Meneladani Seekor Anjing? Why Not?!?
Januari 2, 2008 at 6:19 am | In Agama, Artikel, Dakwah, Islam, Manhaj, Pendidikan, Renungan, Umum | 25 CommentsBagi kebanyakan orang -terutama muslim-, hewan yang satu ini dianggap sebagai hewan yang menakutkan, menjijikkan, kotor dan label-label “minus” lainnya. Dalam syariat (hukum) Islam sendiri, segala sesuatu yang basah (kullu ruthbin) dan berasal dari tubuh anjing -seperti air liur, kencing, kotoran, hidung dan lain sebagainya- dihukumi sebagai najis mugholladzoh (najis berat). Sehingga ketika seseorang terkena olehnya, ia diwajibkan untuk mencucinya dengan 7 kali basuhan dan salahsatunya menggunakan tanah. Selain itu, hukum memakannya adalah haram.
Tulisan ini tidak bermaksud membahas mengenai hukum-hukum yang berkaitan dengan anjing. Saya lebih tertarik untuk sedikit mengupas sisi baik yang terdapat pada hewan yang “kadung” dicap sebagai hewan berkasta rendah lagi najis ini, lalu kemudian mencoba meneladaninya.
Lha, kok meneladani anjing? Yak!, seperti saya bilang di atas, di balik label-label negatif dari hewan ini, ada sifat-sifat baik yang justeru menurut al-Qulyubi dalam kitabnya an-Nawadir patut dijadikan sebagai teladan. Bahkan beliau menambahkan, sekiranya sifat-sifat baik yang melekat pada diri anjing dimiliki oleh manusia, niscaya ia akan sampai pada kedudukan yang mulia di sisi Allah SWT. Lagi pula, kita dapat mengambil pelajaran dan hikmah dari segala sesuatu yang baik. Jangankan anjing yang termasuk hewan besar
, Allah SWT juga memerintahkan kita mengambil pelajaran serta hikmah dari seekor nyamuk atau lalat yang juga “bernasib sama”, yaitu sama-sama dicap menjijikkan, kotor dan biang penyakit.
Nah, berikut ini sifat-sifat baik yang ada pada seekor anjing.
Pertama, anjing adalah hewan yang seringkali merasakan lapar. Hal ini mengingatkan kita pada keadaan orang-orang yang saleh. Orang-orang saleh adalah mereka yang senantiasa ruhaninya merasakan lapar akan ”harapan dan rindu” untuk diridlai dan dicintai oleh Allah SWT. Bagi orang-orang saleh, setiap perintah Allah SWT adalah pengenyang lapar ruhaninya, dan setiap detik usia adalah waktu untuk bersantap.
Kedua, pada umumnya anjing tidak memiliki tempat tinggal yang mewah di dunia. Anjing tidak pernah meminta diberikan tempat tinggal yang mewah kepada tuannya. Di manapun ia ditempatkan, ia akan dengan senang hati menerimanya. Sama seperti halnya orang yang berpasrah diri (tawakkal) kepada Allah SWT. Insan yang bertawakkal adalah mereka yang menyerahkan segala urusan hidupnya kepada Allah SWT. Karenanya, di manapun, bagaimanapun dan seperti apapun keadaan dirinya, ia tidak pernah berkeluh kesah karena kuatnya keyakinan bahwa Allah SWT akan memberikan apa yang dibutuhkan olehnya, bukan apa yang diinginkan.
Ketiga, Anjing adalah hewan yang biasanya hanya tidur sebentar, seperti keberadaan orang yang punya kecintaan besar pada Allah (muhibbin). Seorang pecinta Tuhan, lebih banyak menggunakan waktunya untuk mendekatkan diri kepada-Nya, daripada “membuangnya” percuma dengan tidur yang berlebihan. Bahkan ketika tidurpun, ruhaninya tetap “siaga” dan “terjaga” untuk mengingat Allah.
Keempat, anjing tidak memiliki harta, sebagaimana kondisi orang-orang zuhud atau merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah SWT kepadanya.
Kelima, anjing tidak akan meninggalkan tuannya sendirian, kendati tuannya sendiri tidak menghiraukannya, seperti sifat orang-orang yang selalu ingin dekat pada Allah (muridin).
Keenam, anjing rela ditempatkan di mana saja, seperti sifatnya orang-orang tawadlu’.
Ketujuh, anjing rela untuk pergi dari tempat di mana ia diusir ke tempat lainnya, seperti sifatnya orang-orang yang ridla kepada kehendak Allah.
Kedelapan, jika seekor anjing dipukul lalu diberi sesuatu. Ia akan kembali dan mengambilnya tanpa merasa dendam, seperti sifat orang-orang yang khusyu’.
Masih banyak sebenarnya sifat-sifat baik yang terdapat pada seekor anjing yang bisa kita jadikan sebagai sebuah tauladan. Tinggal terserah kita saja, mau tidak belajar dari seekor anjing?
Wallaahulmuwaffiq ilaa aqwaamiththoriq.
25 Tanggapan »
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik
Tinggalkan sebuah tanggapan
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.
Wawasan baru dari sebuah anjing….
tapi jika orang berkata:
Waaah dasar anjing luh!
rasanya saya tidak akan tersinggung deh setelah membaca ini..
makin lapar saja, ditunggu air kesejukan aula hikmah lainya yaa…
Comment oleh Kurt — Januari 2, 2008 #
wah keduluan… untungnya kyai
kalo orang jawa jaman dulu punya ujar-ujar: “anjing kalo berdoa minta supaya tuannya diberi rejeki banyak supaya dia bisa menjaga semuanya.” kalo kucing “minta supaya tuannya tidak punya anak supaya hanya dia yang disayang”. ini kontras dengan kisah nabi yang suka dengan kucing… saya sampe sekarang gak ngerti sumber ceritanya dari mana itu
Comment oleh sitijenang — Januari 2, 2008 #
Anjing saya udah meninggal dunia…
Saya mau punya anjing baru, tapi di kost ga boleh ‘melihara’ hewan katanya… Lha wong saya ga mau piara, saya maunya berteman…
*curhat selesai*
*baca komen mbah sitijenang*
Nah, kalo ditanya, saya jelas milih anjing ketimbang kucing. Jujur, entah kenapa saya sentimen sama kucing! Lha ini juga yang jadi alesan kenapa orang pada benci anjing, ya sentimen ama anjing!
Comment oleh rozenesia — Januari 2, 2008 #
wah..belajar dari anjing…mantabss sekali artikelnya
Comment oleh okebebeh — Januari 2, 2008 #
Mo nambahin dikit boleh kan pak?
Anjing itu setia sama tuannya, bahkan mungkin sampai mati.
Saya pernah baca cerita seekor anjing yang tetap nungguin di depan rumah tuannya walaupun si tuan sudah meninggal.
Comment oleh kabarihari — Januari 2, 2008 #
Jadi lain kali orang akan megubah sumpah serapahnya menjadi, “Dasar Anjing Guwe???”. He…he..he… 100x
Comment oleh daeng limpo — Januari 2, 2008 #
@ Rozenesia

Ikut berduka dah…
Semoga cepat mendapat gantinya…
Saya pilih anjing atau kucing ya? Ayam aja deh!
@ Okebebeh
Terimakasih… komennya juga mantabs.. pendek bangets!
@ Kabarihari
Wah, nambah lagi satu poin tuh… udah 10 poin sekarang.
@ Daeng Limpo
Halah.. itu bukan nyumpah nyerapah daeng, tapi narsis…
Comment oleh Ram-Ram Muhammad — Januari 2, 2008 #
menurut saya mah, setiap mahluk itu kan ada sifat baik dan sifat buruknya, begitu juga anjing…
saya kira sifat baik dari anjing juga akan berubah kalo anjing punya akal…
dan di jaman sekarang mah ada anjing yang lebih beruntung nasibnya dibandingkan manusia, karena ada orang lebih senang memelihara seekor anjing walopun biayanya mahal dibandingkan memelihara anak jalanan…
Comment oleh eevooi — Januari 2, 2008 #
@ atas
Saya ini contohnya
@ Ram2 Muhammad
Semakin hari saya semakin Angkat “Celana” eh itu sih kebanjiran ya, saya “Angkat Topi” dengan anda.
Postingan anda sangat open minded bahkan dari sisi yang tidak pernah terpikirkan sekalipun oleh kalangan liberal sekalipun.
Keep going bro … Salut
Comment oleh RETORIKA — Januari 2, 2008 #
semua makhluk hidup dapat liat dengan memaknai tidak terkecuali anjing sekalipun.
Comment oleh aRuL — Januari 2, 2008 #
Tapi kok saya sampai saat ini pun gak rela untuk dikata2i : anjing lu !
Lha dia kan binatang dan saya manusia. Ada lagunya begini : “Saya juga… manusa”. Lha kok jadi berdendang …
@ eevooi
Menohok … saya tersinggung nih …
Pesan moral :
Mutiara tetap mutiara walau berada di tumpukan kotoran. Benarkah ? #Sok tau
Comment oleh Herianto — Januari 2, 2008 #
Assalamua’alaikum Gus Ram…
Jadi inget anjingnya Ash-habul Kahfi…., satu2nya anjing yang masuk sorga,…. Hayoo jangan kalah sama anjiing…
“Manusia yg positif akan selalu berpandangan positif, dan banyak hikmah2 yg tertangkap dan yg keluar darinya”
Comment oleh Ansori — Januari 3, 2008 #
@ eevooi
Betul, dan oleh karena itu adalah sangat merugi jika kita tidak mau belajar dari makhluk-makhluk Allah. Bukankah Allah SWT telah memerintahkan untuk mentafakkuri segala ciptaan-Nya? *sok moralis MODE ON*
@ Retorika
Halah, Jakarta kebanjiran lagi ya? Sampe angkat celana segala!!!!
Sebenarnya saya hanya menyampaikan kembali apa yang disampaikan oleh ulama (al-Quyyubi) Bro…!
Eh, omon-omon… jujur sejujur-jujurnya… saya benar-benar tidak tahu definisi liberalis, apalagi Islam Liberal… Suka jadi bingung kalau ada yang mencap saya sebagai muslim yang liberal… Gak ngerti
@ Arul
Makanya, jangan kalah sama hewan ya…
@ Herianto
Benar pak Dosen her, dalam kotoranpun ada hikmah… Apalagi mutiara yang tetap akan menjadi mutiara di manapun ia berada… *sok tahu juga*
@ Ansori
, karenanya sang anjing berhak beroleh hak yang sama untuk masuk surga. Kalau kita yang justeru manusia, malah bisa kehilangan hak masuk surga..
Wa ‘alaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuh Cak Ri…
Iya… Anjing saja ada yang “saleh”…
Comment oleh Ram-Ram Muhammad — Januari 3, 2008 #
Assalamu’alaikum wr. wb.
Sebenarnya sejak kecil saya selalu bertanya dalam hati .. mengapa anjing itu dianggap najis dan kalo dipelihara – katanya – malaikat tidak mau mampir ke rumah kita. Apakah karena anjing disebutkan di surah Al A’araaf ayat 176, surah Al Kahfi ayat ayat 18 dan 22 ya pak?? apakah karena dulu kala .. musuh2 Islam memelihara anjing sedangkan kaum muslimin tidak?? sehingga anjing dianggap musuh juga??
Bukan apa2 sih pak. Jujur. Saya lebih suka memelihara anjing – tapi sampai saat ini ga berani memelihara karena takut kualat / dosa (?) – dari pada kucing. Karena, sifat anjing yang saya sukai adalah sifat setia nya dan tahu berbalas budi.
Btw .. pak mau tanya .. itu gimana caranya pasang link, yang bisa langsung up date setiap ada new postingan? .. saya juga nambahan blog bapak di blog list saya. Thanks juga sudah link ke saya. Keep in touch.
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Comment oleh erander — Januari 3, 2008 #
Assalaamu ‘alaikum Gus Ram
mangkin hari mangkin sip saja tulisannya. Sebelumnya aku terhenyak baca judulnya, tapi setelah baca isinya mak nyuuus. Malu aku sama binatang yang satu ini… kalau begitu, apa jadi boleh pelihara anjing? hahaha
Comment oleh Darwin — Januari 3, 2008 #
Eh, kira-kira para Salafiyyun itu mau kagak ya baca tulisannya Gus Ram ini? Aku capek kirim komentar di blognya mereka, gak ada satupun yang ditampilkan. Apa salahku ya? Gus, aku mau tanya, apa Gus Ram ini yang pernah ceramah di diskusi theologi di Gereja Kristen Surabaya? Aku kebetulan hadir, jadi inget inget lupa liat fotonya Gus Ram. Syukron
Comment oleh Darwin — Januari 3, 2008 #
Soal kesetiaan, kerapkali anjing lebih setia daripada seorang sahabat. Hal ini sudah saya alami karena saya penyayang anjing. Salam Pak Ram-Ram
Comment oleh pormadi — Januari 3, 2008 #
@ Erander
Sebenarnya pijakan dalil mengenai hukum memelihara anjing bukan disebabkan oleh ayat yang mas erander sebutkan atau karena sebab-sebab di atas. ketidakbolehan memeliharanya pun bukan hal mutlak, karena ada kebolehan untuk memeliharanya pada kebutuhan dan kondisi tertentu. Misalnya untuk menjaga rumah, berburu atau kepentingan militer dan kepolisian.
Tentang kenajisan anjing juga terdapat perbedaan pendapat di kalangan empat mazdhab besar. Madzhab Hanafi berpendapat bahwa anjing secara zatnya adalah mahluk yang suci. Madzhab Hanafi berpendapat yang najis hanya air liur di sekitar mulut dan hidungnya dan
juga kotorannya.
Madzhab Maliki lebih ringan lagi. Menurut mazhab ini yang merupakan najis dari anjing hanya kotorannya sebagaimana binatang lain.
Madzhab Syafi’i dan Hambali berpendapat bahwa anjing adalah binatang najis secara keseluruhannya. Menurut saya pendapat yang kuat adalah pendapat Madzhab Hanafi.
Halah, sok tahu ya….
pertanyaan terakhir *halah* sudah saya jawab di blognya mas erander…
@ Darwin
Mengenai larangan memelihara anjing harus dikaji secara sempurna, seperti saya sampaikan di atas. kalau memang butuh memelihara anjing, kenapa tidak?
Lho kok tahu….
@ Pormadi
Secara umum anjing memang punya tipikal setia… Mas Pormadi ini kebetulan seorang Nasrani, jadi gak akan ribet dengan masalah najis air liurnya…
Comment oleh Ram-Ram Muhammad — Januari 3, 2008 #
Wah, jadi kepikiran iseng. Binatang-binatang itu di akhirat pergi ke mana ya? Surga kah? Neraka kah? Atau ada tempat lain selain surga dan neraka? Atau itu bukanlah pertanyaan yang memerlukan jawaban?
Comment oleh awaludin — Januari 3, 2008 #
Bener2 mencerahkan postingan ini. semula saya memang menganggap anjing yang tak lebih hanya hewan penyebar najis
di balik tampilan fisiknya, agaknya anjing memiliki karakter yang layak diteladani oleh manusia, terutama budaya hidupnya yang tidak *halah* ubbuddunya* mau niru2 pakai istilah arab kok salah mlulu, hehehehehe
saya kok juga iseng bertanya seperti pak iwan, hehehehe
kira2 kelak anjing tuh masuk syurga ato neraka, yak! ato nggak perlu dihisab kayak manusia?
Comment oleh Sawali Tuhusetya — Januari 3, 2008 #
@ Ram2 Muhammad
Eh jangan anggap saya JIL lho, Saya ini anggota DDOCI & ARSENAL FC Fans club … thats it
Saya cuma bilang , bagi orang yang mendewakan Kebebasan berfikir & Berpendapat” Hal ini saja terlewatkan …
oh ya, Anjing ku juga setia kok(Setia dengan majikannya)
sayangnya dia terlalu gemuk dan cuma nonton tivi doang…ngejer kucing dan tikus pun nggak mau
Comment oleh RETORIKA — Januari 4, 2008 #
bila berkaca pada quran, anjing masuk surga loh !
Comment oleh borsalino — Januari 15, 2008 #
@ Awaludin
Saya juga mau bertanya bergitu sama sampeyan
@ Sawali Tuhustya
Halah… tanya sama Retorika… kayanya dia bakalan… sama-sama gak bisa jawab..
@ RETORIKA
Ah… anjing yang sesadh sangadh!
@ borsalino
Iya… anjingnya Ashabul Kahfi kah?
Comment oleh Ram-Ram Muhammad — Januari 15, 2008 #
yang jelas anjing ngga’ pernah menyumpah “kafir lu… sesat lu….. bid’ah lu…….”
Comment oleh zahra — Maret 4, 2008 #
tolong sebarkan pengertian positif ttg anjing bagi semua umat,terutama umat islam.karena saya mendengar umat islam sangat membenci anjing,pernah saya melihat langsung supir microlet dgn ngebut menabrak anjing,anjing itu kesakitan dan mati.si supir merasa ok2 tanpa merasa bersalah,malah menuding salah anjing itu ketika saya pergoki.jadi?siapa yg lebih kuat?si supir/anjing?anjing kan lemah bngt,dan manusia lah yg paling kuat,jadi tuhan yg begitu berkuasa bagaimana memperlakukan manusia?
tempatkan kita sebagai tuhan,dan anjing2 itu sbg manusia,maka tuhan akan memperlakukan kita dgn begitu juga.anjing atau kucing atau binatang apapun mereka perlu dikasihi,malah sesungguhnya musuh kita adalah manusia2.jadi,jgn sakiti hewan lemah,sakitilah manusia yg jahat.anjing tidak dapat merusak dunia,tidak dapat membuat globalwarming,ga kejam,tapi manusia bisa.
pesan saya,manusia adalah yg jorok sebenarnya,malah saya menyesal menjadi manusia karena harus melihat kkelahiran,sakit dan mati.jadi bila bertemu org yg dirasa jahat,boleh saja di bunuh…………
Comment oleh ruidy — Oktober 3, 2008 #