Calon Menantu -Pengangguran- Percaya Diri (1)

Desember 3, 2007 pukul 3:02 am | Ditulis dalam Agama, Artikel, Humor, Jurnalistik, Komunikasi, Pendidikan | 2 Komentar

Cerita ini fiksi belaka. Buah dari mimpi malam jum’at kemarin yang kemudian saya tuangkan menjadi sebuah tulisan, tentunya saya bumbui dengan hayalan tambahan agar isinya lebih warna-warni . Cerita pokoknya tentang seorang pria sarjana yang masih belum mendapatkan pekerjaan alias menganggur, tapi ingin segera menikahi wanita pujaannya. Akan muncul perdebatan panjang -mungkin lebih tepat disebut dialog hangat- antara calon menantu dengan calon mertuanya. Selamat membaca. 

Namanya sebut saja Kagungan Kawani (dalam bahasa Indonesia artinya: Punya Keberanian) biasa dipanggil Wani (Berani). Bapaknya memberi nama ini dengan harapan agar anak laki-laki semata wayangnya tumbuh menjadi manusia yang punya keberanian. “Berani dalam hal apa saja selama tentunya dalam kebaikan” Begitu ujar bapaknya ketika ditanya orang kenapa si anak diberi nama Kagungan Kawani.

Berbeda dengan pandangan sebagian orang yang terkadang tidak begitu peduli dengan arti sebuah nama, seperti ungkapan yang berbunyi “Apalah arti sebuah nama?” Dalam ajaran Islam, memberi nama anak tidak boleh asal sekedarnya, melainkan harus memiliki makna yang baik, karena sebuah nama mengandung dua hal: Roja (harapan) dan ad-Du’a (Doa) kedua orangtuanya terhadap si anak. Dalam sebuah hadis Nabi SAW pernah bersabda, “Sebagian dari hak anak yang harus ditunaikan oleh kedua orangtuanya adalah membaguskan akhlaknya dan memberikan nama yang baik“.

Itu juga sebabnya juga sebuah nama seringkali mempengaruhi si anak dalam perjalanan hidupnya. Kalau tidak percaya, coba anda survey, kebanyakan orang yang bernama Latif atau Latifah, biasanya perawakannya kecil mungil, atau berpembawaan lemah-lembut, hehehe. Dalam bahasa Arab, Latif atau Latifah berarti kecil, lembut, mungil.

Kembali ke cerita kawan kita si Kagungan Kawani. Benar saja, sedari kecil, Wani tumbuh menjadi anak yang pemberani. Bahkan saking “pemberaninya” ia seringkali menantang gurunya sendiri untuk berlomba naik pohon jambu di halaman sekolahnya . Tentu saja tidak ada satupun guru di sekolahnya yang “berani” menerima tantangan si kecil Wani, soalnya semua guru TK di sekolah tempat Wani belajar adalah perempuan dan biasa memakai rok selutut ketika mengajar!

Masih ketika duduk di bangku taman kanak-kanak, pernah pada suatu hari sepulang dari sekolah Wani kecil bermain di halaman depan rumahnya. Saat asyik bermain mobil-mobilan yang terbuat dari kulit jeruk Bali buatan bapaknya, matanya tertuju pada seonggok kotoran ayam di atas tanah tepat di samping mobil-mobilan kulit jeruknya “parkir”. Wani lama terpekur sambil matanya tidak lepas dari onggokan kotoran ayam. Pikirannya berkecamuk diiringi rasa penasaran yang luar biasa. Saat itu yang ia fikirkan cuma satu hal, “bagaimana rasanya ee ayam..?” Tidak sampai lima menit, ujung jari tangan mungilnya terjulur mencolek bagian atas kotoran ayam, lalu -maaf- dimasukkannya jari beroleskan kotoran ayam itu ke mulutnya, tidak sekedar dijilat dengan ujung lidah, tapi dikemut! Tidak sampai lima detik, Wani pun akhirnya muntah an segera bergegas menjauhi  “lokasi” onggokan kotoran ayam tadi.

Beberapa saat kemudian, ibunya keluar dari rumah menghampiri Wani yang masih shock di pinggir beranda rumah sambil membawa sepiring nasi, memang saatnya makan siang. “Wani, makan dulu…” Kata ibunya sambil bersiap memasukkan sendok berisi nasi ke mulut anaknya itu. Tapi Wani menutup rapat mulutnya sambil menggelengkan kepala tanda menolak suapan nasi sang ibu -maklum masih mual kali…-.   

Kalau gak mau makan, nanti ibu ganti nasinya sama ee ayam” Kata ibunya sedikit menakut-nakuti. “Alim, teu raos ee hayam mah, kalahkah hanyir hungkul. Raosan keneh ee domba, asa jukut! (Artinya: Gak mau, gak enak ee ayam mah, cuma terasa anyir. Masih lebih enak ee kambing, rasanya kaya rumput!)” Timpal Wani sambil berlari ke kamar mandi di dalam rumah untuk melanjutkan muntahnya… Ibunya terdiam mencoba memahami “statment” anak semata wayangnya. “Kok si Wani tahu rasa ee ayam dan ee kambing ya?” Gumam ibunya dalam hati setengah tidak mengerti.

Bersambung…. 

Catatan Penulis 

Sebagian dari pembaca mungkin akan menilai bahwa si Wani lebih lebih cocok disebut anak nakal, bandel atau pikasebeleun ketimbang disebut anak pemberani. Tapi menurut saya tidak. Wani adalah sosok anak yang tumbuh menjadi kreatif,  ia lebih banyak mengetahui sesuatu dan akhirnya dapat mengambil sebuah kesimpulan dari sesuatu yang dialaminya. Kesemuanya bermula dari sifat berani mencobanya. Sebaliknya, tidak sedikit anak-anak yang pasif, cengeng, bahkan cenderung penakut dan pengecut -dan ini dapat terus tumbuh menjadi sebuah karakter pada saat menginjak usia dewasa- dikarenakan tidak munculnya keberanian dalam diri si anak untuk mencoba melakukan atau untuk mengetahui sesuatu. Ketidakberanian seorang anak seringkali diakibatkan oleh pola didik dan pola asuh orangtua yang keliru terhadap anak-anaknya.

Orangtua yang terlalu protektif terhadap anak-anaknya tidak menyadari bahwa pembatasan-pembatasan yang berlebihan dapat menyebabkan ruang kreatifitas anak menjadi terhambat dan tidak berkembang. Anak -terutama balita-, dengan keluguannya seringkali dianggap “berulah” tidak baik oleh orangtuanya. Ada anak yang mencorat-coret dinding rumahnya dengan lipstik ibunya dengan berbagai gambar imajinatifnya. Pada banyak kasus, biasanya orangtua akan memarahi si anak karena dianggap nakal. Sayangnya reaksi orangtua terhadap si anak hanya sebatas memarahi tanpa memberikan alternatif lain sebagai pengganti ruang kreatifitas bagi si anak dalam menumpahkan daya imajinasinya dalam menggambar, misalnya membelikan buku gambar dan pensil warna. Si anak biasanya tidak akan mengulangi perbuatannya mencorat-coret dinding rumah dengan lipstik ibunya, karena takut dimarahi orangtuanya. Akibat lain yang muncul adalah anak juga jadi pada akhirnya menajdi tidak mau sama sekali bersentuhan dengan hal yang berbau gambar-menggambar atau mewarnai.

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa jika anak-anak kita “mencomot” kotoran ayam lalu harus dibiarkan begitu saja. Tetapi, seringkali kita bersikap kurang bijaksana dalam mengarahkan dan mendidik anak-anak. Melarang sesuatu pada anak boleh-boleh saja, bahkan sebuah keharusan jika itu berkaitan dengan sesuatu yang tidak baik atau membahayakan. Namun harus jelas tolak ukurnya dan bijaksana dalam mengarahkannya. Semoga berkenan.  

 

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. nanti ditampilkan cerita yang berbobot. seperti halnya Abu Nawas dan Nashiruddin Hoja.

    …” Dibuat BUKU kang tulisan-tulisannana”…
    Abdi dileuwigajah. tatangga kang yogi. Malam sabtu abdi piwarang ngalongok ka rumah saki. tos gaduh implengan bakal pupus. enjing-na piwarang nglongok deui karumah sakit. tapi can kabujeung tos aya kabar pupus.teras ngawartosan kang heru. Insaya alloh husnul khotimah

  2. …” Dibuat BUKU kang tulisan-tulisannana”…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: