Berbisinis Dengan Akhlak

Desember 5, 2007 pukul 2:41 am | Ditulis dalam Agama, Artikel, Komunikasi, Pendidikan | 3 Komentar

Oleh : Ram-Ram Muhammad

Umar Ibnul-Khaththab pernah berkata: “Selain jihad fi sabilillah, tidak ada tempat yang paling aku sukai -sebelum ajalku tiba- kecuali pasar, tempat aku bisa berdagang untuk mencari nafkah bagi keluargaku.” Umar mengatakan hal tersebut setelahnya membaca firman Allah, “(Allah mengetahui) di antara kalian ada orang-orang yang sedang sakit, ada yang berpencaran di muka bumi mencari karunia Allah dan ada yang sedang berperang membela kebenaran Allah (fi sabilillah).) (S. Al Muzammil: 20).

Pernyataan Umar tersebut sudah cukup menjawab pandangan miring sebagian orang mengenai profesi dagang. Meski tidak sampai menyatakan bahwa profesi dagang tercela atau haram, namun mereka menyatakan profesi dagang berpotensi besar mendorong orang untuk berbuat tidak jujur, mudah mengumbar sumpah dan berlaku curang serta tindakan-tindakan tercela lainnya. Pandangan miring ini muncul karena dalam prakteknya, tidak sedikit pedagang yang dalam menjalankan usahanya berbuat tidak jujur, bersumpah palsu dan berlaku curang. Namun demikian hal ini tidak lantas menyebabkan berubahnya prinsip dasar hukum mengenai profesi dagang, yakni sah menurut syar’i (hukum Islam). Praktek-praktek penyimpangan dalam berdagang sebenarnya adalah persoalan masing-masing individu pelaku. Bukankah dalam profesi yang lain seperti politisi, pengacara, dokter dan jenis pekerjaan lainnya praktek penyimpangan juga terjadi? Dan hal tersebut tidak menjadikan profesi tersebut menjadi tidak sah.  

Dalam pandangan Islam, berdagang merupakan salahsatu jenis profesi atau pekerjaan yang diperbolehkan. Bahkan Al-Quran menyebut profesi dagang dengan peristilahan yang amat baik  yaitu “usaha mencari karunia Allah” (lihat S. Al-Baqarah: 19). Maka dengan demikian jelaslah, profesi dagang bukan jenis pekerjaan yang buruk dan makruh (yakni tidak disukai oleh Allah). Banyak sahabat Nabi yang berprofesi sebagai pedagang. ‘Abdurrahman bin ‘Auf misalnya, ia hijrah meninggalkan kampungnya di Makkah menuju ke Madinah dengan tidak membawa harta benda yang dimilikinya. Di Madinah, dia dipersaudarakan oleh Rosulullah SAW dengan Sa’ad bin Ar Rabi. Al-Anshary. Sa’ad menawarkan kepada saudara angkatnya, Abdurrahman bin ‘Auf setengah dari semua harta kekayaan yang dimilikinya. Namun  Abdurrahman menolak tawaran tersebut, dan berkata, “Saya ini seorang pedagang, tunjukkan saja kepadaku dimana tempat perniagaan (pasar) yang paling dekat…” Setelah mengetahui tempat di mana ia dapat berbisnis, ia berupaya mencari karunia Allah sampai akhirnya bisnis yang dirintisnya berkembang bahkan mematahkan dominasi pengusaha-pengusaha Yahudi serta berhasil mengumpulkan kekayaan dalam jumlah yang sangat besar.

Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa ‘Abdurrahman bin ‘Auf termasuk salah seorang dari 10 sahabat nabi yang dijamin masuk surga. Seandainya saja profesi dagang itu mengandung unsur dosa, tentu dirinya tidak akan termasuk orang-orang yang diberikan jaminan akan masuk surga bukan?

Selain   ‘Abdurrahman bin ‘Auf, sahabat-sahabat Nabi lainnya seperti Abu Bakkar, Umar bin Khaththab, dan Utsman bin Affan dikenal sebagai para pedagang sukses. Bahkan Nabi sendiri adalah seorang pedagang handal sewaktu mudanya.

Yang harus kita perhatikan dalam melaksanakan profesi dagang adalah perbuatan-perbuatan yang jika kita tidak dapat menghindarinya akan menyebabkan kita terseret dalam kemunkaran dan dosa.  Karenanya, jauh-jauh hari Rosulullah menyampaikan sebuah pesan dan peringatan kepada kita dalam haditsnya, bahwa “kaum pedagang pada hari kiamat akan dibangkitkan sebagai manusia-manusia durhaka kecuali yang bertakwa kepada Allah, patuh dan jujur.” (HR. Imam Turmudziy dan Ibnu Majjah).

Dengan demikian maka ketakwaan, patuh terhadap aturan agama maupun pemerintah, dan jujur dalam melaksanakan usaha bisnis, ketiga hal inilah yang seharusnya menjadi prinsip dasar bagi siapapun yang memilih berprofesi sebagai pedagang. Sebaliknya, siapapun yang dalam menjalankan bisnis dagangnya berlaku curang, tidak jujur, dan perbuatan-perbuatan lain yang dilarang agama maka sesungguhnya ia akan termasuk ke dalam golongan pedagang sebagaimana disebutkan dalam hadist di atas.

Lebih jelasnya mengenai etika bisnis secara terperinci akan kita bahas dalam tulisan yang akan datang. Wallaahu A’alam.

 

 

3 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. pedagang pasar saja punya akibat besar ya pak, bagaimana yang kemudian berdagang dalam kapasitas makro ekonomi, kasus BLBI yang menggelontorkan kerugian hutang hingga seribu trilyun lebih … bukankah itu bukti “dosa” tidak taat aturan bangsa (dunia) tinggal menerima konsekwensi yang berikutnya yaitu di akhirat kelak… seperti hadits di atas..

    Bos eh Kyai, saya nyangkul bukan di Malaysia, tapi di Jakarta. Tinggal di Jakarta – Cirebon…

  2. Ya ya tema yang asyik punya … berbisnis itu jalan di dua persimpangan … satu jalur ke surga … jalur lainnya neraka. Kalau dengan allah, berbasis firman Allah … pasti hanya satu jalan, surga.

  3. Thank’s banget…
    Kebetulan aq punya tugas tentang “Berbisnis dengan Akhlak”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: