Saya Sangsi Allah Maha Penyayang

Desember 1, 2007 pukul 4:51 am | Ditulis dalam Agama, Pendidikan, Pesantren Pondok Iqra', Radio Broadcast | 14 Komentar

Pada suatu kesempatan ketika siaran Aula Hikmah, saya mendapat pertanyaan dari salah seorang pendengar melalui SMS. Pertanyaan lengkapnya sebagai berikut:  

Kang, apa maksudnya Allah tidak akan memberi cobaan di luar kemampuan ummat-Nya? Apa maksudnya juga Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Maha Bijaksana dan tidak pernah mengecewakan umat-Nya, Kalau Allah tidak kasih jawaban atas usaha dan doaku untuk mendapatkan kerja, malahan Allah memberikan saya cobaan penyakit kanker, saya tidak mampu mengobati penyakit ini dan Allah malah menjauhkan saya dari teman dekatku? Dosa tidak jika saya berdoa untuk minta dipercepat ajalnya?

Saya tidak terburu-buru menjawab pertanyaan ini, karena menjawab pertanyaan seperti ini -yang pada intinya muncul dari prasangka dan “kekecewaan” kepada Allah akibat “merasa tidak diperhatikan” oleh Allah- harus ekstra hati-hati agar penanya dapat terpuaskan dengan jawaban yang diberikan, sehingga prasangkanya terluruskan kembali dan kekecewaannya kepada Allah teredakan.

Saya kira perasaan seperti yang dirasakan oleh penanya di atas terkadang menghinggapi hati kita. Terlebih pada saat kita merasa bahwa penghambaan kita kepada Allah –dengan salat, puasa, sodaqah, berdoa dan bentuk-bentuk ibadah lainnya– sepertinya tidak membuat hidup kita menjadi lebih mudah dan tercerahkan. Alih-alih, kita justeru merasakan kesempitan, kesulitan, dan ketidakberdayaan yang bertubi-tubi. Maka kemudian yang muncul adalah prasangka buruk terhadap Allah yang berujung pada kekecewaan terhadap-Nya. Lebih dari itu, bahkan ada yang kemudian mengambil keputusan untuk tidak lagi berdoa, meninggalkan salat, berhenti sodaqah dan tidak lagi berharap kepada Allah SWT.  Alasannya, “Toh ternyata Allah tidak menyayangi makhluknya.” Atau, “Percuma saya beribadah.”

Benarkah Allah Maha Pengasih & Penyayang?

Kata “Ar-Rahman” terambil dari “Ar-Rahmah” yang berarti “belas kasihan“, yaitu suatu sifat yang menimbulkan perbuatan memberi nikmat dan karunia. Jadi kata “Ar-Rahman” bermakna: Yang berbuat (memberi) nikmat dan karunia yang banyak.

Kata “Ar-Rahim” juga terambil dari “Ar-Rahmah“, dan arti “Rahim” ialah: Yang mempunyai sifat belas kasihan, dan sifat itu “tetap” padanya selama-lamanya.

Jika disatukan (seperti dalam surat al-Faatihah atau Basmallah), maka Ar-Rahman Ar-Rahim (Arrahmanirrahim) itu berarti: Tuhan itu telah memberi nikmat yang banyak dengan murah-Nya dan telah melimpahkan karunia yang tidak terhingga, karena Dia memiliki sifat belas kasihan kepada makhluk-Nya, dan oleh karena sifat belas kasihan itu adalah suatu sifat yang tetap pada-Nya maka nikmat dan karunia Allah itu tidak ada putus-putusnya. Kata-kata “Ar-Rahman” dan “Ar-Rahim” itu kedua-duanya diperlukan dalam susunan ini, karena masing-masing mempunyai arti yang khusus.

Apbila seseorang mendengar orang mensifati Allah dengan Ar-Rahman, maka terpahamlah olehnya bahwa Allah itu telah melimpahkan nikmat dan karunia-Nya dengan banyak dan berlimpah-limpah. Tetapi bahwa limpahan nikmat dan karunia yang banyak itu tetap, tidak putus-putus tidak dapat dipahami dari lafaz Ar-Rahman itu saja. Karena itu perlu diikuti dengan Ar-Rahim, agar orang mengambil pengertian bahwa limpahan nikmat dan karunia serta kemurahan Allah itu tidak ada putus-putusnya.

Jika Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, kenapa Dia memberikan kesulitan, menurunkan musibah dan azab kepada makhluk-Nya?

Sebagian dari kita kerap kali memahami bahwa bentuk kasih sayang Allah hanya berupa kesenangan, kebahagiaan, karunia, pertolongan, nikmat dan hidayah. Pdahal jika kita renungkan, musibah dengan beragam bentuknya (sakit, bangkrut, miskin, kekurangan pangan, kematian) pada hakikatnya merupakan bagian dari kasih sayang Allah bagi Makhluk-Nya. Bukankah bagi orang yang beriman kepada-Nya, musibah merupakan ujian atas keimanannya kepada Allah? Jika seorang hamba lulus dari ujian-Nya, maka derajatnya akan ditinggikan oleh Allah. Dengan musibah, seseorang akan tersadarkan dari kelalaiannya. Bahkan dengan musibah pula, potensi-potensi “diam” dalam diri manusia kerap kali muncul ke permukaan menjadi sebuah inovasi, kreatifitas dan semangat baru.

Musibah adalah kejadian yang datang atas ketentuan Allah dan tidak bisa ditolak kedatangannya. Musibah datang dan menimpa siapapun tanpa membeda-bedakan sasarannya. Musibah dapat menimpa orang-orang yang saleh juga orang yang biasa berbuat dosa. Musibah bisa menghampiri orang-orang yang ahli ibadah, juga yang ahli maksiat.

Meski pada dasarnya musibah adalah sesuatu yang tidak menyenangkan dan tidak diharapkan kedatangannya, namun bagi seorang mukmin musibah secara hakikat akan dipandang sebagai ujian dan jalan untuk meningkatkan derajat keimanannya terhadap Allah SWT. Hal ini dijelaskan di dalam surah Al ‘Ankabuut 2-3:

(Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan) mengenai ucapan mereka yang mengatakan, (“Kami telah beriman”, sedangkan mereka tidak diuji lagi?) diuji lebih dulu dengan hal-hal yang akan menampakkan hakikat keimanan mereka. Ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang yang masuk Islam, kemudian mereka disiksa oleh orang-orang musyrik.

(Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka. Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar) di dalam keimanan mereka dengan pengetahuan yang menyaksikan (dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta) di dalam keimanannya.

Akan tetapi, manakala musibah menimpa orang-orang yang bermaksiat, maka musibah tersebut dapat dipastikan sebagai siksaan atau pembalasan atas perbuatan dosanya. Hal ini ditegaskan Allah dalam Surah Muhammad ayat 10:

(Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka; Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka) atas diri mereka, dan anak-anak serta harta benda mereka (dan orang-orang kafir akan menerima hal yang seperti itu) yaitu mereka akan menerima akibat-akibat yang sama dengan apa yang telah diterima oleh orang-orang kafir sebelum mereka.

Artinya, musibah yang menimpa orang-orang kafir adalah bentuk pembalasan atas kekafiran mereka.

Musibah juga bisa berarti peringatan dari Allah atas kelalaian dan kezaliman yang dilakukan oleh orang-orang mukmin, dengan maksud agar dengan musibah yang menimpanya, seorang mukmin yang tengah asyik masyuk bergelimang dengan dosa dapat segera kembali ke jalan Allah dan menghentikan perbuatan maksiatnya

Menurut pandangan saya, azab sekalipun hakikatnya merupakan bentuk kasih sayang Allah selama azab itu diturunkan di dunia. Karena azab atau siksaan bukan hanya sekedar balasan terhadap kejahatan yang diperbuat oleh manusia, melainkan juga berfungsi sebagai pengingat agar manusia tidak terlena dalam kubangan kemunkaran, supaya manusia kembali kepada kebenaran dan terhindar dari azab yang jauh lebih pedih, yaitu siksa neraka.

Karenanya, adalah sangat tidak beralasan jika kemudian kita menyangsikan ke-Maha Rahman dan Rahiiman-Nya.  Wallahu a’lam

14 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. saya mau bertanya nih.. apakah NAsib seseorang bisa dirubah.? bagai man dengan ketentuan waktu dikandungan..aku seh ga tau cuma sering dengar kalo mati,jodoh,nasib ada di tangan tuhan ,dituliskan ketika kita diberi ruh didalam kandungan ,..berarti NAsib kita sudah tertulis ya’?.. dan ga akan bisa di rubah dari ketentuan yg alloh sudah berikan dan alloh tidak akan ingkar dengan semua itu.. nah waloupun usaha kita sudah maksimal tetap aja karena nasib yg sudah bergaris .

    • pernahkah kt dengar bahwa manusia itu hamba lemah yg punya tugas ikhtiar.pernahkah kt dengar antara nasib dan takdir.masalah nasib Allah berfirman QS 13:11.BAHWA NASIB ITU BISA DIRUBAH.sedangkan hasilnya iktiar itulah takdir.mk takdir adalah rahasia Allah ,dirubah tidaknya takdir itulah kekuasaannya.sedang apa yang kita trima hrs ridho agr mdptkn ridho Allah

    • kalau nasib ataupun takdir manusia sdh dtentukan oleh Allah tapi kita diberi kesempatan untuk memilih dari sekian banyaknya nasib ataupun takdir yang sdh ditentukan oleh Allah tersebut. Dan sebaik-baik pilihan tenyunya yang mengacu pada Al quran dan sunnah rasul karena hanya itu yg diwarisan oleh beliau

  2. saya mau bertanya nih.. apakah NAsib seseorang bisa dirubah.? bagai man dengan ketentuan waktu dikandungan..aku seh ga tau cuma sering dengar kalo mati,jodoh,nasib ada di tangan tuhan ,dituliskan ketika kita diberi ruh didalam kandungan ,..berarti NAsib kita sudah tertulis ya’?.. dan ga akan bisa di rubah dari ketentuan yg alloh sudah berikan dan alloh tidak akan ingkar dengan semua itu.. nah waloupun usaha kita sudah maksimal tetap aja karena nasib yg sudah bergaris .makasih..mohon balasan nya ..lewat emai aja ..karena aku jarang ke internet..please!!!

  3. bukannya untuk buka email harus ke internet dulu ya…hihi

  4. assalamualaikum

    saya setuju dengan yang antum sampaikan di atas, kita harus menyikapi setiap ujian dari Allah dengan bijaksana. Karena Allah maha tahu apa yang tidak kita ketahui. Jadi sepantasnyalah kita selalu bersyukur dengan apa yang telah Allah berikan kepada kita.
    🙂

  5. cerita di atas mirip dengan saya kadang saya pun ragu benarkah allah maha pengasih dan penyayang..?

  6. assalamualaikum

    Alhamdulilah, saya setuju banget dengan yang saudaraku sampaikan di atas, kita harus percaya bahwa Allah SWT memberikan yang terbaik buat kita. Allah Maha Tahu. Jadi sepantasnyalah kita selalu bersyukur dengan apa yang telah Allah berikan kepada kita.

  7. […] Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Banyak, bahkan tak terbilang nikmat-Nya yang telah dilimpahkan kepada […]

  8. saya setuju akang, tapi terkadang sulit juga yakinin teman atau keluarga yang ujiannya terus menerus…

  9. ALLAH AKAN MERUBAH NASIB SEORANG HAMBANYA APABILA HAMBA YG DIKEHENDAKI SENANTIASA BERULAH atas kehendak ALLAH SERTA YAKIN KARNA ALLAH AKAN MERUBAH APA BILA HAMBANYA MAU DGN USAHA UNTUK MERUBAH UNTUK KEPUTUSAN SERAHKAN KEPADA YG MAHA KUASA SEMOGA DIKABULKAN amin

  10. baguss ! BGT dah!
    wo ai ni Allah🙂

  11. Bismillahir rohmaannir rohiim
    Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
    Allah memang Maha Penyayang
    “Sungguh Allah lebih penyayang terhadap hamba-hamba-Nya daripada seorang ibu terhadap anak bayinya” [HR Bukhari dan Muslim]

    Baca selengkapnya di:
    http://media-islam.or.id/2011/09/21/allah-maha-penyayang-ar-rahiim-%D8%A7%D9%84%D8%B1%D9%8E%D9%91%D8%AD%D9%90%D9%8A%D9%85%D9%90/

  12. Maha Pengasih lagi maha penyayang.
    *Syarat dan ketentuan berlaku.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: