Catatan Perjalanan 1: Membunuh “Yang Penting Gue!”

April 10, 2008 pukul 3:13 am | Ditulis dalam Agama, Akhlak, Artikel, Celotehan, Cerita, Curhat, Dakwah, Demokrasi, Humor, Islam, Manhaj, Mimpi, Pendidikan, Politik, Renungan, Umum | 49 Komentar

Saya kembali mendapat perintah “aneh”  dari kedua orangtua.  Ini bukan kali pertama saya mendapatkan perintah “aneh” , khususnya dari bapak. Misalnya saja, pada bulan desember tahun 1994 silam, pada saat itu kebetulan tengah digelar muktamar NU ke 29 (kalau tidak salah) di Pondok Pesantren Cipasung Tasikmalaya. Saya menerima perintah “aneh” dari bapak, dimana saya diharuskan untuk memperhatikan gerak-gerik para kyai NU mulai dari caranya berbicara, berjalan, gaya berpakaian, makan, sikap saat bercengkrama dengan sesama kyai atau orang lain bahkan cara para kyai berbelanja dan menawar barang! 😆 

Hasil dari “pengamatan” tersebut kemudian saya catat dengan rinci; nama kyai, asal daerah, pesantren yang diasuhnya dan lain sebagainya. Tentu saja, catatan tersebut kemudian harus saya serahkan kepada bapak.

Oh iya, kebetulan kyai yang berhasil saya amati pertama kali adalah Gus Dur, dan yang menarik perhatian saya dari beliau adalah sendalnya yang tidak soulmate, alias yang sebelah kanan dan yang kiri beda warna… :mrgreen:

Saudara-saudara, pada postingan catatan perjalanan ini saya tidak bermaksud mengulas soal “keanehan” orangtua saya atau juga “keanehan” sendal Gus Dur. Yang akan saya ceritakan adalah soal latar belakang kenapa saya melakukan perjalanan ke beberapa daerah di Jawa Barat. “halah”.

Lagi-lagi dalam rangka melaksanakan “perintah aneh” bapak. Ya, bapak memerintahkan saya untuk melakukan perjalan ke beberapa daerah terpencil, sekaligus sowan ke pesantren-pesantren di daerah yang kebetulan saya lalui.

Awalnya saya tidak mengerti dengan maksud dan tujuannya. Sewaktu saya tanyakan kepada bapak soal tujuan dan manfaat yang akan saya peroleh dari tugas ini, beliau hanya menjawab pendek, “ambeh silaing bisa diajar hirup ti batur“. (supaya kamu bisa belajar hidup dari orang lain). 😯

sugan ari loba panggih jeung jelema di kampung mah, sifat silaing anu sok kumaha aing bisa leungit“. (mudah-mudahan saja dengan bertemu banyak orang di daerah, sifat kamu yang suka “bagaimana saya saja” bisa hilang). Demikian bapak menambahkan alasan kenapa saya harus “pergi” untuk beberapa bulan.

Ya… Yang penting gue, atau yang penting saya. Saya akui, sikap mementingkan diri sendiri masih mencengkram kuat dalam kepribadian saya. “Yang penting gue” adalah perilaku egois, atau anani dalam bahasa akhlak Islam. Buktinya, saya masih bisa menikmati makanan dengan berbagai macam lauk pauk sambil menonton berita  soal ibu dan anak yang meninggal karena tidak makan selama berhari-hari, juga anak-anak yang menderita gizi buruk. Saya juga masih dengan “senang hati” memakai BBM bersubsidi, dan merasa berat hati dengan rencana pemerintah untuk membatasi penggunaan BBM bersubsidi. 😥 Ya, saya memang sosok manusia egois, yang lebih mementingkan diri sendiri dan tidak mampu berempati dengan orang lain.

Bayangkan kalau saya kebetulan anggota DPR-RI yang membidangi masalah hutan. Mungkin sudah banyak hutan lindung yang saya loloskan dan restui untuk dialihfungsikan. Tentu saja dengan syarat kepala daerah dan atau yang berkepentingan memberi saya sekedar 3 milyar rupiah.

Bayangkan kalau saya adalah jaksa yang menangani kasus BLBI. Bayangkan kalau saya adalah anggota DPR-RI atau gubernur BI… Ya, bayangkan kalau saya yang egois ini adalah pejabat yang memiliki kekuasaan dan kesempatan untuk melakukan apa saja, “yang penting gue”. :mrgreen:

Kata anani barangkali masih kurang akrab di telinga kita. Namun sebenarnya padanan katanya sendiri teramat sering kita dengar. Dalam kajian ilmu jiwa anani dikenal dengan istilah egoistis, yakni sikap mementingkan diri sendiri. Dalam bahasa Arab, anani atau ananiyah didefinisikan sebagai suatu sikap mementingkan diri sendiri, hanya memikirkan diri sendiri, atau menonjolkan diri serta menghubungkan semua masalah terutama dalam hal kebaikan kepada dirinya sendiri.

Mengutip penjelasan At-Tahanawi  -seorang ahli filsafat dan muhaddis (ahli hadis)- dalam salahsatu kitabnya al-Kasysyaf (Pembuka Tabir), bahwa anani adalah suatu pernyataan mengenai hakikat segala sesuatu yang dihubungkan dengan diri seseorang, seperti pada pernyataan: “Inilah diriku, jiwaku, dan kekuasaanku“. Masih menurut At-Tahanawi, ungkapan seperti ini pada hakikatnya merupakan bentuk dari perbuatan syirik (mempersekutukan Allah) yang tersembunyi. Anani adalah suatu pernyataan yang mengungkapkan keadaaan hakikat dan batin bukan dalam arti yang sesungguhnya. Makna ucapan la ilaaha (Tidak ada Tuhan) sesungguhnya untuk menghilangkan sifat anani yang bersemayam dalam hati manusia.

Ketika jiwa manusia terhinggapi sikap anani atau egoistis, maka hilanglah kemampuan dirinya untuk dapat berempati kepada orang lain. Ia tidak akan mampu menyelami perasaan orang lain atau merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Hatinya akan bebal dengan segala apa yang nampak di hadapannya. Anani akan membentuk seseorang menjadi manusia berkarakter tidak peduli kepada orang lain, dan secara tidak sadar ia telah mengingkari keberadaan orang lain serta menempatkan dirinya sebagai Tuhan kecil.

Sifat anani akan muncul pada saat seseorang terlalu mencintai dirinya sehingga pada akhirnya akan menghilangkan kecintaannya pada orang lain. Hasrat untuk memenuhi kesenangan dan kebutuhan diri sendiri menjadi di atas segala-galanya. Terkadang muncullah anggapan bahwa segala apa yang ada di dunia ini adalah atas peranannya. Orang lain mendapat kebaikan karena upayanya, tidak akan ada kebaikan jika bukan atas jasanya. Kita mungkin pernah mendengar ungkapan, “Andai bukan karena saya, belum tentu dia bisa seperti sekarang.

Seseorang yang terhinggapi penyakit anani akan membuat tolak ukur terhadap segala sesuatu berdasarkan ukuran-ukuran dirinya sendiri. Itu sebabnya anani digolongkan sebagai salah satu sikap budi pekerti yang buruk (akhlak al-madzmumah) dan sangat tercela.

Menurut Imam al-Ghazali (ahli fikih, filsafat dan tasawuf Mazhab Syafi`i), anani terjadi antara lain karena kecantikan, kekayaan, kedudukan tinggi, kepandaian dan jasa yang pernah diberikannya. Orang yang terkena sikap ini kurang menyadari bahwa segala sesuatu yang dimilikinya itu berasal dari Tuhan. Mereka juga kurang menyadari bahwa semua yang dimilikinya itu bersifat sementara dan kelak akan sirna. Imam al-Ghazali lebih lanjut mengatakan bahwa kecantikan atau ketampanan akan segera sirna sejalan dengan pertambahan usia. Demikian pula kedudukan yang dipegangnya juga akan berakhir dengan datangnya waktu yang ditentukan. Ia lebih lanjut menambahkan bahwa sikap anani itu pada hakikatnya sebagai bukti dari kurangnya wawasan dan kesadaran seseorang terhadap sesuatu yang dimilikinya. Kekurangan tersebut kemudian ditutup-tutupinya dengan bersikap egoistis.

Semoga Allah menjaga kita dari sifat tercela ini.

 

Resep Nasi Goreng Ala Saya

Januari 17, 2008 pukul 12:10 pm | Ditulis dalam Agama, Artikel, Celotehan, Curhat, Dakwah, Demokrasi, Humor, Islam, Kesehatan, Komunikasi, Manhaj, Mimpi, Pendidikan, Politik, Renungan, Resep Masakan Santri, Umum | 50 Komentar

2 mingguan ini, setiap kali saya membuka statistik tulisan, di kolom mesin pencari selalu ada tag “Resep Nasi Goreng”. Malah sempat dalam satu hari jumlahnya sampai 10 ekor buah. Saya baru sadar, hal ini kemungkinan besar karena saya pernah membuat postingan dengan judul “Resep Nasi Goreng Barokah, Insya Allah Mak Nyuus!”. Jadi, kalau ada Salafy Wahaby yang mencari resep nasi goreng di Google, oleh beliau diberikan alamat ke sini. Yah, Jadi merasa bersalah juga… 😯

Nah, untuk menebus rasa bersalah tersebut, serta mengobati penyakit wasir, kutil, panu, kadas, kurap, rorombeheun, ketombean rasa kecewa para pencari  resep nasi goreng tersebut, kali ini saya akan benar-benar menulis resep nasi goreng, tentunya nasi goreng ala Brad Pitt saya. Tapi sebelumnya, supaya lebih mudah memahami dan mudah mempraktekkannya, anda saya sarankan untuk  membaca pengantarnya terlebih dahulu.

Ok, langsung saja simak resep berikut ini baik-baik… *halah*.

Resep ini untuk porsi 4 orang yang kalau makan secukupnya, tidak gembul dan tidak rakus. :mrgreen: Oh ya, barangkali ada yang bertanya, kenapa hanya untuk porsi 4 orang? Bukan 5 atau kalau bisa buat 100 orang? Jawabnya tidak lain adalah, karena dalam Islam berpoligami hanya dibatasi sampai 4 orang istri saja.  Jika lebih maka hukumnya haram, status pernikahannya -yang kelima- fasakh dan tentu saja dilaknat. Maka apabila dirasa tidak akan mampu berlaku adil, maka cukuplah bagimu satu istri saja!

*benerin kopyah, plintir tasbeh*

Bahan-bahan dasar dan bumbu yang harus dipersiapkan:

  1. Nasi putih secukupnya untuk 4 orang
  2. 2 sendok makan margarin, kalau bisa mereknya Blueband :mrgreen:
  3. Minyak jelantah kelapa bebas kolesterol secukupnya
  4. 2 sendok makan gula dilarutkan dengan air (untuk penguat rasa, pengganti MSG)
  5. 4 butir telur buaya ayam
  6. Kecap secukupnya, kalau bisa mereknya Cap Bango :mrgreen:
  7. 200 gram daging ayam yang telah matang, diiris atau potong dadu
  8. 60 gr kacang polong yang sudah dimasak
  9. 100 gram udang air tawar ukuran kecil, dikupas kulitnya dan dipotong kecil
  10. 1 buah tomat ukuran sedang
  11. 4 siung bawang merah
  12. 2 siung bawang putih
  13. 5 biji muncang
  14. 2 Cabe merah
  15. 1 “buku” Kunyit
  16. JIka suka pedas, tambahkan cabe rawit satu kilo sesuai selera

Cara Membuat:

  1. Bumbu-bumbu (bawang merah, bawang putih, kunyit, tomat, cabe merah, muncang) diulek -direndos, sunda pen.- sampai halus. Sekedar tips sederhana saja: Dengan cara diulek -bukan ditumis seperti biasanya- bumbu akan bercampur secara lebih sempurna sehingga menciptakan citarasa yang sempurna pula.
  2. Panaskan -dengan api sedang- minyak kelapa dan margarin bersamaan, setelah cukup panas masukkan bumbu yang telah diulek sampai warnanya menua dan tercium aroma harum. Masukkan telur kemudian aduk hingga mengembang sampai setengah matang
  3. Masukkan nasi putih, aduk sampai bumbunya merata. Agar nasi goreng tidak terasa keras, beri air putih secukupnya. Tidak perlu khawatir, air tidak akan membuat nasi menjadi lembek, karena akan menguap dengan sendirinya.
  4. Masukan daging ayam, udang, kacang polong. Beri garam secukupnya, dan jangan lupa gula cairnya. Campuran gula putih, garam dan bawang akan menghasilkan citarasa kuat seperti MSG. Terakhir, beri kecap secukupnya.
  5. Sesaat sebelum diangkat, tambahkan daun bawang, aduk rata. Angkat, dan silahkan disajikan!

Mix fruit juice cukup pantas disandingkan sebagai minuman segar penutup. Oke saudara, tetap sehat, tetap semangat, agar kita bisa jalan-jalan terus di… Wisata Kuli WordPress. Yang penting… Semua Blogger Basodara.!

Hasil Mukernas: Usung Suharto dan Gus Dur Sebagai Capres dan Cawapres 2009

Januari 6, 2008 pukul 12:04 pm | Ditulis dalam Agama, Artikel, Celotehan, Dakwah, Demokrasi, Islam, Komunikasi, Manhaj, Mimpi, Pendidikan, Politik, Renungan, Umum | 44 Komentar

Musyawarah Kerja Nasional I PBI baru saja usai malam tadi. Tepat pada pukul 23.00 mukernas partai yang berlangsung selama 3 hari di Hotel Melati 2 Bandung akhirnya resmi ditutup dengan tiga ketukan palu pimpinan sidang dan ucapan hamdallah. Raut muka puas terpancar dari wajah-wajah para peserta mukernas, sekalipun kelelahan tampak .

Salahsatu keputusan penting dari Mukernas I Partai Blog Indonesia (PBI) adalah rekomendasi untuk memperjuangkan H. Muhammad Suharto dan KH Abdurrahman Wahid sebagai calon presiden dan calon wakil presiden dalam pemilihan umum presiden 2009 mendatang.

Selain itu, Mukernas merekomendasikan DPP segera melakukan tindakan organisatoris kepada pengurus PBI di semua tingkatan, anggota-anggota F-BI (Fraksi Blog Indonesia) di DPR dan DPRD, serta pengurus badan otonom yang menolak hasil keputusan mukernas untuk mengusung dan memperjuang HM Suharto dan KH. Abdurrahman Wahid sebagai capres dan cawapres pada pemilihan presiden 2009 yang akan datangi. Tindakan organisatoris yang dimaksud dapat berupa teguran keras sampai pemecatan secara sangat tidak terhormat.

Keputusan mukernas untuk mengusung dan memperjuang HM Suharto dan KH. Abdurrahman Wahid sebagai capres dan cawapres ini bukan tanpa alasan. Dipilihnya kedua mantan presiden ini didasarkan pada penilaian objektif dan history.

HM Suharto dinilai masih sangat layak untuk memimpin bangsa ini. Pengalamannya menjadi presiden selama 32 tahun, di samping kharisma dan pengaruhnya yang mengakar di tubuh TNI, diyakini akan sangat berpengaruh baik serta membantu recovery ekonomi, sosial dan politik negeri ini. Pembawaannya yang kalem, tidak banyak bicara namun tegas dan simpatik merupakan kelebihan beliau di bandingkan para pemimpin lainnya di Indonesia.   

Sejarah perjalanan bangsa ini ketika dipimpin HM Suharto juga membuktikan bahwa beliau adalah pemimpin yang mumpuni. Pertumbuhan ekonomi di awal era Orde Baru, sebetulnya patut diacungi jempol. Jika toh sekarang rezim Soeharto dituding hanya mewariskan utang bertumpuk-tumpuk atau sisa kebobrokan sistem ekonomi mikro dan makro yang menyesakkan, pemerintah Orde Baru ternyata pernah menyelamatkan bangsa ini dari gelombang kehancuran.

Laju inflasi menjelang peristiwa G-30-S/PKI contohnya, bisa dibilang edan. Jangan kaget, indeks biaya hidup tahun 1960 sampai tahun 1966, naik 438 kali! Harga beras naik 824 kali! Harga tekstil naik 717 kali! Nah, sementara harga-harga itu mengganas, nilai rupiah sekarat dari Rp.160 saja menjadi Rp.120 ribu!

Itu semua agaknya menjadi bukti ilustratif betapa malapetaka yang menghantam bangsa Indonesia saat itu demikian dahsyat. Belum lagi persoalan ekonomi yang mencabuti satu per satu ajal rakyat Indonesia ini masih harus dipinggirkan oleh drama pergulatan politik nasional. Selepas pecahnya gerakan 30 September, panggung politik nasional memang diwarnai intrik-intrik dahsyat merebut tampuk kekuasaan pemerintah.

Di tengah pergulatan elit politik nasional, penanganan masalah ekonomi terpaksa menempuh cara-cara politis. Maklum dua kekuatan besar — kelompak komunis dan anti-komunis (digalang ABRI) — sama-sama bertarung menunggu tongkat estafet kekuasaan dari Presiden Soekarno. 

Pada awal-awalnya, menurut ekonom Emil Salim dan Frans Seda, pemerintahan Orde Baru diakui cukup progresif. Pemerintahan yang dikomandoi Pak Harto ini mampu memadukan semua komponen masyarakat dalam mengatasi persoalan bangsa. Di bidang ekonomi, para ekonom dari FE-UI di antaranya, dapat dirangkul dalam menyumbangkan konsep alternatif untuk memulihkan perekonomian nasional.

Misalnya saja sanering rupiah atau menghapus tiga nol di balik angka ribuan tanpa mengusahakan rencana pengendalian defisit anggaran. Meski dinilai konyol, langkah politis-ekonomis ini efektif menerapkan tujuan ganda: memulihkan ekonomi sekaligus mengurangi kontrol kelompok PKI yang menggondol kantung-kantung rupiah. Kecuali itu, upaya lain yang sempat digalang kelompok ekonom adalah membuat alternatif seperti menaikkan harga bensin atau tarif angkutan umum, serta menaikkan gaji pegawai negeri.

Jurus para ekonom yang diakomodir pemerintahan Orde Baru itu, paling tidak mampu menyusun program rehabilitasi dan stabilisasi ekonomi yang cukup komprehensif. Ada lima jurus yang dianggap manjur. Pertama, pengendalian inflasi melalui kebijakan anggaran berimbang, dan kebijakan moneter ketat. Kedua, pencukupan kebutuhan pangan. Ketiga, pencukupan kebutuhan sandang. Keempat, rehabilitasi berbagai sarana dan prasarana ekonomi. Kelima, peningkatan ekspor dengan mengembalikan share sepenuhnya pada eksportir.

Kebijakan jitu lainnya yang digulirkan pemerintah saat itu adalah deregulasi dan debirokratisasi (Paket 10 Februari dan 28 Juli 1967, dan seterusnya). Pemerintah juga membuka diri untuk penanaman modal asing, meski dilakukan secara bertahap.

Hasilnya, laju inflasi mulai jinak. Dari kisaran angka 650 persen (tahun 1966), melunak jadi 100 persen (1967), turun lagi 50 persen (1968), bahkan terkendali di bilangan 13 persen (1969). Ini prestasi yang diraih pemerintah pada saat itu.

Adapun KH Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal Gus Dur dinilai paling pas untuk mendampingi HM Suharto sebagai wakil presiden. Inipun bukan tanpa alasan.

Gus Dur adalah presiden Indonesia pertama yang terpilih secara demokratis. Gus Dur berhasil menunjukkan contoh pemerintahan yang mendengarkan rakyat, Istana yang terbuka, dan presiden yang demokratis. Itu terbukti dengan kasus Imlek bagi masyarakat Cina di Indonesia. Sementara, di Dili Gus Dur sempat meminta maaf atas segala kengerian yang terjadi di sana.

Di balik kelemahan fisiknya -kemampuan penglihatan yang kurang serta penyakit stroke yang membahayakan- Gus Dur adalah sosok yang punya banyak daya tarik. Dalam pemikirannya ia mampu menggabungkan dunia Islam yang tradisional dengan dunia modern, bahkan dunia Barat. Pemikiran semacam itu disebut sebagai: Merambah jalan menuju masa depan.

*wekker berbunyi nyaring….!* Ternyata sudah jam 05.30….! Terpaksa salat subuh kesiangan… Mimpi rupanya… sekali lagi, maaf ternyata cuma mimpi buruk tho! :mrgreen:

Selesai salat subuh kesiangan, saya masih menyempatkan diri untuk membaca surat Yaa Siin dan berdoa untuk pak Harto. Semoga beliau segera diberikan kesembuhan atas sakitnya. Kalau sembuh? Ya biar beliau bisa menjalani proses pengadilan secara baik dan fair. Agar tidak terombang-ambing seperti sekarang… Kasihan beliau, kasihan keluarganya, kasihan juga bangsa ini…

:mrgreen:

 

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.