Kaitan Antara Iman, Ilmu, Akal, Lemahlembut dan Lunak

Desember 16, 2007 pukul 8:55 am | Ditulis dalam Agama, Artikel, Humor, Islam, Komunikasi, Pendidikan, Pesantren Pondok Iqra' | 10 Komentar

Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baiknya pembantu iman adalah ilmu. Sebaik-baiknya pembantu ilmu adalah akal. Sebaik-baiknya pembantu akal adalah kelemahlembutan, dan sebaik-baiknya pembantu kelemahlembutan adalah kelunakan.

Hadist di atas merupakan sebuah nasihat sekaligus jawaban mengenai pertanyaan yang sering kali muncul dalam benak kita, yaitu tentang bagaimana cara memperoleh keimanan, menjaganya agar tetap bersemayam bahkan semakin kuat mengakar dalam hati. Selain itu, sabda Rasulullah SAW tersebut menjadi pijakan dasar bagi setiap muslim untuk memperoleh kenikmatan iman berupa keridloan Allah SWT di dunia dan di akhirat kelak.

Keterkaitan Antara Iman dan Ilmu 

Pada bagian pertama, Rasulullah SAW menyatakan bahwa sebaik-baiknya pembantu iman adalah ilmu (pengetahuan). Maksudnya adalah, ketika seseorang berhasrat meneguhkan imannya maka jalannya adalah ilmu, bahkan dengan sebab ilmu pulalah sebenarnya seseorang dapat menemukan Tuhannya. Singkatnya, ilmu merupakan modalitas utama menggapai keimanan yang sempurna atau haqqul yakin, karena  tidak akan tercipta keyakinan dalam iman jika tidak disertai ilmu.

Pembahasan mengenai iman secara langsung akan terkait dengan masalah yakin (ketidakraguan), tidak lain karena iman merupakan perbuatan hati yang dibangun atas dasar ilmu pengetahuan yang telah diperoleh seseorang sehingga tertutup baginya kemungkinan terasuki oleh keraguan. Iman dituntut untuk berdiri di atas keyakinan yang kuat dan tidak boleh setengah-setengah, karena iman yang berdiri di atas keyakinan akan memberikan ketentraman batiniyah dan melahirkan tindakan (amal) yang spontan serta tidak disertai dengan keragu-raguan. Keyakinan adalah ketetapan ilmu yang tidak berputar-putar, tidak terombang-ambing dan tidak berubah-ubah dalam hati. Dalam pembahasan ilmu kalam, keyakinan biasa disebut pula dengan akidah, akidah sendiri didefinisikan sebagai keimanan yang kokoh di dalam hati dan dipilih menjadi jalan hidup.

Sepintas di atas telah diulas mengenai keterkaitan antara iman iman -yang mencapai taraf yakin- dengan ilmu. Selanjutnya, dengan memahami pengertian dan hakikat ilmu, kita dengan mudah akan menemukan keterkaitan antara keduanya.

Ilmu secara harfiah diartikan sebagai pengetahuan, ia merupakan lawan kata dari jahlun yang berarti ketidaktahuan atau kebodohan. Ilmu bersepadan dengan kata bahasa arab lainnya, yaitu makrifat (pengetahuan), fiqh (pemahaman) hikmah (kebijaksanaan) dan syu’ur (perasaan).

Al-Ilmu itu sendiri dikenal sebagai sifat utama Allah SWT. Dalam bentuk kata yang berbeda, Allah SWT disebut juga sebagai al-‘Alim dan ‘Aliim, yang artinya: “Yang Mengetahui” atau “Yang Maha Tahu”.

Secara umum, ilmu atau pengetahuan terbagi ke dalam dua kelompok: pengetahuan biasa (knowledge) dan pengetahuan ilmiah (science). “Pengetahuan biasa” dapat diperoleh melalui pengupayaan dari keseluruhan potensi kemanusiaan seperti perasaan, fikiran, pengalaman, pancaindera, dan intuisi untuk mengetahui sesuatu tanpa memperhatikan objek, cara dan kegunaannya. “Pengetahuan ilmiah” hakikatnya merupakan keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan untuk mengetahui sesuatu, tetapi dengan cara memperhatikan objek yang ditelah, cara yang digunakan, dan kegunaan pengetahuan tersebut, dengan kata lain pengetahuan ilmiah memperhatikan objek ontologis, landasan epistimologis, dan landasan aksiologis dari pengetahuan itu sendiri. Dalam pembahasan ini, ilmu yang dimaksudkan di sini adalah pengetahuan jenis kedua.

Dalam kajian Islam, ilmu pada awalnya lahir dari keinginan untuk memahami wahyu yang terkandung dalam alquran dan bimbingan Nabi Muhammad SAW mengenai wahyu tersebut. Al-quran sendiri banyak berbicara mengenai pentingnya ilmu dan kedudukannya yang teramat tinggi bagi siapapun yang mencari dan memilikinya.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwasanya Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sekiranya aku bertemu dengan hari baru, yang ilmuku tidak bertambah pada hari itu, yaitu ilmu yang membuatku semakin dekat dengan Allah ‘Azza wa Jalla, maka tidak ada keberkahan apa-apa bagiku dalam terbitnya matahari pada hari tersebut.” (HR. Ibnu Hibban)

Ilmu dan Akal

Pada bagian kedua, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa sebaik-baiknya pembantu ilmu adalah akal. Ketika seseorang menginginkan ilmu, ia harus mengupayakannya dengan cara mempelajarinya. Dan alat utama untuk mempelajari ilmu adalah akal.

Secara bahasa, akal berarti daya atau kekuatan fikiran (quwwatu al-idrak) atau pemahaman (al-fahmu). Juga terdapat istilah lain dari akal, yaitu  an-nazr (berfikir secara mendalam) dan al-fikr atau logika.

Akal merupakan daya atau kekuatan yang dianugerahkan oleh Allah SWT kepada manusia sebagai alat berfikir dan alat untuk mempertimbangkan serta memikirkan baik buruknya sesuatu. Akal adalah potensi yang diberikan Allah SWT kepada manusia di samping nafsu. Kedua unsur ini (akal dan nafsu) termasuk dalam alam rohani (nonfisik).

Akal merupakan potensi ruhani yang dipersiapkan untuk menerima ilmu pengetahuan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam al-Quran:

 “Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu“. (QS:29:43)

Adapun bagi mereka yang dikaruniai akal, namun kemudian tidak mempergunakannya untuk memperoleh cahaya ilahi (dalam bentuk ilmu), Allah SWT sangat mencela orang-orang yang demikian bahkan mengancamnya dengan azab neraka jahannam. Kita perhatikan firman Allah SWT berikut ini:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan (Kami ciptakan) untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami ayat-ayat Allah (yakni perkara hak) dan mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah (yaitu bukti-bukti yang menunjukkan kekuasaan Allah dengan penglihatan yang disertai pemikiran) dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar ayat-ayat Allah (ayat-ayat Allah dan nasihat-nasihat-Nya dengan pendengaran yang disertai pemikiran dan ketaatan), mereka itu bagai binatang ternak (dalam hal tidak mau mengetahui, melihat dan mendengar) bahkan mereka lebih sesat (dari hewan ternak itu, sebab hewan ternak akan mencari hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya dan ia akan lari dari hal-hal yang membahayakan dirinya tetapi mereka itu berani menyuguhkan dirinya ke dalam neraka dengan menentang) mereka itulah orang-orang yang lalai“.

Orang yang tuli, bisu dan buta dalam ayat di atas merupakan suatu perumpamaan yang merujuk kepada “orang-orang yang tidak menggunakan akalnya”, padahal mereka sebenarnya memiliki akal. Orang yang berakal adalah orang yang sadar, bisa berfikir, tidak gila, dan termasuk dalam kriteria mukallaf yaitu orang yang terikat kewajiban untuk  melaksanakan perintah Allah SWT. Akal -termasuk di dalamnya perasaan-yang telah di anugerahkan Allah SWT kepada mereka ternyata tidak dipergunakan untuk memahami keesaan dan kebesaran Allah SWT, padahal kepercayaan pada keesaan Allah SWT itu akan membersihkan jiwa mereka dari segala macam was-was dan dari sifat hina serta rendah diri serta menanamkan pada diri mereka rasa percaya terhadap dirinya sendiri.

Golongan ini mempunyai mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat bukti kebenaran dan keesaan Allah SWT. Segala kejadian yang terekam dalam sejarah manusia, segala peristiwa yang terjadi dalam kehidupan manusia setiap hari, yang terlihat dan yang terdengar tidak menjadi bahan pemikiran dan perenungan untuk dianalisa kemudian dijadikan sebagai pelajaran yang dapat dipetik manfaatnya.

Oleh Allah SWT mereka disejajarkan dengan binatang, bahkan lebih buruk, sebab binatang tidak mempunyai daya pikir untuk mengolah hasil penglihatan dan pendengaran mereka. Binatang memberikan tanggapan atau reaksi terhadap dunia luar secara instinctif dan bertujuan hanya untuk mempertahankan hidup. Itu sebabnya kenapa hewan makan dan minum serta memenuhi kebutuhannya, tidak melampaui dari batas kebutuhan biologis hewaninya. Berbeda dengan manusia yang acapkali berperilaku secara berlebihan disebabkan akalnya telah dikalahkan oleh hawa nafsu.

Bersambung… Kepanjangan sih, insya Allah diupdate!

About these ads

10 Komentar »

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

  1. btw, konon ada hadist lagi yang menyebutkan bahwa setengah iman adalah sabar, sedangkan setengal lagi adalah sabar. jadi, mo request nih: bikin tulisan tersendiri dong soal iman :D

    salam kenal pak santri

  2. Maksudnya mungkin: setengah iman adalah sabar, dan setengahnya adalah syukur. Tul gak? :)

    Pernyataan yang serupa terdapat dalam sebuah hadist sahih yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim, yang berbunyi: “Iman adalah bagian yang besar. Setengahnya terdapat dalam sikap sabar, dan setengahnya lagi terdapat dalam syukur”.

    Insya Allah, kalau wangsitnya ada, saya mau sengajakan menulis secara khusus mengenai Iman dalam dimensi spiritual dan budaya…

  3. eh salah om… :D setengah iman adalah sabar, sedangkan setengah lagi adalah syukur. dipecah aja tulisannya katanya biar fokus

    Hehehe, kalau request biasanya sediain kopi sama kulub sampeu… biar khusyuk…makannya!
    Insya Allah, postingan mengenai Sabar dan Syukur masuk daftar PR (pekerjaan rumah).

  4. dan memang …
    muhammad diutus untuk membereskan supaya akal manusia itu jadi sehat koq !

    Benar Blis, kesempurnaan pendayagunaan akal salahsatu indikatornya adalah akhlak. Kok Iblis tahu? :mrgreen:

  5. [...] itu bernama keyakinan, IMAN yang [...]

  6. wah dapat ilmu baru saya :)
    makacih iah maz jadi tau nih sekarang hehehehe
    thankyu iah maz hehehe :)

  7. Rasulullah Muhammad SAW. diutus oleh Allah SWT. adalah untuk memberitahu kepada setiap manusia bahwa betapa pentingnya AKHLAK yang baik. Sabar dan ikhlas adalah benteng untuk menjaga akhlak dalam diri. Jihad adalah motor penggerak untuk mengamankan aqidah Islam agar konsep akhlakul karimah tetap berjalan sehingga bisa bermanfaat bagi manusia dan makhluk lainnya di jagad raya ini. Akhlakul karimah yang bersama IPTEK dan IMTAK serta system organisasi Islam yang dapat berjalan baik didunia ini itu adalah capaian yang harus diwujudkan, agar Ummat Islam tidak menjadi alat permainan kekuatan lain yang bertentangan dengan Firman Allah SWT.

  8. Barokalloh

  9. ilmu yang bermanfaat^^

  10. kalo bersambung tolong di update lagi,

    terimakasih , bermanfaat :)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat website atau blog gratis di WordPress,com. | The Pool Theme.
Entries dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: