PUNYA 3 TEMAN, TAPI HANYA 1 YANG SETIA

Januari 13, 2008 pukul 4:10 am | Ditulis dalam Agama, Artikel, Celotehan, Dakwah, Islam, Manhaj, Mimpi, Pendidikan, Renungan, Umum | 21 Komentar

Siapapun, pasti memerlukan kehadiran teman. Teman yang diharapkan dan dicari tentu saja teman baik, dimana  orang seringkali menyebutnya sebagai teman setia. Ada yang pernah bilang kepada saya, bahwa teman seringkali “lebih berguna” daripada saudara. Alasannya? “kebanyakan masalah yang dihadapi oleh seseorang, seringkali terselesaikan karena bantuan teman.” Dan alasan-alasan lainnya. Tetapi tetap saja intinya adalah: manusia memerlukan teman, karena seperti yang kita maklumi, manusia dalah makhluk yang tidak bisa hidup sendiri. 

Satu hal lagi yang perlu kita ingat adalah, teman bukan hanya dapat menolong dan bermanfaat, karena seringkali lantaran teman pulalah seseorang terperosok dalam  kerugian, malapetaka dan dosa.

Mencari teman yang sempurna memang sulit, sampai seorang penyair pernah mengungkapkannya, “siapa mencari teman tanpa cacat, dia akan hidup tanpa pernah mempunyai seorang teman“. Nah lho… Namun demikian, mencari dan memilih teman tetap saja harus dilakukan.

Seperti saya bilang sebelumnya, banyak orang menyimpulkan bahwa teman terbaik adalah teman sejati, yaitu teman yang mau berbagi dan bersama dalam suka maupun duka. Islam sendiri tidak menolak pandangan ini, hanya saja tinjauan mengenai suka dan duka dalam Islam tetap mempunyai dua sisi; dunia dan akhirat. Karena berhubungan dengan kepetingan akhirat, maka persahabatan sejati dalam konsep Islam adalah persahabatan atau pertemanan yang dilandasi karena cinta kepada Allah SWT.  

Setelah membaca pengantar di atas *halah*, mungkin yang terbetik dalam benak kawan-kawan sekalian mengenai sosok teman adalah -hanya- makhluk dengan ras manusia.

Nah, apakah benar demikian adanya? Bahwa yang menjadi teman kita hanyalah sosok-sosok makhluk bernama manusia saja? Simak paragraf selanjutnya di bawah ini… *halah*. Selanjutnya kita akan berbicara mengenai “teman” dalam kajian agama. *halah*

*betulin peci dulu…*

Sejatinya, yang menjadi teman manusia itu tidak hanya manusia saja, melainkan ada tiga macam: keluarga, harta dan amal perbuatannya. Ketiga hal ini disebut sebagai teman karena keberadaanya dibutuhkan, di samping tentunya selalu menemani, menyertai dan melekat dengan manusia pada umumnya.

Yang pertamana Keluarga -tentu saja ini dari ras manusia, kecuali kalau ada yang mengkalim bahwa dirinya memiliki kekerabatan dengan unta:mrgreen: – adalah orang-orang yang berada dalam ikatan kekerabatan, masih memiliki hubungan darah, atau disatukan oleh ikatan pernikahan. Yang menjadi inti dari keluarga adalah ayah, ibu, istri/suami dan anak. Dalam prakteknya, orang-orang yang sebenarnya tidak memiliki syarat-syarat sebagai keluarga bisa “dianggap” atau acap kali “diklaim” sebagai keluarga. Misalnya dalam hubungan persahabatan yang begitu kental, sehingga perlakuan kita terhadap sahabat seperti layaknya terhadap keluarga. Bahkan dalam budaya dan tradisi orang Indian, perlakuan terhadap seorang teman menempati prioritas lebih tinggi dibandingkan keluarga.

Sedangkan harta adalah segala bentuk benda atau materi yang secara hukum diakui secara sah kepemilikannya. Harta dipandang sebagai teman manusia karena keberadaannya dibutuhkan, dicari dan “dapat dimintai tolong” untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya.

Adapun amal adalah segala bentuk perbuatan yang dilakukan oleh manusia dalam keadaan sadar serta memenuhi syarat kecakapan secara hukum (mukallaf atau tertaklif hukum). Amal atau perbuatan manusia akan berakibat secara hukum. Karenanya dalam hukum agama kita mengenal dua macam amal; amal baik dan amal salah (amal saleh dan amal buruk). Amal baik akan dibalas dengan pahala, sedangkan amal buruk dibalas dengan siksaan atau azab.

Nah… Sampai di sini mudah-mudahan masih bisa difahami *ditimpuk*

Dari ketiga macam teman tersebut, kata Rasulullah SAW ternyata hanya satu yang benar-benar teman setia, karena ia tidak hanya menemani kita ketika hidup, namun juga akan terus menemani kita sampai mati. Yang satu hal itu adalah amal perbuatan manusia.

Berbeda dengan keluarga dan harta yang hanya akan menyertai dan menemani kita pada saat kita hidup, amal akan terus menerus mendampingi kita dengan setia sampai pada mahsyar, saat di mana kita akan menghadapi pengadilan Allah.

Kata Rasulullah SAW, harta hanya akan menyertai manusi sampai malaikat maut mencabut nyawa dari raganya. Sedangkan keluarga hanya akan tetap menyertai dan menemani kita sampai jasad kita dibaringkan ke dalam liang lahat. Setelah jasad kita ditutup tanah dengan sempurna, keluarga kita akan beranjak meninggalkan kita dalam kesendirian. Sebesar apapun cinta mereka (istri, suami, anak, orangtua, saudara, kerabat, handai taulan), tidak akan ada seorangpun yang akan terus menerus duduk menemani di pinggir kuburan untuk menemani  kita, apalagi jika harus sama-sama dibaringkan dalam lubang peristirahatan yang sama dalam keadaan hidup, ya mustahil dan gak ada kerjaan :mrgreen:

“Kesetiaan” keluarga terhadap kita juga seringkali terpupus sejalan dengan bergulirnya waktu. Pernah dengar kasus adik kakak yang bertengkar bahkan sampai ke pengadilan “hanya gara-gara” memperebutkan harta warisan? Atau pecahnya hubungan keluarga karena persoalan wasiat dan harta warisan? Sangat ironis, saat di mana seharusnya seluruh anggota keluarga “memikirkan”, mendoakan, menunaikan wasiat dan amanat almarhum, melunasi hutang harta dan hutang almarhum kepada Allah, mereka malah gontok-gontokan memperebutkan harta.

Saya suka membayangkan, orang yang telah meninggal dunia mungkin akan menyesali dirinya di dalam kubur karena telah meninggalkan harta yang malah menjadi sabab musabab perseteruan antar anak-anaknya sendiri. Ia juga mungkin menyesal karena tidak dapat mewariskan keluhuran akhlak dan agama bagi keluarganya.

Nah,   adapun amal, ia akan terus menemani kita dengan setia. Saat di dalam kubur, amal-amal kita semasa hiduplah yang menentukan mampu tidaknya kita menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir. Amal pula yang akan menentukan apakah saat menjalani fase kehidupan di alam kubur guna menunggu datangnya hari kiamat, kita akan memperoleh kenikmatan atau justeru siksa.

Maka, ketika kita menginginkan ditemani oleh teman yang baik, maka beramal baiklah. Demikian kata Rasulullah SAW.

Wallahulmuwaffiq ilaa aqwamiththoriq. 

 

 

21 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Nah, setelah kutunggu-tunggu akhirnya dapat juga pencerahan di sini, *halah* terutama tentang hakikat teman yang setia. Amal perbuatan kita agaknya jugalah yang kelak akan setia menemani kita hingga ke akhirat kelak. Kalo ndak salah, itu termasuk pahala yang ndak akan pernah putus, selain ilmu yang bermanfaat dan doa anak yang sholeh. Tolong diluruskan Mas Ram-ram kalo salah dan OOT.
    Wallahulmuwaffiq ilaa aqwamiththoriq

    Ram-Ram Muhammad:
    Sebelum mau protes dulu… Kok kalau saya nge-klik Sawali Info gak pernah mau kebuka ya… Prof. Sawali ngumpet ya?👿 Saya jadi kehilangan pegangan *halah*😥

    Yak benar Prof, anak (keluarga) dan harta dapat menjadi sumber pahala yang tidak terputus, tentu dengan syarat-syarat tertentu seperti yang Prof Sawali bilang. Karena maksud dari “inqotho’a amaluhu” (terputus amalnya) dalam hadis dimaksud adalah, jika seseorang telah mati maka ia tidak akan dapat berbuat atau beramal lagi secara langsung, sehingga ia tidak lagi mungkin dapat memperoleh pahala dari perbuatannya. Kecuali yang tiga hal; Ilmu yang bermanfaat, anak saleh yang mendoakan orangtuanya, dan harta yang dijariyahkan.

    Ilmu bukan sekedar pengetahuan yang ditularkan, diajarkan atau diamalkan. Saya memahaminya secara lebih luas. Misalnya kebiasaan baik yang ditiru oleh orang sepeninggal kita, nasihat yang terus diamalkan oleh orang yang kita nasihati, gagasan-ide-penemuan yang terus menerus memberikan manfaat dan lain sebagainya.

    Anak yang saleh yang mendoakan juga tidak sempit maknanya, yaitu sekedar anak yang rajin berdoa untuk kedua orangtuanya. Anak yang saleh adalah anak yang tetap berbuat baik untuk kedua orangtuanya sekalipun keduanya telah meninggal. Kesalehan anak terhadap kedua orangtuanya yang telah meninggal selain mendoakannya antara lain: Melanjutkan kebiaasaan baik kedua orangtuanya ketika hidup, menunaikan cita-cita kedua orangtuanya yang belum tercapai, mempererat hubungan dengan teman-teman kedua orangtuanya semasa hidup, menunaikan wasiatnya, melunasi hutang baik berupa harta maupun ibadah (haji, puasa, zakat). Ketika seorang anak menunaikan hal-hal tersebut, pada dasarnya ini merupakan bentuk doa si anak kepada Allah untuk kebaikan orangtuanya.

    *Halah, sok tahu ya?*

  2. Jadi ingat lagunya Opick .. “Bila waktu telah memanggil, teman sejati hanyalah amal .. Bila waktu telah terhenti, teman sejati tinggallah sepi”

    Makanya jangan bersedih hati, jika kita kehilangan sesuatu yang akan kita tinggalkan. Biar sajalah hilang. Karena hanya satu yang tetap setia mengikuti langkah kita ke liang kubur.

    Benar begitu bapak???

    Ram-Ram Muhammad:
    Baru tahu ada lagunya Opick… *OOT Lagu Religi, lebih sering dengerin Queen*
    Benar Kyai… ! Benar!:mrgreen:

  3. *tercerahkan*

    Eh, pak, pecinya malah kebalik atuh…:mrgreen:

    Baidewei, temen saya anak anjing~😄😄
    Imut~😄😄

    *dilempar sandal*

    Temen yang baek kan, soale temen saya ada yang bilang katanya malaikat ga deket-deket sama yang punya anjing. Jadi aman dong, ga dideketin malaiket maut.:mrgreen:

    *dilempar becak*

    Yuppie, menebak karma baik. Menebar karma baik. Karma baik. Karma baik….karma baiiiikkk… di mana-mana. Bukan sekedar komen baik.😛

    Ram-Ram Muhammad:
    Perasaan banyak yang bilang peciku terbalik… *ngaca dulu*
    Lha, anjing termasuk harta kan?
    Roz, saya juga punya anjing gembala 8 ekor, asli peranakan Jerman…. ! 8)
    Buat ngejaga pabrik sih…:mrgreen:

  4. terimakasih pak,
    menjadi lebih banyak pencerahan yang saya dapat.
    Kalau ilmu yang tidak baik jika diamalkan oleh orang yang pernah diajarkan apakah dosanya juga kebagian, harta hasil tidak halal jika dipergunakan oleh ahli warisnya untuk kebajikan gimana pula itu PaK?

    *lepas peci dulu*(pecinya Pak Ram)
    kalau anak tidak sholeh, apa orang tuanya juga kecipratan dosanya? sebagai akibat tidak mendidik anak ke arah itu?

    *pasangin lagi peci Pak Ram* (ditabok)
    apa saya terlalu OOT pak?!

    Ram-Ram Muhammad:
    *Ngelem dulu peci pake super glue, biar gak ada yang nyopot lagi*

    “Kalau ilmu yang tidak baik jika diamalkan oleh orang yang pernah diajarkan apakah dosanya juga kebagian?”

    Iya kebagian juga, kata Nabi barangsiapa mencontohkan suatu perbuatan buruk lalu orang mengikutinya, ia akan mendapatkan dosa sebagaimana dosa yang diterima oleh orang yang mengerjakannya tanpa mengurangi bagian dosanya.

    “harta hasil tidak halal jika dipergunakan oleh ahli warisnya untuk kebajikan gimana pula itu PaK?”

    Allah dan Rasul-Nya menyatakan, bahwa yang baik harus bersumber dari yang baik pula. Bersedekah atau berzakat tidak sah jika sumbernya berasal dari hara yang haram.

    “kalau anak tidak sholeh, apa orang tuanya juga kecipratan dosanya? sebagai akibat tidak mendidik anak ke arah itu?”

    Kalaupun seandainya tidak kecipratan dosa, setidaknya ia akan merasakan kesedihan luar biasa di dalam kuburnya, padahal kata Nabi salahsatu bentuk siksa kubur adalah rasa sedih, penyesalan dan rasa takut. Di samping itu, salahsatu hak anak atas orangtuanya, adalah dibaguskan agama dan akhlaknya. Jadi jika ada yang dengan sengaja melalaikan pendidikan agama untuk putra-putrinya, orangtua tersebut dipandang tidak menunaikan hak anaknya.

    *peci tetap copot lagi*

  5. Subhannalloh Kang Ram nu Kiai,
    Mencerahkan sekali,
    Ilmu mah geuning eh ( apa atuh geuning bahasa endonesianya teh?) bisa dari siapa aja kapan aja dan dimana aja dapetnya lagi,
    Terutama tentunya dari Kang Ram nu nyantri,

    Maap Kang bentar ada laler di Akang punya peci,
    Dah.. dah ngga ada ,dah pergi,

    Eh mo nanya ni,
    Mohon maap kalo salah tapi,
    Emang boleh (melunasi hutang baik berupa harta maupun ibadah (haji, puasa, zakat) bisa/ menghajikan yg dah mati?
    Trims Kang saya mohon diri,

    Ram-Ram Muhammad:
    Makasih-makasih, udah ngusirin laler
    *cium tangan*

    Mengenai hutang harta, bukan boleh lagi tapi hukumnya wajib bagi ahli warisnya. Baik dengan menggunakan harta peninggalannya almarhum, maupun harta si anak pribadi.

    Demikian juga dengan hutang kepada Allah. Jika orangtua masih memiliki hutang puasa, anaknya boleh mengqadakannya. Untuk haji, namanya haji badal atau haji pengganti.

  6. banyakin ngamal
    *langsung sholat*

    Ram-Ram Muhammad:
    Ikutan… *ikutan langsung salat juga*

  7. Waduh …….. jadi inget Bapak Sepuh kita yang mau mati nih……

    ***kabur…nyebur kelaut****

    Ram-Ram Muhammad:
    Halah… saya juga inget terus beliau nih
    *ngejar daeng bawa pelampung*

  8. Semoga Bapak Sepuh Diampuni segala dosanya..dan diterima segala amalannya…Amiiin

    ***kupluknya ketinggalan di kamar mandi****

    Ram-Ram Muhammad:
    Amin, amin ya robbal ‘aalamiin
    *Lha, tadi nyemplungnya ke laut, kok nongolnya di kamar mandi?*

  9. Sangat mencerahkan pak…
    Saya termasuk yg sering kecewa saat berharap adanya kesetiaan pada segelintir teman2. Saya kecewa dalam hal ini tentu karena salah berharap. Berharap pada fakta kesetiaan amal ternyata jauh lebih logis dan syar’i tentunya. Konsekuensi nya adalah memperbanyak teman baik yang sudah pasti setia. Teman baik itu adalah amal shaleh…

    Ram-Ram Muhammad:
    Bukan cuma pak dosen Her yang sering kecewa karena berharap kesetiaan teman, sayapun demikian *halah*

  10. saya punya definisi sendiri nih tentang Teman..

    Teman/sahabat buat saya adalah dimana kita berhenti berharap pada orang itu.. jangan pernah berharap apapun dari sahabat kita, karna ketika kita mulai berharap maka pupus sudah ikatan hati itu..

    Ram-Ram Muhammad:
    Hmmm, benar juga kayaknya :mrgreen:

  11. Maha Suci Allah… Benar Gus Ram, teman setia hanyalah amal saleh. Makasih sekali

    Ram-Ram Muhammad:
    Makasih kembali, pendek amat komengnya…😯

  12. bagus pak tulisannya
    saya mau ngundang bapak untuk mampir melihat tulisan ini
    http://realylife.wordpress.com/2007/12/27/aku-kecil-ya-allah/
    makasih pak

    Ram-Ram Muhammad:
    Terimakasih, saya udah sowan ke blognya sampeyan kok… 8)

  13. muahahaanntap… tapi belum ada hasil request nih.. hi hi hi…:mrgreen:

    *kabuuuuuuuuur*

    Halah… banyak hutang rupanya sama Kyai Jenang… *tertunduk malu*

    *ngejar kyai Jenang pake becak*

  14. (**bergegas**)
    kommenya besok aja,,,buru2 ada urusan mendadak

    Ram-Ram Muhammad:
    Menunggu… sudah nyiapin kopi…

  15. ho oh, sahabat yang benul-benul murni itu adalah amal shaleh….walofun kita tetaf butuh sahabat dalam artian nyata yang juga dijadikan untuk memanen amal *halah*

    Ram-Ram Muhammad:
    Benul-benul… memang benul demikian adanya. Makasih Kyai Hoek *halah*

  16. Saya jadi inget sepatah nasihat: “sahabat adalah saudara yang lupa diberikan Tuhan kepada kita..”.
    Dengan tidak mengenyampingkan peran keluarga, peran sahabat dalam pembentukan karakter sangat besar. Bahkan ada titah: Kalau ingin mengetahui pribadi seseorang, lihat saja teman-temannya. Memang, don’t judge a book by it’s cover, tapi ingat, kita hidup di zaman ‘image first’ (blogger kena juga kali ya..), jadinya ya pinter2 kita aja membawa diri, termasuk dalam memilih teman sepergaulan.

    Btw, artikel yang bagus. Mencerahkan hati dan membuka fikiran. Saya jadi sejenak evaluasi diri, amal apa yang sudah saya lakukan hari ini?

    Sudahkah Anda Ber-Amal Hari Ini?

    Ram-Ram Muhammad:
    Pertanyaan yang harus dipertanyakan setiap hari…😉

  17. Beramal, ikhlas, Kata orang tua, AMAL WAJIB TAMPAKKAN BIAR DI TIRU ORANG, AMAL SUNAH SEMBUNYIKAN YAKUT RIA’

    Yang jelas AMAL YANG MENDATANGKAN KEUNTUNGAN BAGI ORANG LAIN LEBIH UTAMA DARIPADA AMAL CUMA UNTUK PRIBAdi..Kata kakek…

    Ram-Ram Muhammad:
    Ah, benar itu…. kata buyut:mrgreen:

  18. Sohib sohib itu justru yang cocok dan kadang cuek. karena kalo terlalu care takutnya jadi lebih dari sohib STM ( Sohib Tafi Mesra) gitu! Makanya kalo funya sohib mesti jaga jarak …

    Halah (betulin kolor, ada yang kejepit, di cium2 ternyata amis, dinetralkan dengan kopi bro Ram Ram … Nikmat sruput sruput)

    Ram-Ram Muhammad:
    Maksudnya tetep ada batasan ya..? *OOT MODE ON*
    Apaan yang kejepit???
    *Bawa gunting rumput ngejar RETORIKA*

  19. (**pake motor baru ngebut**)
    nggak ke uber sama bro Ram2 yang bawa gunting rumput …:mrgreen:

    (**balik lagi bawa speaker toa**)

    PERHATIAN … PERHATIAN …
    untuk hidup manusia harus juga beramal, karena hanya amalan yang akan di bawa untuk menuju kehidupan berikutnya.

    Tetapi amalan bisa juga nggak setia, kalau nggak pernah di isi dengan gizi yang baik. Akibatnya pas dikehidupan berikutnya itu, karena nggak di isi dia menghianati kita kemudian meniggalkan kita

    pilih aja mau senang di dunia, di akhirat, atau duaduanya … tapi ada juga yang nggak senang di dunia nggak senang di akhirat.

    (**lempar toa, ngidupin motor, kabur ngeliat nyang punya blog bawa2 samurai**)

  20. Punten Akang Ram-ram…
    Mengembara mau Ngangsu KAWERUH..neh..

    Hi..klu versi orang Jawa dinamakan ” Ngundhuh Wohing Pekerti “,
    Tetapi benerkah Amal Perbuatan yang bisa sebagai TEMAN dalam perjalanan menuju Hadirat-Nya…??. Saya khawatir saja hany denger Ceramahnya P. Yai di mimbar menirukan Hadis tadi. Sontak kita pada beramai-ramai melakukan AMAL supaya nanti jadi kendaraan kita masuk SURGA…halah…halah…
    lagi-lagi klu orang Jawa bilang ini ” BEBER tapi ora PENER “. Benernya kita dah mau berbagi kelebihan, gak benernya kok kita mengharap bisa masuk SURGA yah dengan amal tadi…
    hi..lah..lah..kok masih ada PAMRIH dan kepentingan rupanya yah…??.

    Salam

    dari Padepokan Borneo Timur

  21. […] EPOS/amal baik, teman setia menemani di kegelapan, […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: