Kelaparan… (H-3 Bertapa)

Januari 23, 2008 pukul 3:15 am | Ditulis dalam Agama, Akhlak, Artikel, Celotehan, Cerita, Cerita Pesantren, Curhat, Dakwah, Humor, Islam, Kisah Hikmah, Manhaj, Mimpi, Pendidikan, Renungan, Umum | 56 Komentar

Selepas menyelesaikan pendidikan dasar di SD al-Ma’arif Bandung, bapak “memaksa” saya untuk masuk Pondok Pesantren Perguruan KHZ. Musthofa Sukahideng Tasikmalaya. Sebagai anak kecil, saya tentu saja tidak kuasa menolak perintah orangtua. Dengan perasaan dongkol tidak sepenuh hati -karena nyantren berarti jauh dari orangtua dan meninggalkan teman-teman sepermainan di Bandung-, pada tanggal 1 Juli 1989 saya berangkat menuju pondok diantar oleh kedua orangtua dan saudara.

Saya ingat betul, uang saku satu bulanan yang pertama kali saya terima dari ibu sebesar 10 juta 25.000 rupiah. Uang sebesar itu harus cukup untuk bekal satu bulan, termasuk untuk dugem, karaokean  makan sehari-hari, iuran pesantren, SPP sekolah dan keperluan mandi-cuci. Prakteknya, uang 25.000 rupiah tidak cukup untuk sampai ke bulan berikutnya. Untuk sekali makan saja harus mengeluarkan 500 rupiah (nasi 150 rupiah, selebihnya untuk lauk pauk, biasanya sayur, kerupuk, ikan asin, tahu tempe). Menu ini saya nikmati hampir setiap hari! Alhasil, dalam sehari saya biasanya hanya makan satu kali saja. Jika memaksakan makan 2 kali sehari, maka pertengahan bulan uang bekal sudah amblas tanpa bekas.

Sebenarnya orangtua saya masih mampu memberikan uang bekal lebih dari itu. Karena kedua orangtua saya, selain kedua-duanya PNS di Departemen Agama, bapak juga memiliki usaha sampingan di bidang transportasi alias angkutan kota. Sampai hari ini pun saya tidak pernah menanyakan soal bekal bulanan yang irit itu, karena saya yakin ada tujuan baik di balik semua kepelitan keputusan bapak. 

Masih soal akibat uang bekal yang cekak, tidak jarang pada saat kehabisan uang, saya nyaris tidak bisa makan. Untung saja, saya orang yang cukup sabar untuk duduk di samping teman-teman santri yang tengah khusyuk menyantap makanan bertabur lauk pauk, berharap ada sisa makanan yang tidak dihabiskan…  :mrgreen: Satu dua suap nasi sisa sudah cukup untuk menghibur perut saya yang terus bernyanyi.

Benar kata orang, bahwa saat kesulitan menimpa akan muncul kreatifitas dan upaya-upaya inovatif. Karena jika disikapi secara positif, kesulitan sesungguhnya adalah pendorong potensi-potensi diri dan kecerdasan manusia yang terpendam *halah*. Tidak mau terus menerus “kelaparan” setiap tengah bulan, akhirnya saya memutuskan untuk tidak lagi membeli KFC, McDonald makanan “siap saji”. Saya fikir, jika memasak sendiri akan bisa lebih hemat.

Jangan dibayangkan kalau memasak sendiri berarti menanak nasi, menggoreng ikan asin atau bikin sayur sendiri, tidak. Memasak sendiri berarti ngaliwet. Masaknya di mana? Karena pesantren tidak menyediakan tempat memasak untuk para santri, saya akhirnya membuat semacam bunker di hutan pinggir sungai. Untuk sampai ke bunker saya harus berjalan menyusuri hutan sekitar 10 menit.

Lauk pauknya? Cukup dengan memberikan sedikit bumbu saat ngaliwet, biasanya daun salam, sereh, minyak kelapa, garam, oncom dan ikan teri. Biasa saya sebut liwet comri, alias liwet oncom dan teri. Kalau sedang beruntung, saya bisa mendapatkan ikan di sungai dekat pesantren. Terlebih jika malam harinya turun hujan, karena biasanya ada caah (permukaan sungai naik). Pagi-pagi sekali sebelum berangkat sekolah, saya segera berangkat ke sungai untuk memeriksa genangan air di pinggir sungai yang membentuk kubangan-kubangan kecil. Biasanya ada ikan atau udang kecil, lumayan buat “memperindah” wajah  liwet comri saya di dalam kastrol (tempat membuat liwet).

Alhamdulillah, keputusan ini berbuah manfaat. Akhirnya dari 25.000 rupiah uang bekal bulanan, saya bisa menyisihkan hampir 5 ribu rupiah lebih setiap bulannya. Uang itu saya simpan dalam sebuah bambu besar, dan pada tahun ketiga saat saya belah bambu celengan, uang tabungan saya berjumlah 207.625 rupiah. Uang itu saya pergunakan untuk membeli sebuah mesik tik bekas, karena kebetulan saya punya hobi menulis. Mesin tik itu pulalah yang kemudian menjadi sumber penghasilan tambahan saya ketika melanjutkan pendidikan di Darussalam Ciamis.

Allah ya Kariim, saya bersyukur mengalami semua ini. Paling tidak, ketika sekarang dewasa *halah*, saya merasa lebih siap menghadapi ujian hidup yang lebih dari sekedar susah makan. Bukankah salahsatu ujian dan ketakutan dari persoalan hidup adalah kekurangan pangan?

Saya teringat sabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa tidak dikalahkan oleh tuntutan perut, maka ia akan mampu menghadapi ujian yang lebih berat. Sebalknya, jika seseorang dikalahkan oleh perutnya, ia tidak siap menghadapi ujian apapun.”
  
Wallahul muwaffiq ilaa aqwamiththoriq

Iklan

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.