Maaf Kyai, Honornya Berapa Kalau Ceramah?

Januari 14, 2008 pukul 8:58 am | Ditulis dalam Agama, Artikel, Celotehan, Dakwah, Humor, Islam, Komunikasi, Manhaj, Mimpi, Pendidikan, Pesantren Pondok Iqra', Public Speaking, Renungan, Umum | 74 Komentar

Sebelumnya saya mohon sedekahnya maaf kalau-kalau ada yang merasa kurang sreg dengan postingan ini. Insya Allah tidak ada sedikitpun hasrat seksual dan maksud untuk mencemooh, mendiskreditkan apalagi merendahkan para dai dan muballigh. Ini murni pengalaman pribadi, sekaligus kegelisahan yang menggelayuti hati saya bertahun-tahun, dan belum tercerahkan jua. *halah*

Masih sebagai pengantar dan catatan, mohon diingat baik-baik kalau saya bukan Kyai Slamet sungguhan dan juga tidak merasa Kyai. Hanya saja kadang ada orang iseng yang manggil saya Brad Pitt kyai. Saya juga bukan Dai kondang, cuma kebetulan saja, lagi-lagi suka ada orang iseng yang mengundang saya untuk sedikit berakting bicara agama.

Biasanya pertanyaan seperti pada judul postingan di atas diungkapkan oleh “utusan panitia” dengan penuh hati-hati, sambil masam-mesem dan diringi permohonan maaf, takut kalau pertanyaan seperti ini menyinggung atau setidaknya dianggap tidak pantas oleh saya. Mereka yang mengundang, sebenarnya juga maklum kalau pertanyaan seperti ini kurang sopan untuk diajukan. Tapi toh akhirnya mereka memaksakan diri juga untuk bertanya, daripada nantinya jadi serba salah ketika memberikan sekedar 10 juta ongkos transportasi; singkatnya takut kekecilan atau mungkin juga takut kebesaran :mrgreen:

Saya masih bisa memaklumi pertanyaan seperti ini, sekalipun saya sendiri sebenarnya tidak pernah merasa siap ketika diberi pertanyaan macam beginian. Namun, jauh di dalam lubuk hati saya yang paling dalam *halah*, saya merasa ada sesuatu yang salah dengan semua ini dan cukup mengganjal. Inilah yang saya maksud dengan kegelisahan yang menggelayuti hati saya bertahun-tahun, dan belum tercerahkan jua.

Ada beberapa point yang menjadi perenungan dan kegelisahan saya:

  1. Pertanyaan mengenai besaran honor sangat memancing timbulnya thoma atau mengharapkan balasan berupa materi atas perbuatannya (dalam hal memberikan ceramah agama). Ini tentu saja sangat mengganggu hati saya ketika berniat. Sebagai ilustrasi saja, pada suatu ketika, ada seorang muballig yang kebetulan tengah membutuhkan sejumlah uang untuk suatu keperluan. Karena sedang tidak memegang uang cash, akhirnya si muballig memberanikan diri untuk meminjam uang kepada temannya. Alhamdulillah, temannya memberikan pinjaman sejumlah yang dibutuhkan si muballig. Sewaktu ditanya kapan bisa mengembalikan uangnya, si muballig menjawab, “insya Allah, hari Senin besok.” Temannya bertanya kenapa yakin kalau hari senin sudah bisa mengembalikan, nah… si muballig menjawab dengan yakin, “Pan ana kebetulan ada jadwal ngasih ceramah hari minggunya…” :mrgreen: 
  2. Menerima imbalan berupa uang atau apapun setelah memberikan ceramah memang wajar, namun ketika yang muncul ke permukaan adalah bahwa ustadz anu “tarif”-nya segitu, kyai anu “ongkosnya” segini, muballig anu “uang dapur”nya sekian, yang terjadi seolah-olah komersialisasi agama. Bagi pengundang yang memiliki sumber dana besar, mungkin tidak masalah. Lha kalau yang ingin mengundangnya seret pendanaan, apa harus jadi tidak jadi menggelar pengajian atau tablig di tempatnya? :cry:
  3. Saya seringkali merasa bahwa kita ummat Islam, saat ini cenderung lebih senang menjadi “kaum pendengar” daripada menjadi “kaum pelajar”. Ketika digelar tablig akbar, masyarakat akan datang berduyun-duyun. Namun pengajian rutinan untuk belajar agama dari dasar, sepertinya semua punya alasan untuk tidak datang. Mungkin, kalau mendengar ceramah nyaris tidak ada beban apa-apa selain duduk dan mendengarkan. Beda halnya dengan “belajar beneran”, terasa membosankan, cape, malu (karena takut disuruh sama gurunya), harus berfikir lebih ekstra dan tidak ramai seperti tablig akbar. Kalau kondisi seperti ini berlarut-larut, entah akan seperti apa wajah kita sebagai ummat.

Ah, sekali lagi… ini hanya kegelisahan saya saja…   

74 Komentar »

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

  1. Masih sebagai pengantar dan catatan, mohon diingat baik-baik kalau saya bukan Kyai Slamet sungguhan dan juga tidak merasa Kyai. Hanya saja kadang ada orang iseng yang manggil saya Brad Pitt kyai. Saya juga bukan Dai kondang, cuma kebetulan saja, lagi-lagi suka ada orang iseng yang mengundang saya untuk sedikit berakting bicara agama.

    wah saya salut terhadap pernyataan ini. sebuah pernyataan yang rendah hati. Tapi mas Ram, ada juga tuh dai yang memberikan tarif sekian ratus ribu utk diundang berceramah di kanpung. kayaknya visi dai pun beda2 yak dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar.

    Ram-Ram Muhammad:
    Halah Prof, saya sendiri mencoba berbaik sangka saja kalau ada yang pasang tarif tertentu. Tapi mudah-mudahan saja, kalau ada yang ngundang tapi gak bisa memenuhi tarif minimal, muballighnya gak keberatan untuk tetepmau diundang… :mrgreen:
    Prof, saya emang bukan kyai kok… jangan cuma sekedar lihat pecinya doang, terus “memfitnah” saya kyai… :roll:

  2. KYAI KONTRAK
    A: Maaf Kyai honornya berapa ?
    K: Maaf pak saya bukan kyai honorer, saya ini kyai kontrak.
    Sekali ceramah kontraknya jut-jutan….

    KYAI BURUH
    A: Maaf Kyai honornya berapa?
    K: ya….terserah situlah yang penting diatas UMR

    KYAI PEJABAT
    A;Maaf Kyai honornya berapa?
    K:setidaknya sekali ceramah honornya 2,5% dari dana APBD

    KYAI KAMPUNG
    A: Maaf Kyai honornya berapa
    K: Ya kalau ada kambing antar aja ke rumah, kalau nggak ada sapi juga boleh!!

    KYAI PARPOL
    A:Maaf Kyai honornya berapa ?
    K:Karena saya nomor urut 1 diantara para kyai, honornya tentu harus yang no.1 juga

    ****dikejar kyai….nyemplung ke laut****

    Ram-Ram Muhammad:
    Gyakakaklahahaha… :mrgreen:
    *ngejar daeng nagih cerita laennya*

  3. Lupa ada Kyai PENGERTIAN
    A:berapa honornya Pak Kyai?
    K: waduh nggak usah repot-repot, apa yang ada sajalah
    kalau nggak ada uang cash, cek atau giro juga boleh atau mau dibelikan saham juga
    boleh…….
    A:lho…?????(ngambil celengan mesjid…rupanya yang ada hanya selembar uang 5 ribuan)

    Ram-Ram Muhammad: :evil:
    Mhuauauahaaa

  4. Saya sependapat dengan sebagian pemikiran pal Kyai, tapi sebagian lagi tidak. Bagi saya tugas da’i, mubaligh atau penceramah sangat luhur sehingga penghargaan seberapapun dari masyarakat yang mengundangnya tetap masih kurang tidak akan sebanding dengan nilai ilmu yang disampaikannya.
    Pertanyaan “utusan shahibul hajat” tentang tarif ceramah kyai itu merupakan bentuk penghargaan masyarakat masa kini yang secara tidak langsung telah memposisikan kyai sebagai orang profesional. bagaimana pun tidak gampang untuk menjadi mubaligh di zaman sekarang, Anak muda sekarang lebih senang menjadi artis, penyanyi atau pelawak dibandingkan jadi mubaligh yang dihargai masyarakat.
    selain itu harus diingat gelar Kyai itu bukan dari lembaga formal hatta sekalipun pesantren. gelar itu diberikan oleh masyarakat dan bisa juga dicabut oleh mereka bila mereka anggap sudah tidak lagi sesuai.
    berkaitan dengan penghargaan masyarakat akhirnya akan ada klasifikasi mubaligh. ada mubaligh kelas nasional, ya cukup ceramahnya untuk level nasional, materinya tentu lebih berat dengan begitu penghargaannya pun harus lebih baik. Ada mubaligh level RT ya ceramah di mesjid kampung, dengan materi untuk masyarakat umum dan penghargaannya pun sesuai. Dengan begitu tidak akan terjadi pacoro kokod tumpang tindih berebutan wilayah kekuasaan (kayak preman hehe). sekalipun klasifikasi ini di satu segi tidak baik, tapi ya itulah realitas yang sekarang ada.
    Terakhir Kalau memang malas menjawab pertanyaan judul di atas cari saja manager, biar manager yang jawab dan atur. tapi nantinya jadi kayak arti yach. he he

    Ram-Ram Muhammad:
    Halah, memang ada ya da’i pake manager…? :roll:
    Ayi Uwes, saya sebenarnya sama sekali tidak mempersoalkan masalah “fulus”, tarif, dll selama proporsional, wajar dan “tidak mengikat”. Karena sewajarnya seseorang yang membeerikan pelajaran agama mendapatkan penghargaan dari murid-muridnya, dalam hal ini muballig dari mustaminya. Saya cuma khawatir saja jika nantinya terjadi pergeseran nilai dan tujuan asalnya tablig, ta’lim dan tuntunan.

    • Nabi Muhammad SAW, berdagang ke negeri Syam.
      Abu Bakar RA akan berangkat berdagang ke pasar ketika dibai’at menjadi khalifah.
      Utsman Bin Affan seorang saudagar..dan begitupun kehidupan sahabat-sahabat lainnya. Mereka adalah orang2 yang mempunyai pekerjaan. Kok saya belum pernah baca ada sahabat yang mengambil upah untuk menda’wahkan Islam.

      Wahai dai2, andaikan kalian ikhlas berda’wah di jalan Allah dan bekerja yang halal, niscaya Allah akan memberikan rejeki yang banyak, bukan menukar surga hanya dengan beberapa lembar kertas rupiah.

      • saudaraku yg kumuliakan,
        Boleh boleh saja mengambil bayaran dari mengajar agama, hal ini tidak disebut menjual agama, karena yg disebut menjual agama adalah menukar kebenaran dg kebatilan dengan iming iming bayaran dari fihak tertentu.

        Rasul saw bersabda : “Yang paling berhak untuk diambil upahnya adalah dari Kitabullah” (Shahih Bukhari Juz 2 hal 795).

        berkata Assyu’biy menanggapi hadits ini : “tidak disyaratkan pada seorang pengajar apa apa selain menerima apa apa yg diberikan padanya bila diberi (Shahih Bukhari Juz 2 hal 795). maka jelaslah bahwa menerima bayaran atas pengajarannya itu dibenarkan oleh rasul saw dan diakui oleh syariah, bahkan Rasul saw dg tegas menjelaskan bahwa dari apa apa yg diambil upahnya berupa jasa, maka pengajar agama lah yg paling berhak untuk dberi upah.

        dan Rasul sa bersabda : “Sebaik baik manusia dan sebaik baik yg melangkah dimuka bumi adalah para Guru (guru agama), karena mereka itu bila agama ini rusak mereka memperbaikinya, maka berilah mereka dan jangan kalian sewa mereka, sungguh seorang guru bila mengajari seorang anak mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim hingga anak itu bisa mengucapkannya maka Allah tuliskan bagi anak itu oengampunan, bagi guru itu pengampunan, dan bagi kedua ayah ibunya pengampunan” (HR Tirmidzi)

        namun sepantasnya seorang guru apalagi Da’i, untuk tidak mengandalkan nafkahnya dari mengajar, karena itu dirisaukan akan membuatnya tak ikhlas dalam berdakwah dan mengajar, namun sebaiknya ia mempunyai mata pencaharian lain, berdagang, atau lainnya dan menjadikan pemasukan dana dari hasil dakwahnya tuk kemajuan dakwah itu sendiri, maka dalam hal ini sungguh merupakan kemuliaan yg jelas,

        karena dana ditarik dari muslimin dan dikembalikan untuk dakwah muslimin.

        demikia saudaraku yg kumuliakan,

        wallahu a’lam

      • Assalamualaiku Wr.Wb
        Saya memang bukan orang yg taat kepada agama……
        sayamau tanya itu untuk dai atau USTADZ yg menarifkan dengan cara Ceramah hukum nya Haram ata halal

  5. terkait amplop sy juga nulis di http://arulkeren.wordpress.com/2008/01/12/menolak-amplop-habis-memberikan-materi/
    tapi bukan sebagai kyai :D hehehe

    Ram-Ram Muhammad:
    Mohon tunggu sebentar, ganti baju dulu baru meluncur ke TKP… :D

  6. *ngakak baca coment nomer 2*

    ehm.. *pake sorban, gulung celana*

    ilmu ikhlas memang susah ya pak.. sedangkan yg sudah menyandang gelar ‘ahli sorga’ pun masih sering lupa. Jadi sulit membedakan antara infak dengan honor.. :???:

    Ram-Ram Muhammad:
    Setahu saya, ikhlas itu gampang-gampang susah. Tapi sekalipun pada saat melaksanakan amal baik hati kita ikhlas, biasanya syetan akan memanfaatkan “perasaan ikhlas” kita itu untuk menumbuhkan ujub atau mengagumi kebaikan diri sendiri… Ini juga susah…

  7. wogh….jadi inget ada kasus yang begidu dulu di blogosphere, soal bayaran kyai yang tinggi sangadh…..

    Ram-Ram Muhammad:
    Hmmmm…
    *mencari arsip di maksuth*

  8. Suara di telepon: Assalamu’alaikum,
    Suara di sini : Waalaikum salam

    Suara di telepon: Bisa bicara dengan Pak Kiai?
    Suara di sini : Maaf, ini dengan siapa?

    Suara di telepon: O, ini Pak Kiai, ya?
    Suara di sini :Kiai siapa?
    Suara di telepon: Pak Kiai Slamet, kan?
    Suara di sini :Lho, memangnya saya kerbau?
    Suara di telepon: Halah, ngaku saja, Pak Kiai
    Suara di sini :Anda siapa?
    Suara di telepon: Pak Kiai lupa, ya? saya ‘kan yang ngasih honor 4 juta.
    Suara di sini :O, ya?!
    Suara di telepon: Ya, Pak Kiai. Kemaren kami panitia salah kasih amplop.
    Suara di sini :Astaghfirullah
    Suara di telepon: Kenapa Pak Kiai?!
    Suara di sini :Saya tidak menyangka sebesar itu. Sudah saya kasihkan ke
    pengemis di jalan tadi…
    Suara di telepon: Jadi, tidak bisa kembali dong, Pak Kiai?!
    Suara di sini :Ya, gimana? Kalau tahu sebesar itu, saya juga mau bayar utang, khi..

    Ram-Ram Muhammad:
    *guling-guling* :)

  9. Assalamualaikum wr wb
    Met kenal
    Mau promosi aja dulu,ntar komentarnya….

    Wahabi Kembali Beraksi di Lombok

    http://islammuhammadi.com/id/content/view/254/1/

    http://islamalternatif.net/

    Wassalam wr wb

    Ram-Ram Muhammad:
    Wa ‘alaikumussalam
    Wah, situsnya teman-teman kalangan Syi’ah ya…?
    *ngajak ngopi*

    Salam kenal juga, wa ‘alaikumussalam

  10. Komen nya lucu-lucu pak dan nyentil pak… :)
    Ada lagi yang memakai paradigma belut di sawah. Nanam padi panennya belut… Kyai Ram-Ram pasti pernah dengar ya … ? :lol:

    Saya paling setuju di point ke-3 : Di sini termasuk akar permasalahannya. Ketidak-pedulian ummat yg berlarut-larut. Hentikan. ;)

    Ram-Ram Muhammad:
    Iya, nyentil sangadh…
    Tapi mengandung nasihat yang dalam sangadh…
    Gimana cara menghentikannya pak Dosen Her…?
    *menunggu sabda berikutnya*

  11. .. senang menjadi “kaum pendengar” daripada menjadi “kaum pelajar”.

    Ah, sekali lagi … ini hanya kegelisahan saya saja

    Saya juga koq Kyai Brad .. itu juga jadi kegelisahan saya. Wah .. kalo Kyai diundang, pasti mahal ya .. kan bintang film .. :twisted:

    *serius mode : ON*
    Rejeki itu bisa datang dari mana saja. Masalahnya .. kita sering kali ‘memaksakan’ kehendak untuk meraih rejeki itu. Berdalih atas nama ‘usaha’ .. kita pun merasa berhak untuk ‘menghalalkan’ segala cara. Meng-justified, bahwa rejeki yang kita dapat itu boleh2 saja dengan sejuta alasan.

    Ram-Ram Muhammad:
    Ah… nasihat yang mengguyur. Saya anggap sebagai update dari postingan saya…
    *ngumpet dari Kyai Erander takut dimintai honor…*

  12. saya hanya membayangkan dua hal yang kontradiksi:
    bagaimana dahulu dimasa awal Rasulullah SAW didalam menyampaikan dakwah bukan honor yang diperoleh malah dikejar2 dan ditimpuki orang…
    sebaliknya dimasa kini para kyai berceramah dielu2kan dan dihormati orang, datang dijemput pulang diantar, diamplopin tebel lagi…
    tidak ada yang salah memang karena kondisi dan jamannya memang berlainan…

    Ram-Ram Muhammad:
    Gak bisa berkata-kata… :cry:

  13. Kegelisahan yang sama Pak Ram.

    Sebuah persepsi yg mesti segera diluruskan dengan jalan aktor-aktor utamanya mesti meluruskan persepsinya tentang ini lebih dulu. Setidaknya, bukan pelarangan atau menolak untuk memberikan dan menerima amplop, tapi bagaimana “amplop” yang dikeluarkan panitia untuk seorang penceramah bisa disirkulasikan dan diputar kembali utk kemaslahatan umat itu sendiri. Jadi, si penceramah mengembalikan dana itu ke panitia (dlm bentuk menyumbang kembali) setelah ia menerima “amplop” itu sebelumnya (formalitas). Terlalu idealiskah pendapat saya? *Bingung*

    Mohon dimaafkan jika terkesan lancang dan mohon pencerahan dari Pak Ram..

    Ram-Ram Muhammad:
    Hmmm, mungkin juga terlalu idealis. Yang perlu saya tekankan di sini adalah, penghargaan dan timbal balik dari mustami kepada muballig yang diundang ceramah bukan hal yang salah, keliru apalagi melanggar syariat. Yang perlu dikritisi adalah komersialisasi, kecenderungan ummat yang terkesan formalitas belaka ketika menggelar tablig, makanya tidak heran jika sering muncul pesanan kepada kyai atau ustadz agar ceramahnya dibumbui humor. Humor gak salah, tapi kalau sampai dipesan…kesannya mau menggelar ketoprak. :mrgreen:

    Wassalamu’alaikum

  14. jadi inget kasusnya ustad yg mensomasi blogger :D

    Ram-Ram Muhammad:
    Mensomasi karena kritik para blogger ya? kapan, di mana? bagaimana somasinya? Minta link-nya dong… :)

  15. *ngakak baca komen daeng limpo* :lol:

    Baidewei, mengingatkan saya pada hidup susuter-suster yang mengabdikan diri sepenuhnya tanpa digaji… :|

    Ram-Ram Muhammad:
    Lho, para pendeta atau pasturnya kan dapat “honor”? Kok susternya enggak? :roll:

  16. Betul Pak Ram. Memberikan bentuk apresiasi kepada para Mubaligh memang sudah selayaknya dilakukan (dlm bentuk apapun, paling tidak untuk kelangsungan hidup sang Mubaligh sendiri juga hidupnya dakwah), karena tanpa mereka (para mubaligh, ustadz) juga, aliran ilmu, bangkitnya gairah berislam umat utk sama-sama menghidupkan syiar islam (minimal di diri sendiri) tidak akan berjalan dengan lancar. namun jangan sampai terjadi semacam pentarifan dlm sebuah event tabligh yg pada akhirnya malah menjustifikasi persepsi sebuah bentuk komersialisasi. dan idealnya, para Mubaligh pada akhirnya mempunyai tanggung jawab moral utk sama-sama serius dalam menyampaikan materi dakwahnya dengan cara yg bijak, santun dan penuh hikmah dan punya sebuah visi akan dibawa kemanakah umat ini (karena para mubaligh juga sebagai social control)…

    Sepuntene, sekedar sharing uneg2 saja Pak Ram :mrgreen:

    Ram-Ram Muhammad:
    Sepakat Kyai Fakh… :mrgreen:

  17. Saya punya pengalaman jadi panitia syawalan di pabrik tempat say bekerja beberapa tahun silam di Sidoarjo. Manajemen meminta kami mendatangkan seorang da’i kondang, yang konon memiliki sekian juta umat. Kami gagal mendatangkan beliau, karena kami tidak sanggup menyediakan honor dan fasilitas yang diminta, bukan langsung oleh beliau, tetapi melalui “koordinator wilayah” Jawa Timur, termasuk tiket pesawat eksekutif, akomodasi dan tetk bengek lainnya, yang mencapai hampir 75 juta. Bahkan, untuk kegagalan mengundang itu, kamipun masih harus mengeluarkan dana sekian juta rupiah, sekaligus kenang-kenangan bagi sang “korwil”. Sungguh, kami malu sebagai umat Islam, terlebih hampir seluruh manajemen perusahaan adalah ekspatriat dan non muslim.

    Ram-Ram Muhammad:
    Halah, apa beneran begitu? :roll:
    Saya husnuzzon saja, mungkin itu pribadinya oknum si korwil saja, sedangkan Kyainya gak tahu apa-apa…

  18. kalo kyai honornya amplopnya berapa ? (saya ngomongin amplop lhoh .. bukan isinya)

    Ram-Ram Muhammad: :mrgreen:
    Amplop putih saja deh…

  19. Lama g jalan2 di blogsphere.. ketemu artikel menarik dari Gus Ram…(padahal hampir semua tulisannya menarik… iya ngga gus???)

    Hemat saya begini, meminta jangan, kl diberi… ya diterima aja… ( tapi tidak boleh ada “berharap” akan pemberian orang lain/pengundang). kita sebagai umat yang butuh kyai/mubaligh harus “mengerti” tapi tidak memaksakan, sewajarnya saja. walaupun menuju masyarakat yg seidealini sangat susah… karena itulah banyak “kyai” yg jualan ayat2 sama hadits naudzubillah….
    terlau kasar nggak gus, bahasa saya??? piss…

    Ram-Ram Muhammad:
    Ya… sepakat begitu Cak Ri…
    Mungkin bukan “banyak”, tapi “ada” ;)
    Ah, gak kok, gak kasar. Piss juga Cak!

  20. maaf bila pemikiran saya sedikit berbeda dengan kebanyakan komen di sini. menurut pemahaman saya, terlepas dari “matrek” atau tidak seorang penceramah, itu merupakan urusan dia. namun yg saya garis bawahi adalah, niat yg mengundang. bila memang mengundang ustadz, ulama, dai, penceramah, atau apalah namanya untuk belajar agama, memperdalam ilmu agama, menuntut ilmu supaya menjadi modal untuk melangkah di kehidupan sehari-hari, sangatlah layak bila mereka itu “dibayar”.

    “bayaran” dimaksud, merupakan salah satu bentuk “penghargaan” karena beliau sudah mau meluangkan waktunya untuk “menceramahi” semua kita. andai, (terlepas bahwa tuhan bisa datangkan rezeki dari mana saja) semua waktunya habis terpakai untuk para jamaah, bagaimana anak dan isterinya ? secara manusia, tegakah anda menyita waktu sang penceramah untuk bekerja (profesi lain) ? padahal, sebagai pemimpin keluarga, dia wajib menafkahi anak dan isterinya !

    padahal, di quran (saya lupa ayatnya) jelas-jelas telah disebutkan bahwa sebelum semua kita mendengar nabi berceramah, maka hendaklah kalian bersedekah terlebih dahulu ! sedekah di sini dalam arti luas. bisa berupa harta. bisa berupa membuang segala syak dan wasangka saat ceramah itu disampaikan. bersikap lega hati bila sang penceramah menjadikan kita sebagai “bemper” guna memberikan nasehat kepada orang lain yg masih tinggi amarahnya !

    jadi, semuanya tergantung persepsi dan sikap masing2. bila kita melakukan semua itu dengan niat, pikiran dan tindakan yg baik, maka semuanya akan menjadi baik. namun bila sebaliknya, maka itulah yg akan didapat.

    maaf, seperti bikin postingan !

    Ram-Ram Muhammad:
    Maksud tulisannya Kyai Borsalino pada intinya sama dengan maksud tujuan penulisan artikel saya kok… :mrgreen:

  21. Aku hargai keberanian moril Pak Ram-Ram Muhammad menulis topik yang oleh sebagian besar masyarakat kita masih dianggap tabu untuk dibicarakan secara terbuka. Keberanian moril seperti ini kita perlukan untuk membiasakan kita berpikiran terbuka, sambil tetap berprasangka baik dan tanpa mengurangi kesantunan. Kalau terus-menerus ewuh pakewuh, bangsa ini akan membeku dengan segala borok-boroknya.

    Salam Merdeka!

    Ram-Ram Muhammad:
    pak Robert, saya kira menulis atau menyampaikan masalah ini tidak memerlukan keberanian ekstra kok, lagi pula menurut hemat saya hal ini bukan sesuatu yang tabu, tapi tidak dianggap biasa saja… sama gak ya? :roll:

    Salam merdeka!

  22. Aku lihat, tulisan Gus Ram gak ada sedikitpun yang merendahkan para mubalig atau da’i. Saya juga melihat fakta yang ada di masyarakat memang seperti itu. Kalau mau menggelar pengajian, soal dana yang paling ramai dibicarakan. dan kalau ingin mendengarkan tausiyah da’i kondang, panitia suka kebingungan dengan jumlah dana yang tersedia.

    Eh Gus, pernah ada gak da’i yang mau datang memenuhi undangan ceramah, tapi panitia sebelumnya sudah bilang kalau tidak punya dana sepeserpun untuk transportnya penceramah?

    Ram-Ram Muhammad:
    Setahu saya ada, bahkan bukan cuma satu dua lho mas Darwin…

  23. Ini menyindir siapa sih mas, yang jelas biar kita juga tahu siapa?

    Ram-Ram Muhammad:
    Mas Once Dealova bacanya kurang lengkap kali… gak ada yang disindir kok, cuma sekedar ungkapan keresahan saya saja.

  24. Maaf tapi kok seperti anda sedang menyindir seorang ustadz…

  25. ahem…

    Pak Bradd Pitt :| Kiyai… Honornya berapa kalo short time ceramah di kota metropolitan seperti kota saya? :lol:

    kalo ndak ada uang, apa boleh dibayar pake yang lain? :lol:

    Ram-Ram Muhammad:
    Ahem… juga
    Sebaiknya mas menghubungi manager saya, bisa dirundingkan di sana, sekalian mencocokkan waktu dan hal-hal lainnya.
    Kalau ndak ada uang, pake emas kiloan juga gak apa-apa, saya ikhlas kok… :mrgreen:

  26. Kalau masalah imbalan bagi para Da’i kita memang perlu sangat diperhatikan, sebab sepengetahuan saya imbalan penceramah agama selalu lebih rendah dari pembicara bidang keilmuan yang lain (ekonomi, tekhnologi, kedokteran dll) sebab musababnya sayapun nggak tau kenapa, mungkin karena mereka fiisabilillah yang tidak mengutamakan materi sehingga sampai saat ini kita tidak merasa salah.
    Saya masih ingat beberapa tahun yll, para Da’i kita (mungkin sampai saat ini) mirip dengan Jailangkung “datang tidak dijemput pulang tidak diantar” hal yang tidak/jarang kita temui bagi penceramah bidang ilmu yang lain*Peci miring tuh*
    Mari sama-sama kita berikan penghargaan yang layak kepada para ulama, Da’i atau penceramah agama, karna mereka juga kepala keluarga yang harus menafkahi, namun juga jangan sungkan untuk berterus terang bila acara yang kita adakan hanya memiliki dana terbatas. Jangan karena alasan materi syiar agama kita jadi mandeg*Pak Ram peci nya tuh*
    Singkatnya menurut saya boleh-boleh saja kita menanyakan hal itu(honor) gunakan tatabahasa yang baik atau cari info keteman-teman yang pernah mengundangnya.
    Secara kasat mata kita bisa melihat ada peringkat Da’i saat ini (bukan berdasarkan bobot ceramah) tetapi berdasar pada tingkat kepopulerannya, nah kita lah yang bijak mengukur kemampuan memberi imbalan buat para Da’i.
    *Akh pecinya jatuh juga deh*
    Pak Ram terima kasih atas postingan ini semoga suiar aagama kita tetap berjalan, dan para Da’i kita tetap istiqomah fiisabilillah, amin.

  27. saya mau beda ah… *halah* 8)
    saya juga sempet mikir, sebetulnya jadi ustadz itu profesi atau reputasi? kalo profesi ya jelas boleh aja minta honor berapa pun, sesuai kebijakan perusahaan dakwahnya. mungkin ada sekolahnya juga dan bergelar ustadz muda (S1), madya (S2), paripurna (S2), dll. kalo bukan berarti cuma reputasi, bukan? gelar sosial seperti juga haji. *halah sok tahu*

    kalo masalah umat yang malas kalo ngaji privat, saya rasa ada kaitannya dengan sistem pendidikan kita (baca:dulu). murid hanya pasif, dengar kutbah guru, manggut-manggut. kalo nanya malah kadang dimarahin. pengajian privat juga mungkin begitu. pengalaman saya sih emang gitu… :D barangkali karena itu tabligh akbar, sinetron, dan dakwah show lebih memukau.

    tapi, saya kira para pemuka agama perlu menyadari dan jujur. keadaan umat seperti sekarang ini tak lepas juga dari sistem pendidikan keagamaan di masa lalu. siapa yang bikin sistem itu? ya kayaknya mereka juga… *kabuuuuuuuRRR*

  28. Salam Kang Brad eh Kang Ram yang gelisahnya masih,
    Duh kalo pikiran kotor saya sih,
    Mending ngga berharap tapi dikasih,
    Dari pada berharap tapi cuma dapet terimakasih,

  29. Wah, apa kiyai merupakan salah satu profesi ya? Kok pakai honor segala?

    Pahala = Honor-kah?

  30. SALAM. HI KANG RAM-RAM, APA KABAR? THANKS SUDAH BERKUNJUNG KE BLOG SAYA. SEBUAH PENGHORMATAN YANG BESAR BUAT SAYA.
    WAH MENARIK JUGA YA MEMBAHAS TENTANG KOMERSIALISASI AGAMA. JADI AGAMA DIJADIKAN ALAT UNTUK MENGERUK UANG….AMIT-AMIT DEH.
    DI MOBIL JUGA, BANYAK ORANG YANG MENJUAL AYAT-AYAT KARENA MENGHARAP IBA DARI PARA PENUMPANG. LHO, KOK AYAT-AYAT DIJADIKAN ALAT UNTUK MEMELAS…BUKANKAH JUSTRU KALAU INGIN UANG, BUKAN PAKE MULUT SAJA, TAPI JUGA HARUS BEKERJA KERAS, BERFIKIR KERAS, DAN JUGA CERDAS…
    SAYA SEMPAT MENDENGAR BAHWA ADA KIYAI YANG MEMASANG TARIF, SEHINGGA DIA HANYA MAU MENGISI PENGAJIAN YANG MAU MEMBAYAR DENGAN TARIF YANG BAGUS…LANTAS YANG TIDAK PUNYA TARIF…DITELANTARKAN….MENGENAI BUDAYA MENDENGAR…..SAYA PIKIR MENDENGAR ITU HAL YANG BAGUS….TAPI JUGA HARUS KRITIS SEHINGGA INFORMASI YANG MASUK TIDAK DITELAN MENTAH-MENTAH TAPI HARUS DIVERIFIKASI SEHINGGA TERJADI CRITICAL LISTENING……
    KANG RAM-RAM…ONLY THIS WHAT I CAN WRITE HERE…YOU KNOW I JUST LEARN HOW TO EXPRESS MY FEELING AND MY KEGELISAHAN…HEHEHEHE
    KEEP WRITING
    AHMAD
    TKI ASAL BANDUNG DI SAUDI ARABIA

  31. Assalaamu alaikum bang… Saya juga sependapat dengan pendapat nya abang dan komen sebelum saya. Budaya dengar tidak salah asal tetap kritis. Terus, yang jadi fakta sekarang, ternyata pengajian lebih banyak diisi ibu-ibu, kalau bapak-bapak sepertinya sibuk atau apa… jarang saya dengar ada majelis taklim bapak-bapak. Kenapa ya abang?

  32. @ hadi arr
    saya senang dengan kalimat “Saya masih ingat beberapa tahun yll, para Da’i kita (mungkin sampai saat ini) mirip dengan Jailangkung “datang tidak dijemput pulang tidak diantar” hal yang tidak/jarang kita temui bagi penceramah bidang ilmu yang lain”. Sangat mencerahkan… :mrgreen:
    *ngumpetin kopyah!*

    @ sitijenang
    Lho, bukannya njenengan juga Kyai… jadi ikutan “nanam saham” dunk? :)
    Persoalan yang lebih penting sekarang adalah, bagaimana merekonstruksi semangat mempelajari agama… sepakat kah kyai Jenang?

    @ rumahkayubekas
    “Mending ngga berharap tapi dikasih,
    Dari pada berharap tapi cuma dapet terimakasih,” :evil: Mhuauauhaha

    @ faUZaNeVVa (busyet, susah ngetiknya)
    Secara bahasa, Pahala = honor… tul gak ya? :roll:

    @itsme231019
    Yah, mudah-mudahan segala bentuk komersialisasi agama segera dihentikan dan kembali kepada kedudukan yang seharusnya *halah*

    @ Irfan Yudiana
    Saya juga heran, ada kesan bahwa majelis taklim itu khusus buat kaum ibu-ibu atau perempuan. Yang khusus bapak-bapak, yang biasa saya diundang rutin *halah* cuma ada satu di daerah Margahayu Bandung. Tanya kenapa?

  33. tambah rame nih Gus Ram… tapi sepertinya semuanya sepakat bahwa komersialisasi agama termasuk soal tarifisasi ceramah agama adalah suatu hal yang tercela dan tidak disukai ummat.

  34. wadoueee, saya bukan kiyai, ustadz, mubaligh, apalagi ulama. saya cuma manusia biasa yg sedang belajar makin dekat kepada yg maha dekat ! namun, apalah arti keingininan ini bila yg maha mengetahui tidak merestui. tapi paling tidak, saya berani mengejar apa yg saya inginkan. meski ada banyak penghalang!

  35. sesiapa saja yg pandai “menghargai jasa para pahlawan”, maka ilmunya akan berkembang !

  36. nyambung lagi …
    apalagi kepada mereka yg sudah menunjukkan kepada kita jalan yg diridhoi !

  37. Banyak ustadz kena tabok nihh
    Salam kenal ya pak

  38. jauh lebih enak memelihara murid daripada memelihara bebek

    http://tomyarjunanto.wordpress.com/2007/12/03/bebek-murid/

    salam kenal & salam hangat Pak :D

  39. kang kalau dapat honor dibagi bagi yaa :D
    eh.. nepangkeunnya!

  40. @ Darwin
    Ya.. semua sepakat soal itu… tapi untuk beberapa hal lainnya, ada yang tidak sepakat
    *tunjuk-tunjuk semua komeng di atas*

    @ borsalino komeng 1
    Terus…. :mrgreen:

    @ borsalino komeng 2
    Terus…. :mrgreen:

    @ borsalino komeng 3
    Terus…. Kok udahan… :mrgreen:

    @ Alumni
    *ngumpet takut ditabok juga*
    Yang nabok siapa ya? :roll:

    @ tomyarjunanto
    Halah… !
    *ngejar tomyarjunanto sampai ke TKP*

    @ tien
    Dengan senang hati saya bagi da, saya isinya teh Tien amplopnya… :mrgreen:
    Sawangsulna, nepangkeun…

  41. Maksudnya tentang kebiasaan orang2 kita yg belajar melalui metoda mendengar saja tanpa ada aksi-reaksi lebih lanjut (follow up) dari pembelajarn tersebut.
    Metoda tabligh dalam dakwah (dalam hal ini maksudnya pembelajaran materi keagamaan) memang semarak, tetapi perlu pendekatan belajar yg lebih efektif agar nilai2 agama tersebut tidak hanya masuk ke telinga dan jadi bahan ha ha ha (lucu2an doang maksudnya).
    Mungkin pengajian rutin yg kyai maksud bisa jadi pemecahannya. Diharapkan antara murabbi (guru) dan mad’u (murid) memiliki interaksi yg jelas untuk terjadinya transfer nilai2 keagamaan tersebut.
    Semestinya pengelolaan dakwah kita memiliki relasi jumlah yg terbatas antara guru dan muridnya. Dengan demikian da’i (guru) lebih leluasa untuk memilah materi2 yg bersesuaian dengan situasi muridnya. *halah jadi sok lebih tau nih*
    Tetapi masalah tak suka berada di zona kurang nyaman memang problem. Maka dakwah yang telah begitu glamour dilakukan dimana-mana (seakan syiar Islam tambah semarak) kebanyakan tak banyak faedahnya mengubah prilaku ummat. *Bingung sendiri membaca komen sendiri*
    Mohon koreksi kyai … :)

  42. Satu tahun yang lalu saat kami mengikuti multaqo ulama’ nsional di griya saba, DPRI Bogor, ada seorang ulama’ dari NTT, bertanya, “bagaimana hukum terima amplop?”. Nah para peserta tercengang dengan pertanyaan tersebut. Nah hingga di akhir pertemuan tak ada yang maun mengomentari. Di akhir acara, saya datangi kyai tersebut. Saya berbisik di telingahnya, “hukumnya terima amplop, sama dengan hukumnya saat menerima rezeqi lainnya. Jika jalannya haram, yaaa haram. Jika jalannya halal, yaaa halal”. Gimana? Nah dia hanya manggut-manggut saja

  43. @ tuan rumah & kang herianto
    sepakat, tapi saya tetap bukan kyai. :D kalo buat saya, apa yang sudah dimulai Aa’ Gym sebenarnya adalah langkah revolusioner, meski dia sempat “kepleset” omongan sendiri. kalau semua berawal dari niat, di situlah seharusnya awal pengajaran keagamaan. kebersihan hati dan pengelolaan nurani. kalo bisa malah masuk sampai tahap manifestasi, menjadi budi pekerti.

    bayangkan kalo anak-anak ABG, saat usia rawan godaan, sudah mampu mengolah nuraninya. jadi, kalau mereka mendengar perintah, “Bacalah!” mungkin mereka tidak lantas gegabah langsung menjawab, “Sudah!” :mrgreen:

    kalau Anda pun sudah mengarah ke sini, saya do’akan kang Ram selalu disertai cahaya Ilahi, baik di tingkat sukmawi, jiwa, maupun ragawi. setuju gak? 8)

  44. Saya calon kyai, karena saya calon kyai honornya antara Rp.10.000 s/d 50.000,-. lumayan khan buat beli Bakso. Tapi gak dapat Jannahnya, padahal seorang mu’min tentunya kyai juga pasti mu’min telah menjual jiwa dan hartanya dengan Syurga.
    Gak dapet deh, karena Syurganya dah diganti sampa ampaw……kasian………
    tak ubahnya selebritis Agama….

    • Askum. mas semua orang butuh duit termasuk anda dan orang-orang menyangkal ustadz yang dapat honor yang penting dengan cara yang halal dan baik. menyampaikan/ memberi ilmu agama adalah pekerjaan yang baik dan mulia dan tidak ada kemaksiatan didalamnya sedikitpun. Jadi jika ustadz yang memberikan ceramah mendapat imbalan dari perbuatannya sesunggunya itulah rezekinya yang benar-benar halal. Lagian ada gak dalil khusus (bukan dalil umum) yang melarang ustadz menerima imbalan

  45. eh ketinggalan, lihat Qs 9 :111

  46. soal bagi2 duit aja koq ribet amat sich ! dasar manusia.
    mau ngasih ya ngasih aja … gak usah banyak bacot. yg mo nerima, ya nerima saja, gak usah ngedumel.

    lah, wong ibadah saja kagak ada yg gratis !
    mulai dari jaman adam sampe kakek buyut eNTe, tetap aja disuruh bayar buat ibadah.

  47. Memang susah, dilema antara keikhlasan dengan kebutuhuan. Di sisi lain seorang ustadz juga manusia yang memerlukan biaya untuk menghidupi keluarganya. Kitalah yang harus menghargainya

  48. @Herianto
    Halah… sepemikiran rupanya pak dosen Her dengan saya. Apa benar ummat Islam sekarang sudah seperti buaih di laut, yang jumlah banyak namun terombang-ambing dan lemah? Separah inikah kualitas kita sekarang? Tarbiyah dan balig memang harus mulai direkonstruksi ya pak…

    @ elmawardi
    Assalaamu ‘alaikum Kyai Mawardi, senang rasanya njenengan bisa mampi ke sini. “fatwanya” sangat bisa difahami :mrgreen:

    @ sitijenang
    Kyai Jenang… Gak baik mungkir disebut kyai… :evil:
    Ah, saya sepertinya masih jauh dari mengarah ke sana… lagian saya bukan kyai, seurieus! :mrgreen:

    @ elfatih 2007
    calon kyai rupanya… amiin. Insya Allah ngelirik ayat dimaksud

    @ rajaiblis
    rajaiblis kalau diundang ceramah sama syetan, honornya berapa? :)

    @Maratussholihat
    Kurang lebihnya seperti itu ya mbak… Salam kenal, makasih sudah mampir

  49. [...] terbesar berikut nya adalah seorang Hafidz AL-QURAN dikisahkan berkhalwat dengan wanita bukan [...]

  50. ulama adalah Warasatul Anbiya… ( pewaris nabi ), juga pewaris para sahabat…

    adakah dulu Rasulullah berdakwah ke Syam, sahabat sampai ke negeri China, dsb…lalu mereka minta AMPLOP..?? :)

    Di akhir zaman ini memang Rasulullah sebutkan diantara kerusakannya adalah Ulama sudah Rusak oleh cinta dunia..

    that is… :)

    salam mas Ram-Ram… :)

  51. honor aNE murah ! gak mahal …
    semua pasti bisa mengupayakannya ! tinggal mau atau tidak
    cukuplah dengan darah dan nyawa !

    wakkakkakakaaaa …

  52. mudah2an suami saya jika mengajar ngaji atau ceramah tetap ikhlas…..bukan hanya sekedar mencari uang,,,,tapi mencari Ridho Allah SWT…semoga amiiin!
    * jadi pengen nangis*

  53. Ini mungkin di karenakan agama telah menjadi tempat mencari nafkah. :D

  54. @Cahya Rahma
    suami kamu bisa jadi ikhlas. dan itu bener ! namun, kamunya sendiri gimana ? lah kalo ngasih ceramah + ngajar ngaji saban hari dari pagi mpe malem kapan bisa cari duit buat kebutuhan dapur ?

  55. terlepas dari tuch ustadz cari nafkah atau bukan, sebagai manusia yg tahu diri – kenal diri, ya kasihlah seperak dua perak. pan dia dah ngebelain waktunya buat ngajarin kita. truzzz, dia juga perlu ongkos buat nyampe ke rumah kita. emang tuch ustadz mo pergi pake sajadah terbang ?

    lah, wong kursus komputer aja bela-belain cari utangan buat ngebayar. lah ini buat ilmu akhirat masih mikir2 buat keluar duit. eeee, malah si ustadz digosipin mata duitan !

  56. @ aboutmiracle
    Salam kenal juga… perasaan udah kenal lama kok. :)

    @ rajaiblis
    Tadinya mau ngundang… gak jadi ah!

    @ Cahya Rahma
    Amin

    @ danalingga
    Eeemm… begitukah?

    @ borsalino
    Ya… sepakat pak Borsa…

  57. Halah…semua kan berjalan sesuai dengan HUKUM toh Wak Yai,
    Klu mereka-mereka telah MENJUAL ayat-ayat-Nya dengan HARGA MURAH…tinggal kita lihat HASIL yang di PETIKNYA saja nanti.

    Yang lumrah sih…ASAL jangan PASANG TARIF saja…ntar kayak Warung Soto Lamongan jadinya..?? he..he…

    Misalkan saya yang berada di Kaltim ini pingin ngundang Wak Yai Ram-ram, saya harus siapkan ongkos pesawat PP, kasih makan dan sekedar rupiah menggantikan Rejeki hari-hari yang Wak Yai tinggalkan kerja untuk cari rezeki buat kasih makan Anak dan Isteri.
    lah ini kan mestinya sudah menjadi tanggungan si pengundang to..??. Kecuali klu Wak Yai Ram-ram minta SEKIAN rupiah….lah..lah.. ini yang NYAMARI…!!

    Ini mungkin yang disitir oleh Ayat-ayat dalam teks book Kitab Suci…supaya di PAHAMI oleh poro Penceramah Agomo.
    Halah..halah…sok ngerti…

    Salam
    soko Padepokan Borneo Timur

  58. nah, itu artinya kamu tahu diri. orang yg tahu diri berarti kenal akan dirinya. bisanya di kenal jg sama tuhannya. orang yg kenal sama tuhannya punya rasa sayang dan kasih. biasanya kalo ngasih sesuatu itu gak pake mikir2.

    itu orang, ntah ustadz, kiyai, ulama, pak haji, kalo kita yg ngundang ya kudu tanggung jawab donk. masa dia kita kasih tiker ama sarung doang. truzz makannya cuma air putih sama terima kasih doank. bener2 manusia gak tahu diri. udah minta diajarin soal ilmu tuhan.. eeee yg ngajar malah ditelantarkan. soal tuhan mo ngasih rejeki sama tuh ustadz, itu urusan tuhan ma dia. kalian gak usah sok ngatur. apalagi sampe ngomong aaaa… tuhan kan pasti kasih dia rejeki. sombong amat berani memastikan. siapa eNTe … ?

    capek … ngomong sama manusia !
    bisa jadi karena manusia merasa punya akal lantas semuanya bisa diakal-akali ? udah berani dia ngomongin ustazh itu mata duitan gara2 tuch ustadz udah netepin tarif sekian rupiah.

  59. mas…Salam tu kependekan dari Assalamu’alaikum.. :D

    emang udah lama kok bolak balik kesini..hehe

  60. Asslkum, Ya saya setuju aja dengan permasalahan yang terjadi dengan pernyataan yang di posting oleh Pak Ram…namun saya mau tanya perbedaan Istilah antara “Mubaligh Kyai sama Kyai Mubaligh itu apa? syukron…

  61. kalo begini gimana pa kiayi,
    kemaren ada tablig di tempat saya , untuk penggalangan dana pembangunan musholah, ngundang kiayi x , pas di kasi amplop dia biasa aja , tetapi mungkin dah sampai dirumah dia nelpon bahwa honornya kurang , karena panitia juga uangnya cekak dan beranggapan honornya kisaran segitu kurang 2 sedikit gapapa lah, namanya juga sedang pengalang dana akhirnya panitia memakai uang solawatan jamaah untuk tambahan honor kiaya tsb, kalo bgitu gimana hukum nya ya?

  62. sebenarnya saya termasuk orang yang tidak suka dengan adanya kiyai/ustadz/mubaligh yang komersil yang mana ketika mereka dipanggil panitia harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan oleh manajer mereka, seperti harus panjer 25 % dulu lah, sisanya nanti setelah acara selesai dan lain sebagainya. namun tidak salah apabila saya memberikan beberapa lembar uang kepada mereka sebagai timbal balik atas jasanya menyampaikan pesan-pesan agama pada acara tertentu agar mustami’ mendapatkan ilmu agama dan motivasi dalam beribadah untuk lebih baik dari sebelumnya. punten saya biasanya akan kasih “amplop” kepada mereka sesuai dengan jarak tempuh yang akan dilewati oleh mereka…… adapun masalah kurang atau lebihnya urusan mereka… dan saya lebih suka lagi apabila ada mubaligh yang menolak amplop scara halus dengan sembunyi-sembunyi. inilah sejatinya para mubaligh sebagai penyampai agama karena Allah SWT. mohon maaf apabila ada yang tersinggung.

  63. saya org bego dlm agama, karna saya ga pernah ngaji, KTP doank islam…
    soalnya waktu Sy mo masuk pesantren ga jd, kata org tua sy duitnya kurang, akhrnya skrg sy cm jd kuli…
    Coba kalo sy jd masuk pesantren, mgkin sy skrg udah jd ustadz, ceramah cm 30 menit hasilnya sama dgn saya kerja jd kuli 1 minggu…
    Enak bget jd ustadz, pnya bini cantik, kebeli rmh, mobil, t’kenal pula…
    CURHAT DONK MAAAH !!!

  64. AMRI
    askum. kalo ada hajatan anda sekalian manggil penyanyi dangdut yang seksi bayar Rp. 5 juta bahkan nyawer lagi gak pernah anda bahas, tapi ustadz yang memberi tausiyah perkawinan yang lebih bermanfaat cuma Rp. 100 ribuuu aja anda ributnya setengah mampus. Pikir secara jernih dong. ternyata benar… orang lebih menilai tinggi kemaksiatan daripada Nasihat agama

    • Amri, bangun tidur x yeh ? kaga nyimak yeh….

  65. I’ve read several just right stuff here. Certainly value bookmarking for revisiting.
    I wonder how a lot effort you set to create this type of fantastic
    informative web site.

  66. klo saya pilih belajar dari fenomena yg bisa diamati.
    manusia itu ingin dengar ceramah kok walaupun dia blg dia tdk percaya tuhan. krn ceramah itu tdk harus ttg tuhan, tp ttg pencerahaan pikiran, walaupun ujungnya ketuhanan/agama jg.

    *fakta:

    -motivator laku. bayarpun mrk mau nonton. motivator itu sebenarnya penceramah yg universal. tdk identik agama manapun, serta sering kasi nasihat yg praktikal.

    -sedangkan penceramah banyak yg ga mau nonton klo disuruh bayar tiket masuk kecuali emang orang mampu.
    beda motivator dengan penceramah:
    motivator adalah org2 yg sudah berpengalaman disuatu bidang dan memberi ceramah untuk bidang yg dia kuasainya secara praktek, bkn hanya teori. tp krn teori umum untuk segala sesuatu itu pada dasarnya sama, maka mereka sering terlihat paham apa saja, padahal tdk demikian.
    -sedangkan penceramah seringkali tidak tau prakteknya. contoh cara bersyukur. motivator biasanya mengatakan bersyukur itu caranya cm satu. berusaha secara maksimal dengar apa yg ada. buktinya itu benar adalah, tuhan pasti membantu, tp hanya jika kita sudah maksimal. yg tahu apakah kita maksimal ato tidak hanyalah hati kecil kita. jika betul sudah, maka sisanya tuhan yg menyelesaikan. krn selain dari hasil dari usaha kita itu adalah sukses, satu lagi yg plg sering kita abaikan, yaitu mental juara. sekecil2nya hasil dari usaha kita adalah mental juara. ini salah satu gaya penjelasan motivator yg mudah dimengerti.

    nah bayangkan penceramah menceritakan sukur dengan cara lain. dan sulit dipahami relevansinya. terlalu banyak mengedepankan hal2 yg tdk masuk akal.

    dari sini jelas motivator lbh didengarkan daripada penceramah. bkn krn setan, tp krn penceramah tdk menjabarkan apa yg ingin didengar dari pendengarnya.

    lalu krn motivator sesungguhnya adalah org2 yg sudah sukses, maka, kita pst cenderung percaya dengan org yg sudah sukses drpd yg cm tau teorinya.

    orang2 sukses adalah org2 cerdas yg selalu haus ilmu/teori2 baru. penceramah adalah org2 yg sebagian besar dia tau adalah teori2 yg dihapalkan. pendengar adalah org2 yg butuh hal2 yg langsung dipraktekkan. maka disini siapa yg jago prakttek? org sukses. siapa jago teori ulama2. siapa yg mendengarkan ulama2 secara langsung? orang2 sukses. jd ulama sebetulnya ttp dibayar ttp bkn untuk ceramah, tp untuk mengajar ilmu agama/teori2nya kepada org2 sukses ini. krn mereka ini hampir dapat dipastikan org2 kaya2 maka merekalah yg bayar ahli2 agama. nah dari situlah nnti org2 sukses ini menjadi “motivator” gratis, alias mrk mensedekahkan wktnya untuk berbagi cara2 sukses, baik dunia maupun akhirat.

  67. Buat Kiayi cepot honor untuk acara tablik akbar di mesjid jami nurul ikhsan kp kudang sukabumi kalau bisa honornya di kurangi jangan sampai dengan patokan harga 25 juta terus terang itu di tangung panitia hamba allah, sedangkan untuk acara tersebut membutuhkan dana konsumsi dll itu di tangung masyarakat dengan iuran /kelas.maksud sy apabila honornya di kurangi mungkin beban masyarakat untuk acara tablik akbar tidak terlalu besar dengan adanya hamba allah yang menyumbang untuk acara tablik akbar sebesar 25 juta bisa di pergunakan dengan keperluan konsumsi dll tidak mengandalkan iuran dari masyarakat setempat,dan sy mengharapkan kedatangan Bp Kiayi cepot untuk memberikan Tausian di kampung kami.Amin

  68. maaf salah impormasi


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Get a free blog at WordPress.com | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: