Sudah Rendah Hatikah kita?
Desember 26, 2007 at 2:19 pm | In Agama, Artikel, Dakwah, Humor, Islam, Manhaj, Pendidikan, Renungan, Umum | 17 CommentsSewaktu akan berangkat untuk mondok di pesantren 18 tahun yang lalu, bapak saya memberikan secarik daftar berisi “sifat-sifat buruk” saya. Ada 23 sifat buruk yang menurut bapak ada pada diri saya. Maksud beliau memberikan daftar itu tidak lain adalah agar menjadi bahan introspeksi buat saya pribadi, tentunya dengan harapan agar setelahnya mondok, ke 23 sifat buruk itu bisa hilang. Urutan pertama dari 23 sifat itu adalah: Takabbur atau tinggi hati. Orang biasa menyebutnya dengan sombong.
Alhamdulillah, sepulangnya mondok di pesantren selama 8 tahun, dari 23 sifat buruk tersebut, kata bapak yang tersisa hanya 23 saja!
Pada suatu ketika, dalam kesempatan pengajian rutin bersama Kyai Sepuh, saya memberanikan diri untuk bertanya kepada Kyai Sepuh mengenai ciri orang yang terhinggapi penyakit sombong ini. Beliau memberikan jawaban kurang lebihnya seperti ini:
“Ketika seseorang merasa bahwa pembantunya tidak layak untuk makan satu meja bersama-sama dirinya, atau juga menganggap bahwa air dalam gelas bekas minumnya pantas untuk diminum pembantunya, namun air bekas minum pembantunya tidak layak bahkan menjijikkan untuk diminum oleh dirinya, maka orang seperti itu hatinya masih dihinggapi penyakit sombong”
Kemudian Kyai sepuh melanjutkan:
“Sebaliknya rendah hati itu adalah ketika kamu tunduk pada apa-apa yang haq dan benar, kamu ikuti itu, sekalipun kamu mendengarnya dari seorang anak kecil, maka terimalah nasihatnya. Bahkan sekalipun nasihat tentang kebenaran dan haq itu kamu dengar dari manusia yang paling bodoh, kamu harus menyimak dan memperhatikannya.”
Dari penuturan Kyai, saya dapat mengambil beberapa intisari dari makna tawadlhu (rendah hati, lawan dari takabbur atau sombong).
Pertama, tawadlu’ adalah sikap atau kondisi hati kita yang tunduk pada segala sesuatu yang hak dan benar menurut ajaran dan perintah Allah.
Kedua, tawadlu’ mewujud dalam perilaku keseharian kita dalam bergaul dengan sesama manusia, yaitu tidak mendiskriminasi orang lain, dan memperlakukannya secara adil dan manusiawi.
Ketiga, tawadlu’ bermakna lapangnya hati dan kesediaan dalam menerima nasihat, dari siapapun, tanpa memandang siapa yang berbicara, selama nasihatnya adalah kebenaran dan hak. Dalam kata lain, hati dan akalnya senantiasa dibuka untuk menerima ajaran, nasihat dan ilmu yang dapat menuntunnya kepada kebenaran, dari manapun dan dari siapapun.
Begitu kira-kira… Hanya Allah Yang lebih Maha Mengetahui
& Komentar »
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik
Tinggalkan komentar
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.
Ini benar2 siraman yg mengguyur pak …
Basah kuyub dah saya dibuatnya …
Semoga Allah, Zat satu2nya Yang Paling BerHak untuk Sombong itu senantiasa melimpahkan Hidayah-NYA pada hamba yg lemah ini …
Komentar oleh Herianto — Desember 26, 2007 #
P-TAMAX~
*semoga pertamax dengan rendah hati, amiiinn*
Nah, kadang memang orang lain yang harus menilai karena kita sulit sekali melihat kejelekan di diri kita sendiri namun mudah melihat kejelekan orang.
Wah, saya jadi ingat kutipan bahwa kita harus melihat apa yang dikatakan, bukan melihat siapa yang mengatakan.
Komentar oleh rozenesia — Desember 26, 2007 #
tawadlu’….
mudah diucapkan…
sulit dilaksanakan…
jika “ego” jadi teman…
Komentar oleh eevooi — Desember 26, 2007 #
awal mula adanya setan karena kesombongan, awal mula setan bercokol pada hati manusia adalah dari kesombongan.
awal suatu bencana juga dari kesombongan, akhir dari kesombongan adalah malapetaka dan bencana yang menimpa.
Komentar oleh daeng limpo — Desember 27, 2007 #
Wah, sulit juga bermain hati, egoisme saja masih mengelelingi setiap sudut dalam diri…
Tetapi tak pantas juga apabila tidak dilaksanakan mulai dari diri sendiri. Korupsi saja harus diberantas sejak dini, mengapa juga soal yang begini tidak bisa dilakukan semenjak kemarin hari ?
—–
Bahasa saya jadi aneh…
Komentar oleh Mihael "D.B." Ellinsworth — Desember 27, 2007 #
ada yang bilang: ada kalanya ketika seorang anak manusia sedang berbicara, sebetulnya ia sedang membicarakan diri sendiri. makanya, kita dianjurkan bicara yang baik-baik saja karena bisa mengungkap keburukan diri sendiri… konon katanya…
btw, mana nih request saya? *halah*
Komentar oleh sitijenang — Desember 27, 2007 #
Sungguh indah punya bapak yg mampu “mendewasakan” anaknya…
senada dengan Gus Ram… Kata Kyai : “Kesombongan itu menolak datangnya kebenaran”..
Wallahu a’lam bishshowab…
Gus Ram, silahkan mampir di salah satu kumpulan anak muda NU :
http://jepits.wordpress.com/
Komentar oleh Ansori — Desember 27, 2007 #
wakakakak…
mantap juga neh indera keenamnya.. muahahaha..
Komentar oleh sitijenang — Desember 27, 2007 #
Menyejukkan.. mudah2an pulang dari sini, ilmu rendah hati bisa saya kantongi dan amalkan.. makasih pak kyai… mohon do’anya..
Komentar oleh Gempur — Desember 27, 2007 #
he heh.. rasa malu juga bagian dari iman juga bukan ya?
Komentar oleh sitijenang — Desember 27, 2007 #
Ok deh… berarti itu nanti juga dibahas ya?
btw, udah update tuh…
kabuuuuuuuuurrrrKomentar oleh sitijenang — Desember 29, 2007 #
“Rendahkanlah dirimu sebagaimana biji ditanam dalam tanah. Sebab biji yang ditanam jauh dalam tanah itu akan menumbuh pohon yang lebih baik daripada biji yang hanya dilepar saja tanpa dipendam… ”
Ah jadi inget al hikamnya aula hikmah..
makasih kang Ram saya dapat “gebetan baru” dari postingan ini.
Komentar oleh kurtubi — Desember 30, 2007 #
[...] Ram-Ram Muhammad, seorang dai dan pimpinan dari sebuah Pondok Pesantren Aula Hikmah di Bandung. Kelengkapan ilmunya cukup luas. Disamping ahli dalam bidang agama, iapun juga lulusan fakutlas komunikasi. Aktif dalam siaran radio dakwah disamping membimbing santri-santrinya. Kerap kali santrinya dilibatkan dalam komunitas dengan agama lain. [...]
Ping balik oleh Kadung Kecebur di Sumur Maya « SANTRI BUNTET — Desember 31, 2007 #
tatkala anak adam menjauhi maksiat karena takut akan tuhannya, justru pada saat itulah kesombongan di dadanya kian memuncak …
@daeng limpo
jangan salahkan iblis yg telah berlaku sombong …
namun salahkanlah tuhanmu karena membiarkan kesombongan itu terjadi !
Komentar oleh rajaiblis — Desember 31, 2007 #
Wah koment Roz bijak sekali…
jadi pengen bertemen. hub aku yaros di anto_198112@yahoo.co.id
Komentar oleh anto — Januari 8, 2008 #
Sampai ada yg menggambarkan, “Ambillah hikmah meskipun keluar dari mulut keledai”
Komentar oleh Fakhrurrozy — Januari 8, 2008 #
@Raja Iblis
Wah ….. namanya juga Raja Iblis…tentu nggak mau jadi kambing hitam….he…he…sori broer guwe lupa ada blog Raja Iblis, tapi hati hati lho…entar kualat.
Komentar oleh daeng limpo — Januari 8, 2008 #