Ulama Bijak Versus Ulama Busuk
Desember 23, 2007 at 9:38 am | In Agama, Artikel, Dakwah, Humor, Islam, Komunikasi, Manhaj, Pendidikan, Renungan, Umum | 13 CommentsHatim al-Asham bukan nama asing dalam khazanah tasawuf. Konon, gelar al-Asham (orang tuli) yang disandangnya melekat akibat peristiwa dalam salahsatu majelisnya, dimana seorang wanita -maaf- buang angin di depannya tanpa sengaja. Hatim yang bijak berpura-pura tidak mendengar dan melanjutkan ceramahnya. Hatim adalah ulama yang amat disegani. Wibawanya memancar karena kezuhudan, ketekunan ibadah dan pembelaannya terhadap rakyat kecil.
Suatu ketika ia dikabari tentang adanya seorang ulama masyhur yang hidup bergelimang kemewahan. Sudah rahasia umum, kekayaan dan kemewahan ulama tersebut diperolehnya karena “pengabdiannya” pada raja. Sang ulama tidak pernah sekalipun mengingatkan rajanya, sekalipun sang raja telah nyata-nyata berlaku zalim dan menyalahi aturan-aturan Allah SWT. Hatim lalu merasa tergugah untuk meluruskannya.
Sesampainya di rumah megah sang ulama, ia bergumam, “Inikah sosok pewaris Nabi?” Lalu diketuknya pintu rumah dan meminta izin bertemu dengan sang ulama. Dilihatnya isi rumah dipenuhi dengan perabotan mahal dan sang ulama sendiri tengah berbaring di atas ranjang empuk, dikipasi bujang-bujangnya.
“Guru, ajarkan saya cara wudhunya Rasulullah“, pinta Hakim kemudian.
Di atas ranjang, sang ulama lalu mencontohkan cara berwudhu. Hatim menirunya dengan sedikit perbedaan. Sang ulama menegur, “Basuhlah sebanyak tiga kali, jangan lebih karena itu merupakan tabdzir (pemborosan)“.
Beroleh kesempatan, Hatim menukas lantang, “Guru, anda beroleh ilmu ini dari tabi’in, tabi’in dari sahabat, dan sahabat dari Rasulullah. Pernahkah beliau mengajarkan hidup boros dan mewah seperti ini? Jika Guru berkata kelebihan satu basuhan saja dianggap tabdzir, lalu bagaimana dengan semua kemewahan ini?“
Hujjatul-Islam Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin membagi ulama dalam dua kelompok: ulama al-akhirah (ulama baik) dan ulama al-suu’ (ulama busuk). Menurut beliau, salahsatu ciri yang membedakan keduanya adalah kedekatan dan pengabdian buta pada penguasa dan kekuasaan.
Nabi SAW bersabda, “Ulama adalah kepercayaan para Rasul selama tidak bercampur dengan penguasa dan larut dalam kehidupan duniawi. Jika mereka bercampur dengan penguasa dan larut dalam dunia, sungguh mereka telah mengkhianati para Rasul. Jauhi dan berhati-hatilah dengan mereka”.
& Komentar »
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik
Tinggalkan komentar
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.
setuju pak. menurut saya mestinya ulama dan umarah memang “berseberangan”. ulama sebagai kontrol sosial para penguasa. kalo jaman mataram islam dulu ada duet raja dan pujangga. jaman itu pujangga digaji raja, tapi diberi kebebasan menyampaikan pemikiran-pemikirannya, termasuk kritik. hidup pujangga seperti Ranggawarsita juga konon sangat bersahaja. lebih bagus lagi kalau betul-betul bisa mandiri tentu makin mantap
Komentar oleh sitijenang — Desember 23, 2007 #
Ini politik toh?
sebagaimana banyak sekarang al manhaj tertentu yang “ngotot” pula dengan politik isu lain dianggap tidak penting…
hmmm memang sekarang tidak sedikit “ulama” yang akrab dan mesra dengan penguasa…
Ulama memang pewaris Nabi saw, pertanyaanya apakah Nabi saw “ngotot” mengajarkan politik?
POKOKE™ POLITIK =KEKUASAAN
Komentar oleh kurtubi — Desember 23, 2007 #
go to http://www.pspproblems.wordpress.com for all your psp needs
Komentar oleh pspproblems — Desember 23, 2007 #
Assalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.
Apakah yang membuat tulisan ini bermaksud menyindir sekelompok ulama di Indonesia? MUI kah? atau siapakah? atau para ulama wahabi yang tidak pernah mempersoalkan masalah sistem kerajaan saudi yang bidah? Salam kenal
Komentar oleh Zahid — Desember 23, 2007 #
wah keduluan judulnya. dulu di http://www.pesantrend.wordpress.com ada judul Kadang Daging Ulama Itu Beracun. Jika Kang Ram2 salah satu pendukung 4 tokoh coba berkomentar di pesantrend
Komentar oleh Muhammad Rachmat — Desember 23, 2007 #
dikisahkan dalam buku “orang-orang bijak” Murthadha Mutaharri, tentang selingkuhnya seorang alim kepada penguasa. suatu tindakan kecil saja telah membuatnya keluar dari agama bahkan menjualnya.
syahdan,ada seorang alim ulama yang masyhur dalam masa kekuasaan islam pasca wafatnya rasul dan empat khalifah. ketinggian ilmu dan kezuhudannya tersebar seantero jazirah hingga ke telinga raja.
tampaknya sang raja tertarik dengan ketinggian ilmu si alim. raja ingin alim itu menjadi hakim agama di wilayah tertentu kekuasaannya.
keinginan itu disampaikannya langsung kepada sang alim. namun malang bagi raja, si alim menolak tawaran itu. bagi si alim menerima tawaran itu sangat beresiko.
sang raja tak putus asa. berkali-kali pula ia sampaikan tawaran itu disetiap kesempatan. tapi berkali-kali pula si alim menolak.
sampai suatu ketika sang raja merasa perlu untuk menjebak si alim itu. dikirimkanlah undangan untuk makan malam sebagai rasa sukur raja atas hari ulangtahun anaknya.
tanpa berfikir panjang si alim mengiyakan undangan itu.
terjadilah makan malam bersama sang raja.
setelah makan malam itu sang alim bersedia menjadi hakim agama.
segala fasilitas dan gaji yang tinggi diterima sang alim.
suatu ketika terjadi perselisihan antara alim yang sudah menjadi hakim itu dengan seorang pegawainya. perselisihan itu menyangkut uang. sang pegawai merasa hakim tidak adil dan telah melakukan korupsi.
berkata si pegawai kepada hakim, ‘mengapa engkau melakukan hal nista ini!”
” jangankan perbuatan seperti ini. agamku saja sudah ku jual,” kata si hakim bergetar.
Komentar oleh Salman Nasution — Desember 25, 2007 #
dikisahkan dalam buku “orang-orang bijak” Murthadha Mutaharri, tentang selingkuhnya seorang alim kepada penguasa. suatu tindakan kecil saja telah membuatnya keluar dari agama bahkan menjualnya.
syahdan,ada seorang alim ulama yang masyhur dalam masa kekuasaan islam pasca wafatnya rasul dan empat khalifah. ketinggian ilmu dan kezuhudannya tersebar seantero jazirah hingga ke telinga raja.
tampaknya sang raja tertarik dengan ketinggian ilmu si alim. raja ingin alim itu menjadi hakim agama di wilayah tertentu kekuasaannya.
keinginan itu disampaikannya langsung kepada sang alim. namun malang bagi raja, si alim menolak tawaran itu. bagi si alim menerima tawaran itu sangat beresiko.
sang raja tak putus asa. berkali-kali pula ia sampaikan tawaran itu disetiap kesempatan. tapi berkali-kali pula si alim menolak.
sampai suatu ketika sang raja merasa perlu untuk menjebak si alim itu. dikirimkanlah undangan untuk makan malam sebagai rasa sukur raja atas hari ulangtahun anaknya.
tanpa berfikir panjang si alim mengiyakan undangan itu.
terjadilah makan malam bersama sang raja.
setelah makan malam itu sang alim bersedia menjadi hakim agama.
segala fasilitas dan gaji yang tinggi diterima sang alim.
suatu ketika terjadi perselisihan antara alim yang sudah menjadi hakim itu dengan seorang pegawainya. perselisihan itu menyangkut uang. sang pegawai merasa hakim tidak adil dan telah melakukan korupsi.
berkata si pegawai kepada hakim, ‘mengapa engkau melakukan hal nista ini!”
” jangankan perbuatan seperti ini. agamaku saja sudah ku jual,” kata si hakim bergetar.
Komentar oleh Salman Nasution — Desember 25, 2007 #
saya sekali melihat tulisan anda dalam blog ini mudah-mudahan perperangan di internet kita isi dengan amar ma,ruf nahi mungkar.
membasmi musuh-musuh Allah di alam maya.
Komentar oleh Bustamam Ismail — Januari 23, 2008 #
Semoga para ulama yg telah menjadi rujukan umat membaca tulisan ini atau teringat untuk langsung merujuk ke kitab-kitab aslinya dan petuah-petuah para guru-gurunya. [sekedar berbagi harapan]
Komentar oleh Fakhrurrozy — Januari 24, 2008 #
[...] AJARAN produk luar ini masuk di bumi Nuswantoro embuh siapa yang membawanya. Berkut petikan Pitutur Orang/Ulama BIJAK versi suluk Wujil [...]
Ping balik oleh NIAT Versi ARAB… VS…NIYAT versi LOKAL « Uborampe SANGKAN PARANING DUMADI — Januari 25, 2008 #
[...] AJARAN produk luar ini masuk di bumi Nuswantoro embuh siapa yang membawanya. Berkut petikan Pitutur Orang/Ulama BIJAK versi suluk Wujil [...]
Ping balik oleh NIAT Versi ARAB VS NIYAT versi SULUK WUJIL « Uborampe SANGKAN PARANING DUMADI — Januari 25, 2008 #
Hemmmm…. article yang penuh hikmah. Siapapun bisa tersindir, dan sudah selayaknya bagi siapa yang tersindir melakukan perbaikan. Good job Kanjeng…
Komentar oleh Ibnu Abdul Muis — Januari 25, 2008 #
Kira-kira koment yang ini http://ihwansalafy.wordpress.com/2007/12/16/umara-salafy-pun-ber-ittiba-kepada-hasan-al-banna-dalam-bersikap-terhadap-rafidhah/#comment-301 juga termasuk ciri-ciri ulama su’ bukan ya ?
*Kabuur*
Komentar oleh Ibnu Abdul Muis — Januari 25, 2008 #