Meneladani Seekor Anjing? Why Not?!?

Januari 2, 2008 pukul 6:19 am | Ditulis dalam Agama, Artikel, Dakwah, Islam, Manhaj, Pendidikan, Renungan, Umum | 26 Komentar

Bagi kebanyakan orang -terutama muslim-, hewan yang satu ini dianggap sebagai hewan yang menakutkan, menjijikkan, kotor dan label-label “minus” lainnya. Dalam syariat (hukum) Islam sendiri, segala sesuatu yang basah (kullu ruthbin) dan berasal dari tubuh anjing -seperti air liur, kencing, kotoran, hidung dan lain sebagainya- dihukumi sebagai najis mugholladzoh (najis berat). Sehingga ketika seseorang terkena olehnya, ia diwajibkan untuk mencucinya dengan 7 kali basuhan dan salahsatunya menggunakan tanah. Selain itu, hukum memakannya adalah haram.

Tulisan ini tidak bermaksud membahas mengenai hukum-hukum yang berkaitan dengan anjing. Saya lebih tertarik untuk sedikit mengupas sisi baik yang terdapat pada hewan yang “kadung” dicap sebagai hewan berkasta rendah lagi najis ini, lalu kemudian mencoba meneladaninya.  

Lha, kok meneladani anjing? Yak!, seperti saya bilang di atas, di balik label-label negatif dari hewan ini, ada sifat-sifat baik yang justeru menurut al-Qulyubi dalam kitabnya an-Nawadir patut dijadikan sebagai teladan. Bahkan beliau menambahkan, sekiranya sifat-sifat baik yang melekat pada diri anjing dimiliki oleh manusia, niscaya ia akan sampai pada kedudukan yang mulia di sisi Allah SWT. Lagi pula, kita dapat mengambil pelajaran dan hikmah dari segala sesuatu yang baik. Jangankan anjing yang termasuk hewan besar:mrgreen: , Allah SWT juga memerintahkan kita mengambil pelajaran serta hikmah dari seekor nyamuk atau lalat yang juga “bernasib sama”, yaitu sama-sama dicap menjijikkan, kotor dan biang penyakit.

Nah, berikut ini sifat-sifat baik yang ada pada seekor anjing.

Pertama, anjing adalah hewan yang seringkali merasakan lapar. Hal ini mengingatkan kita pada keadaan orang-orang yang saleh. Orang-orang saleh adalah mereka yang senantiasa ruhaninya merasakan lapar akan “harapan dan rindu” untuk diridlai dan dicintai oleh Allah SWT. Bagi orang-orang saleh, setiap perintah Allah SWT adalah pengenyang lapar ruhaninya, dan setiap detik usia adalah waktu untuk bersantap. 

Kedua, pada umumnya anjing tidak memiliki tempat tinggal yang mewah di dunia. Anjing tidak pernah meminta diberikan tempat tinggal yang mewah kepada tuannya. Di manapun ia ditempatkan, ia akan dengan senang hati menerimanya. Sama seperti halnya orang yang berpasrah diri (tawakkal) kepada Allah SWT. Insan yang bertawakkal adalah mereka yang menyerahkan segala urusan hidupnya kepada Allah SWT. Karenanya, di manapun, bagaimanapun dan seperti apapun keadaan dirinya, ia tidak pernah berkeluh kesah karena kuatnya keyakinan bahwa Allah SWT akan memberikan apa yang dibutuhkan olehnya, bukan apa yang diinginkan.

Ketiga, Anjing adalah hewan yang biasanya hanya tidur sebentar, seperti keberadaan orang yang punya kecintaan besar pada Allah (muhibbin). Seorang pecinta Tuhan, lebih banyak menggunakan waktunya untuk mendekatkan diri kepada-Nya, daripada “membuangnya” percuma dengan tidur yang berlebihan. Bahkan ketika tidurpun, ruhaninya tetap “siaga” dan “terjaga” untuk mengingat Allah.

Keempat, anjing tidak memiliki harta, sebagaimana kondisi orang-orang zuhud atau merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah SWT kepadanya.

Kelima, anjing tidak akan meninggalkan tuannya sendirian, kendati tuannya sendiri tidak menghiraukannya, seperti sifat orang-orang yang selalu ingin dekat pada Allah (muridin).

Keenam, anjing rela ditempatkan di mana saja, seperti sifatnya orang-orang tawadlu’.

Ketujuh, anjing rela untuk pergi dari tempat di mana ia diusir ke tempat lainnya, seperti sifatnya orang-orang yang ridla kepada kehendak Allah.

Kedelapan, jika seekor anjing dipukul lalu diberi sesuatu. Ia akan kembali dan mengambilnya tanpa merasa dendam, seperti sifat orang-orang yang khusyu’.

Masih banyak sebenarnya sifat-sifat baik yang terdapat pada seekor anjing yang bisa kita jadikan sebagai sebuah tauladan. Tinggal terserah kita saja, mau tidak belajar dari seekor anjing?

Wallaahulmuwaffiq ilaa aqwaamiththoriq.  

 

 

26 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Wawasan baru dari sebuah anjing….
    tapi jika orang berkata:
    Waaah dasar anjing luh!
    rasanya saya tidak akan tersinggung deh setelah membaca ini..🙂

    makin lapar saja, ditunggu air kesejukan aula hikmah lainya yaa…

    Ram-Ram Muhammad:
    Mungkin maksudnya Kyai Kurt bukan “sebuah anjing”, tapi “seekor anjing”… hehehe:mrgreen:
    Yang suka mengumpat dengan nama hewan ini, barangkali gak tahu kalau hewan ini adalah makhluk yang sarat dengan teladan ya Kyai? Jadi saya juga sepakat saja, kalau ada yang mengumpat saya dengan kata “waah, dasar anjing luh!”, saya gak bakalan tersinggung, paling cuma mesem-mesem sambil melayangkan bogem mentah…:mrgreen:

  2. wah keduluan… untungnya kyai:mrgreen:
    kalo orang jawa jaman dulu punya ujar-ujar: “anjing kalo berdoa minta supaya tuannya diberi rejeki banyak supaya dia bisa menjaga semuanya.” kalo kucing “minta supaya tuannya tidak punya anak supaya hanya dia yang disayang”. ini kontras dengan kisah nabi yang suka dengan kucing… saya sampe sekarang gak ngerti sumber ceritanya dari mana itu😀

    Ram-Ram Muhammad:
    Komennya Kyai jenang ini sekaligus sebagai update postingan saya… hehehe
    Saya anggap poin ke-9 dari sifat-sifat baik anjing. Soal dari mana sumber cerita itu, saya gak ambil pusing🙂

  3. Anjing saya udah meninggal dunia…😦

    Saya mau punya anjing baru, tapi di kost ga boleh ‘melihara’ hewan katanya… Lha wong saya ga mau piara, saya maunya berteman…😥

    *curhat selesai*

    *baca komen mbah sitijenang*

    Nah, kalo ditanya, saya jelas milih anjing ketimbang kucing. Jujur, entah kenapa saya sentimen sama kucing! Lha ini juga yang jadi alesan kenapa orang pada benci anjing, ya sentimen ama anjing!🙄

  4. wah..belajar dari anjing…mantabss sekali artikelnya

  5. Mo nambahin dikit boleh kan pak?
    Anjing itu setia sama tuannya, bahkan mungkin sampai mati.
    Saya pernah baca cerita seekor anjing yang tetap nungguin di depan rumah tuannya walaupun si tuan sudah meninggal.

  6. Jadi lain kali orang akan megubah sumpah serapahnya menjadi, “Dasar Anjing Guwe???”. He…he..he… 100x

  7. @ Rozenesia
    Ikut berduka dah…😥
    Semoga cepat mendapat gantinya… 8)
    Saya pilih anjing atau kucing ya? Ayam aja deh!:mrgreen:

    @ Okebebeh
    Terimakasih… komennya juga mantabs.. pendek bangets!:mrgreen:

    @ Kabarihari
    Wah, nambah lagi satu poin tuh… udah 10 poin sekarang.

    @ Daeng Limpo
    Halah.. itu bukan nyumpah nyerapah daeng, tapi narsis…

  8. menurut saya mah, setiap mahluk itu kan ada sifat baik dan sifat buruknya, begitu juga anjing…
    saya kira sifat baik dari anjing juga akan berubah kalo anjing punya akal…
    dan di jaman sekarang mah ada anjing yang lebih beruntung nasibnya dibandingkan manusia, karena ada orang lebih senang memelihara seekor anjing walopun biayanya mahal dibandingkan memelihara anak jalanan…

    • iya kalo anak jalanan sudah besar jadi penjahat jalanan…lebih baik sama binatang daripada sama manusia yang tak tahu diuntung

  9. @ atas

    Saya ini contohnya:mrgreen:

    @ Ram2 Muhammad

    Semakin hari saya semakin Angkat “Celana” eh itu sih kebanjiran ya, saya “Angkat Topi” dengan anda.😀

    Postingan anda sangat open minded bahkan dari sisi yang tidak pernah terpikirkan sekalipun oleh kalangan liberal sekalipun.

    Keep going bro … Salut😀

  10. semua makhluk hidup dapat liat dengan memaknai tidak terkecuali anjing sekalipun.

  11. Tapi kok saya sampai saat ini pun gak rela untuk dikata2i : anjing lu !:mrgreen:

    Lha dia kan binatang dan saya manusia. Ada lagunya begini : “Saya juga… manusa”. Lha kok jadi berdendang … 😆

    @ eevooi
    Menohok … saya tersinggung nih … 8)

    Pesan moral :
    Mutiara tetap mutiara walau berada di tumpukan kotoran. Benarkah ? #Sok tau

  12. Assalamua’alaikum Gus Ram…
    Jadi inget anjingnya Ash-habul Kahfi…., satu2nya anjing yang masuk sorga,…. Hayoo jangan kalah sama anjiing…😀

    “Manusia yg positif akan selalu berpandangan positif, dan banyak hikmah2 yg tertangkap dan yg keluar darinya”

  13. @ eevooi
    Betul, dan oleh karena itu adalah sangat merugi jika kita tidak mau belajar dari makhluk-makhluk Allah. Bukankah Allah SWT telah memerintahkan untuk mentafakkuri segala ciptaan-Nya? *sok moralis MODE ON*

    @ Retorika
    Halah, Jakarta kebanjiran lagi ya? Sampe angkat celana segala!!!!
    Sebenarnya saya hanya menyampaikan kembali apa yang disampaikan oleh ulama (al-Quyyubi) Bro…!
    Eh, omon-omon… jujur sejujur-jujurnya… saya benar-benar tidak tahu definisi liberalis, apalagi Islam Liberal… Suka jadi bingung kalau ada yang mencap saya sebagai muslim yang liberal… Gak ngerti

    @ Arul
    Makanya, jangan kalah sama hewan ya…:mrgreen:

    @ Herianto
    Benar pak Dosen her, dalam kotoranpun ada hikmah… Apalagi mutiara yang tetap akan menjadi mutiara di manapun ia berada… *sok tahu juga*

    @ Ansori
    Wa ‘alaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuh Cak Ri…
    Iya… Anjing saja ada yang “saleh”…🙂, karenanya sang anjing berhak beroleh hak yang sama untuk masuk surga. Kalau kita yang justeru manusia, malah bisa kehilangan hak masuk surga..😥

  14. Assalamu’alaikum wr. wb.

    Sebenarnya sejak kecil saya selalu bertanya dalam hati .. mengapa anjing itu dianggap najis dan kalo dipelihara – katanya – malaikat tidak mau mampir ke rumah kita. Apakah karena anjing disebutkan di surah Al A’araaf ayat 176, surah Al Kahfi ayat ayat 18 dan 22 ya pak?? apakah karena dulu kala .. musuh2 Islam memelihara anjing sedangkan kaum muslimin tidak?? sehingga anjing dianggap musuh juga??

    Bukan apa2 sih pak. Jujur. Saya lebih suka memelihara anjing – tapi sampai saat ini ga berani memelihara karena takut kualat / dosa (?) – dari pada kucing. Karena, sifat anjing yang saya sukai adalah sifat setia nya dan tahu berbalas budi.

    Btw .. pak mau tanya .. itu gimana caranya pasang link, yang bisa langsung up date setiap ada new postingan? .. saya juga nambahan blog bapak di blog list saya. Thanks juga sudah link ke saya. Keep in touch.

    Wassalamu’alaikum wr. wb.

  15. Assalaamu ‘alaikum Gus Ram
    mangkin hari mangkin sip saja tulisannya. Sebelumnya aku terhenyak baca judulnya, tapi setelah baca isinya mak nyuuus. Malu aku sama binatang yang satu ini… kalau begitu, apa jadi boleh pelihara anjing? hahaha

  16. Eh, kira-kira para Salafiyyun itu mau kagak ya baca tulisannya Gus Ram ini? Aku capek kirim komentar di blognya mereka, gak ada satupun yang ditampilkan. Apa salahku ya? Gus, aku mau tanya, apa Gus Ram ini yang pernah ceramah di diskusi theologi di Gereja Kristen Surabaya? Aku kebetulan hadir, jadi inget inget lupa liat fotonya Gus Ram. Syukron

  17. Soal kesetiaan, kerapkali anjing lebih setia daripada seorang sahabat. Hal ini sudah saya alami karena saya penyayang anjing. Salam Pak Ram-Ram

  18. @ Erander
    Sebenarnya pijakan dalil mengenai hukum memelihara anjing bukan disebabkan oleh ayat yang mas erander sebutkan atau karena sebab-sebab di atas. ketidakbolehan memeliharanya pun bukan hal mutlak, karena ada kebolehan untuk memeliharanya pada kebutuhan dan kondisi tertentu. Misalnya untuk menjaga rumah, berburu atau kepentingan militer dan kepolisian.

    Tentang kenajisan anjing juga terdapat perbedaan pendapat di kalangan empat mazdhab besar. Madzhab Hanafi berpendapat bahwa anjing secara zatnya adalah mahluk yang suci. Madzhab Hanafi berpendapat yang najis hanya air liur di sekitar mulut dan hidungnya dan
    juga kotorannya.

    Madzhab Maliki lebih ringan lagi. Menurut mazhab ini yang merupakan najis dari anjing hanya kotorannya sebagaimana binatang lain.

    Madzhab Syafi’i dan Hambali berpendapat bahwa anjing adalah binatang najis secara keseluruhannya. Menurut saya pendapat yang kuat adalah pendapat Madzhab Hanafi.

    Halah, sok tahu ya….
    pertanyaan terakhir *halah* sudah saya jawab di blognya mas erander…:mrgreen:

    @ Darwin
    Mengenai larangan memelihara anjing harus dikaji secara sempurna, seperti saya sampaikan di atas. kalau memang butuh memelihara anjing, kenapa tidak?

    Lho kok tahu….

    @ Pormadi
    Secara umum anjing memang punya tipikal setia… Mas Pormadi ini kebetulan seorang Nasrani, jadi gak akan ribet dengan masalah najis air liurnya… 8)

  19. Wah, jadi kepikiran iseng. Binatang-binatang itu di akhirat pergi ke mana ya? Surga kah? Neraka kah? Atau ada tempat lain selain surga dan neraka? Atau itu bukanlah pertanyaan yang memerlukan jawaban?

  20. Bener2 mencerahkan postingan ini. semula saya memang menganggap anjing yang tak lebih hanya hewan penyebar najis:mrgreen: di balik tampilan fisiknya, agaknya anjing memiliki karakter yang layak diteladani oleh manusia, terutama budaya hidupnya yang tidak *halah* ubbuddunya* mau niru2 pakai istilah arab kok salah mlulu, hehehehehe😆 saya kok juga iseng bertanya seperti pak iwan, hehehehe😆 kira2 kelak anjing tuh masuk syurga ato neraka, yak! ato nggak perlu dihisab kayak manusia?

  21. @ Ram2 Muhammad

    Eh jangan anggap saya JIL lho, Saya ini anggota DDOCI & ARSENAL FC Fans club … thats it:mrgreen:

    Saya cuma bilang , bagi orang yang mendewakan Kebebasan berfikir & Berpendapat” Hal ini saja terlewatkan …

    oh ya, Anjing ku juga setia kok(Setia dengan majikannya)
    sayangnya dia terlalu gemuk dan cuma nonton tivi doang…ngejer kucing dan tikus pun nggak mau😦

  22. bila berkaca pada quran, anjing masuk surga loh !

  23. @ Awaludin
    Saya juga mau bertanya bergitu sama sampeyan:mrgreen:

    @ Sawali Tuhustya
    Halah… tanya sama Retorika… kayanya dia bakalan… sama-sama gak bisa jawab.. 8)

    @ RETORIKA
    Ah… anjing yang sesadh sangadh!👿

    @ borsalino
    Iya… anjingnya Ashabul Kahfi kah?

  24. yang jelas anjing ngga’ pernah menyumpah “kafir lu… sesat lu….. bid’ah lu…….”

  25. tolong sebarkan pengertian positif ttg anjing bagi semua umat,terutama umat islam.karena saya mendengar umat islam sangat membenci anjing,pernah saya melihat langsung supir microlet dgn ngebut menabrak anjing,anjing itu kesakitan dan mati.si supir merasa ok2 tanpa merasa bersalah,malah menuding salah anjing itu ketika saya pergoki.jadi?siapa yg lebih kuat?si supir/anjing?anjing kan lemah bngt,dan manusia lah yg paling kuat,jadi tuhan yg begitu berkuasa bagaimana memperlakukan manusia?
    tempatkan kita sebagai tuhan,dan anjing2 itu sbg manusia,maka tuhan akan memperlakukan kita dgn begitu juga.anjing atau kucing atau binatang apapun mereka perlu dikasihi,malah sesungguhnya musuh kita adalah manusia2.jadi,jgn sakiti hewan lemah,sakitilah manusia yg jahat.anjing tidak dapat merusak dunia,tidak dapat membuat globalwarming,ga kejam,tapi manusia bisa.
    pesan saya,manusia adalah yg jorok sebenarnya,malah saya menyesal menjadi manusia karena harus melihat kkelahiran,sakit dan mati.jadi bila bertemu org yg dirasa jahat,boleh saja di bunuh…………


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: