Astaghfirullah! Menuntut Ilmu Selain “Ilmu Syar’i” Saja Sampai Dianggap Berdosa

Desember 23, 2007 pukul 2:55 pm | Ditulis dalam Agama, Artikel, Dakwah, Islam, Komunikasi, Manhaj, Pendidikan | 42 Komentar

Bismillaahirrahmaanirrahim.

Ketika Dora Emon CS “disesatkan” dalam banyak postingan sekubu, saya masih agak bisa memaklumi pandangan tersebut, paling tidak dalam tinjauan manfaat dan madarat, sekalipun secara pribadi saya menilainya sebagai sesuatu yang sangat relatif.

Akan tetapi, beberapa menit sebelum menuliskan postingan ini saya menemukan iftitah (pembukaan atau pengantar) dalam beberapa “blog” yang membuat kening saya berkerut sampai kepala saya tidak berbentuk kepala sebagaimana mestinya, karena yang terlihat hanya kerutannya saja.  

Saya membaca kata pengantar yang isinya kurang lebih menyatakan jika yang bersangkutan bertaubat kepada Allah SWT karena “MENUNTUT ILMU YANG GHOIRU SYAR’I DI SEBUAH PERGURUAN TINGGI…”. Pernyataan “bertaubat” atas illat “menuntut ilmu yang ghoiru syar’i” itulah yang saya persoalkan. Karena ketika seseorang mentaubati sesuatu yang telah dikerjakannya, maka ia menyadari bahwa perbuatannya tersebut salah, berdosa dan dibenci oleh Allah Azza Wajalla, sehingga ia merasa harus bertaubat.

Pertanyaan saya adalah, “Ilmu Ghoiru Syar’i” atau ilmu yang selain syariat itu apa saja, dan mengapa dihukumi sebagai ilmu yang mengakibatkan dosa jika mempelajarinya? Saya juga mempertanyakan hal ini kepada yang bersangkutan (bukan hanya satu orang, namun 3 situs), sayang semuanya dimoderasi.

Saya khawatir jika yang dimaksud dengan ilmu ghoiru syar’i itu adalah ilmu yang selain kajian ilmu agama (syariat), seperti halnya biologi, fisika, kimia, matematika, sospol, komunikasi, perpajakan, keuangan dan lain sebagainya. Kalau yang dimaksud adalah ilmu santet, teluh, sihir dan perdukunan saya setuju, tapi setahu saya tidak ada perguruan tinggi apalagi yang ‘ikatan dinas” yang membuka fakutas Dukunologi Jurusan Sihirulogi dan Teluhulogi!

Pantas pula jika saya sering mendengar ungkapan dari sebagian “mereka” bahwa belajar dengan sistem strata lalu mendapatkan gelar kesarjanaan termasuk hal yang bid’ah.  Astagfirullaahal ‘adziim, sebegitu jumudkah akal fikirannya? Saudara bisa terbang menuntut ilmu ke Arab Saudi juga berkat ‘jasa” para ilmuwan yang mempelajari fisika, matematika dan cabang ilmu yang lainnya.

Saya cuma mengelus dada dan bergumam pelan… “keterlaluan..”

42 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. assalamu’alaikum,
    bagaimana tanggapan bapak tentang pendidikan saat ini, khususnya pendidikan Indonesia yang ternyata kurikulumnya tidak berorientasi kepada tujuan kehidupan manusia yang sesungguhnya, pendidikan kita sepertinya hanya berorientasi kepada kehidupan duniawi.

    Wa ‘ailkumussalam warahmatullahi wabarakatuh
    Kebijakan dasar pendidikan kita adalah membentuk dan mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Pernyataan tersebut di atas adalah rangkuman dari UU Pendidikan Nasional Tahun 2003.

    Saya kira sistem pendidikan nasional kita sudah bergerak ke arah yang lebih baik, sekalipun masih perlu penyempurnaan dan penyesuaian. Dan rangkuman di atas sekaligus menjawab pertanyaan saudara.

  2. tujuan kehidupan manusia yang sesungguhnya

    Nah, pertanyaannya ambigu, tuan… Jelaskan dahulu bagaimana dan apa itu “tujuan kehidupan manusia yang sesungguhnya”.😀

    Dan mengapa Pendidikan Indonesia bisa dikatakan seperti itu? Apa alasannya?😀

    Ah, sudah tengah malam, sebenarnya mau menanggapi, tapi banyak istilah yang masih saya ga ngerti…😦
    *belajar dulu*

    Dalam doktrin Islam, tujuan kehidupan manusia secara garis besar adalah mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Bukan hanya salahsatunya; di dunia bahagia, akhirat gak dapet. Atau sebaliknya, di Akhirat mendapat kebahagiaan, tapi di dunia tidak.

    Kembali ke sisdiknas kita, dilihat dari tujuannya, tidak ada kontradiksi sama sekali antara UU Sisdiknas dengan doktrin Islam di atas. Saya yakin, dalam ajaran Nasrani pun tujuan hidup yang ingin dicapai adalah dunia dan akhirat bukan?

    *ikutan baca-baca lagi*

  3. “bukan hanya satu orang, namun 3 situs), sayang semuanya dimoderasi”

    cuma bisa:mrgreen:

    “Syariat, Syarii”

    apaan tuh😕

    “Saudara bisa terbang menuntut ilmu ke Arab Saudi juga berkat ‘jasa” para ilmuwan yang mempelajari fisika, matematika dan cabang ilmu yang lainnya”

    Termasuk nge blog juga Bid”ah😀

    Bukan dangkal, tetapi sudah berada di basement !!!

  4. BACA NIH BACA !!!
    ============================================
    http://retorika.wordpress.com/2007/12/23/nge-blog-itu-bidah-hukumnya-buat-para-salafy/
    ============================================

  5. Aduhhh kang, susah melayani omongan mereka2 itu…. barangkali dasarnya bukan karena bodoh atau jumud sebab merekapun mengaku sarjana dan hafal ayat2 serta hadits … menurut saya hanya satu masalahnya:
    ‘SUSAH MENGHADAPI ORANG YANG SALAH PAHAM”

  6. masa iya siih? Masyaallah…. Cape deeeech !!!!

  7. Wallahu a’lam, tapi sepengetahuan saya mempelajari ilmu umum (ghoiru syar’i) scr mutlak adalah mubah (boleh), bahkan bisa menjadi sunnah jika untuk maslahat ummat.
    Sbgmn kisah zaman Rasulullah dimana para sahabat Rasulullah menyilangkan pohon2 mereka, Ummu Sulaim dan Aisyah yg pandai kedokteran dan disuruh utk mengajarkan kpd yg lain, dan masih banyak lagi.

  8. masa? jadi kalau belajar bahasa jepun juga sesadh dunk? weleh…weleh…gimana atuh?
    cape deeeh!!!

  9. Cape ngadepin orang yang begitu tertutup akalnya…
    *ngeleyor cari bakso*

  10. Assalaamu’alaikum warahmatullah
    @ Retorika
    Iya..iya.. udah ngelirik postingannya:mrgreen:

    @ Kurtubi
    Hhmmm, boleh jadi begitu Kyai..

    @ anas fauzi rakhman
    Punten, bukannya gak terbalik kaidahnya mas anas? Kewajiban mencari ilmu (tidak dibatasi syar’i atau ghoiru syar’i) bersifat menyeluruh.

    Dalam kaidah hukum dijelaskan bahwa sesuatu yang mengiringi terlaksananya hal yang wajib maka hukum yang mengiringinya menjadi wajib pula. Contoh: Salat wajib, menutup aurat dalam salat adalah syarat sah. Maka wajib hukumnya menutup aurat ketika salat. Aurat ditutup dengan pakaian yang layak. Maka memiliki pakaian yang dapat menutupi aurat hukumnya wajib. Pakaian diperoleh -secara umum- dengan cara membeli. Membeli dapat dilakukan jika memiliki uang sebagai alat tukar. Untuk memiliki uang, secara umum seseorang mendapatkannya dengan bekerja, maka bekerja atau mencari nafkah hukumnya wajib.

