GENERASI OPTIMIS DAN KEWIRAUSAHAAN

Desember 22, 2007 pukul 8:48 am | Ditulis dalam Agama, Artikel, Dakwah, Islam, Komunikasi, Manhaj, Pendidikan, Renungan, Umum | 10 Komentar

Berbeda dengan rekan-rekan semasa kuliahnya yang berebut posisi di perusahaan-perusahaan multinasional di Jakarta, ada seorang gadis -sebut saja Lia Rozenesia:mrgreen: – memilih pekerjaan bergaji “minim” di sebuah perusahaan menengah di Bandung. Hal ini tentu sangat disayangkan oleh teman-temannya, juga keluarganya.

Pekerjaan bergengsi dan bergaji besar di Bandung memang langka. Cabang perusahaan multinasional yang berada di Bandung biasanya menempatkan para manager atas kebijakan dari pusat di Jakarta. Apakah ada alasan-alasan irrasional di balik keputusannya itu?

“Mungkin juga”, katanya suatu ketika saat berbincang dengan temannya, “dari dulu saya ingin sekali tinggal di Bandung. Sayang, sulit sekali meminta penempatan di Bandung”. “Jadi hanya karena alasan sederhana itu?” Tanya temannya keheranan. “Coba lihat koran lokal ini. Bisa tidak kamu temukan iklan lowongan pekerjaan yang menawarkan posisi manager ke atas?”

“Jumlah iklannya memang banyak sekali. Hanya saja, hampir semuanya menawarkan posisi-posisi menengah dan gaji yang minim. Ini menandakan bahwa lapangan kerja di Bandung memang sempit sekali, seharusnya kamu tidak memilih bekerja di Bandung” Lanjut temannya menyarankan.

Pembaca yang budiman, dicecar pertanyaan dan argumentasi temannya, Nona Rozenesia menjawab sambil memandang dengan mimik serius. “Pandanganmu kok sempit begitu? Buatku, lapangan kerja sempit berarti lahan bisnis yang luas. Itulah alasan sebenarnya aku ingin tinggal di Bandung. Sambil bekerja, aku sekalian mempelajari potensi bisnis yang bisa dilakukan di Bandung”. Bravo!

Entrepreneurship (kewirausahaan) memang sesuatu yang masih jarang dimiliki oleh generasi muda kita. Cara berpikir muda-mudi kita masih sangat pragmatis; segera mendapat karier yang baik dan bergaji besar, menabung untuk biaya menikah, rumah dan kendaraan, menabung lagi untuk sekolah anak, dan akhirnya, menabung lagi untuk hari pensiun yang santai.

Jelas, hal itu menunjukkan bahwa visi generasi muda kita dalam bekerja bekerja agar bisa pensiun. Berbeda dengan para entrepreneur (wirausahawan). Bagi mereka, kelangsungan hidup perusahaan adalah hal yang paling utama, bahkan lebih penting dari profit. Di zaman baru ini, tujuan perusahaan adalah berusaha tetap exist dan tumbuh terus. Itulah yang membedakan mereka dengan para pekerjanya. Pebisnis bekerja agar bisa terus bekerja.

Dari banyak diskusi yang saya lakukan dengan para sarjana, saya melihat satu hal. Orang kita cenderung malas untuk memulai sesuatu dari nol. Lebih mudah memang, meneruskan apa yang sudah mapan ketimbang mendesain produk, menciptakan pasar, menjalin jaringan, mengumpulkan relasi dan mencari sumber pendanaan.

Satu lagi yang sering terlewatkan oleh banyak analis dan pengamat ekonomi, adalah keengganan kita untuk berbeda. Jujur saja, kita sering merasa minder bila memulai sesuatu bisnis, setelah menyerah dalam usaha mencari kerja. Ketika seorang sarjana membuka toko kelontong, misalnya, kepada teman-teman sealmamater ia akan mengaku masih menganggur.

Memang, rasanya seperti “telanjang” bila kita tidak memiliki label ‘sudah bekerja’. Kita lebih suka bekerja part time dengan gaji di bawah UMR ketimbang itikurih merintis bisnis sendiri. Paling tidak, terkesan keren sekali ketika mengaku sebagai ‘karyawan di PT anu’ kepada calon mertua.

Apa yang dipikirkan oleh kebanyakan kita orang Indonesia? Kita rela membayar agar bisa bekerja, seakan tenaga dan kemampuan kita tidak ada nilainya. Orang tua para sarjana kita rela memberikan uang Rp. 30-40 juta agar anaknya bisa bekerja di instansi-instansi tertentu. Ironis, resiko tertipu oknum tidak dianggap sebagai sesuatu yang perlu diperhitungkan. Lain cerita ketika sang anak meminta pinjaman beberapa juta rupiah untuk modal usaha. Kening orang tua biasanya akan langsung berkerut!😥

Saya teringat akan satu ungkapan di satu edisi National Geographic, yang mencerminkan optimisme bangsa Amerika terhadap masa depan ekonomi mereka. Thank God we still have one inexhaustible resource, the spirit of enterprise. Sampai semangat itu berhasil kita hayati, saya khawatir kita akan terus terpuruk sebagai bangsa pesimis.

Begitu kira-kira…

10 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Tersindir…………. Mau jadi pebisnis dari sekarang.

    Insya Allah gak niat nyindir siapapun… Selamet ya, semoga jadi pebisnis yang unggul dan sukses

  2. Hidup wirasahawan Indonesia…🙂

    Kondisi sosial kita memang memposisikan jabatan sebagai sesuatu label yang dibutuhkan… manakalah label itu sudah merasa tidak dipentingkan mungkin menjadi tukang cuci piring pun tidak masalah dan tidak gengsi.

    Eh kayanya, “gengsi” adalah salah satu yang dita’awudzi kali yaa… :
    seolah-olah “Audzubilaahi minal gengsi”…🙂

    Hahaha… iya Kyai Kurt, sepakat. Saya pernah dinasihatin Kyai saya tentang bahayanya penyakit gengsi, beliau juga mengatakan bahwa “gengsi” termasuk hal yang harus dita’awudzi… Beliau mendeskripsikan gengsi sebagai titik ekstrem dari sifat al-haya atau malu. Artinya kurang lebih, gengsi adalah sikap malu yang berlebihan dan tidak pada tempatnya.

  3. Ah, mencerahkan.😀

    Tapi sa-saya jadi to-tokoh utama…😯
    Ada apa pula ini…😯

    Apa yang dipikirkan oleh kebanyakan kita orang Indonesia? Kita rela membayar agar bisa bekerja, seakan tenaga dan kemampuan kita tidak ada nilainya.

    Begitulah, para sarjana sekarang juga banyak yang berebut menjadi PNS, rela mengeluarkan berjuta-juta duit hanya demi meraih sebuah titel “Pegawai Negeri Sipil” dan gaji yang pasti diterima tiap bulannya, bahkan uang pensiun juga nantinya.🙂

    Ram-Ram Muhammad berkata:
    Sewaktu bisikan hati itu menjelma menjadi sebuah tema, segera saja tak tulis jadi sebuah postingan dengan judul di atas. Ketika jemari tangan ini terhenti, otak kembali berputar mencari sosok nama yang pantas menjadi tokoh utama… maka terpilihlah Rozenesia, sekalipun saya gak tahu persis jenis kelaminnya apa, saya anggap perempuan saja😯

    Gak salah kok berhasrat menjadi PNS. Karirnya cukup menjanjikan… Asal bukan menjadi pilihan satu-satunya saja.

  4. Assalamu alaikum wrwb.
    Memberikan pelajaran berharga buat saya yang udah 6 tahun gak lulus-lulus! Sekarang pusing belum lulus, ntar pusing belum kerja… pusing terus. Ternyata sudah seharusnya menjadi pebisnis ya kang? gak repot kuliah, gak repot kalau udah lulus. Salam kenal

    Wa ‘alaikumussalam warahmatullah
    Kok gak lulus-lulus sich? Kok sama kaya saya dulu?:mrgreen:
    Kata siapa pebisnis gak perlu repot kuliah? penting juga kok. Sarjana sudah seharusnya bisa jadi pebisnis ulung, tapi menjadi pebisnis ulung gak perlu nunggu jadi sarjana dulu. Begitu kira-kira…
    #sok pebisnis sukses#

  5. kalau saya, lebih baik berwira usaha di sektor aman, nan stabil. meski dibutuhkan modal dan waktu lebih.

    sebagai contoh adalah usaha menyewakan ruko, memang dibutuhkan dana yang tidak sedikit tetapi hasil dan ketenangan yang bisa diperoloeh sepadan dengan yang diinfestasikan. Bahkan melebihi keuntungan (dalam hal ini kesetabilan) dari pendapatan yang diperoleh dari bunga deposito.

    kalau saya cenderung ber wira usaha di sektor minim resiko, walau dibutuhkan modal besar dan waktu kembali modal cukup lama masih lebih baik daripada kita berkecimpung di sektor wira usaha yang memiliki keuntungan ber banding lurus dengan resiko

    Penakut! :-w:mrgreen:
    Mas Reto, investasi di bidang properti memang memiliki track record yang baik sama seperti halnya investasi dalam emas. Trend-nya meningkat dan minim resiko. Hanya saja, investasi di bidang ini terbatas kepada mereka yang memiliki sumber permodalan yang cukup, dan biasanya. Lalu bagaimana dengan mereka yang memiliki keterbatasan dana?😕

  6. OOT: Asyem, dianggap cewe….

    OOT-nya kelewatan…😯

  7. keterbatasan tekad, tapi surplus modal bisa mengambil langkah retorika.😀 kalo saya pernah nekat bisnis ternak ayam, tapi kesamber flu burung. modar sadayana😆 langsung tutup. sekarang belum melihat peluang baru, meski ada niat, tekad, dan hasrat. apa beda tiga hal itu ya om? bikin satu tulisan tersendiri dong *halah request lagi*😀

    Halah, ide baru lagi nih buat saya. Niat-Hasrat-Tekad… Masing-masing memang memiliki definisi tersendiri. Dalam term fikih, Niat, hasrat (saya menyepadankan dengan azam) dan tekad merupakan perbuatan hati, namun memiliki kekhasan dalam prakteknya. Insya Allah, mau nunggu wangsit dulu sebelum bikin postingan khusus soal yang tiga ini:mrgreen:

  8. @Ram2 Muhammad

    Kalau mau aman, bisa coba dengan bekerja di sebuah perusahaan atau sebuah institusi profitable. kemudian dari gaji bulanan, sisihkan 20-30% (seperti nabung buat kawin githu) memang sih butuh waktu, tapi saya dah lihat sendiri, dan sekarang orangnya alhamdulilah sukses.

  9. menurut saya…
    usaha sendiri dengan modal pas-pasan seperti panjat tebing tanpa tali…
    cuma “keyakinan” yang akan jd temen sejati di awal2 ngebangun usaha…
    maaf kang, curhat dikit…😀

  10. Kisah hidup yang kurang lebih sama dengan apa yg aku alamin sekarang ini…
    Hidup wirausahawan muda..
    Pilihan menjadi pegawai gak salah, yg salah adalah ketika kita menganggap menjadi pegawai (terutama di perusahaan yg bonafit) adalah satu2nya harapan para sarjana (curhat nih..)
    Seharusnya kita memaksimalkan potensi yg ada pada diri kita. Justru sebagai sarjana kita mempunyai tanggungjawab moral untuk memaksimalkan potensi itu (curhat lagiiii…)
    Salam kenal yaaa…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: