<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Menikmati Perbedaan Membuang Fanatisme Sempit</title>
	<atom:link href="http://aulahikmah.wordpress.com/2007/12/14/menikmati-perbedaan-membuang-fanatisme-sempit/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aulahikmah.wordpress.com/2007/12/14/menikmati-perbedaan-membuang-fanatisme-sempit/</link>
	<description>Jembatan Kecil Menuju Generasi Qurani Berwawasan Kebangsaan</description>
	<lastBuildDate>Mon, 16 Nov 2009 01:33:56 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: bodoh</title>
		<link>http://aulahikmah.wordpress.com/2007/12/14/menikmati-perbedaan-membuang-fanatisme-sempit/#comment-835</link>
		<dc:creator>bodoh</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Nov 2008 22:36:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://aulahikmah.wordpress.com/2007/12/14/menikmati-perbedaan-membuang-fanatisme-sempit/#comment-835</guid>
		<description>yang penting kita hornati atas perbedaan tersebut</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>yang penting kita hornati atas perbedaan tersebut</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: bodoh</title>
		<link>http://aulahikmah.wordpress.com/2007/12/14/menikmati-perbedaan-membuang-fanatisme-sempit/#comment-834</link>
		<dc:creator>bodoh</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Nov 2008 22:34:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://aulahikmah.wordpress.com/2007/12/14/menikmati-perbedaan-membuang-fanatisme-sempit/#comment-834</guid>
		<description>yang penting kita gukup menghormati perbedaannya</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>yang penting kita gukup menghormati perbedaannya</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Toga</title>
		<link>http://aulahikmah.wordpress.com/2007/12/14/menikmati-perbedaan-membuang-fanatisme-sempit/#comment-781</link>
		<dc:creator>Toga</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 01 Aug 2008 08:38:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://aulahikmah.wordpress.com/2007/12/14/menikmati-perbedaan-membuang-fanatisme-sempit/#comment-781</guid>
		<description>Dunia Islam butuh lebih banyak pemikiran seperti ini.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dunia Islam butuh lebih banyak pemikiran seperti ini.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: husni</title>
		<link>http://aulahikmah.wordpress.com/2007/12/14/menikmati-perbedaan-membuang-fanatisme-sempit/#comment-765</link>
		<dc:creator>husni</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 Jun 2008 08:39:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://aulahikmah.wordpress.com/2007/12/14/menikmati-perbedaan-membuang-fanatisme-sempit/#comment-765</guid>
		<description>salam kenal,
saya Husni. alumni darussalam angkatan 2001. membaca tulisan kang ram ram, saya jadi optimis masa depan Islam. malah saya mengangap di tubuh MUI butuh orang semacam kang Ram ram ini. MUI sudah terkesan bukan institusi agama. ia malah tampil sebagai institusi politik. ada hasrat kekeuasaan dan kepentingan di dalam-nya.
lebih-lebih kejadian monas berdarah, baru-baru ini. MUI tidak bersikap sebagaimana seharusnya ulama untuk menanggapi kekerasan yang dilakukan FPI. ya, minimal komentar mengutuk kekerasanya. seakan MUI mengamini kekerasan itu.
mudah-mudahan suatu hari, ketua MUI dipimpin oleh se-arif kang ram ram. amin</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>salam kenal,<br />
saya Husni. alumni darussalam angkatan 2001. membaca tulisan kang ram ram, saya jadi optimis masa depan Islam. malah saya mengangap di tubuh MUI butuh orang semacam kang Ram ram ini. MUI sudah terkesan bukan institusi agama. ia malah tampil sebagai institusi politik. ada hasrat kekeuasaan dan kepentingan di dalam-nya.<br />
lebih-lebih kejadian monas berdarah, baru-baru ini. MUI tidak bersikap sebagaimana seharusnya ulama untuk menanggapi kekerasan yang dilakukan FPI. ya, minimal komentar mengutuk kekerasanya. seakan MUI mengamini kekerasan itu.<br />
mudah-mudahan suatu hari, ketua MUI dipimpin oleh se-arif kang ram ram. amin</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: eevooi</title>
		<link>http://aulahikmah.wordpress.com/2007/12/14/menikmati-perbedaan-membuang-fanatisme-sempit/#comment-114</link>
		<dc:creator>eevooi</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 14 Dec 2007 21:39:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://aulahikmah.wordpress.com/2007/12/14/menikmati-perbedaan-membuang-fanatisme-sempit/#comment-114</guid>
		<description>salam kenal kang Ram....
menurut saya perbedaan itu adalah salah satu anugerah dari Allah...
tinggal manusianya, apakah perbedaan itu mau dijadikan suatu kekuatan atau kelemahan...
mudah2an dengan banyaknya tulisan dan diskusi seperti ini, &quot;mimpi&quot; umat Islam menjadi umat yang satu menjadi kenyataan...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>salam kenal kang Ram&#8230;.<br />
menurut saya perbedaan itu adalah salah satu anugerah dari Allah&#8230;<br />
tinggal manusianya, apakah perbedaan itu mau dijadikan suatu kekuatan atau kelemahan&#8230;<br />
mudah2an dengan banyaknya tulisan dan diskusi seperti ini, &#8220;mimpi&#8221; umat Islam menjadi umat yang satu menjadi kenyataan&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Ram-Ram Muhammad</title>
		<link>http://aulahikmah.wordpress.com/2007/12/14/menikmati-perbedaan-membuang-fanatisme-sempit/#comment-53</link>
		<dc:creator>Ram-Ram Muhammad</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Dec 2007 05:16:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://aulahikmah.wordpress.com/2007/12/14/menikmati-perbedaan-membuang-fanatisme-sempit/#comment-53</guid>
		<description>Yup, memang begitu adanya mas Her. Ada satu hal paling mendasar yang sering kita lupakan sebagai seorang muslim. Islam adalah agama &quot;Tawassuth&quot;, agama pertengahan. Makna tawassuth secara luas adalah menempatkan segala sesuatu secara proporsional, tidak terlalu ekstrem ke kanan atau ke kiri. Tawassuth juga berpadanan dengan kata Adil. Nilai inilah yang sangat ditekankan dalam ajaran Islam. 

Allah dan Rasul-Nya mengajarkan agar kita senantiasa bersikap &quot;pertengahan&quot; dan &quot;seimbang&quot;, baik dalam ibadah maupun muamalat. Allah mencela manusia yang menenggelamkan dirinya dalam persoalan akhirat sampai melupakan hal-hal duniawi. Sebaliknya, Allah juga mencela manusia yang sibuk memuaskan hasrat duniawi sampai melalaikan urusan akhiratnya. Manusia yang dipandang paling baik adalah yang menggapai keduanya, dunia dan akhirat. 

Sikap tawassuth ini pula yang diperlukan oleh kita dalam menyikapi persoalan perbedaan dan fenomena munculnya aliran-aliran sempalan dalam Islam. Mempertahankan nilai-nilai ajaran fundamental Islam adalah sebuah keharusan, sehingga ketika muncul penyimpangan-penyimpangan dalam syariat maka setiap muslim memiliki tanggungjawab untuk meluruskannya. Sayangnya seringkali tindakan yang dilakukan berujung pada tindakan kekerasan, yang notabene bertolak belakang dengan ajaran Islam itu sendiri. 

MUI selain mengeluarkan fatwa sesat, seharusnya secara bersamaan mengeluarkan fatwa mengenai keharaman melakukan tindakan main hakim sendiri, atau paling tidak berupa seruan keras melarang masyarakat untuk melakukan kekerasan terhadap kelompok atau aliran yang difatwa sesat. 

MUI terkesan seperti melempar batu sembunyi tangan. Sebagai sebuah lembaga yang menaungi para ulama, MUI selayaknya berada pada posisi pengayom, bukan provokator &quot;halus&quot;.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Yup, memang begitu adanya mas Her. Ada satu hal paling mendasar yang sering kita lupakan sebagai seorang muslim. Islam adalah agama &#8220;Tawassuth&#8221;, agama pertengahan. Makna tawassuth secara luas adalah menempatkan segala sesuatu secara proporsional, tidak terlalu ekstrem ke kanan atau ke kiri. Tawassuth juga berpadanan dengan kata Adil. Nilai inilah yang sangat ditekankan dalam ajaran Islam. </p>
<p>Allah dan Rasul-Nya mengajarkan agar kita senantiasa bersikap &#8220;pertengahan&#8221; dan &#8220;seimbang&#8221;, baik dalam ibadah maupun muamalat. Allah mencela manusia yang menenggelamkan dirinya dalam persoalan akhirat sampai melupakan hal-hal duniawi. Sebaliknya, Allah juga mencela manusia yang sibuk memuaskan hasrat duniawi sampai melalaikan urusan akhiratnya. Manusia yang dipandang paling baik adalah yang menggapai keduanya, dunia dan akhirat. </p>
<p>Sikap tawassuth ini pula yang diperlukan oleh kita dalam menyikapi persoalan perbedaan dan fenomena munculnya aliran-aliran sempalan dalam Islam. Mempertahankan nilai-nilai ajaran fundamental Islam adalah sebuah keharusan, sehingga ketika muncul penyimpangan-penyimpangan dalam syariat maka setiap muslim memiliki tanggungjawab untuk meluruskannya. Sayangnya seringkali tindakan yang dilakukan berujung pada tindakan kekerasan, yang notabene bertolak belakang dengan ajaran Islam itu sendiri. </p>
<p>MUI selain mengeluarkan fatwa sesat, seharusnya secara bersamaan mengeluarkan fatwa mengenai keharaman melakukan tindakan main hakim sendiri, atau paling tidak berupa seruan keras melarang masyarakat untuk melakukan kekerasan terhadap kelompok atau aliran yang difatwa sesat. </p>
<p>MUI terkesan seperti melempar batu sembunyi tangan. Sebagai sebuah lembaga yang menaungi para ulama, MUI selayaknya berada pada posisi pengayom, bukan provokator &#8220;halus&#8221;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Herianto</title>
		<link>http://aulahikmah.wordpress.com/2007/12/14/menikmati-perbedaan-membuang-fanatisme-sempit/#comment-52</link>
		<dc:creator>Herianto</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Dec 2007 04:49:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://aulahikmah.wordpress.com/2007/12/14/menikmati-perbedaan-membuang-fanatisme-sempit/#comment-52</guid>
		<description>Sebagian ummat ini memang cendrung bersikap emosional dalam menyikapi perbedaan sehingga memuncul aksi2 kekerasan secara fisik. (fenomena lemahnya ke-arif-an)
Di sisi lain munculnya pemahaman2 yang menyimpang dari prinsip dasar keyakinan Islam juga harus disikapi, bukan didiamkan... (fenomena perlunya menjaga aspek yg fundamental dalam agama).
Di satu sisi ada alasan untuk ber-setuju dengan MUI masalah fatwa sesat, tetapi di sisi lain argumen bahwa fatwa sesat tersebut telah melecut emosional dan aksi kekerasan sebagian ummat, juga membuat kita miris. :(
Lagi2, adakah tawazzun dalam hal dilemma ini ?

#Kbanyakan nanya... boleh ya Kyai ... :D</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagian ummat ini memang cendrung bersikap emosional dalam menyikapi perbedaan sehingga memuncul aksi2 kekerasan secara fisik. (fenomena lemahnya ke-arif-an)<br />
Di sisi lain munculnya pemahaman2 yang menyimpang dari prinsip dasar keyakinan Islam juga harus disikapi, bukan didiamkan&#8230; (fenomena perlunya menjaga aspek yg fundamental dalam agama).<br />
Di satu sisi ada alasan untuk ber-setuju dengan MUI masalah fatwa sesat, tetapi di sisi lain argumen bahwa fatwa sesat tersebut telah melecut emosional dan aksi kekerasan sebagian ummat, juga membuat kita miris. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /><br />
Lagi2, adakah tawazzun dalam hal dilemma ini ?</p>
<p>#Kbanyakan nanya&#8230; boleh ya Kyai &#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Herianto</title>
		<link>http://aulahikmah.wordpress.com/2007/12/14/menikmati-perbedaan-membuang-fanatisme-sempit/#comment-51</link>
		<dc:creator>Herianto</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Dec 2007 03:08:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://aulahikmah.wordpress.com/2007/12/14/menikmati-perbedaan-membuang-fanatisme-sempit/#comment-51</guid>
		<description>Artikel yang bagus pak ...
Dalam hal menyikapi perbedaan ini saya memandang ada 2 kubu ekstrim : 
Kubu [1] : Perbedaan apa pun itu, apa pun itu, apa pun itu..., kita bebas sebebas2nya berkreasi, no problem. 
Kubu [2] : Tidak boleh berbeda sama sekali, sedikit saja, langsung meminggirkan orang yg berbeda tersebut. Cara memingirkannya ini juga berbeda2 ...

Adakah kita harus memilih jalur 1 atau adakah posisi tengah dalam hal ini ? 
Mohon pencerahannya ... :D


&lt;blockquote&gt;Pak Dosen Herianto, terimakasih sudah berkunjung. 

Saya ingat nasihat Kyai sepuh saya, Prof. Irfan Hilmi, beliau pernah menasihati saya bahwa sepatutnya seorang muslim memiliki sikap fundamentalisme dalam hal berkeyakinan, namun tetap arif dalam menyikapi perbedaan. Beliau merangkum kedua kata ini (Fundamentalisme dan arif) dalam satu kata, yakni MODERAT. Fundamentalisme di sini bukan dalam pengertian keras, namun barangkali lebih tepat disebut Istiqomah. Karakter orang yang Istiqomah adalah berpegang teguh terhadap sesuatu yang diyakini sebagai kebenaran Ilahiyyah. Jika pada suatu ketika, ia menemukan suatu pencerahan baru bahwa selama ini ternyata ada hal-hal yang keliru, salah atau kurang tepat menyangkut keyakinan dan perilakunya, maka ia akan meninggalkannya dan beralih kepada sesuatu yang dinilainya lebih benar atau lebih mendekati kebenaran. Keyakinan yang kuat merupakan salahsatu syarat tercapainya &quot;orgasme&quot; dalam beramal sebagai bentuk pengejawantahan dari nilai-nilai prinsipil yang diyakininya. Bagaimana mungkin seseorang akan dapat menikmati keikhlasan berzakat, jika ia sendiri meragukan kebenaran tentang ajaran berzakat?  

Jika boleh beranalogi, sikap fundamentalisme adalah pedang tajam, sedangkan kearifan adalah sarungnya. Setajam apapun pedang, ia tidak akan melukai siapapun terlebih orang lain selama pedang berada dalam sarungnya. Sebaliknya, pedang tanpa sarung bukan hanya bisa melukai orang lain, si empunya sendiri bisa terlukai tanpa sengaja.

Mas Her barangkali pernah melihat satu kelompok yang sering mengumbar pengkafiran, pembid&#039;ahan dan musyrik kepada &quot;kelompok&quot; lain secara membabi buta? Ia tidak sadar telah melukai orang lain, sekaligus melukai dirinya sendiri. Orang lain terluka karena dicap dengan segala label menyakitkan: kafir, bid&#039;ah, kafir dan sesat. Dirinya sendiri juga terluka, ia dimaki, diserang balik dan balik dikafirkan, dibid&#039;ahkan dan seterusnya. Masih ingat perseteruan Antosalafy dengan para Karkun? Hehehe.

Aduh, punten saya kok jadi melantur begini pad Dosen Her...

&lt;/blockquote&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Artikel yang bagus pak &#8230;<br />
Dalam hal menyikapi perbedaan ini saya memandang ada 2 kubu ekstrim :<br />
Kubu [1] : Perbedaan apa pun itu, apa pun itu, apa pun itu&#8230;, kita bebas sebebas2nya berkreasi, no problem.<br />
Kubu [2] : Tidak boleh berbeda sama sekali, sedikit saja, langsung meminggirkan orang yg berbeda tersebut. Cara memingirkannya ini juga berbeda2 &#8230;</p>
<p>Adakah kita harus memilih jalur 1 atau adakah posisi tengah dalam hal ini ?<br />
Mohon pencerahannya &#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote><p>Pak Dosen Herianto, terimakasih sudah berkunjung. </p>
<p>Saya ingat nasihat Kyai sepuh saya, Prof. Irfan Hilmi, beliau pernah menasihati saya bahwa sepatutnya seorang muslim memiliki sikap fundamentalisme dalam hal berkeyakinan, namun tetap arif dalam menyikapi perbedaan. Beliau merangkum kedua kata ini (Fundamentalisme dan arif) dalam satu kata, yakni MODERAT. Fundamentalisme di sini bukan dalam pengertian keras, namun barangkali lebih tepat disebut Istiqomah. Karakter orang yang Istiqomah adalah berpegang teguh terhadap sesuatu yang diyakini sebagai kebenaran Ilahiyyah. Jika pada suatu ketika, ia menemukan suatu pencerahan baru bahwa selama ini ternyata ada hal-hal yang keliru, salah atau kurang tepat menyangkut keyakinan dan perilakunya, maka ia akan meninggalkannya dan beralih kepada sesuatu yang dinilainya lebih benar atau lebih mendekati kebenaran. Keyakinan yang kuat merupakan salahsatu syarat tercapainya &#8220;orgasme&#8221; dalam beramal sebagai bentuk pengejawantahan dari nilai-nilai prinsipil yang diyakininya. Bagaimana mungkin seseorang akan dapat menikmati keikhlasan berzakat, jika ia sendiri meragukan kebenaran tentang ajaran berzakat?  </p>
<p>Jika boleh beranalogi, sikap fundamentalisme adalah pedang tajam, sedangkan kearifan adalah sarungnya. Setajam apapun pedang, ia tidak akan melukai siapapun terlebih orang lain selama pedang berada dalam sarungnya. Sebaliknya, pedang tanpa sarung bukan hanya bisa melukai orang lain, si empunya sendiri bisa terlukai tanpa sengaja.</p>
<p>Mas Her barangkali pernah melihat satu kelompok yang sering mengumbar pengkafiran, pembid&#8217;ahan dan musyrik kepada &#8220;kelompok&#8221; lain secara membabi buta? Ia tidak sadar telah melukai orang lain, sekaligus melukai dirinya sendiri. Orang lain terluka karena dicap dengan segala label menyakitkan: kafir, bid&#8217;ah, kafir dan sesat. Dirinya sendiri juga terluka, ia dimaki, diserang balik dan balik dikafirkan, dibid&#8217;ahkan dan seterusnya. Masih ingat perseteruan Antosalafy dengan para Karkun? Hehehe.</p>
<p>Aduh, punten saya kok jadi melantur begini pad Dosen Her&#8230;</p>
</blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Ram-Ram Muhammad</title>
		<link>http://aulahikmah.wordpress.com/2007/12/14/menikmati-perbedaan-membuang-fanatisme-sempit/#comment-48</link>
		<dc:creator>Ram-Ram Muhammad</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 Dec 2007 02:47:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://aulahikmah.wordpress.com/2007/12/14/menikmati-perbedaan-membuang-fanatisme-sempit/#comment-48</guid>
		<description>@ iwan
terima kasih kunjungannya mas iwan, moga-moga sehat selalu ya

@ kurtubi
Wah-wah-wah... kelebihan muji nih Kyai Kurt. Saya bukan pakar komunikasi lho kyai. Terima kasih nasehatnya tentang &quot;kiat menulis&quot;. Saya fikir, memang benar seperti apa yang dibilang mas Kurt. Kalau mau belajar menulis, ya harus menulis.

@ danalingga
Halo mas danalingga, gimana kabar Gus Dur Alaihissalam, hehehe.Ya, sekalipun kontennya sudah agak basi dan banyak yang bicara soal menghargai perbedaan, tapi dalam prakteknya kita masih harus terus belajar menghargai perbedaan. Terus berjuang mengkampanyekan &quot;&lt;strong&gt;Menikmati Perbedaan Membuang Fanatisme Sempit&lt;/strong&gt;&quot; ya mas danalingga.

@ Cahya Rahma Dewi
Lho, saya emang beneran gak tahu banyak dalil alias fakir dalil. Bukan &quot;meminimalkan dalil&quot; seperti yang Mbak kira, saya nulis seadanya aja seperti kata Kyai Kurt hehehe.... 8)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ iwan<br />
terima kasih kunjungannya mas iwan, moga-moga sehat selalu ya</p>
<p>@ kurtubi<br />
Wah-wah-wah&#8230; kelebihan muji nih Kyai Kurt. Saya bukan pakar komunikasi lho kyai. Terima kasih nasehatnya tentang &#8220;kiat menulis&#8221;. Saya fikir, memang benar seperti apa yang dibilang mas Kurt. Kalau mau belajar menulis, ya harus menulis.</p>
<p>@ danalingga<br />
Halo mas danalingga, gimana kabar Gus Dur Alaihissalam, hehehe.Ya, sekalipun kontennya sudah agak basi dan banyak yang bicara soal menghargai perbedaan, tapi dalam prakteknya kita masih harus terus belajar menghargai perbedaan. Terus berjuang mengkampanyekan &#8220;<strong>Menikmati Perbedaan Membuang Fanatisme Sempit</strong>&#8221; ya mas danalingga.</p>
<p>@ Cahya Rahma Dewi<br />
Lho, saya emang beneran gak tahu banyak dalil alias fakir dalil. Bukan &#8220;meminimalkan dalil&#8221; seperti yang Mbak kira, saya nulis seadanya aja seperti kata Kyai Kurt hehehe&#8230;. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: danalingga</title>
		<link>http://aulahikmah.wordpress.com/2007/12/14/menikmati-perbedaan-membuang-fanatisme-sempit/#comment-45</link>
		<dc:creator>danalingga</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 09 Dec 2007 16:51:13 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://aulahikmah.wordpress.com/2007/12/14/menikmati-perbedaan-membuang-fanatisme-sempit/#comment-45</guid>
		<description>Wah, mantap gini artikelnya pak. Semoga kita semakin arif memperlakukan perbedaan.


&lt;blockquote&gt;&lt;em&gt;Alhamdulillah, semoga kita semakin arif, bijak bestari dan kaya dengan sifat kasih sayang. &lt;/em&gt;&lt;/blockquote&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Wah, mantap gini artikelnya pak. Semoga kita semakin arif memperlakukan perbedaan.</p>
<blockquote><p><em>Alhamdulillah, semoga kita semakin arif, bijak bestari dan kaya dengan sifat kasih sayang. </em></p></blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: kurtubi</title>
		<link>http://aulahikmah.wordpress.com/2007/12/14/menikmati-perbedaan-membuang-fanatisme-sempit/#comment-44</link>
		<dc:creator>kurtubi</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 09 Dec 2007 12:50:09 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://aulahikmah.wordpress.com/2007/12/14/menikmati-perbedaan-membuang-fanatisme-sempit/#comment-44</guid>
		<description>Bukan bagus lagi mas Iwan... makalah ini layak masuk ke ruang referensi... belum pernah saya temui bahasan klasik ini dikemas menarik... mungkin karena pakar komunikan kali yaa. 

*****
Tentang menulis, saya kira sampean sudah enak sekali. Cuma masalahnya kok ada beban yaa.. ah cuek saja lama2 juga ilang...   itulah yang saya lakukan. Say atak punya teori hanya satu teorinya:

Belajar menulis dengan menulis... mungkin itulah yang membuat saya tidak punya beban...  maksud gak punya beban bukan berarti muatan materinya kan? kalau muatan materi pasti ada beban lah.. karena itukan terkait dengan tanggung jawab.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bukan bagus lagi mas Iwan&#8230; makalah ini layak masuk ke ruang referensi&#8230; belum pernah saya temui bahasan klasik ini dikemas menarik&#8230; mungkin karena pakar komunikan kali yaa. </p>
<p>*****<br />
Tentang menulis, saya kira sampean sudah enak sekali. Cuma masalahnya kok ada beban yaa.. ah cuek saja lama2 juga ilang&#8230;   itulah yang saya lakukan. Say atak punya teori hanya satu teorinya:</p>
<p>Belajar menulis dengan menulis&#8230; mungkin itulah yang membuat saya tidak punya beban&#8230;  maksud gak punya beban bukan berarti muatan materinya kan? kalau muatan materi pasti ada beban lah.. karena itukan terkait dengan tanggung jawab.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: iwan</title>
		<link>http://aulahikmah.wordpress.com/2007/12/14/menikmati-perbedaan-membuang-fanatisme-sempit/#comment-43</link>
		<dc:creator>iwan</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 08 Dec 2007 20:13:25 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://aulahikmah.wordpress.com/2007/12/14/menikmati-perbedaan-membuang-fanatisme-sempit/#comment-43</guid>
		<description>salam kenal. makalahnya cukup bagus.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>salam kenal. makalahnya cukup bagus.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