    Karena itu menurut saya, asal hukum dari menuntut ilmu pengetahuan, baik syar’i maupun ghoiru syar’i adalah wajib; baik pada tingkatan wajib/fardlu ain (individu) maupun kifayah (bersifat kolektif). Mengingat ilmu dan cabang-cabang keilmuan pada dasarnya saling mengikat dan mendukung. Di samping adanya perintah menuntut ilmu tanpa membedakan jenis ilmunya.

  11. ya begitulah klo terlalu berpikir sempit dan tidak membuka diri dan ruang buat bergaul dengan kelompok yang lain… seolah2 dunia ini hanya milik mereka…

  12. @ Ram Ram Muhammad
    Coba lihat penjelasan oleh Imam AsySyafi’i. Saya lupa detailnya.
    Skr apa dasarnya kalau ilmu itu dipisah antara syar’i dan ghoiru syar’i? Seperti kisah yang saya sebutkan sebelumnya. Pada mulanya para sahabat menyilangkan pohon2 mereka, kmdn ditegur oleh Rasulullah utk ttp membiarkannya dan ternyata hasil panenya menurun kmdn Rasulullah berkata: Silangkan kembali krn kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian. Dan kalaulah seandainya ilmu tdk dibatasi bagaimana status org yg hanya belajar ilmu umum tanpa belajar ilmu agama. Apakah ia termasuk sdh mengamalkan hadits Rasulullah “Mencari ilmu wajib hukumnya bagi kaum muslimin.”

    Kalau dikaitkan dg masalah mencari nafkah bagaimana status anak yg sdh baligh yg msh dlm tanggungan orang tua (tdk dituntut mencari nafkah) atau wanita/istri yg dlm tanggungan suami. Apakah menuntut ilmu tdk wajib baginya krn tdk dituntut mencari nafkah? Tentu jawabannya bukan.
    Dan juga banyak hadits menunjukkan keutamaan ilmu, dan para ulama menafsiri yg dimaksud adalah ilmu syar’i. Dari comment pak ram ram muhammad juga bisa kita simpulkan ilmu umum tergantung dari sebab, bukan mutlak wajib.

    Dalam sebuah hadits dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :
    “Menuntut ilmu wajib bagi setiap Muslim.” (HR. Ahmad dengan sanad hasan. Lihat kitab Jami’ Bayan Al ‘Ilmi wa Fadllihi karya Ibnu ‘Abdil Bar, tahqiq Abi Al Asybal Az Zuhri, yang membahas panjang lebar tentang derajat hadits ini)

    Imam Ahmad rahimahullah mengatakan bahwa ilmu yang wajib dituntut di sini adalah ilmu yang dapat menegakkan agama seseorang, seperti dalam perkara shalatnya, puasanya, dan semisalnya. Dan segala sesuatu yang wajib diamalkan manusia maka wajib pula mengilmuinya, seperti pokok-pokok keimanan, syariat Islam, perkara-perkara haram yang harus dijauhi, perkara muamalah, dan segala yang dapat menyempurnakan kewajibannya.

  13. Menuntut Ilmu Selain “Ilmu Syar’i” Saja Sampai Dianggap Berdosa”
    he 78X moal maju-maju atuh !

  14. Yang dulunya Institut Agama Islam aja sekarang udah berubah/diubah menjadi Universitas Islam, apa sebegitu beraninya mereka yang notabene adalah orang pinter (mengerti banyak tentang agama islam) membuka jurusan yang orientasinya dunia kalau akan menjadi dosa.
    Maju terus pendidikan Indonesia!!!!!!!!!

  15. […] Ditulis Oleh: Bloger Ram Ram Muhammad […]

  16. Assalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakaatuh
    @ anas fauzi rakhman
    Mas Anas, saya tidak mempersoalkan klasifikasi ilmu berdasarkan bidang kajiannya. Saya sendiri berpendapat sama, bahwa secara garis besar (dalam terminologi Islam) ilmu terbagi kepada 2; Ilmu Syar’i (yaitu pengetahuan yang berhubungan dengan ketetapan-ketetapan Allah SWT dalam bentuk akidah tauhid, fikih ibadah maupun muamalat) dan Ilmu Ghoiru Syar’i (yaitu ilmu pengetahuan yang bersifat umum di luar kajian hukum-hukum agama). Yang saya persoalkan adalah menetapkan bidang ilmu umum dalam strata rendah bahkan dianggap berdosa jika mempelajarinya. Misalnya ilmu bidang perpajakan, keuangan, akuntansi dan perbankan.

    Selanjutnya, logika berfikir mas Anas tidak memiliki relevansi dengan kaidah hukum yang saya bahas sebelumnya. Saya menyatakan bahwa “sesuatu yang dapat menunjang terlaksananya sebuah kewajiban, maka penunjang tersebut (yang mengiringi kewajiban tersebut) juga menjadi wajib”. Misalnya: salat hukumnya wajib, maka seorang muslim wajib mengetahui tata cara salat. Untuk mengetahui tata cara salat, ia harus belajar. Maka belajar menjadi hal yang wajib pula baginya. Ini hanya contoh yang saya kemukakan agar dapat memahami kaidah hukum yang saya jelaskan sebelumnya.

    Saya tidak merasa menyatakan bahwa ilmu umum tergantung sebabnya. Justeru saya tegas menyatakan bahwa ilmu baik syar’i maupun ghoiru syar’i asal hukumnya adalah wajib. Yang membedakannya hanya tingkatan wajibnya, ada yang fardlu ‘ain dan fardlu kifayah. Kesimpulannya, saya tidak sependapat dengan mas Anas bahwa hukum asal dari mempelajari ilmu pengetahuan umum (ghoiru syar’i) adalah ibahah atau mubah (diperbolehkan), melainkan “wajib” seperti saya jelaskan sebelumnya.

    Dalam logika penetapan hukum, tidak mungkin suatu tingkatan hukum yang lebih atas turun derajatnya, namun tingkatan hukum yang lebih rendah dapat naik derajatnya. Dalam hal ini, derajat hukum yang tinggi adalah Wajib atau Halal, sedang derajat terendahnya adalah haram. Diantara keduanya adalah: sunnat, ibahah, makruh.

    Karena menuntut ilmu saya pandang wajib tanpa membeda-bedakan bidang kajiannya, maka menurut saya tidak mungkin ada ilmu yang sifatnya “sunnat” untuk dipelajari.

    Demikian menurut pandangan saya pribadi. Baarakallahu dii kulli haal, wa fii kulli makaan.

  17. Hal seperti ini yang memandekkan Islam.😦

  18. Assalaamu ‘alaikum.
    weleh, kao gitu berarti belajar bahasa asing seperti bahasa Jepang juga harus bertaubat ya… Menurut saya yang dangkal soal agama, belajar bahasa asing dapat membantu kita dalam menyampaikan dakwah.

    Kok sampai segitunya ya… Saya setuju sama Kang Ram Muhammad bahwa semua ilmu itu wajib dipelajari, tapi beda tingkatan wajibnya saja ya.. maaf kalau oot😯

  19. Assalaamu alaikum mas Ram-Ram
    SAya juga reuwas sareuwas-reuwasna ada yang membeda-bedakan ilmu sampai sejauh itu. kok aneh gitu. apalagi sampai harus bertaubat karena dianggap dosa, kalau belajar nyantet sepertikata mas ram-ram sih masuk akal. menurut saya hal seperti ini memang prelu diluruskan agar orang tidak terkena isme yang acakadut seperti ini. kaya sekte mormon saja.

  20. walah…. jaman gini masih juga ada yg berpendapat “sektoral” seperti itu ya mas Ram…
    sayang sekali bila ada seorang muslim (yg berdakwah) tidak berfikir bahwa dunia ini seluruhnya adalah ibadah.
    padahal “al qur’an” besar itu adalah alam semesta (bumi, angkasa dan segala yg ada dalam istilah dunia), dan al qur’an (kitab) adalah ringkasannya. cmiiw.

    bila orang2 yg mengaku ulama (maksudnya krn dia berdakwah keislaman) kemudian melakukan hal-hal yg mengajak pada yg bukan hukum alam dengan dasar pikiran tok, bukan pembuktian sesuai hk alam, sangat disayangkan karena akan mengakibatkan kemunduran kebudayaan orang2 Islam.

    salam kenal mas Ram. tulisannya bagus.

  21. Assalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh
    @ Darth Spitod
    Iya, makanya saya memberanikan diri memposting hal ini, bukan untuk membuat “kerusuhan” dan “permusuhan”, namun ingin mendudukkan perkaranya secara proporsional. Pandangan seperti itu sangat berbahaya, bukan hanya bagi bangsa namun juga ummat pada khususnya.

    @ Cahya Rahma
    Ilmu apapun, selama itu menjadi sebab semakin dekat kepada Allah, dipandang sebagai ilmu yang baik. Sebagaimana sabda Nabi SAW: Sekiranya aku bertemu dengan suatu hari (hari yang baru), yang pada hari itu ilmuku tidak bertambah, yaitu ilmu yang membuatku semakin dekat dengan Allah ‘Azza wa Jalla, maka tidak kebaikan apapun bagiku atas terbitnya matahari pada hari tersebut” (HR. Ibnu Hibban dan Abd. bin Barr).

    Belajar bahasa asing, juga termasuk diantaranya, Insya Allah.

    @Hasanuddin
    Salam kenal juga. Oh iya, sekte mormon itu kalau gak salah sekte yang mengharamkan teknologi, segala sesuatu yang serba baru. Tapi anehnya… mereka punya situs!

    @ abee
    Terima kasih mas Abee, sudah saya tengok kok.

    @ antz
    Halah, sepakat sekali. Ilmu Allah itu sangat luas, firman-Nya juga sangat luas. Itu sebabnya kenapa nabi pernah bersabda: “Fikirkanlah (renungkan dan pelajari) oleh kalian ciptaan-ciptaan Allah, dan jangan memikirkan Dzat Allah”

    Salam kenal juga dari saya

  22. Orang goblog yangnulis artikel beginian. Coba belajar lagi agama yang bener sono! Pecinya aja yang kaya ustadz tapi hatinya gelap. jelas-jelas kalau ilmu agama lebih penting daripada ilmu yang cuman mengajarkan dunia! jangan ngomong agama kalau gak bisa ngaji dong, tanya sama ahlinya!

  23. gak mutu!

  24. Walah ada Tuhan di sini, eh… benar kan nur sejati itu kan berarti Tuhan.😆

    Pak kalo yang ini saya nggak usah ikutan komen deh, saya cuma mau bilang di tunggu postingan tentang kedudukan hadist dhoif itu.

  25. menurut saya mah tergantung untuk apa ilmu (syar’i atau bukan) tersebut dipelajari, apakah ilmu tersebut digunakan sesuai dengan syar’i atau tidak, apakah untuk kemaslahatan umat atau malah sebaliknya, mungkin sejarah snouck hurgronje bisa dijadikan salah satu contoh mempelajari ilmu syar’i bisa jadi salah jika untuk tujuan divide et impera.
    kalo imtaq didukung dengan iptek, insya Allah islam akan maju…
    Wallahu a’lam…

  26. Assalaamu ‘alaikum
    @ Nur Sejati
    Alhamdulillahirabbil ‘alamin. Sekiranya mas Nur Sejati dapat melihat isi hati saya dan mengintip catatan keburukan saya dari malaikat Atid, mas Nur Sejati tidak akan sesedikit ini memaki saya. Coba kalau tahu, semua jenis makian yang ada akan keluar dari mulut mas Nur dan yang lainnya, ditujukan kepada saya . Allah SWT memang Penyayang, Ia tidak perkenankan orang lain melihat semua keburukan manusia, kecuali sedikit.:mrgreen:

    @ Danalingga
    Masa Tuhan ng-blog… 8)
    Insya Allah Kyai Dana, sebenarnya tulisan tentang kedudukan hadis dhaif sudah pernah saya publikasikan di sebuah majalah Islam, hanya saja saya merasa perlu mengedit agar gaya penulisannya lebih mudah difahami dan menghindari terlalu banyaknya istilah-istilah dalam bahasa Arab. Supaya tidak pusing membacanya gitu…

    @eevooi
    Begitu memang kesimpulannya eevooi. Rasulullah SAW tidak membatasi ilmu apa saja yang wajib dipelajari, selama ilmu tersebut baik, bermanfaat, menjadi jalan bagi pemilikinya agar bisa lebih mengenal Tuhan, maka ilmu tersebut baik.

  27. Allah SWT memang Penyayang, Ia tidak perkenankan orang lain melihat semua keburukan manusia, kecuali sedikit.

    Benar pak .. dan anehnya banyak orang yang merasa seperti Tuhan .. dengan memberi cap dosa atas pemahaman akal manusia serta menghardik orang seperti dirinya sebagai Tuhan.

    Padahal Allah itu Maha Pengasih dan Maha Pengampun. Dan satu2nya dosa yang tidak diampunkan oleh-Nya adalah sirik. Jadi .. kalo kita lebih tunduk atas sabda2 manusia .. apakah itu tidak termasuk sirik ya Pak?? kita lebih takut atas perkataan manusia dari pada Allah??

    Allah Maha Benar. Allah Maha Pemurah.

    Ram-ram Muhammad:
    Ya, boleh jadi seperti itu. Bukankah yang lebih berhak untuk ditakuti hanya Allah? Jika kita lebih takut kepada manusia ketimbang Allah, ya syirik. Bentuk-bentuk syirik sangat luas, namun ada yang bentuknya besar dan ada yang kecil. Syirik kecil di antaranya takabur, mencintai harta secara berlebihan, Riya (ingin mendapatkan pujian), Sum’ah (ingin didengar perbuatan baiknya oleh orang lain) dan Ta’ajub (mengagumi diri sendiri, atau menilai kebaikan dirinya sendiri) dan lain sebagainya.

  28. Assalaamu ‘alaikum. kayanya kalu dibiarkan terus para salafy ini bisa menularkan isme-isme sesat dan menyesatkan. kenapa segalanya harus berbau arab? apakah Islam identik dengan arab? apakah Islam agama yang mengajarkan kekolotan dan kejumudan. saya coba memberikan masukan dan komentar di situs-situs mereka tapi tidak pernah ada ditampilkan, buat saya orang yang tidak mau diajak diskusi adalah orang yang menyembunyikan sesuatu.

    Ustadz Ram_Ram Muhammad sudah tepat dan jelas dalam memberikan penerangan mengenai hal ini, tapi saran saya sebaiknya juga dikupas mengenai fatwa-fatwa mereka yang kontroversial. ummat ini memerlukan dakwah yang baik dan sejuk. Salam taaruf dari saya

  29. untuk yang mengaku sebagai Nur Sejati, makian itu seharusnya ditujukan kepada anda sendiri. Anda ini Salafy juga ya?

  30. Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh,
    Ustadz yang terhormat, mungkin ustadz salah paham dengan pernyataan ilmu ghairu syar’i. Yang di maksud dengan ilmu ghairu syar’i itu mungkin maksudnya adalah ‘ilmu yang tidak syar’i’ alias ilmu-ilmu yang bertentangan dengan syari’at seperti perdukunan, ramalan, sihir dll semacamnya. Sedangkan ilmu-ilmu selain ilmu syariat seperti ilmu-ilmu fisika, matematika, biologi dsb semuanya itu mubah, boleh-boleh saja di pelajari, bahkan bisa jadi wajib untuk di pelajari di kondisi-kondisi tertentu. Misalnya ilmu strategi perang, kalau memang kondisi kaum muslimin di tuntut untuk jihad, maka ilmu tentang taktik perang dan semisalnya wajib untuk di pelajari oleh sebagian kaum muslimin karena kalau tidk akan berakibat fatal di pihak kaum muslimin. Begitu pula dengan ilmu-ilmu dunia yang lain seperti kedokteran, teknik, dsb yang banyak memberikan manfaat yang besar bagi umat manusia.
    Kalau di pukul rata maksudnya adalah haram mempelajari seluruh ilmu yang bukan syar’i termasuk didalamnya ilmu2 dunia yang banyak memberi manfaat, trus bagaimana kita bisa berdakwah lewat internet…
    Saran saya, sebaiknya ustadz meminta klarifikasi dulu kepada yang bersangkutan sebelum Ustadz menarik kesimpulan yang akhirnya menjadi kesimpulan yang mentah dan jauh dari maksud sebenarnya.

    Salam hormat dari saya

    Ram-Ram Muhammad:
    Wa ‘alaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuh
    terimakasih mbak Minenda. Insya Allah saya sepenuhnya yakin bahwa yang dimaksud ilmu ghoiru syar’i di sini bukan ilmu perdukunan, sihir, dan santet. Coba mbak baca lagi dengan teliti postingan saya. dalam situs/blog tersebut jelas bahwa yang bersangkutan menyatakan bertaubat karena mempelajari ilmu ghoiru syar’i di perguruan tinggi bahkan ada yang menambahkan PT Ikatan Dinas. Nah lho? Apa ada perguruan tinggi yang membuka jurusan sihir dan perdukunan? apalagi yang sifatnya ikatan dinas. insya Alllah saya tidak salah faham. Terimakasih ya Mbak.

  31. Ketika ilmu itu di tanamkan oleh para Ulama Rabbani yang penuh ilmu dan hikmah, maka hasilnya adalah buah yang manis ditengah-tengah umat. Namun ketika ‘bocah-bocah’ ingusan yang seharusnya dia lebih lama berada dalam asuhan sang guru sudah berusaha ‘teriak-teriak’ tentang agama maka hasilnya adalah kondisi yang carut marut, ketimpangan di sana-sini, tiada hikmah, dan justru menjadikan manusia kian lari jauh dari kebenaran. Lebih buruk lagi, manusia membenci kebenaran tersebut dan menganggapnya sebagai kesesatan yang mesti dihindari. Dan kebencian manusia kepadanya dianggapnya sebagai ujian dari Allah, padahal sebenarnya dialah yang tidak mampu menjelaskan kebenaran tersebut. Inginkah mereka jika kebenaran itu di dustakan…
    Maaf Ustadz, tadi saya cuma sekilas membaca tulisan bapak, ternyata bukan bapak ustadz yang perlu klarifikasi tapi saya yang harus hati-hati.
    Sekali lagi saya mohon maaf.

    Ram-Ram Muhammad:
    Sama-sama Mas Minenda, saya juga minta maaf dan terimakasih atas koreksinya. Teruskan dakwah Salafy-nya, dengan tetap berpegang kepada kearifan, kelemahlembutan, keluasan dan semangat persaudaraan. Hal yang sama juga berlaku bagi setiap muslim, karena setiap muslim memiliki kewajiban beramar makruf nahyul munkar. semoga Allah merahmati kita semua

  32. ilmu itu kata Murthada Muttaharri adalah bahan-bahan mentah. setelah semua bahan itu masuk maka akal yang akan mensortir dan mengolahnya.

    sudah menjadi sifat akal yang selalu lurus maka bahan-bahan itu akan diklasifikasikan. gampangnya, mana yang benar dan mana yang salah.

    kecenderungan hati manusia selalu mengikuti yang benar. maka dari ilmu yang benar itu direspon oleh kalbu menjadi sebuah tindakan.

    sebab itu, sebetulnya manusia tidak perlu takut dengan ilmu yang dia serap, lagi pula segala yang berbentuk pengetahuan tidak bakal bisa dibendung. kecenderungan manusia untuk mencari kebenaran menyebabkan dirinya ingin mengetahui segala sesuatu. dengan keinginan mencari tahu itulah sesungguhnya manusia bisa mencapai makrifat.

    sesungguhnya kebenaran tidak akan bisa dibendung, jadi kalau kita melakukan kesalahan berarti telah membohongi akal.

    komentar ini sebetulnya simplifikasi dari kerja akal yang sebenarnya sangat rumit

    Ram-Ram Muhammad:
    SUbhanallah, terima kasih… sangat mencerahkan

  33. Assalamualaikum
    dari tulisan panjenengan..apa njenengan salah satu pengikut JIL?

    agak..aga liberal gitu..berani nafsirkan tanpa lewat cara yg biasa

    Wa ‘alaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuh
    Halah… kok sampeyan punya dugaan kalau saya JIL? Kenal saja tidak.
    Kalau boleh, bisa sampeyan tunjukin pandangan saya yang liberal itu yang mana?
    Tapi, ngomong-ngomong, yang liberal itu yang bagimana ya?:mrgreen:
    Maaf mas, saya ini dibesarkan di lingkungan pesantren tradisional yang belajarnya melulu kitab gundul. Kenal sama WordPress saja baru sekarang. Jadi kalaupun saya menyampaikan pandangan-pandangan mengenai suatu hal, ya harap dmaklum saja, saya karatan di dunia tradisional. Makanya ketika ada yang nyangka saya JIL, saya sendiri herannya minta ampun. JIL itu setahu saya anak-anak jebolan perguruan tinggi. Gak kaya saya. Tapi terimakasih, saya jadi tertarik ingin mempelajari lebih dalam pemikiran-pemikiran JIL.

  34. Ini ribut kok terus2an yaaa?! hehehehehehehe
    Ilmu milik Allah, kenapa harus dosa?
    Yang akan tersesat adalah mereka yang tak mau belajar dan mencari ilmu.. Sing penting, untuk kemaslahatan manusia dan menuju Tuhan.. Selesai masalah.

    punten, maaf OOT

    Insya Allahu Ta’aala, gak ada yang ribut di tempat ini… 8)
    kita diskusi saja, ada tema yang bisa diangkat terus kita bahas. Mudah-mudahan saja bisa jadi nasihat, ilmu dan pencerahan bagi saya khususnya.

  35. JIL … memangnya kenapa ? Saya bukan serorang JIL tetapi saya seorang Pancasilais LIBERALIS, apakah itu sebuah hal yang tabu ? …

    setau saya tabu itu bahan buat bikin gula.:mrgreen:

    Apapun itu, sebaiknya nggak boleh melarang, jika nggak suka ya nggak usah ikut. .. gitu aja kok repot!

    Ram-Ram Muhammad:
    TEBU OOT!:mrgreen:
    Kalau tabu itu yang suka dateng ke rumah…!:mrgreen:

  36. Mana.. mana..!! Antosalapy dan pengagum badui-badui arab itu..??🙂

    Ram-Ram Muhammad:
    *celingukan periksa komen*
    Sudah ada kok di atas, tapi komennya sejuk… bikin nyaman hati.

  37. @ Ram2 Muhammad

    Jadi besok saya boleh dong BER-TABU ke rumah antum:mrgreen:

    @ Aswaja

    Kayaknya mereka nggak dateng tuh, mungkin lagi cuti Natal dan Tahun baru ?😆

    @ Semua

    Ilmu yang saya pelajari adalah : Memperkaya diri sendiri agar bergelimangan harta tanpa merugikan orang lain:mrgreen:

  38. hmm, sepertinya begitu ya pak…
    memang secara teori tujuannya seperti itu. tapi mungkin bapak setuju jika ternyatapraktek di lapangan berbeda?

    # rozenesia, mungkin ini hanya persoalam kontekstualisasi pertanyaan…

    Ram-Ram Muhammad:
    Mengenai prakteknya di lapangan, tidak dapat dipungkiri memang seringkali terjadi pembelokan tujuan. Tapi menurut hemat saya hal tersebut tidak merubah hukum asalnya

  39. walah…mereka belajar ngeblog dari nuntut ilmu syar,i nyak, terus OS, ie or MF yang dipake dapt dr mana nyak hehehe

  40. syariat adalah jalan
    jalan berarti proses
    proses bukanlah penyelesaian

    gitu ya Mas ya

  41. ana tahu, pasti yang dimaksud si manhaj “pokoknya’ ya… tho??????


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: