Kami Diteror 60 Hari

Desember 1, 2007 pukul 1:00 pm | Ditulis dalam Agama, Artikel, Pendidikan, Pesantren Pondok Iqra' | 6 Komentar

Saya ingin berbagi pengalaman dengan semua pengunjung/pembaca yang budiman. Semoga cerita ini bisa memberikan manfaat dan bahan perenungan bagi kita semua.

Kejadiaannya bermula pada saat pesantren kami, yakni Pesantren Pondok Iqro bermaksud menyelenggarakan sebuah kegiatan bertajuk “Pengajian Kebangsaan” untuk yang kedua kalinya, pada tanggal 16 Juli 2005. Acara ini digagas bersama PAKUAN (Paguyuban Anti Diskriminasi untuk Agama Adat dan Kepercayaan).

Adapun latar belakang menggagas Pengajian Kebangsaan itu: pertama, konflik atas nama agama, etnis dan golongan sudah cukup melelahkan dan merugikan secara materi dan immateri; kedua, konflik atas nama agama, etnis dan golongan seringkali dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu demi kepentingan tertentu. Dan ketiga, persoalan bangsa ini cukup rumit dan banyak: pendidikan, kemiskinan, moralitas dan seabrek masalah lainnya.

Dengan latar belakang diatas, Pengajian Kebangsaan bertujuan untuk menciptakan media dan ruang dimana semua pihak, tokoh dan jamaah serta warganya, bisa bertemu, duduk bersama, berbagi pengalaman dan menciptakan kesepahaman dan pengertian. Sehingga kecurigaan-kecurigaan atas orang lain yang berbeda akan terhapuskan, dan akan terbangun suasana hangat, akrab, saling percaya dan penuh cinta.

Panitia kemudian mengundang para tokoh dan umat dari berbagai agama seperti Islam, Kristen, Hindu, Penghayat Kepercayaan, Konghucu dan Baha’i. Tidak lupa, pihak pesantren juga telah melayangkan undangan dan surat pemberitahuan kepada instansi pemerintah seperti kelurahan, kecamatan, departemen agama kota Bandung dan kepolisian. Bahkan, pihak kepolisian membeikan apresiasi positif dan menyatakan bahwa acara seperti baik dan tidak perlu izin, cukup pemberitahuan saja.

Sayangnya, acara ini dikemudian dipelintir oleh segelintir oknum dengan diisukan sebagai acara pengajian bersama yang mencampuradukkan berbagai agama menjadi satu, kurang lebih seperti ajaran komunitas Eden atau Salamullah. Yang lebih parah, isunya kemudian berkembang menjadi seolah-olah Pesantren Pondok Iqro akan berubah fungsinya menjadi gereja, diiringi dengan isu-isu fitnah lainnya yang menjadi bumbu pembakar emosi warga yang tidak tahu apa-apa.

Alhasil, berkumpullah sekelompok massa yang menuntut dibatalkannya acara tersebut. Tuntutan massa tidak hanya terbatas pada penghentian acara, namun berkembang menjadi upaya pengusiran dan tuntutan agar pesantren dibubarkan serta seluruh asetnya diserahkan kepada mereka. Yang aneh, jauh sebelum acara itu akan diselenggarakan telah terbentuk kepengurusan baru yang akan mengakuisisi pesantren, lengkap dari mulai sesepuh pesantren sampai pelaksana teknis. Padahal aset-aset pesantren berupa tanah dan bangunan beserta seluruh fasilitas yang ada adalah murni milik pesantren. Singkatnya semua yang ada bahkan termasuk properti pribadi harus diserahkan secara cuma-cuma. (Sebagai catatan, harga tanah di daerah kami bisa mencapai 1 juta per meternya.)

Karena tuntutan tersebut tidak mungkin kami penuhi, dan dari aspek manapun tidak akan ada pembenaran terhadap tuntutan tersebut, akhirnya massa membubarkan diri. Tapi ternyata tidak sampai disitu rupanya. Geram karena tuntutannya tidak membuahkan hasil, akhirnya segelintir oknum penggerak massa membuat strategi lain, yaitu melakukan teror secara membabi buta baik dengan melakukan pelemparan ke rumah tinggal sesepuh, mencorat-coret dinding dan membubarkan setiap kali anak-anak santri mengaji. Tujuannya adalah agar kami akhirnya ketakutan dan meninggalkan pesantren dengan “suka rela”.

Saudara pembaca, ini mungkin pengalaman paling mengesankan bagi saya dan para asaatidz yang lain. Bagaimana tidak, setiap menjelang isya kami dengan setengah bercanda bermain tebak-tebakan. Pertanyaannya adalah “jam berapa batu pertama membentur genting rumah?” Lemparan batu rutin menimpa atap genting rumah dan pesantren setiap malam dari jam 19-an sampai menjelang subuh, selama 60 hari lebih!

Pernah pada suatu malam, saya akhirnya menghubungi kepolisian agar membubarkan para pemuda di bawah setengah sadar yang melempari kami. Sayangnya kedatangan patroli polisi selalu diketahui oleh mereka, sehingga dengan cepat mereka menghilang bak ditelan bumi. Saking bosannya, polisi sampai pernah berprasangka kalau kami membuat laporan palsu. Untungnya, pimpinan polsek berinisiatif menempatkan intel yang bertugas memantau kebenaran laporan kami.

Alhamdulillah, pada suatu malam ketika sang intel (hanya sendirian) sedang bersembunyi di salah satu ruangan pesantren, lemparan batunya tepat menimpa di atas kepalanya… tanpa berfikir dua kali sang intel keluar dari “prsembunyiannya” sambil memuntahkan peluru ke atas sebanyak 2 kali. Maka tunggang langganglah para “atlit lempar batu”…

Pihak kepolisian berulangkali mendesak kepada kami agar memberikan laporan resmi tertulis ke polres agar bisa ditindaklanjuti (soal yang satu ini saya tidak faham, karena saya menilai kejadian ini bukan delik aduan, melain pro yustisia. Maaf kalau saya keliru). Tapi sesuai perintah sesepuh, kami tidak akan membuat laporan, alasannya sangat sederhana. Para pelaku teror adalah warga sekitar yang notabene merupakan “alumni” santri. Bahkan (mungkin anda tidak akan percaya) jika pada malam harinya mereka melempari kami, namun pada pagi dan sore harinya mereka mengantarkan anak-anaknya untuk tetap mengaji. Pada saat itu kami merasa tidak mungkin memperkarakan santri -orangtua atau keluarganya- sendiri.

Seperti kata pepatah sepandai-pandainya tupai melompat, akan jatuh juga. Pada suatu malam sekitar pukul 21.00, seperti biasa pelemparan batu kembali terjadi. Namun malang tak dapat ditolak, pada malam itu nyaris saja ada korban jiwa akibat pelemparan tersebut. Calon korbannya tidak lain adalah tokoh warga -mantan RW dan jagoan paling disegani di kampung kami- beserta istrinya. Kontan saja pak Haji -yang biasa memakai celana dalam saja atau berpakaian ala baduy- naik pitam. Saat itu juga beliau menghubungi anak buahnya. Malam itu menjadi malam paling menegangkan karena hampir saja terjadi konflik antar masyarakat, bukan lagi dengan pesantren. Tapi warga dengan warga, yang pro dengan yang kontra.

Polisi akhirnya turun tangan malam itu juga. Sebagian besar oknum digiring ke Polres dan diproses secara hukum sampai dijatuhi hukuman penjara. Akhirnya, selesailah malam-malam panjang kami yang penuh teror dan horor.

Kami tidak pernah menyesali kejadian tersebut, bahkan sekarang kami justeru merasakan hikmah dan manfaat yang luar biasa. Ambil contoh, jumlah santri TKA/TPA naik tajam. Siswa baru di TK, SD dan mahasiswa PGTK/SD dan peserta wajar dikdas juga mengalami kenaikan. Bahkan untuk SD, jauh hari sebelum tahun ajaran baru, kami harus menutup pendaftaran karena keterbatasan kelas. Yang lucu, kebanyakan dari siswa baru SD kami orangtuanya adalah perwira polisi atau tentara! Hehehe…

Pesantren akhirnya dapat membangun fasilitas gedung baru, laboratorium komputer dan WC baru! Alhamdulillahirobbil ‘alamiin.

 

 

 

6 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. waw…nice story,pasti bikin dag dig dug yha..hmm

  2. Hehehe, soal dag dig dug jangan ditanya mas… Buat informasi tambahan, penyidik dari kepolisian hampir gak percaya kalau batu-batu yang bersemanyang di atas genting banyak yang sebesar kepala kambing, padahal rumah kami lantai dua. Nah, batu-batu itu sekarang sudah berubah menjadi bagian dari pondasi WC baru kami, alahamdulillah ternyata bermanfaat juga.

  3. Hahaha… bisa aja pak kyai satu ini,cerita yang menarik sekali. Begitu sabarnya menerima perlakuan orang-orang sekitar yang benci kepada pendidikan pembebasan berbasis pesantren.

    Kasihan ya masih banyak orang-orang yang merasa tersaingi “agamanya”, “pahamnya” gara-gara ada agama lain di bumi ini.

    Menganut agama kok seperti pedagang yaa, jika ada saingan marah dan berusaha melenyapkan… aneh aneh aneh… subhanallah…

  4. Ha … ha … cara pengungkapannya bagus euy

  5. assalamualaikum wr.wb. Kumaha damang TADZ…abdi kantos mondok dipondok Iqro. cerita eta pernah rame dina koran. Punten tos terang teu acan …YOGI DARMAWAN carogena wiwin nu kantos mondok dipondok Iqro NGANTUNKEN kamari sabtu. teudamang paru-paru,

  6. Wa ‘alaikumussalam kang Rachmat. Sekarang di mana? Akang dapat informasi kalau Yogi Darmawan meninggal dunia dari Kang Heru, santri seangkatan Kang Rachmat. Akang dengan para alumni dan pengurus pesantren pada hari Ahadnya melayat ke Cimahi. Insya Allah, sejauh yang akang ketahui, juga kesaksian dari hampir seluruh tetangga serta keluarganya, almarhum orangnya sangat sabar dan taat dalam menjalankan agama. Semoga Allah menerima iman Islamnya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: