MENGGUGAH PRODUSEN DAN KONSUMEN SADAR “HALAL”

Desember 11, 2007 pukul 6:24 am | Ditulis dalam Agama, Artikel, Islam, Pendidikan | 1 Komentar

Beberapa waktu ke belakang, sempat mencuat kontroversi mengenai rencana labelisasi “Halal” pada kemasan barang-barang konsumsi masyarakat baik berupa makanan, minuman, kosmetika, alat-alat mandi dan lain sebagainya. Beragam pendapat bermunculan baik dari kalangan pengusaha, masyarakat maupun ulama. Pada dasarnya hanya dua pendapat yang muncul; menolak dan mendukung.

Pihak yang menolak rencana labelisasi halal beralasan -di antaranya- bahwa hal ini akan menambah beban biaya produksi yang berakibat pada naiknya harga jual. Naiknya harga jual tentu membebani konsumen. Di samping itu pihak produsen juga berisiko menerima dampak negatifnya, yakni menurunnya angka penjualan. Dihawatirkan jika nilai jual naik dan konsumen keberatan, mereka akan mencari alternatif barang-barang yang lebih murah.

Adapun pihak yang mendukung adalah mereka -terutama khalayak konsumen muslim- yang lebih menitikberatkan prinsip kehati-hatian (ihtiyat) serta keyakinan dalam menggunakan atau mengkonsumsi sesuatu. Adanya label “Halal” pada kemasan sebuah barang akan “menolong” hatinya (konsumen) untuk lepas dari keragu-raguan akan kehalalan barang tersebut, karena bagi seorang muslim halal dan haram merupakan  masalah prinsip agama yang tidak bisa ditawar-tawar. Khalayak konsumen muslim -menurut keyakinan penulis- akan lebih memilih untuk mengeluarkan uang ekstra demi keyakinan hatinya akan kehalalan sebuah barang.

Menurut hemat penulis, labelisasi halal merupakan langkah maju yang semestinya mendapat dukungan dari semua kalangan terutama khalayak konsumen muslim. Bahkan sebenarnya bukan sekedar label Halal saja yang harus ada pada sebuah kemasan, melainkan label Haram pada barang-barang produksi yang dibuat secara sengaja dengan menggunakan bahan-bahan yang salahsatunya adalah dzat yang haram. Tentunya tidak perlu secara vulgar menggunakan kata haram, namun bisa diganti dengan peringatan pada kemasan misal: “Hanya bagi konsumen terbatas; mengandung ekstrak Babi“, “Bukan untuk dikonsumsi Muslim” dan bentuk-bentuk peringatan lainnya. Kebijakan ini sudah terlebih dahulu direalisasikan oleh para produsen di negara-negara maju seperti Jepang, Amerika dan Eropa. Persoalannya  sekarang tinggal apakah dunia usaha kita berani melakukannya?

Di atas telah disinggung bahwa persoalan Halal dan Haram bagi seorang muslim adalah masalah prinsip yang tidak bisa ditawar lagi. Halal dan haram akan terkait dengan diterima atau tidaknya ibadah seseorang. 

Dalam sebuah hadis diceritakan bahwa ada seseorang yang telah melakukan perjalanan panjang sehingga rambutnya  kusut, kotor dan berdebu. Ia mengangkat kedua tangannya ke langit sambil berdoa, “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku, …” tetapi makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dikenyangkan dengan (makanan dan minuman) yang haram. Kata Rosulullah, “maka bagaimana mungkin permohonannya dikabulkan?“.

Hadis tersebut di atas adalah sebuah penegasan juga peringatan kepada kita bahwasanya Allah membenci seorang hamba -hingga tidak berkehendak untuk mengabulkan permohonannya- yang sumber penghidupan sehari-harinya, makanan, minuman, pakaian dan hartanya berasal dari sesuatu yang haram atau diperoleh melalui cara yang haram. Selain itu, amaliah ibadah seseorang akan menjadi tidak bernilai apa-apa di hadapan Allah jika sarana dan prasarana untuk melaksanakan sebuah ibadah (baik mahdhoh maupun ghoiru mahdhoh) terkait atau tercampur dengan barang-barang haram karena Allah hanya menerima yang baik-baik saja.

Sebagai contoh, jika seseorang menunaikan ibadah haji dengan menggunakan uang hasil korupsi untuk membiayai perjalanan hajinya, maka ibadah hajinya tidak akan diterima oleh Allah. Demikian juga dengan orang yang menyumbangkan harta dari hasil menipu untuk membangun masjid atau madrasah. 

Keharaman sebuah benda (baik makanan, minuman maupun barang) bukan hanya karena dzatnya yang telah ditetapkan keharamannya oleh Allah seperti anjing, babi, benda-benda najis, bahan-bahan konsumsi yang dapat memabukkan (khamr) dan lain sebagainya, melainkan juga oleh karena cara memperolehnya yang salah seperti mencuri, korupsi, menipu, kolusi dan sebagainya. Boleh jadi seseorang memakan makanan yang secara dzatiah halal, namun karena makanan tersebut merupakan hasil dari mencuri maka makanan tersebut menjadi haram untuk dikonsumsi.

Dalam sebuah hadist yang diterima dari Ibnu Mas’ud r.a. Bahwa Rosulullah SAW. bersabda, “mencari yang halal adalah wajib bagi setiap muslim” (diriwayatkan oleh Ibnu Abdilbarr). Hadist ini bermakna bahwa setiap muslim mempunyai kewajiban untuk senantiasa mengkonsumsi makanan dan minuman halal menurut syara hukum agama), termasuk dalam mencari sumber nafkah hidupnya. Dalam bahasan yang lalu, dijelaskan bahwa haramnya sesuatu bukan hanya karena dzat-nya semata, namun juga bisa karena cara memperolehnya yang haram.

Dalam hadist yang lain Rosulullah menyatakan bahwa, “mencari ilmu adalah wajib bagi setiap muslim“. Yang dimaksud dengan ilmu -di antaranya- adalah pengetahuan mengenai halal dan haram. Para ulama memandang kedua hadist ini dianggap memiliki maksud dan tujuan yang seirama.

            Berpijak pada keterangan di atas disamping ayat-ayat al Quran, kita dapat mengambil sebuah benang merah yang berhubungan dengan masalah jual beli, yakni:

  1. Bagi siapapun yang berprofesi sebagai pedagang, ia harus berpegang pada aturan-aturan yang telah ditetapkan baik oleh agama maupun pemerintah,

  2. Bagi setiap individu (baca: pembeli/konsumen), dirinya harus mengetahui atau paling tidak meyakini apa yang dibelinya bukan barang-barang yang didalamnya terkandung unsur-unsur yang haram. Agama memang tidak mewajibkan seseorang untuk bertanya, memeriksa dan meneliti meneliti apakah barang yang diterimanya halal atau haram, selama secara dhohiriyah (apa yang tampak) diyakini halal. Misalkan orang yang menerima uang dari seseorang yang diyakini bukan pencuri, perampok atau penipu tidak perlu bertanya apakah uang yang diterimanya halal atau tidak sumbernya. Demikian juga bagi orang yang membeli sebuah barang, jika diyakini bahwa apa yang dibelinya adalah halal -bisa jadi karena membelinya dari sesama muslim atau karena ada cap halal pada kemasan- maka ia tidak diwajibkan untuk meneliti kembali barang tersebut kembali.

Kesadaran Pihak Produsen atau Pedagang

Untuk produsen atau pedagang, adalah kewajibannya untuk belajar guna mengetahui bagaimana aturan-aturan hukum Islam dalam berdagang dan segala macam yang berkaitan dengan profesinya. Dirinya mesti faham apa yang boleh dijual dan apa yang tidak, jenis-jenis barang atau makanan-minuman yang haram, etika dalam berdagang dan lain sebagainya. Dengan mempelajari hukumnya, insyaallah, ia akan menjadi pedagang yang baik dan akan memperoleh hasil yang baik pula (barokah). 

Pengetahuan mengenai tata cara berdagang dan yang berkaitan dengan profesi ini tidak hanya harus dipelajari oleh para pedagang muslim. Akan lebih baik  jika yang bukan muslim pun. Mengapa? Karena mayoritas penduduk Indonesia adalah penganut Islam, sehingga khalayak konsumen terbesar pun adalah muslim. 

Misalnya, seorang pengusaha ayam potong harus tahu persis bagaimana tata cara penyembelihan hewan menurut ilmu fiqh karena “pelanggaran” pada tata cara menyembelih dapat menyebabkan hukum hewan yang disembelih tersebut  menjadi haram untuk dimakan karena dianggap sebagai bangkai. Perlu kembali ditegaskan, bahwa halal dan haram bagi muslim adalah masalah prinsip.

Selanjutnya, bagaimana sebaiknya cara pandang pengusaha atau produsen  terhadap labelisasi Halal?

Ada sebagian yang berkilah bahwa label halal tidak diperlukan karena pihak produsen biasanya telah mencantumkan komposisi bahan-bahan olehan pada kemasan produknya, sehingga masyarakat konsumen dapat mengetahui kandungan bahan-bahannya. Alasan ini sebenarnya kurang tepat mengingat pada umumnya masyarakat di Indonesia masih sangat terbatas pengetahuannya tentang nama-nama berbahasa latin dan atau bahasa asing lainnya yang biasa terdapat pada kemasan. Dengan label halal pada kemasan, konsumen tidak perlu bersusah payah membaca komposisi bahan produksinya karena kata Halal sudah cukup mewakili semuanya -jika tujuannya ingin mengetahui kehalalannya-.

Dari sudut bisnis, barang-barang yang berlabel halal akan lebih mampu bersaing di pasar karena masyarakat konsumen sekarang lebih kritis sebelum membeli. Sudah menjadi lumrah jika akan membeli sesuatu, konsumen membaca keterangan-keterangan pada kemasan untuk mengetahui masa kadaluarsa, komposisi, izin Depkes dan label Halal.

Di atas telah dijelaskan mengenai pentingnya kesadaran produsen, pedagang dan konsumen tentang “halal”. Terbangunnya kesadaran kolektif akan hal tersebut akan menciptakan hubungan muamalat yang saling menguntungkan (mutualisme) semua pihak, baik produsen dan pedagangnya maupun pihak konsumen.

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Link exchange is nothing else but it is simply
    placing the other person’s blog link on your page at appropriate place and other person will also do similar in support of you.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: