Kelaparan… (H-3 Bertapa)

Januari 23, 2008 pukul 3:15 am | Ditulis dalam Agama, Akhlak, Artikel, Celotehan, Cerita, Cerita Pesantren, Curhat, Dakwah, Humor, Islam, Kisah Hikmah, Manhaj, Mimpi, Pendidikan, Renungan, Umum | 56 Komentar

Selepas menyelesaikan pendidikan dasar di SD al-Ma’arif Bandung, bapak “memaksa” saya untuk masuk Pondok Pesantren Perguruan KHZ. Musthofa Sukahideng Tasikmalaya. Sebagai anak kecil, saya tentu saja tidak kuasa menolak perintah orangtua. Dengan perasaan dongkol tidak sepenuh hati -karena nyantren berarti jauh dari orangtua dan meninggalkan teman-teman sepermainan di Bandung-, pada tanggal 1 Juli 1989 saya berangkat menuju pondok diantar oleh kedua orangtua dan saudara.

Saya ingat betul, uang saku satu bulanan yang pertama kali saya terima dari ibu sebesar 10 juta 25.000 rupiah. Uang sebesar itu harus cukup untuk bekal satu bulan, termasuk untuk dugem, karaokean  makan sehari-hari, iuran pesantren, SPP sekolah dan keperluan mandi-cuci. Prakteknya, uang 25.000 rupiah tidak cukup untuk sampai ke bulan berikutnya. Untuk sekali makan saja harus mengeluarkan 500 rupiah (nasi 150 rupiah, selebihnya untuk lauk pauk, biasanya sayur, kerupuk, ikan asin, tahu tempe). Menu ini saya nikmati hampir setiap hari! Alhasil, dalam sehari saya biasanya hanya makan satu kali saja. Jika memaksakan makan 2 kali sehari, maka pertengahan bulan uang bekal sudah amblas tanpa bekas.

Sebenarnya orangtua saya masih mampu memberikan uang bekal lebih dari itu. Karena kedua orangtua saya, selain kedua-duanya PNS di Departemen Agama, bapak juga memiliki usaha sampingan di bidang transportasi alias angkutan kota. Sampai hari ini pun saya tidak pernah menanyakan soal bekal bulanan yang irit itu, karena saya yakin ada tujuan baik di balik semua kepelitan keputusan bapak. 

Masih soal akibat uang bekal yang cekak, tidak jarang pada saat kehabisan uang, saya nyaris tidak bisa makan. Untung saja, saya orang yang cukup sabar untuk duduk di samping teman-teman santri yang tengah khusyuk menyantap makanan bertabur lauk pauk, berharap ada sisa makanan yang tidak dihabiskan… :mrgreen: Satu dua suap nasi sisa sudah cukup untuk menghibur perut saya yang terus bernyanyi.

Benar kata orang, bahwa saat kesulitan menimpa akan muncul kreatifitas dan upaya-upaya inovatif. Karena jika disikapi secara positif, kesulitan sesungguhnya adalah pendorong potensi-potensi diri dan kecerdasan manusia yang terpendam *halah*. Tidak mau terus menerus “kelaparan” setiap tengah bulan, akhirnya saya memutuskan untuk tidak lagi membeli KFC, McDonald makanan “siap saji”. Saya fikir, jika memasak sendiri akan bisa lebih hemat.

Jangan dibayangkan kalau memasak sendiri berarti menanak nasi, menggoreng ikan asin atau bikin sayur sendiri, tidak. Memasak sendiri berarti ngaliwet. Masaknya di mana? Karena pesantren tidak menyediakan tempat memasak untuk para santri, saya akhirnya membuat semacam bunker di hutan pinggir sungai. Untuk sampai ke bunker saya harus berjalan menyusuri hutan sekitar 10 menit.

Lauk pauknya? Cukup dengan memberikan sedikit bumbu saat ngaliwet, biasanya daun salam, sereh, minyak kelapa, garam, oncom dan ikan teri. Biasa saya sebut liwet comri, alias liwet oncom dan teri. Kalau sedang beruntung, saya bisa mendapatkan ikan di sungai dekat pesantren. Terlebih jika malam harinya turun hujan, karena biasanya ada caah (permukaan sungai naik). Pagi-pagi sekali sebelum berangkat sekolah, saya segera berangkat ke sungai untuk memeriksa genangan air di pinggir sungai yang membentuk kubangan-kubangan kecil. Biasanya ada ikan atau udang kecil, lumayan buat “memperindah” wajah  liwet comri saya di dalam kastrol (tempat membuat liwet).

Alhamdulillah, keputusan ini berbuah manfaat. Akhirnya dari 25.000 rupiah uang bekal bulanan, saya bisa menyisihkan hampir 5 ribu rupiah lebih setiap bulannya. Uang itu saya simpan dalam sebuah bambu besar, dan pada tahun ketiga saat saya belah bambu celengan, uang tabungan saya berjumlah 207.625 rupiah. Uang itu saya pergunakan untuk membeli sebuah mesik tik bekas, karena kebetulan saya punya hobi menulis. Mesin tik itu pulalah yang kemudian menjadi sumber penghasilan tambahan saya ketika melanjutkan pendidikan di Darussalam Ciamis.

Allah ya Kariim, saya bersyukur mengalami semua ini. Paling tidak, ketika sekarang dewasa *halah*, saya merasa lebih siap menghadapi ujian hidup yang lebih dari sekedar susah makan. Bukankah salahsatu ujian dan ketakutan dari persoalan hidup adalah kekurangan pangan?

Saya teringat sabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa tidak dikalahkan oleh tuntutan perut, maka ia akan mampu menghadapi ujian yang lebih berat. Sebalknya, jika seseorang dikalahkan oleh perutnya, ia tidak siap menghadapi ujian apapun.”
  
Wallahul muwaffiq ilaa aqwamiththoriq

56 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. walah … mo belajar agama koq harus siap melarat sich ? bisa gak belajar agama memperkuat iman tapi dengan fasilitas yg canggih. ada laptop core 2 duo, koneksi dg bandwidth unlimited, web cam, mo makan tinggal bilang, mo minum tinggal bilang, mo apa aja tinggal bilang … ada gak ya ?

  2. Wuih perjalanan yang keren dan mantabs!:mrgreen:

    Sekarang aku kayak gitu juga sih, merantau. Mana papa udah almarhum pula… Jadi kasian sama mama yang biayain kuliah – -;
    *makanya ini lagi nyari part-time*

    Btw, 1 Juli 1989…belum lahir aku…😆

  3. Assalamualaikum
    sejarah para Nabi dan para Sahabat telah membuktikan bahwa Agama hanya akan wujud dengan Mujahadah, perjuangan dan penderitaan.

  4. ::: rajaiblis
    Maunya sih seperti itu, serba instan dan serba tersedia. Kayaknya bisa lebih enjoy belajar, cuma kayaknya sih bos! :mrgreen:

    ::: Goenawan Lee
    Ikut prihatin Goen… Papanya wafat sudah lama? Wah, bersyukurlah punya mama yang tangguh. Soal nyari kerja yang part-time, bagus tuh. Asal pinter aja ngatur waktunya. Pengalaman saya, kalau kuliah sambil kerja terus gak pinter ngatur waktu, yang terbengkalai adalah kuliahnya. Bisa-bisa jadi MA… Mahasiswa Abadi.

    ::: Muhammad Taufik
    Syukron banget… sangat mengena; Mujahadah (kesungguhan), Perjuangan dan Penderitaan.

  5. Assalaamu ‘alaikum Gus Ram. Alhamdulillah masih di sini rupanya. Kayanya jalan ceritanya sama dengan yang saya alami waktu mondok. Maklumlah Gus, orangtua saya cuma nelayan yang pendapatannya kembang-kempis. Seperti yang Gus bilang, orang yang terlatih lapar akan lebih siap menghadapi masalah yang lebih besar. Itu mungkin sebabnya Allah SWT melatih mental kita dengan puasa ramadlan ya GUs, agar ummat-Nya kuat mental.

    Salam takdzim dari saya Gus.

  6. seorang laki-laki sejati adalah laki-laki yang sanggup mengeringkan samudra (menahan lapar dan hawanafsu)
    —-DG.LIMPO—-(:

  7. Walaaah… kanjeng Ram-Ram…🙄 Aku pikir udah ngilang. cuma bingung.. kok masih gentayangan nyebarin komentar di blog orang. Ojo.. kaya kue toch kanjeng…

    Sorry ya. aku nggak kepikiran kalo kanjeng punya HP yang bisa inernet-an juga kemarin. Jadi masih ngantuk nih… gara-gara do’ain kanjeng semalem suntuk. Nggak taunya masih juga publish article.

    Sukses terus dech yock…🙄 *bingung sambil garuk-garuk kepala*

  8. Assalamualaikum
    Ummat Islam menjadi KUAT bukan karena ia menguasai ekonomi, menguasai teknologi, atau menguasai sistem persenjataan mutahir,,, etc

    Ummat Islam menjadi kuat bila dia dekat dengan Tuhan nya, ALLAh Subhanahu wataala

    dan kedekatan kepada ALLAH hanya akan didapat dengan mengikuti jalan jalan para nabi jalan Rasulullah saw dan para Sahabat.

    Tapi dimana kah Jalan adanya itu sekarang…… ???

  9. setuju sama rajaiblis….

    Ngkonx, memangnya kalo belajar agama aka menekuri perjalanan spiritual, harus memelaratkan diri ya? belajar agama harus menjadi miskin? Jadi ingat kisah para sufi………..

    *bego banget sih saya*

  10. betewe selamat menunaikan tugas di daerah baru…………

  11. “pada tahun ketiga saat saya belah bambu celengan, uang tabungan saya berjumlah 207.625 rupiah”

    ini memorinya yang bagus atau dokumentasinya yang rapih?

  12. Ingatlah….kebaikan tak kan terhapuskan oleh kepahitan

  13. Seperti mutiara tuan…
    untuk jadi bagus, katanya perlu di asah ya??
    *:mrgreen: *
    ____________________________________
    btw, apakah saat itu juga suka puasa??
    ya untuk ngirit, disamping sunah
    *😀 *

  14. walah , aku bingung nech . pengen banget belajar puasa , tapi kayaknya masih mikir duniawi. moga – moga dengan tulisan ini terinspirasi dan termotivasi.
    masa ngga ada URL nya pak , aku juga bingung buatnya gimana ya ?
    ajarin pak

  15. wah… ini… jadi inget ajaran almarhum nenek. nanti saya bikin postingnya deh. intinya dalam menjalani hidup manusia harus bakhil dalam 3 hal: bakhil makan, bakhil tidur, dan bakhil hubungan s*#ks:mrgreen:

  16. wah, pengalaman bung ram ini juga mengingatkan saya ketika duduk di bangku SPG yang jauh dari orang tua. mana uang saku pas2an lagi, terpaksa deh meski sering puasa pada pagi hari, hehehehe😆 tapi banyak hikmahnya juga kok bung. yang pasti nih kita bisa belajar memanage dan hidup mandiri.

  17. Terharu.. hik hik hik…T_T

    Aduh jadi malu. Sekarang saya masih merajuk kalau uang jajan kurang. Padahal diboroskan bukan buat kuliah, tapi buat chetting, main game, termasuk ngeblog, hohhoho.

    Ah yaaaak! Ayo semangat kuliah lagi!

  18. ::: Darwin
    Kurang lebihnya demikian Cak Dar… Terimakasih doanya. Salam Takdzim juga dari saya buat Cak Dar

    ::: Daeng Limpo
    Ah, bisakah saya menjadi seorang lelaki sejati?😥

    ::: Ibn Abd Muis
    Walah… saya lupa bilang kalau jadwal keberangkatan saya diundur sampai menjadi hari Sabtu besok insya Allah. Hmmm, saya ndak yakin ada sinyal sekalipun bawa PDA Phone. Tapi enggak ada salahnya bawa ya Kyai Muis?🙂

    *feluk-feluk Kyai Abdul Muis*

    ::: abdulsomad
    Wa ‘alaikumussalam. Wah, sepertinya sudah terbuka. Tinggal apakah kita mau melaksanakannya. Salahsatunya seperti yang biasa para karkun lakukan.🙂

    ::: hildalexander
    Lho, saya enggak memelaratkan dir kok mbak, emang melarat adanya…:mrgreen:

    ::: bumisegoro
    Angka itu saya ingat persis, karena saya mencatatnya dalam catatan harian. Jadi, dokumentasinya yang bagus *halah*

    ::: 081322959607
    Iya… sepakat!😎

    ::: goop
    Mas Goop, saya ndak mengasah diri saya untuk jadi mutiara. Tapi emang melarat saja kali…:mrgreen:
    Soal puasa, kebetulan aja puasa Senin-Kamis itu ditekankan untuk seluruh santri. Ya itung-itung pemebelajaran dan pembiasaan saja.

    ::: realylife
    Udah nongol tuh sekarang…:mrgreen:

    ::: sitijenang
    *menunggu dengan tidask sabar:

    ::: Sawali Tuhusetya
    Senasyib… senasyib… *feluk-feluk prof Sawali*

  19. Halah..halah….apa yang ginian gak KLASIK to wak Yai,
    BIASANYA tuh klu orang dah hidup serba KECUKUPAN..he..he..suka cerita masa kecil yang IRONIS.., MLARAT MISKIN. Permasalahannya adalah….MUNGKINKAH kita masih mau MENGULANG berkehidupan sepert iyang dulu..???.
    Haiyoh….boro-boro….
    halah..halah…KABUUUURRRR wuuuuuuzzzzz….mabur koyo Gathut Koco….wilo-wilo neng Angkoso sambil meneteskan air mata biar Hujan terus di Bogor, he..he…

  20. ::: hariadhi
    cup..cup..cupp *elush-elush kefala Hariadhi*
    Nah lho… bekalnya malah habis buat nge-blog…!👿
    *tendang Hariadhi*:mrgreen:

    ::: SANTRI GUNDHUL
    Halah, saya ndak bilang kalau masa kecil saya ironis, menyedihkan… justeru indah dan menyenangkan🙂
    Saya ndak ngerti bahasa jawa Cak Santri…😯
    Jadi ndak bisa faham semua yang njenengan sampaikan…

  21. dan hasilnya………….
    seperi sekarang ini
    salut, terima kasih telah berbagi cerita
    terkadang tantangan hidup menjadikan
    kita lebih bijak menghadapi hidup

  22. harusnya, orang yg deket sama tuhan punya segalanya ! orang yg dicintai tuhan, tidak akan pernah melarat. apa tuhan gak malu, punya kekasih tapi melarat dan terhina ? apa tuhan gak ngenes, ngelihat manusia yg dicintainya, dicaci dan dimaki ? lantas dimana tuhan, bila mereka yg rajin ibadahnya masih tersungkur dan terpuruk ?

  23. Justru begitulah nikmatnya hidup…

    Ah, jadi kepengen nyantri nih..😦

  24. harusnya lagi, mereka yg deket sama tuhannya akan selamat di dunia juga selamat di akhirat … !

  25. dimana nikmatnya hidup ini melihat orang kelaparan dimana-mana ? lantas, dimana pula nikmatnya hidup ini, wong makan aja seminggu sekali ?

  26. ::: hadi arr
    Makasih kembali Papi… cuma cerita saja kok, tapi mudah-mudahan bermanfaat

    ::: rajaiblis
    Ho.. ho.. ho…! Memang seharusnya seorang yang dekat dengan Tuhannya memiliki segalanya, atau orang biasa menyebutnya kaya. Tapi, apakah orang kaya itu adalah orang yang berada secara materi? Kata Nabi, “Laisal ghina ‘an kastroti almaal, walaa kinna alghinaa, ghina annafs”. Orang kaya itu bukan orang yang banyak harta, tapi orang yang kaya hatinya.

    Biar melarat ekonomi, tapi tetap menikmati hidup dengan indah… *halah*

    ::: Nazieb
    Lha, mau nyantri buat ngerasai kelaparan ya?:mrgreen:

  27. Kutipan hadist nabinya bikin saya merenung. Difikir2 ternyata benar ya pak kalau masalah hidup yang berat adalah urusan perut. kalau kita sudah bisa mengendalikan perut, maka persoalan lain bisa lebih mudah dihadapi/dikendalikan.

  28. Batara Kala tidak punya perut, hanya mulut yang besar dg lidah yang selalu ingin mencecap kenikmatan, sementara perut tak pernah kenyang lha wong memang gak punya
    keterpurukan bangsa kita juga karena selalu mengingnkan kenikmatan😯
    ‘ngapain repot2 mikir yg penting cari makan’ sikap yang memprihatinkan
    nafsu itu loba, serakah & tamak namun juga pembosan
    kayaknya kita memang perlu belajar ‘bertapa’ menahan nafsu terlebih nafsu perut & kenikmatan lidah
    karena untuk apa bersusah-susah puasa kalau saat berbuka kita jadi seperti Batara Kala😈
    halah kok malah nggladrah ya Pak Kyai
    salam dari saya semoga kita bisa menjadi orang yang mampu ‘meper’ hawa nafsu. Amien

  29. wah kisah yang sangat memberi inspirasi…
    saya lapar sedikit aja pasti dah langsung bikin mie instan:mrgreen:
    nasi cuman 150 perak? andai jaman sekarang harganya teteup segitu…🙂

  30. ::: Awaludin
    Ya, kurang lebihnya seperti itu. Saya juga merasakan hal yang sama.

    :::tomyarjunanto
    Wah, melengkapi postingan nih. Batara Kala ya…. makasih-makasih

    ::: maxbreaker
    Sama dong, kalau laper dan mau cepet, bikin mie instan juga…:mrgreen:

    Ya, dulu beras gak semahal sekarang… pak harto gitu..😛

  31. Kalo sudah terlatih prihatin seperti itu insya Allah siap untuk susah lahir batin nantinya dan nggak akan kaget dan shock lagi🙂

  32. Andai para pemimpin kita terlatih perutnya, mereka tidak akan rakus meminum laut, memakan hutan, merampas hak rakyat. Perut dan bawah perut yang manjadikan buta mata manusia. Pengalamannya sangat luar biasa, bersyukurlah mengalaminya.

  33. Kita harus mulai belajar menempa diri agar kuat dalam menghadapi ujian hidup. salah satunya dengan mengekang hawa nafsu perut. Mengalahkan perut seolah menutup pintu syetan masuk.

  34. welah…saya saking sering puasanyah ampek kutilang gini(kurus tinggi langsing) :mrgreen:

  35. ::: Fakhrurrozy
    Tapi… kadang-kadang tetep saja shock😯
    tapi gak kelamaan syoknyanya…🙂

    ::: Yuha Novari Lubis
    Wah, harapannya sama dengan saya, dan seluruh anak bangsa…

    ::: Darwin
    sepakat Cak Dar… semoga kita bisa

    ::: Abeeayang
    Kutilang Darat? Apa kutilang doang?:mrgreen:

  36. Wah-wah … jadi pingin nangis😥 tapi juga prihatin sampe kapan ada hal yang seperti ini. Bayangkan saja bahwa sampeyan tidak berhasil pas menghadapi ujian tadi, apa yang akan sampeyan lakukan😕 …
    * saya jadi membayangkan orang lain yang tidak berhasil *
    * tersentak karena ingat saya juga mungkin belum berhasil *

    Salut🙂

  37. Assalamu Alaikum Pak Kyai…..sekedar menyapa …sambil berdoa

  38. Pengalaman guru terbaik … pengalaman adalah pemicu … menulis mengikatnya menjadi bermanfaat

  39. Assalamu Alaikum,
    Kang Ram….Kalau pUlang dari pertapaan tolong langsung postingkan… hasil dari menjalani pertapaan. Saya Tunggu Lho.
    —-DG.LIMPO—-

  40. Assalaamu ‘alaikum wr, wb.
    Kang Ram, saya alumni Ponpes Darussalam Ciamis angkatan 2003. Akang pastinya tidak kenal saya, tapi saya pernah dengar nama akang dari para asaatidz. Saya ingin bertemu akang, banyak yang ingin saya tanyakan terutama mengenai masalah perbandingan hukum fikih dan theologi. Ditunggu balasannya.

    Hormat saya, Dadan Rahadi

  41. hiks, harusnya sich hukum bukan buat dibandingin ya ?

  42. berbahagia kang punya orang tua yang “mengerti”, sehingga berkat doa beliau kita terselamatkan. Tidak sedikit orang kepepet, kecerdasan yang muncul mengarah ke kejelekan. na’udzubillah

  43. hihihi….bener-bener pesantren😀

    Kayaknya, doa bapak sama ibu kenceng jugak. Pas ngasih duit yang cekak tesebut, bapak ibu pasti doa panjang supaya duit itu cukup dan berkat untuk anaknya.

    Jadi jangan bangga Pak punya ide kreatif masak di tepi sungai. Mungkin ide itu hasil doa yang dipanjatkan bapa sama ibu tiap malam🙂

    apalagi sampai mikir kayak gini:

    “gile bener…gue jadi tanguh gini karena gue dulu di-didik dengan penuh kesusahan dan berhasil melewatinya dengan sukses”

    na’udzubillah mindzalik🙂

  44. Wah, telat. Sudah rame. Soalnya tgl.23-25 sedang di Banjar. Jadi ga blogwalking.

    Komentar #1 rajaiblis .. boleh2 aja sih, nyantren dengan fasilitas lengkap seperti keinginan sampeyan. Tapi .. apakah, hasilnya akan sama dengan yang pak Kyai alami??

    Menjadi orang yang rendah hati, tawadhu’, berjuang, siap dalam keadaan apapun?? .. saya kawatir, nyantren dengan fasilitas lengkap malah akan melahirkan santri yang nyinyir.

  45. Saya terharu membaca kisah Kyai Ram diatas. Entah mengapa, saya merasa bangga dengan upaya Kyai mengatasi kesulitan. Banyak pelajaran yang saya dapat dari postingan ini. Terima kasih pak Kyai.

  46. Jadi ingat cerita istri saya sewaktu nyantri di Muallimat Yogyakarta. Dulu juga cuma Rp. 30 ribu sebulan untuk semua-semua. Terus rajin-rajin kirim surat ke kakek, bibi, dll. Maksudnya sih nanya kabar, eh alhamdulillah diselipi uang di surat balesannya.
    Terus ada juga yang tiap pagi pergi ke pasar beli kue kulakan. Istirahat sekolah dijual lagi ke kawan sekelas, bahkan kelas lain. Untung besar sampai di ontrog sama yang punya kantin.
    Selain itu juga ikutan jadi tim penyuluhan kesehatan. Tiap ikut ngasih penyuluhan dikasih uang saku. Lumayan bisa dipakai pergi ke Bali setelah selesai sekolahnya.

  47. bangun … bangun … bangun … !

  48. wah , mampir lagi nich pak
    makasih udah mampir juga di blog saya
    o iya tulisan barunya mannnna ?
    kangen nich mau baca tulisan bapak lagi
    tetap berkarya ya pak

  49. kalo saya mah baca ini teh jadi laper banget, ngebayangin liwetnya kang Ram-Ram nu masih ngebul seungit daun salam… pasti ni’mat pisan..

  50. Itulah asyiknya masa perjuangan. Apa kabar Kang ?

    btw aku minta izin menyampaikan kabar duka dari Tano Batak :

    Hutan alam Tele di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, sejak dua hari lalu sudah mulai ditebang dengan gergaji mesin. Targetnya hutan heterogen seluas 2.250 hektar akan dipangkas bersih untuk dijadikan lahan perkebunan bunga. Investornya dari Korea.

    Dengan ini kami, Komunitas TobaDream mohon dukungan kawan-kawan sesama blogger Indonesia untuk bersama-sama memberi tekanan; agar pembabatan hutan pusaka itu dihentikan. Caranya, berilah komentar dukunganmu pada artikel di :

    http://ayomerdeka.wordpress.com/

    Terima kasih!

  51. Laaaah… Kalau itu sih makanan sehari-hari saya… Maklum lah, anak rantau begitu, jadi harus pintar-pintar ngirit uang…😆

  52. aduh malah saya kadang2 gak makan ini…

  53. assalamualaikum tumpang lalu ya……..

  54. Selamat Berjuang BUNG, aku disini menanti tulisanmu selanjutnya.
    —salam rindu sahabat—

  55. Lama banget ya hiatus-nya .. mudah2an semua lancar2 aja ya pak.

  56. Assalamualaikum…ram masih ingat? kapan datang ke sukahideng alumnian? aku masih di sukamanah…..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: