Sekolah: Haruskah Memasung Perbedaan

November 29, 2007 pukul 4:10 am | Ditulis dalam Pendidikan | 1 Komentar

Oleh: Ram-Ram Muhammad

 

Kawan saya pernah bercerita penuh kekesalan. Pasalnya, adik perempuan kesayangannya yang kini duduk di salah satu SD di Bandung sering dimarahi gurunya. Ulah sang adik yang tidak biasa sering menyulut kejengkelan para guru di sekolah. “Memang rasa ingin tahu adikku biasa membuatku kelabakan dan agak gondok juga, tapi wajar kan? Namanya juga anak-anak” ujarnya.

Dalam satu sesi pelajaran menggambar, dengan bangga Dhea -nama adik kawan saya- meletakkan karyanya di atas karya teman-temannya. Ia berharap agar sang guru dapat langsung melihat buah karyanya lalu memujinya. Selang beberapa menit, dahi Ibu Guru berkerut, “lho, kok gunung warnanya merah?”

Komentarnya kemudian, “Dhea, kenapa gunung warnanya merah, harusnya kan hijau. Kamu ini ada-ada saja!” Secepat kilat, raut muka gadis kecil itu memerah. Jerih payahnya berbuah kritikan.

Salahkah bila gunung berwarna merah? Tidakkah gunung Galunggung di Tasikmalaya memerah ketika meletus karena terlumuri lelehan lava? Tidakkah gunung-gunung berwarna hitam di malam hari?

Pada kasus lain, seorang ibu mengeluh kepada salah seorang kepala SMU di Bandung. Ia hampir putus asa karena sejumlah sekolah tak mau menerima anaknya Jaka (nama samaran) sebagai siswa. Jaka dikenal sering mengganggu teman saat pelajaran berlangsung, itu adalah satu diantara sifat-sifat buruk Jaka. Demikian menurut para guru dan teman-temannya di sejumlah sekolah yang pernah disinggahi.

Mendengar kisah itu, sang kepala SMU merasa tertantang. Ia menerima Jaka sebagai siswa. Setelah diamati beberapa hari, ternyata benar apa yang diprediksikan para guru dan kepala sekolah. Jaka tak mungkin diperlakukan seragam layaknya para siswa yang lain. Ia memiliki modalitas belajar yang berbeda.

Modalitas belajar adalah cara belajar yang cenderung dirasakan lebih nyaman dan menyenangkan. Ada 3 tipe modalitas belajar : Visual, Auditorial, dan Kinestetik.

Visual adalah tipe belajar yang cenderung menggunakan daya penglihatan. Tipe ini akan nyaman belajar jika objek yang dipelajari berupa grafik, tabel atau gambar.

Auditorial adalah tipe belajar yang cenderung menggunakan pendengaran. Tipe ini biasanya merasa nyaman dalam belajar jika objek yang dipelajari berupa lagu, hafalan yang berirama dan sebagainya.

Kinestetik adalah tipe yang cenderung mengandalkan gerakan salahsatu anggota badan untuk membuat proses belajar menjadi berkesan dan menyenangkan. Tipe ini lebih menyukai hands on (praktek langsung) dibandingkan duduk mendengarkan.

Pelajar kinestetik, itulah Jaka. Tipe ini memang unik. Para pelajar kinestetik akan merasa nyaman saat belajar dan dapat menyerap banyak informasi jika mereka menggerakkan salahsatu anggota badannya. Jari tangan, pergelangan kaki, atau yang lain. Pada kasus Jaka, nyatanya tidak sesederhana itu, ia hampir selalu mengganggu temannya sehingga mengganggu konsentrasi mereka.

Jaka selalu dianjurkan membawa sejumlah pencil ke kelas setiap hari untuk dipotong-potong sesukanya. Yang penting, dia tidak mengganggu yang lain. Akhirnya, setelah terbiasa, Jaka pun berhasil mengikuti proses pembelajaran dengan nyaman dan tidak lagi mengganggu teman-temannya.

Akankah siswa-siswa ‘berbeda’ lainnya bernasib naas seperti Dhea atau berakhir mujur seperti Jaka? Masihkah siswa yang enggan mengenakan seragam dianggap pembangkang? Masihkah siswa yang berpikir lateral disebut pemberontak? Dhea dan Jaka adalah dua diantara ribuan bahkan jutaan manusia ‘aneh’ yang pernah, sedang, atau akan hidup di tanah air. Mengapa kita selalu memandang perbedaan sebagai keanehan? Mengapa siswa yang ‘aneh’ selalu dianggap virus menular penentang kedisiplinan sehingga harus secepatnya dikeluarkan? Akankah kita biarkan sekolah menjadi penjara kreativitas dan pemasung imajinasi siswa?

Sekolah bukanlah perusahaan air minum yang harus mensterilkan siswa dari segala ‘kuman-kuman’ anti kemapanan. Sekolah bukan perusahaan roti yang harus menjadikan siswa berbentuk kotak rasa coklat, silinder rasa keju, atau bundar rasa susu sesuai pesanan dunia kerja. Sekolah bukan pula pabrik baju yang tugasnya memproduksi siswa menjadi kaos oblong, kemeja, jaket, atu jas sesuai pesanan konsumen.

Bukankah setiap manusia memiliki karakter khasnya masing-masing? Kenapa diseragamkan? Para tokoh bangsa ini, dari Bung Hatta hingga Gus Dur dan Kang Jalal dikenal karena kepintaran mereka. Ulfa populer karena humoris. Kang Ibing dan Bolot masuk dalam jajaran selebritis karena keunikan masing-masing.

Jika kita simak kembali kasus Dhea, amat disayangkan bahwa semangat belajar untuk mengoptimalkan daya kreasi dan imajinasi sering kandas diterjang paradigma sempit guru. Pada Jaka, ia terpaksa beberapa kali pindah sekolah karena kehadirannya dianggap bak virus.

Jika Jaka disebut nakal, apa definisi nakal? Bila Dhea disinyalir menyimpang, lalu apa batasan menyimpang dan ‘normal’ ? Diakui atau tidak, pendefinisian keduanya (nakal dan menyimpang) tidak akan terlepas dari unsur subjektifitas.

Jangan sampai sekolah melahirkan siswa yang memiliki kesadaran semu yang menjauhkan manusia dari nilai-nilai kemanusiaannya. Keadilan dan kesetaraan adalah nilai-nilai kemanusiaan yang harus tetap dijaga dan dipelihara. Kemudian, disesuaikan dengan perkembangan konteks zaman dan peradaban.

Bagi saya, sekolah (termasuk para guru) harus memposisikan diri sebagai fasilitator dan motifator yang manusiawi. Dengan tujuan terutama membangkitkan kesadaran kritis siswa agar bebas berkreasi dan berekspresi demi kemaslahatan diri dan lingkungannya dengan penuh tanggung jawab.

Terlepas dari setuju atau tidaknya anda, tulisan reflektif ini mencoba memberikan sebuah makna terhadap realitas perbedaan dari sudut pandang yang berbeda. Akhirnya, saya mengajak anda untuk memulai langkah maju dengan menghargai sebuah perbedaan. Wallahua’lam.

 

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. klasifikasi kurang tepat broooo….perdalam lagi dlm NLP


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: