orang luar itu sampai perlu dipel!
Orang memang mudah melupakan tujuan yang lebih besar dan sibuk dengan hal-hal remeh. Tujuan mesjid didirikan jelas bukan untuk prestise, tetapi dengan tujuan memakmurkannya. Ia menjadi makmur dengan ibadah yang dilaksanakan di dalamnya. Mengapa perlu memberi label pada mesjid bila kita Lillahi ta’ala memperuntukannya sebagai bait Allah? Bukankah arti kata wakaf adalah terputus? Artinya, hak seseorang untuk mengklaim sesuatu sebagai miliknya menjadi terputus ketika ia mewakafkan asetnya (tanah, bangunan, uang) untuk Allah. Jadi, pantaskah bila menyebut satu mesjid sebagai mesjidnya anu, atau masjid apa?
Mari kita mengingat kembali hadist Rasulullah, “Perbedaan di kalangan ummatku adalah rahmat”. Tidak layak bukan, bila rahmat tidak disyukuri? Alih-alih, kita malah menolaknya sambil berharap macam-macam perbedaan itu hilang.
Akhir kata, sebenarnya kita telah menemukan penyebab umat Islam selalu menjadi umat yang terpuruk kondisinya. Ingat, Allah telah wanti-wanti memperingatkan apa yang terjadi bila kita kufur terhadap nikmat-nya. Wallahu a’lam.
& Komentar »
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik
Tinggalkan komentar
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.
salam kenal. makalahnya cukup bagus.
Komentar oleh iwan — Desember 8, 2007 #
Bukan bagus lagi mas Iwan… makalah ini layak masuk ke ruang referensi… belum pernah saya temui bahasan klasik ini dikemas menarik… mungkin karena pakar komunikan kali yaa.
*****
Tentang menulis, saya kira sampean sudah enak sekali. Cuma masalahnya kok ada beban yaa.. ah cuek saja lama2 juga ilang… itulah yang saya lakukan. Say atak punya teori hanya satu teorinya:
Belajar menulis dengan menulis… mungkin itulah yang membuat saya tidak punya beban… maksud gak punya beban bukan berarti muatan materinya kan? kalau muatan materi pasti ada beban lah.. karena itukan terkait dengan tanggung jawab.
Komentar oleh kurtubi — Desember 9, 2007 #
Wah, mantap gini artikelnya pak. Semoga kita semakin arif memperlakukan perbedaan.
Komentar oleh danalingga — Desember 9, 2007 #
@ iwan
terima kasih kunjungannya mas iwan, moga-moga sehat selalu ya
@ kurtubi
Wah-wah-wah… kelebihan muji nih Kyai Kurt. Saya bukan pakar komunikasi lho kyai. Terima kasih nasehatnya tentang “kiat menulis”. Saya fikir, memang benar seperti apa yang dibilang mas Kurt. Kalau mau belajar menulis, ya harus menulis.
@ danalingga
Halo mas danalingga, gimana kabar Gus Dur Alaihissalam, hehehe.Ya, sekalipun kontennya sudah agak basi dan banyak yang bicara soal menghargai perbedaan, tapi dalam prakteknya kita masih harus terus belajar menghargai perbedaan. Terus berjuang mengkampanyekan “Menikmati Perbedaan Membuang Fanatisme Sempit” ya mas danalingga.
@ Cahya Rahma Dewi
Lho, saya emang beneran gak tahu banyak dalil alias fakir dalil. Bukan “meminimalkan dalil” seperti yang Mbak kira, saya nulis seadanya aja seperti kata Kyai Kurt hehehe….
Komentar oleh Ram-Ram Muhammad — Desember 10, 2007 #
Artikel yang bagus pak …
Dalam hal menyikapi perbedaan ini saya memandang ada 2 kubu ekstrim :
Kubu [1] : Perbedaan apa pun itu, apa pun itu, apa pun itu…, kita bebas sebebas2nya berkreasi, no problem.
Kubu [2] : Tidak boleh berbeda sama sekali, sedikit saja, langsung meminggirkan orang yg berbeda tersebut. Cara memingirkannya ini juga berbeda2 …
Adakah kita harus memilih jalur 1 atau adakah posisi tengah dalam hal ini ?
Mohon pencerahannya …
Komentar oleh Herianto — Desember 11, 2007 #
Sebagian ummat ini memang cendrung bersikap emosional dalam menyikapi perbedaan sehingga memuncul aksi2 kekerasan secara fisik. (fenomena lemahnya ke-arif-an)
Di sisi lain munculnya pemahaman2 yang menyimpang dari prinsip dasar keyakinan Islam juga harus disikapi, bukan didiamkan… (fenomena perlunya menjaga aspek yg fundamental dalam agama).
Di satu sisi ada alasan untuk ber-setuju dengan MUI masalah fatwa sesat, tetapi di sisi lain argumen bahwa fatwa sesat tersebut telah melecut emosional dan aksi kekerasan sebagian ummat, juga membuat kita miris.
Lagi2, adakah tawazzun dalam hal dilemma ini ?
#Kbanyakan nanya… boleh ya Kyai …
Komentar oleh Herianto — Desember 11, 2007 #
Yup, memang begitu adanya mas Her. Ada satu hal paling mendasar yang sering kita lupakan sebagai seorang muslim. Islam adalah agama “Tawassuth”, agama pertengahan. Makna tawassuth secara luas adalah menempatkan segala sesuatu secara proporsional, tidak terlalu ekstrem ke kanan atau ke kiri. Tawassuth juga berpadanan dengan kata Adil. Nilai inilah yang sangat ditekankan dalam ajaran Islam.
Allah dan Rasul-Nya mengajarkan agar kita senantiasa bersikap “pertengahan” dan “seimbang”, baik dalam ibadah maupun muamalat. Allah mencela manusia yang menenggelamkan dirinya dalam persoalan akhirat sampai melupakan hal-hal duniawi. Sebaliknya, Allah juga mencela manusia yang sibuk memuaskan hasrat duniawi sampai melalaikan urusan akhiratnya. Manusia yang dipandang paling baik adalah yang menggapai keduanya, dunia dan akhirat.
Sikap tawassuth ini pula yang diperlukan oleh kita dalam menyikapi persoalan perbedaan dan fenomena munculnya aliran-aliran sempalan dalam Islam. Mempertahankan nilai-nilai ajaran fundamental Islam adalah sebuah keharusan, sehingga ketika muncul penyimpangan-penyimpangan dalam syariat maka setiap muslim memiliki tanggungjawab untuk meluruskannya. Sayangnya seringkali tindakan yang dilakukan berujung pada tindakan kekerasan, yang notabene bertolak belakang dengan ajaran Islam itu sendiri.
MUI selain mengeluarkan fatwa sesat, seharusnya secara bersamaan mengeluarkan fatwa mengenai keharaman melakukan tindakan main hakim sendiri, atau paling tidak berupa seruan keras melarang masyarakat untuk melakukan kekerasan terhadap kelompok atau aliran yang difatwa sesat.
MUI terkesan seperti melempar batu sembunyi tangan. Sebagai sebuah lembaga yang menaungi para ulama, MUI selayaknya berada pada posisi pengayom, bukan provokator “halus”.
Komentar oleh Ram-Ram Muhammad — Desember 11, 2007 #
salam kenal kang Ram….
menurut saya perbedaan itu adalah salah satu anugerah dari Allah…
tinggal manusianya, apakah perbedaan itu mau dijadikan suatu kekuatan atau kelemahan…
mudah2an dengan banyaknya tulisan dan diskusi seperti ini, “mimpi” umat Islam menjadi umat yang satu menjadi kenyataan…
Komentar oleh eevooi — Desember 14, 2007 #
salam kenal,
saya Husni. alumni darussalam angkatan 2001. membaca tulisan kang ram ram, saya jadi optimis masa depan Islam. malah saya mengangap di tubuh MUI butuh orang semacam kang Ram ram ini. MUI sudah terkesan bukan institusi agama. ia malah tampil sebagai institusi politik. ada hasrat kekeuasaan dan kepentingan di dalam-nya.
lebih-lebih kejadian monas berdarah, baru-baru ini. MUI tidak bersikap sebagaimana seharusnya ulama untuk menanggapi kekerasan yang dilakukan FPI. ya, minimal komentar mengutuk kekerasanya. seakan MUI mengamini kekerasan itu.
mudah-mudahan suatu hari, ketua MUI dipimpin oleh se-arif kang ram ram. amin
Komentar oleh husni — Juni 16, 2008 #
Dunia Islam butuh lebih banyak pemikiran seperti ini.
Komentar oleh Toga — Agustus 1, 2008 #
yang penting kita gukup menghormati perbedaannya
Komentar oleh bodoh — November 11, 2008 #
yang penting kita hornati atas perbedaan tersebut
Komentar oleh bodoh — November 11, 2008 #