Antara Antosalafy dan Wak Dul

Desember 7, 2007 pukul 8:35 am | Ditulis dalam Agama, Artikel, Komunikasi, Pendidikan | 12 Komentar

Saya dibuat cukup terkesima ketika membuka weblog-nya kedua saudara kita ini. Isinya sangat luar biasa bagus. Cukup menambah pengetahuan dan wawasan saya. Hanya saja postingan yang semula diniatkan bukan dengan tujuan buruk -saya meyakininya seperti itu- berkembang menjadi sumber ajang debat terbuka di dunia maya, bahkan menjurus pada gaya-gaya yang tidak mencerminkan kecerdasan, sekalipun masing-masing menampilkan hujjah dan argumentasi yang baik. Yang saya maksudkan sebagai gaya-gaya yang tidak mencerminkan kecerdasan adalah komentar-komentar yang berbau melecehkan, merendahkan, bahkan sampai pada cacian dan makian. Padahal pihak yang “berseteru” sama-sama muslim, syahadatnya tidak berbeda, sama-sama sepakat bahwa sumber dari segala sumber hukum bagi seorang muslim adalah al-Quran dan as-Sunnah.

Saya juga dibuat terhenyak ketika membaca komentar -baik dari si empunya blog maupun pengunjung- yang jauh dari nilai-nilai ilmiah, bahkan ada yang secara terbuka malah menyerukan untuk berperang, astaghfirullah. Memang tidak semuanya, masih cukup banyak yang komentarnya sejuk atau sekedar iseng dan guyon -yang iseng dan guyon masih jauh lebih baik daripada yang berkomentar kasar-.

Jauh di lubuk hati, saya juga sebenarnya sangat tergoda ingin mengomentari beragam dalil dan argumentasi yang muncul dari masing-masing kubu. Saya sampai meminta para asaatidz di pesantren untuk membeli buku-buku atau kitab yang sering dijadikan rujukan kedua kubu. Tapi saya fikir-fikir lagi, kalau ikut mengomentari manhaj msing-masing, nanti malah ikut terbawa arus dalam diskusi tak berujung ditambah pengetahuan agama saya yang terlampau cetek. Maklum masih belajar meluruskan alif-alifan.

Diskusi yang awalnya saya nilai sehat dan argumentatif, berubah menjadi ajang debat kusir. Saya menyebutnya sebagai komunikasi prejudice. Masing-masing pihak tidak mencoba mencerna pesan yang disampaikan oleh komunikan, melainkan sibuk mempersiapkan argumentasi tandingan untuk mematahkan lawan bicaranya. Maka apapun yang disampaikan oleh lawan bicaranya telah terlebih dahulu tertahan oleh sikap praduga buruk, sekalipun apa yang disampaikannya adalah sesuatu yang benar dan rasional.

Komunikasi dua arah (two way communication) semacam ini tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali perasaan sensasional belaka. Masing-masing akan merasa paling menang karena mampu mematahkan setiap argumentasi lawan bicaranya. Feed back komunikan yang seharusnya menjadi stimulan positif bagi komunikator, akan dianggap sebagai sebuah “penyerangan”. Maka berubahlah apa yang tadinya disebut sebagai silaturahmi pesan menjadi debat kusir. Luar lingkar komunikasi pasif (seperti saya dan para pengunjung web/pendengar) yang pada awalnya menunggu kesimpulan dari diskusi atau pesan utama dari komunikasi kedua belah pihak (Kubu Antonsalafy dan Wak Dul beserta ikhwan Jemaat tablighnya), pada akhirnya tidak mendapatkan apa-apa, kecuali tontonan “kekerasan verbal”.

Dari segi kebebasan mengungkapkan pendapat, sah-sah saja keduanya terlibat dalam konfrontasi verbal di dunia maya. Hanya saja, saya melihat ada rambu-rambu akhlak al-karimah yang tanpa disadari sudah diterabas. Saling maki tidak akan menyelesaikan masalah, hanya menambah dosa belaka. Lebih dari itu, efek yang muncul ke permukaan tidak kalah jeleknya. Orang lain (baik muslim maupun non-muslim) akan menganggap bahwa perpecahan di kalangan umat Islam sudah sedemikian kronisnya.

Maaf, ini hanya analisa dan sedikit sumbang saran saja dari saya. Saya sekedar menyampaikan unek-unek yang mengganjal. Tidak ada maksud lain, apalagi merasa paling benar. Terlebih menebar kebencian, sembunyi  lalu cuci tangan. Itu sebabnya saya merasa nyaman menyampaikan profil saya beserta alamat dan nomor telepon selengkap mungkin. Sekiranya saya membuat postingan yang keliru, siapapun bisa menghubungi bahkan menemukan saya. Salam

12 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Fenomena ini menurut saya wajar pak, karena memang durasi pemaknaan pada teks2 yang diinput oleh masing2 manhaj sepertinya terbingkai oleh semacam doktrin turunan yang diterima… mungkin dari gurunya atau dari wa’ala alihinya.

    saya sih tadinya berpikir, mereka yang berani ngeblog itu bisa berbagi input-proses-output.. tapi rupanya memang input-output yang berkembang… semoga saya bisa belajar dari semua itu..🙂

  2. Salam kenal😉

    Bagus tulisannya Kang Ram.. Hal yang kurang lebih sama juga sering saya rasakan.
    Saya juga penasaran, kapan damainya kalau begini terus? Tapi waktu saya baca lagi buku-buku sejarah Islam, ternyata memang tidak jauh dari konflik dan perpecahan. Dan semua itu ujung-ujungnya ternyata masalah kekuasaan, kepentingan, dan kekayaan lagi… Yang berkuasa yang menentukan kebijakan, nanti dikudeta sama lawan politiknya, bikin kebijakan baru, balas dendam – kudeta lagi, bunuh-bunuhan lagi, usir-usiran lagi, dendam lagi… Begitu terus kayak lingkaran setan. And it makes me sick!!!
    Dan konflik-konflik kayak gini, perang dalil yang ujung-ujungnya ad hominem dan maki-maki gak jelas, itu cuma ekses, perpanjangan tangan dari kepentingan yang untouchable. Mereka, atau bisa jadi juga kita ini cuma sekadar bidak-bidak yang berperang antar sesamanya. Toh di atas sana, para penguasanya hidup bergelimang harta dan kekuasaan tanpa tersentuh hukum Allah sekalipun… It sucks!!
    Saya sih cuma pengen kita saling tolong-menolong aja. Supaya kita bisa saling ngasih manfaat buat sesama manusia.

    *Bleh, abis seminar karakter saya kok bisa komen sepanjang ini ya… biasanya komen 2 baris gak mutu, hwehehe…*

  3. Mmg bahasa tulisan (apalagi blog) klo digunakan sbg media dakwah akan lebih efisien jika satu arah, klo ingin tanya jawab lebih baik lewat verbal (kopdar).

    @ Kurtubi
    Analisa-nya kurang tepat, coba lihat blog yg se-kubu. Insya Allah bapak mendapati perbedaan.

  4. Setuju…………….

    Ram-Ram Muhammad
    aswaja = ahlu sunnah wal jamaah. Kalau bukan NU, berarti Salafy… Salam kenal mas aswaja

  5. Pengamatan kita sama, semestinya ini tidak terjadi… 😦

    Salam kenal …😀

    Ram-Ram Muhammmad berkata:
    Iya, tapi memang sudah begitu hukumnya, ada aksi ada reaksi. Soal siap yang memulai beraksi, tidak komentar ah, sudah pada tahu sendiri kan? ALhamdulillah, blog saya belum kena “serangan” apa-apa, kayanya sama dengan blog punya kang mas Herianto ya, soalnya sampean orangnya adem ayem, sama-sam penggembira kaya saya. Salam kenal juga Mas Her…

  6. dengan pendekatan affirmatif, saya sempet berpikir betapa energi yang dipakai gontok-gontokan akan lebih bermanfaat jika dipergunakan untuk bersinergi dalam common issues yang menjadi prioritas utama umat. Dalam hal ini sama sekali tidak ingin menghalangi debat, hanya saja dibatasi di level tertentu yang dinilai sudah memiliki maqam setingkat sebagai perwakilan dari masing-masing goongan/sub-golongan. orientasinya bukan menang kalah, tapi mencari solusi yang terbaik. jika ada perbedaan bagaimana menyikapinya secara arif dst. Hasilnya tinggal disosialisasikan ke masing-masing golongan atau secara serentak.

    Idealnya sih memang begitu, cuma yang jadi persoalannya ada kelompok tertentu yang sudah menutup dirinya dari “pendekatan-pendekatan menuju kebenaran” dari pihak lain yang dianggap bersebrangan. Susah deeeh.

  7. Cuma satu pertanyaan saya:

    Kalau kita difitnah dan dihujat oleh pihak yang berseberangan dengan kita, apakah kita sebaiknya diam saja (demi menjaga kedamaian)?

    Eh, bonus satu pertanyaan:
    Manakah yang harus kita utamakan: kedamaian ataukah keadilan?

    Kyai Dalingga sama Kyai Kurt kayanya bisa jawab. Kalau saya sih, udah kebal fitnah kali ya…
    Keadilan yang harus diutamakan, kedamaian adalah akibat yang mengikuti saat keadilan ditegakkan. Gitu kali ya..

  8. Assalamu ‘alaikum wr. wb.
    Kang, saya juga merasa begitu, kenapa sih sesama muslim gontok-gontokan, tidakkah mereka malu disaksikan sama Allah, boro – boro baca tahlil, melihat orang baca tahlil aja kayak melihat jurig.
    Gimana kalo semua blogger memberdayakan diri dengan membuat kamus istilah islam di internet hasil dari blogger dengan memuat semua pendapat dari semua golongan tentu dengan rujukan – rujukan yang jelas dan bertanggung jawab.

  9. setuju mas Ram…
    saya baru saja baca tentang MMB dan BMM (bukan kependekan dari Minyak Mahal Bang dan Bensin juga Minyak Mahal he he he he)

    kok bisa ya diskusi seperti itu ???

    lagi pula yg dibahas kan ilmu pasti…. dari pada berbusa-busa berdebat mending kita cek aja…. cmiiw
    mmm ngecek/buktiinnya gimana ya ? apa mesti pergi ke angkasa luar dulu ? wah musti tanya ke ahlinya.

    debat sampe ancur-ancuran keliatannya sdh menjadi watak manusia ya. bukan hanya antar blogger tapi juga antar anggota parlemen, parpol, bisnismen, penonton bola, bahkan antar orang2 saleh. ck ck ck……. jangan tanya kalo antar orang2 gak saleh……. he he he he he

  10. Asslamuallaikum
    Ya begitulah, kadang jadi lupa kalo ilmu adalah untuk diamalkan bukan untuk bahan perdebatan..ya saya rasa kadar otak kita tak sehebat ibnu sina, ibnu khaldun, kedalaman hati kita tak sehebat sayidina Ali,Umar,Usman,Affan, Abu Bakar apalagi sesempurna Nabi Muhammad….hhmmm sooo apa sih yang membuat kita merasa paling TOP ( bukan Turn of Payment ) betul ga saudara2, seharusnya kita malu kepada ALLAH..benar ga???

  11. Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    salam kenal !!! banyak orang yang menganggap dirinya benar padahal kita sendiri tidak tahu apakah kita ini berada dalam jalan yang benar atau tidak sebab kebenaran hanya milik Sang Kholiq. akalupun kita merasa benar itu hanya sebatas pengakuan sepihak, terkadang orang lebih sering “mengaji” dan “berguru” kepada “ustadnya” namun tidak pernah “mengaji diri ”
    Wallahu”alam

    Wassalamu’alaikum Wr.Wb

  12. Liat Aja di akherat,biar Allah yang jadi juru putusnya, s7?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: