Catatan Perjalanan 1: Membunuh “Yang Penting Gue!”

April 10, 2008 pukul 3:13 am | Ditulis dalam Agama, Akhlak, Artikel, Celotehan, Cerita, Curhat, Dakwah, Demokrasi, Humor, Islam, Manhaj, Mimpi, Pendidikan, Politik, Renungan, Umum | 49 Komentar

Saya kembali mendapat perintah “aneh”  dari kedua orangtua.  Ini bukan kali pertama saya mendapatkan perintah “aneh” , khususnya dari bapak. Misalnya saja, pada bulan desember tahun 1994 silam, pada saat itu kebetulan tengah digelar muktamar NU ke 29 (kalau tidak salah) di Pondok Pesantren Cipasung Tasikmalaya. Saya menerima perintah “aneh” dari bapak, dimana saya diharuskan untuk memperhatikan gerak-gerik para kyai NU mulai dari caranya berbicara, berjalan, gaya berpakaian, makan, sikap saat bercengkrama dengan sesama kyai atau orang lain bahkan cara para kyai berbelanja dan menawar barang! 😆 

Hasil dari “pengamatan” tersebut kemudian saya catat dengan rinci; nama kyai, asal daerah, pesantren yang diasuhnya dan lain sebagainya. Tentu saja, catatan tersebut kemudian harus saya serahkan kepada bapak.

Oh iya, kebetulan kyai yang berhasil saya amati pertama kali adalah Gus Dur, dan yang menarik perhatian saya dari beliau adalah sendalnya yang tidak soulmate, alias yang sebelah kanan dan yang kiri beda warna… :mrgreen:

Saudara-saudara, pada postingan catatan perjalanan ini saya tidak bermaksud mengulas soal “keanehan” orangtua saya atau juga “keanehan” sendal Gus Dur. Yang akan saya ceritakan adalah soal latar belakang kenapa saya melakukan perjalanan ke beberapa daerah di Jawa Barat. “halah”.

Lagi-lagi dalam rangka melaksanakan “perintah aneh” bapak. Ya, bapak memerintahkan saya untuk melakukan perjalan ke beberapa daerah terpencil, sekaligus sowan ke pesantren-pesantren di daerah yang kebetulan saya lalui.

Awalnya saya tidak mengerti dengan maksud dan tujuannya. Sewaktu saya tanyakan kepada bapak soal tujuan dan manfaat yang akan saya peroleh dari tugas ini, beliau hanya menjawab pendek, “ambeh silaing bisa diajar hirup ti batur“. (supaya kamu bisa belajar hidup dari orang lain). 😯

sugan ari loba panggih jeung jelema di kampung mah, sifat silaing anu sok kumaha aing bisa leungit“. (mudah-mudahan saja dengan bertemu banyak orang di daerah, sifat kamu yang suka “bagaimana saya saja” bisa hilang). Demikian bapak menambahkan alasan kenapa saya harus “pergi” untuk beberapa bulan.

Ya… Yang penting gue, atau yang penting saya. Saya akui, sikap mementingkan diri sendiri masih mencengkram kuat dalam kepribadian saya. “Yang penting gue” adalah perilaku egois, atau anani dalam bahasa akhlak Islam. Buktinya, saya masih bisa menikmati makanan dengan berbagai macam lauk pauk sambil menonton berita  soal ibu dan anak yang meninggal karena tidak makan selama berhari-hari, juga anak-anak yang menderita gizi buruk. Saya juga masih dengan “senang hati” memakai BBM bersubsidi, dan merasa berat hati dengan rencana pemerintah untuk membatasi penggunaan BBM bersubsidi. 😥 Ya, saya memang sosok manusia egois, yang lebih mementingkan diri sendiri dan tidak mampu berempati dengan orang lain.

Bayangkan kalau saya kebetulan anggota DPR-RI yang membidangi masalah hutan. Mungkin sudah banyak hutan lindung yang saya loloskan dan restui untuk dialihfungsikan. Tentu saja dengan syarat kepala daerah dan atau yang berkepentingan memberi saya sekedar 3 milyar rupiah.

Bayangkan kalau saya adalah jaksa yang menangani kasus BLBI. Bayangkan kalau saya adalah anggota DPR-RI atau gubernur BI… Ya, bayangkan kalau saya yang egois ini adalah pejabat yang memiliki kekuasaan dan kesempatan untuk melakukan apa saja, “yang penting gue”. :mrgreen:

Kata anani barangkali masih kurang akrab di telinga kita. Namun sebenarnya padanan katanya sendiri teramat sering kita dengar. Dalam kajian ilmu jiwa anani dikenal dengan istilah egoistis, yakni sikap mementingkan diri sendiri. Dalam bahasa Arab, anani atau ananiyah didefinisikan sebagai suatu sikap mementingkan diri sendiri, hanya memikirkan diri sendiri, atau menonjolkan diri serta menghubungkan semua masalah terutama dalam hal kebaikan kepada dirinya sendiri.

Mengutip penjelasan At-Tahanawi  -seorang ahli filsafat dan muhaddis (ahli hadis)- dalam salahsatu kitabnya al-Kasysyaf (Pembuka Tabir), bahwa anani adalah suatu pernyataan mengenai hakikat segala sesuatu yang dihubungkan dengan diri seseorang, seperti pada pernyataan: “Inilah diriku, jiwaku, dan kekuasaanku“. Masih menurut At-Tahanawi, ungkapan seperti ini pada hakikatnya merupakan bentuk dari perbuatan syirik (mempersekutukan Allah) yang tersembunyi. Anani adalah suatu pernyataan yang mengungkapkan keadaaan hakikat dan batin bukan dalam arti yang sesungguhnya. Makna ucapan la ilaaha (Tidak ada Tuhan) sesungguhnya untuk menghilangkan sifat anani yang bersemayam dalam hati manusia.

Ketika jiwa manusia terhinggapi sikap anani atau egoistis, maka hilanglah kemampuan dirinya untuk dapat berempati kepada orang lain. Ia tidak akan mampu menyelami perasaan orang lain atau merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Hatinya akan bebal dengan segala apa yang nampak di hadapannya. Anani akan membentuk seseorang menjadi manusia berkarakter tidak peduli kepada orang lain, dan secara tidak sadar ia telah mengingkari keberadaan orang lain serta menempatkan dirinya sebagai Tuhan kecil.

Sifat anani akan muncul pada saat seseorang terlalu mencintai dirinya sehingga pada akhirnya akan menghilangkan kecintaannya pada orang lain. Hasrat untuk memenuhi kesenangan dan kebutuhan diri sendiri menjadi di atas segala-galanya. Terkadang muncullah anggapan bahwa segala apa yang ada di dunia ini adalah atas peranannya. Orang lain mendapat kebaikan karena upayanya, tidak akan ada kebaikan jika bukan atas jasanya. Kita mungkin pernah mendengar ungkapan, “Andai bukan karena saya, belum tentu dia bisa seperti sekarang.

Seseorang yang terhinggapi penyakit anani akan membuat tolak ukur terhadap segala sesuatu berdasarkan ukuran-ukuran dirinya sendiri. Itu sebabnya anani digolongkan sebagai salah satu sikap budi pekerti yang buruk (akhlak al-madzmumah) dan sangat tercela.

Menurut Imam al-Ghazali (ahli fikih, filsafat dan tasawuf Mazhab Syafi`i), anani terjadi antara lain karena kecantikan, kekayaan, kedudukan tinggi, kepandaian dan jasa yang pernah diberikannya. Orang yang terkena sikap ini kurang menyadari bahwa segala sesuatu yang dimilikinya itu berasal dari Tuhan. Mereka juga kurang menyadari bahwa semua yang dimilikinya itu bersifat sementara dan kelak akan sirna. Imam al-Ghazali lebih lanjut mengatakan bahwa kecantikan atau ketampanan akan segera sirna sejalan dengan pertambahan usia. Demikian pula kedudukan yang dipegangnya juga akan berakhir dengan datangnya waktu yang ditentukan. Ia lebih lanjut menambahkan bahwa sikap anani itu pada hakikatnya sebagai bukti dari kurangnya wawasan dan kesadaran seseorang terhadap sesuatu yang dimilikinya. Kekurangan tersebut kemudian ditutup-tutupinya dengan bersikap egoistis.

Semoga Allah menjaga kita dari sifat tercela ini.

 

Kelaparan… (H-3 Bertapa)

Januari 23, 2008 pukul 3:15 am | Ditulis dalam Agama, Akhlak, Artikel, Celotehan, Cerita, Cerita Pesantren, Curhat, Dakwah, Humor, Islam, Kisah Hikmah, Manhaj, Mimpi, Pendidikan, Renungan, Umum | 56 Komentar

Selepas menyelesaikan pendidikan dasar di SD al-Ma’arif Bandung, bapak “memaksa” saya untuk masuk Pondok Pesantren Perguruan KHZ. Musthofa Sukahideng Tasikmalaya. Sebagai anak kecil, saya tentu saja tidak kuasa menolak perintah orangtua. Dengan perasaan dongkol tidak sepenuh hati -karena nyantren berarti jauh dari orangtua dan meninggalkan teman-teman sepermainan di Bandung-, pada tanggal 1 Juli 1989 saya berangkat menuju pondok diantar oleh kedua orangtua dan saudara.

Saya ingat betul, uang saku satu bulanan yang pertama kali saya terima dari ibu sebesar 10 juta 25.000 rupiah. Uang sebesar itu harus cukup untuk bekal satu bulan, termasuk untuk dugem, karaokean  makan sehari-hari, iuran pesantren, SPP sekolah dan keperluan mandi-cuci. Prakteknya, uang 25.000 rupiah tidak cukup untuk sampai ke bulan berikutnya. Untuk sekali makan saja harus mengeluarkan 500 rupiah (nasi 150 rupiah, selebihnya untuk lauk pauk, biasanya sayur, kerupuk, ikan asin, tahu tempe). Menu ini saya nikmati hampir setiap hari! Alhasil, dalam sehari saya biasanya hanya makan satu kali saja. Jika memaksakan makan 2 kali sehari, maka pertengahan bulan uang bekal sudah amblas tanpa bekas.

Sebenarnya orangtua saya masih mampu memberikan uang bekal lebih dari itu. Karena kedua orangtua saya, selain kedua-duanya PNS di Departemen Agama, bapak juga memiliki usaha sampingan di bidang transportasi alias angkutan kota. Sampai hari ini pun saya tidak pernah menanyakan soal bekal bulanan yang irit itu, karena saya yakin ada tujuan baik di balik semua kepelitan keputusan bapak. 

Masih soal akibat uang bekal yang cekak, tidak jarang pada saat kehabisan uang, saya nyaris tidak bisa makan. Untung saja, saya orang yang cukup sabar untuk duduk di samping teman-teman santri yang tengah khusyuk menyantap makanan bertabur lauk pauk, berharap ada sisa makanan yang tidak dihabiskan…  :mrgreen: Satu dua suap nasi sisa sudah cukup untuk menghibur perut saya yang terus bernyanyi.

Benar kata orang, bahwa saat kesulitan menimpa akan muncul kreatifitas dan upaya-upaya inovatif. Karena jika disikapi secara positif, kesulitan sesungguhnya adalah pendorong potensi-potensi diri dan kecerdasan manusia yang terpendam *halah*. Tidak mau terus menerus “kelaparan” setiap tengah bulan, akhirnya saya memutuskan untuk tidak lagi membeli KFC, McDonald makanan “siap saji”. Saya fikir, jika memasak sendiri akan bisa lebih hemat.

Jangan dibayangkan kalau memasak sendiri berarti menanak nasi, menggoreng ikan asin atau bikin sayur sendiri, tidak. Memasak sendiri berarti ngaliwet. Masaknya di mana? Karena pesantren tidak menyediakan tempat memasak untuk para santri, saya akhirnya membuat semacam bunker di hutan pinggir sungai. Untuk sampai ke bunker saya harus berjalan menyusuri hutan sekitar 10 menit.

Lauk pauknya? Cukup dengan memberikan sedikit bumbu saat ngaliwet, biasanya daun salam, sereh, minyak kelapa, garam, oncom dan ikan teri. Biasa saya sebut liwet comri, alias liwet oncom dan teri. Kalau sedang beruntung, saya bisa mendapatkan ikan di sungai dekat pesantren. Terlebih jika malam harinya turun hujan, karena biasanya ada caah (permukaan sungai naik). Pagi-pagi sekali sebelum berangkat sekolah, saya segera berangkat ke sungai untuk memeriksa genangan air di pinggir sungai yang membentuk kubangan-kubangan kecil. Biasanya ada ikan atau udang kecil, lumayan buat “memperindah” wajah  liwet comri saya di dalam kastrol (tempat membuat liwet).

Alhamdulillah, keputusan ini berbuah manfaat. Akhirnya dari 25.000 rupiah uang bekal bulanan, saya bisa menyisihkan hampir 5 ribu rupiah lebih setiap bulannya. Uang itu saya simpan dalam sebuah bambu besar, dan pada tahun ketiga saat saya belah bambu celengan, uang tabungan saya berjumlah 207.625 rupiah. Uang itu saya pergunakan untuk membeli sebuah mesik tik bekas, karena kebetulan saya punya hobi menulis. Mesin tik itu pulalah yang kemudian menjadi sumber penghasilan tambahan saya ketika melanjutkan pendidikan di Darussalam Ciamis.

Allah ya Kariim, saya bersyukur mengalami semua ini. Paling tidak, ketika sekarang dewasa *halah*, saya merasa lebih siap menghadapi ujian hidup yang lebih dari sekedar susah makan. Bukankah salahsatu ujian dan ketakutan dari persoalan hidup adalah kekurangan pangan?

Saya teringat sabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa tidak dikalahkan oleh tuntutan perut, maka ia akan mampu menghadapi ujian yang lebih berat. Sebalknya, jika seseorang dikalahkan oleh perutnya, ia tidak siap menghadapi ujian apapun.”
  
Wallahul muwaffiq ilaa aqwamiththoriq

TUHAN MEMBERI APA YANG KITA BUTUHKAN

Januari 20, 2008 pukul 11:08 am | Ditulis dalam Agama, Akhlak, Artikel, Celotehan, Cerita, Curhat, Dakwah, Humor, Islam, Kisah Hikmah, Komunikasi, Manhaj, Pendidikan, Renungan, Umum | 46 Komentar

Kyai sepuh (KH. Irfan Hilmi)  pernah memberikan nasihat kepada kami para santrinya, bahwa dalam mengkabulkan doa hamba-Nya yang saleh dan dicintai-Nya, Allah akan memberikan apa yang dibutuhkan olehnya, bukan apa yang diinginkannya. Masih kata kyai sepuh, Allah mengetahui apa yang sebenarnya dibutuhkan manusia, sedangkan manusia hanya memiiki segudang keinginan tanpa tahu pasti apa sebenarnya yang dibutuhkan olehnya dalam hidup di dunia.

Oleh karena itu, apapun bentuk jawaban Allah terhadap doa-doa yang kita mohonkan kepada-Nya, selayaknya disyukuri dan diiringi prasangka baik terhadap-Nya. Sekali lagi, jika Allah tidak mengkabulkan doa persis seperti apa yang kita minta minta, hal tersebut bukan berarti Allah tidak menjawabnya. Allah menjawab setiap doa, namun dalam jawaban yang bentuknya “lain”.

Sebagai bahan perenungan, ada baiknya kita menyimak kisah di bawah ini.  *halah*  

Diriwayatkan bahwa nabi Musa AS memiliki ummat yang rata-rata berumur panjang dan  jumlah ummatnya sangat banyak. Sebagaimana layaknya sebuah bangsa, di antara ummat nabi Musa as. ada yang hidupnya berkecukupan, bahkan lebih, ada pula yang miskin.

Pada suatu ketika Nabi Musa didatangi oleh seseorang yang miskin. Saking begitu miskinnya,  ia mengenakan pakain yang lusuh dan compang-camping. Si miskin itu kemudian berkata kepada Nabi Musa AS, “Wahai Nabiyullah Musa, tolong sampaikan kepada Allah SWT permohonanku ini agar Allah SWT menjadikan aku orang yang kaya.”

Nabi Musa AS tersenyum mendengar permintaan si miskin, kemudian berkata kepada orang tersebut, “saudaraku, perbanyaklah bersyukur kepada Allah SWT.” Si miskin tentu saja terkejut dengan jawaban Nabi Musa yang pendek itu. Dengan kesal ia berkata, ”Bagaimana aku bisa banyak bersyukur, sedangkan untuk sekedar makan saja aku kesulitan,  pakaian yang aku gunakan pun hanya satu lembar ini saja!”. Akhirnya si miskin itu pulang tanpa mendapatkan apa yang diinginkannya.

Beberapa saat kemudian seorang kaya datang menghadap Nabi Musa AS. Orang tersebut bersih badannya juga rapi pakaiannya. Ia berkata kepada Nabi Musa AS, “Wahai Nabiyullah, tolong sampaikan kepada Allah SWT permohonanku ini agar aku dijadikannya sebagai orang yang miskin, terkadang aku merasa terganggu dengan hartaku itu”.

Nabi Musa AS pun tersenyum, lalu ia berkata, “wahai saudaraku, mulai saat ini engkau jangan bersyukur kepada Allah SWT”.

“Wahai Nabiyullah Musa, bagaimana aku tidak bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla telah memberiku mata yang dengannya aku dapat melihat. Telinga yang dengannya aku dapat mendengar. Allah SWT telah memberiku tangan yang dengannya aku dapat bekerja dan telah memberiku kaki yang dengannya aku dapat berjalan. Jadi bagaimana mungkin aku tidak mensyukurinya” jawab si kaya itu.

Akhirnya si kaya itu pun pulang ke rumahnya. Selanjutnya apa yang terjadi? Yang kemudian terjadi adalah si kaya menjadi semakin kaya karena ditambahkan kenikmatannya oleh Allah SWT karena ia selalu bersyukur. Sedangkan  si miskin menjadi bertambah miskin. Allah SWT mengambil semua kenikmatan-Nya sehingga si miskin itu tidak memiliki selembar pakaianpun yang melekat di tubuhnya. Ini semua karena ia tidak mau bersyukur kepada Allah SWT.

Hikmah dari kisah ini adalah, seseorang yang mampu mensyukuri setiap nikmat yang telah Allah berikan kepada dirinya akan menjadikan dirinya sebagai orang yang dapat menikmati hidup. Sebaliknya, seseorang yang tidak mau bersyukur sama halnya dengan orang yang telah menjerumuskan dirinya kepada keadaan yang serba sulit dan menutup pintu rahmat Allah, lebih dari itu orang yang tidak pandai bersyukur akan menjadi orang yang sulit menikmati hidup, sekaya atau semiskin apapun hidupnya.

Wallahul muwaffiq ila aqwamiththoriq.

Tulisan ini saya dedikasikan *halah* untuk sahabat sekaligus guru saya:

  1. Prof. KH. Irfan Hilmi, pengasuh Pondok Pesantren  Darussalam Ciamis
  2. Semua yang tidak dapat saya sebutkan di sini karena keterbatasan ruang…

Ini mungkin postingan terakhir saya untuk sementara waktu. Beberapa minggu ini saya harus menunaikan tugas negara *halah* di sebuah pedalaman yang jauh dari peradaban; tidak ada listrik, telepon apalagi sambungan internet. Terimakasih sudah mau berbagi ilmu dan menjadi sahabat.

 

Resep Nasi Goreng Ala Saya

Januari 17, 2008 pukul 12:10 pm | Ditulis dalam Agama, Artikel, Celotehan, Curhat, Dakwah, Demokrasi, Humor, Islam, Kesehatan, Komunikasi, Manhaj, Mimpi, Pendidikan, Politik, Renungan, Resep Masakan Santri, Umum | 50 Komentar

2 mingguan ini, setiap kali saya membuka statistik tulisan, di kolom mesin pencari selalu ada tag “Resep Nasi Goreng”. Malah sempat dalam satu hari jumlahnya sampai 10 ekor buah. Saya baru sadar, hal ini kemungkinan besar karena saya pernah membuat postingan dengan judul “Resep Nasi Goreng Barokah, Insya Allah Mak Nyuus!”. Jadi, kalau ada Salafy Wahaby yang mencari resep nasi goreng di Google, oleh beliau diberikan alamat ke sini. Yah, Jadi merasa bersalah juga… 😯

Nah, untuk menebus rasa bersalah tersebut, serta mengobati penyakit wasir, kutil, panu, kadas, kurap, rorombeheun, ketombean rasa kecewa para pencari  resep nasi goreng tersebut, kali ini saya akan benar-benar menulis resep nasi goreng, tentunya nasi goreng ala Brad Pitt saya. Tapi sebelumnya, supaya lebih mudah memahami dan mudah mempraktekkannya, anda saya sarankan untuk  membaca pengantarnya terlebih dahulu.

Ok, langsung saja simak resep berikut ini baik-baik… *halah*.

Resep ini untuk porsi 4 orang yang kalau makan secukupnya, tidak gembul dan tidak rakus. :mrgreen: Oh ya, barangkali ada yang bertanya, kenapa hanya untuk porsi 4 orang? Bukan 5 atau kalau bisa buat 100 orang? Jawabnya tidak lain adalah, karena dalam Islam berpoligami hanya dibatasi sampai 4 orang istri saja.  Jika lebih maka hukumnya haram, status pernikahannya -yang kelima- fasakh dan tentu saja dilaknat. Maka apabila dirasa tidak akan mampu berlaku adil, maka cukuplah bagimu satu istri saja!

*benerin kopyah, plintir tasbeh*

Bahan-bahan dasar dan bumbu yang harus dipersiapkan:

  1. Nasi putih secukupnya untuk 4 orang
  2. 2 sendok makan margarin, kalau bisa mereknya Blueband :mrgreen:
  3. Minyak jelantah kelapa bebas kolesterol secukupnya
  4. 2 sendok makan gula dilarutkan dengan air (untuk penguat rasa, pengganti MSG)
  5. 4 butir telur buaya ayam
  6. Kecap secukupnya, kalau bisa mereknya Cap Bango :mrgreen:
  7. 200 gram daging ayam yang telah matang, diiris atau potong dadu
  8. 60 gr kacang polong yang sudah dimasak
  9. 100 gram udang air tawar ukuran kecil, dikupas kulitnya dan dipotong kecil
  10. 1 buah tomat ukuran sedang
  11. 4 siung bawang merah
  12. 2 siung bawang putih
  13. 5 biji muncang
  14. 2 Cabe merah
  15. 1 “buku” Kunyit
  16. JIka suka pedas, tambahkan cabe rawit satu kilo sesuai selera

Cara Membuat:

  1. Bumbu-bumbu (bawang merah, bawang putih, kunyit, tomat, cabe merah, muncang) diulek -direndos, sunda pen.- sampai halus. Sekedar tips sederhana saja: Dengan cara diulek -bukan ditumis seperti biasanya- bumbu akan bercampur secara lebih sempurna sehingga menciptakan citarasa yang sempurna pula.
  2. Panaskan -dengan api sedang- minyak kelapa dan margarin bersamaan, setelah cukup panas masukkan bumbu yang telah diulek sampai warnanya menua dan tercium aroma harum. Masukkan telur kemudian aduk hingga mengembang sampai setengah matang
  3. Masukkan nasi putih, aduk sampai bumbunya merata. Agar nasi goreng tidak terasa keras, beri air putih secukupnya. Tidak perlu khawatir, air tidak akan membuat nasi menjadi lembek, karena akan menguap dengan sendirinya.
  4. Masukan daging ayam, udang, kacang polong. Beri garam secukupnya, dan jangan lupa gula cairnya. Campuran gula putih, garam dan bawang akan menghasilkan citarasa kuat seperti MSG. Terakhir, beri kecap secukupnya.
  5. Sesaat sebelum diangkat, tambahkan daun bawang, aduk rata. Angkat, dan silahkan disajikan!

Mix fruit juice cukup pantas disandingkan sebagai minuman segar penutup. Oke saudara, tetap sehat, tetap semangat, agar kita bisa jalan-jalan terus di… Wisata Kuli WordPress. Yang penting… Semua Blogger Basodara.!

Maaf Kyai, Honornya Berapa Kalau Ceramah?

Januari 14, 2008 pukul 8:58 am | Ditulis dalam Agama, Artikel, Celotehan, Dakwah, Humor, Islam, Komunikasi, Manhaj, Mimpi, Pendidikan, Pesantren Pondok Iqra', Public Speaking, Renungan, Umum | 77 Komentar

Sebelumnya saya mohon sedekahnya maaf kalau-kalau ada yang merasa kurang sreg dengan postingan ini. Insya Allah tidak ada sedikitpun hasrat seksual dan maksud untuk mencemooh, mendiskreditkan apalagi merendahkan para dai dan muballigh. Ini murni pengalaman pribadi, sekaligus kegelisahan yang menggelayuti hati saya bertahun-tahun, dan belum tercerahkan jua. *halah*

Masih sebagai pengantar dan catatan, mohon diingat baik-baik kalau saya bukan Kyai Slamet sungguhan dan juga tidak merasa Kyai. Hanya saja kadang ada orang iseng yang manggil saya Brad Pitt kyai. Saya juga bukan Dai kondang, cuma kebetulan saja, lagi-lagi suka ada orang iseng yang mengundang saya untuk sedikit berakting bicara agama.

Biasanya pertanyaan seperti pada judul postingan di atas diungkapkan oleh “utusan panitia” dengan penuh hati-hati, sambil masam-mesem dan diringi permohonan maaf, takut kalau pertanyaan seperti ini menyinggung atau setidaknya dianggap tidak pantas oleh saya. Mereka yang mengundang, sebenarnya juga maklum kalau pertanyaan seperti ini kurang sopan untuk diajukan. Tapi toh akhirnya mereka memaksakan diri juga untuk bertanya, daripada nantinya jadi serba salah ketika memberikan sekedar 10 juta ongkos transportasi; singkatnya takut kekecilan atau mungkin juga takut kebesaran :mrgreen:

Saya masih bisa memaklumi pertanyaan seperti ini, sekalipun saya sendiri sebenarnya tidak pernah merasa siap ketika diberi pertanyaan macam beginian. Namun, jauh di dalam lubuk hati saya yang paling dalam *halah*, saya merasa ada sesuatu yang salah dengan semua ini dan cukup mengganjal. Inilah yang saya maksud dengan kegelisahan yang menggelayuti hati saya bertahun-tahun, dan belum tercerahkan jua.

Ada beberapa point yang menjadi perenungan dan kegelisahan saya:

  1. Pertanyaan mengenai besaran honor sangat memancing timbulnya thoma atau mengharapkan balasan berupa materi atas perbuatannya (dalam hal memberikan ceramah agama). Ini tentu saja sangat mengganggu hati saya ketika berniat. Sebagai ilustrasi saja, pada suatu ketika, ada seorang muballig yang kebetulan tengah membutuhkan sejumlah uang untuk suatu keperluan. Karena sedang tidak memegang uang cash, akhirnya si muballig memberanikan diri untuk meminjam uang kepada temannya. Alhamdulillah, temannya memberikan pinjaman sejumlah yang dibutuhkan si muballig. Sewaktu ditanya kapan bisa mengembalikan uangnya, si muballig menjawab, “insya Allah, hari Senin besok.” Temannya bertanya kenapa yakin kalau hari senin sudah bisa mengembalikan, nah… si muballig menjawab dengan yakin, “Pan ana kebetulan ada jadwal ngasih ceramah hari minggunya…” :mrgreen: 
  2. Menerima imbalan berupa uang atau apapun setelah memberikan ceramah memang wajar, namun ketika yang muncul ke permukaan adalah bahwa ustadz anu “tarif”-nya segitu, kyai anu “ongkosnya” segini, muballig anu “uang dapur”nya sekian, yang terjadi seolah-olah komersialisasi agama. Bagi pengundang yang memiliki sumber dana besar, mungkin tidak masalah. Lha kalau yang ingin mengundangnya seret pendanaan, apa harus jadi tidak jadi menggelar pengajian atau tablig di tempatnya? 😥
  3. Saya seringkali merasa bahwa kita ummat Islam, saat ini cenderung lebih senang menjadi “kaum pendengar” daripada menjadi “kaum pelajar”. Ketika digelar tablig akbar, masyarakat akan datang berduyun-duyun. Namun pengajian rutinan untuk belajar agama dari dasar, sepertinya semua punya alasan untuk tidak datang. Mungkin, kalau mendengar ceramah nyaris tidak ada beban apa-apa selain duduk dan mendengarkan. Beda halnya dengan “belajar beneran”, terasa membosankan, cape, malu (karena takut disuruh sama gurunya), harus berfikir lebih ekstra dan tidak ramai seperti tablig akbar. Kalau kondisi seperti ini berlarut-larut, entah akan seperti apa wajah kita sebagai ummat.

Ah, sekali lagi… ini hanya kegelisahan saya saja…   

Sudah Rendah Hatikah kita?

Desember 26, 2007 pukul 2:19 pm | Ditulis dalam Agama, Artikel, Dakwah, Humor, Islam, Manhaj, Pendidikan, Renungan, Umum | 18 Komentar

Sewaktu akan berangkat untuk mondok di pesantren 18 tahun yang lalu, bapak saya memberikan secarik daftar berisi “sifat-sifat buruk” saya. Ada 23 sifat buruk yang menurut bapak ada pada diri saya. Maksud beliau memberikan daftar itu tidak lain adalah agar menjadi bahan introspeksi buat saya pribadi, tentunya dengan harapan agar setelahnya mondok, ke 23 sifat buruk itu bisa hilang. Urutan pertama dari 23 sifat itu adalah: Takabbur atau tinggi hati. Orang biasa menyebutnya dengan sombong. 

Alhamdulillah, sepulangnya mondok di pesantren selama 8 tahun, dari 23 sifat buruk tersebut, kata bapak yang tersisa hanya 23 saja! :mrgreen:

Pada suatu ketika, dalam kesempatan pengajian rutin bersama Kyai Sepuh, saya memberanikan diri untuk bertanya kepada Kyai Sepuh mengenai ciri orang yang terhinggapi penyakit sombong ini. Beliau memberikan jawaban kurang lebihnya seperti ini:

“Ketika seseorang merasa bahwa pembantunya tidak layak untuk makan satu meja bersama-sama dirinya, atau juga menganggap bahwa air dalam gelas bekas minumnya pantas untuk diminum pembantunya, namun air bekas minum pembantunya tidak layak bahkan menjijikkan untuk diminum oleh dirinya, maka orang seperti itu hatinya masih dihinggapi penyakit sombong”

Kemudian Kyai sepuh melanjutkan:

“Sebaliknya rendah hati itu adalah ketika kamu tunduk pada apa-apa yang haq dan benar, kamu ikuti itu, sekalipun kamu mendengarnya dari seorang anak kecil, maka terimalah nasihatnya. Bahkan sekalipun nasihat tentang kebenaran dan haq itu kamu dengar dari manusia yang paling bodoh, kamu harus menyimak dan memperhatikannya.”

Dari penuturan Kyai, saya dapat mengambil beberapa intisari dari makna tawadlhu (rendah hati, lawan dari takabbur atau sombong).

Pertama, tawadlu’ adalah sikap atau kondisi hati kita yang tunduk pada segala sesuatu yang hak dan benar menurut ajaran dan perintah Allah.

Kedua, tawadlu’ mewujud dalam perilaku keseharian kita dalam bergaul dengan sesama manusia, yaitu tidak mendiskriminasi orang lain, dan memperlakukannya secara adil dan manusiawi.

Ketiga, tawadlu’ bermakna lapangnya hati dan kesediaan dalam menerima nasihat, dari siapapun, tanpa memandang siapa yang berbicara, selama nasihatnya adalah kebenaran dan hak. Dalam kata lain, hati dan akalnya senantiasa dibuka untuk menerima ajaran, nasihat dan ilmu yang dapat menuntunnya kepada kebenaran, dari manapun dan dari siapapun.

Begitu kira-kira… Hanya Allah Yang lebih Maha Mengetahui

Ulama Bijak Versus Ulama Busuk

Desember 23, 2007 pukul 9:38 am | Ditulis dalam Agama, Artikel, Dakwah, Humor, Islam, Komunikasi, Manhaj, Pendidikan, Renungan, Umum | 13 Komentar

Hatim al-Asham bukan nama asing dalam khazanah tasawuf. Konon, gelar al-Asham (orang tuli) yang disandangnya melekat akibat peristiwa dalam salahsatu majelisnya, dimana seorang wanita -maaf- buang angin di depannya tanpa sengaja. Hatim yang bijak berpura-pura tidak mendengar dan melanjutkan ceramahnya. Hatim adalah ulama yang amat disegani. Wibawanya memancar karena kezuhudan, ketekunan ibadah dan pembelaannya terhadap rakyat kecil.

Suatu ketika ia dikabari tentang adanya seorang ulama masyhur yang hidup bergelimang kemewahan. Sudah rahasia umum, kekayaan dan kemewahan ulama tersebut diperolehnya karena “pengabdiannya” pada raja. Sang ulama tidak pernah sekalipun mengingatkan rajanya, sekalipun sang raja telah nyata-nyata berlaku zalim dan menyalahi aturan-aturan Allah SWT. Hatim lalu merasa tergugah untuk meluruskannya.

Sesampainya di rumah megah sang ulama, ia bergumam, “Inikah sosok pewaris Nabi?” Lalu diketuknya pintu rumah dan meminta izin bertemu dengan sang ulama. Dilihatnya isi rumah dipenuhi dengan perabotan mahal dan sang ulama sendiri tengah berbaring di atas ranjang empuk, dikipasi bujang-bujangnya.

Guru, ajarkan saya cara wudhunya Rasulullah“, pinta Hakim kemudian.

Di atas ranjang, sang ulama lalu mencontohkan cara berwudhu. Hatim menirunya dengan sedikit perbedaan. Sang ulama menegur, “Basuhlah sebanyak tiga kali, jangan lebih karena itu merupakan tabdzir (pemborosan)“.

Beroleh kesempatan, Hatim menukas lantang, “Guru, anda beroleh ilmu ini dari tabi’in, tabi’in dari sahabat, dan sahabat dari Rasulullah. Pernahkah beliau mengajarkan hidup boros dan mewah seperti ini? Jika Guru  berkata kelebihan satu basuhan saja dianggap tabdzir, lalu bagaimana dengan semua kemewahan ini?

Hujjatul-Islam Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin membagi ulama dalam dua kelompok: ulama al-akhirah (ulama baik) dan ulama al-suu’ (ulama busuk). Menurut beliau, salahsatu ciri yang membedakan keduanya adalah kedekatan dan pengabdian buta pada penguasa dan kekuasaan.

Nabi SAW bersabda, “Ulama adalah kepercayaan para Rasul selama tidak bercampur dengan penguasa dan larut dalam kehidupan duniawi. Jika mereka bercampur dengan penguasa dan larut dalam dunia, sungguh mereka telah mengkhianati para Rasul. Jauhi dan berhati-hatilah dengan mereka”.

Kalau Saya Mati Duluan, Apa Kamu Akan Kawin Lagi?

Desember 16, 2007 pukul 12:40 pm | Ditulis dalam Agama, Artikel, Humor, Islam, Komunikasi, Pendidikan | 47 Komentar

Begitu kira-kira pertanyaan yang terkadang disampaikan -sebagian- suami kepada istrinya. Sebaliknya juga demikian, pertanyaan serupa mungkin diajukan seorang istri kepada suaminya tercinta. Terlebih mereka yang sedang dimabuk kasmaran dan dibuai oleh sensasi cinta. Apakah anda juga pernah iseng menanyakan hal yang sama kepada pasangan anda? 

Jawaban yang ingin anda dengar tentu adalah “tidak”, atau setidaknya gelengan kepala sebagai bahasa tubuh yang mengisyarakan komitmen untuk tidak mencintai, dicintai, dimiliki dan memiliki orang lain selain anda seorang, bahkan ketika anda terlebih dahulu meninggalkan alam fana ini. Bayangkan kalau jawaban yang meluncur dari bibir pasangan anda adalah “gak tahu..” atau hanya diam tidak menjawab? Alih-alih mendengar jawaban selain tidak, sekiranya jawaban “tidak akan…” diiringi dengan kalimat “insya Allah”, itu sudah cukup membuat anda tidak senang. lalu terbakarlah hati anda dengan buncahan api cemburu….

Pertanyaan macam ini sangat lumrah. Saya menilainya sebagai sebuah refleksi yang lahir dari hasrat untuk mencintai, dicintai dan memiliki pasangannya, tidak hanya ketika di dunia, namun sampai di akhirat kelak. Ya, kurang lebihnya seperti lantunan Rita Sugiarto dalam senandung dangdut berjudul Pacar Dunia Akhirat.

Lalu, apakah salah jika kita memiliki hasrat untuk memiliki pasangan kita selama-lamanya? Agama tidak memandangnya sebagai sesuatu yang salah. Bukankah Allah SWT telah memberikan gambaran bahwa pasangan-pasangan suami istri yang beriman akan masuk ke dalam surga dan bercengkrama di dalamnya bersama-sama.

Hanya saja, yang harus difahami adalah bahwa realita hidup tidak selamanya memberikan apa yang kita ingingkan. Untuk memahaminya, saya mencoba menceritakan sebuah kisah.

Ada seorang pria sukses. Selain tampan ia juga dikenal sebagai seorang jutawan dengan beragam jenis perusahaan yang dimilikinya. Rumah bagus, mobil mewah, pakaian mahal, tanah yang luas dan deposito di Bank semuanya ada.

Pada suatu ketika, ia bertemu dengan seorang gadis berkerudung nan cantik rupawan, cerdas, keibuan dan berkepribadian mulia dalam sebuah kesempatan acara pemberian santunan untuk fakir miskin dan yatim piatu di sebuah yayasan. Lalu jatuh hatilah ia kepada gadis tersebut. Lagi pula, pria mana yang tidak akan tertikam oleh pesona perempuan seperti itu?

Rupanya, cinta sang jutawan tidak bertepuk sebelah tangan. Sang gadis pun menerima dan membalas cintanya. Selang satu bulan kemudian, digelarlah acara pernikahan yang meriah. Keduanya mengikatkan diri dalam sebuah mahligai rumah tangga. Akhirnya, resmilah mereka berdua sebagai pasangan suami istri.

Begitu besarnya cinta sang jutawan kepada istrinya, sedetikpun ia tidak mau jauh dari sang istri.

Hari berganti hari, malam berganti malam. Bulan dan tahun tidak terasa berjalan…. 

Hari-hari yang dilaluinya menjadi semakin penuh warna dan indah. Tidak hanya bertabur gemerlap harta dan kekayaan, namun juga dipenuhi dengan cinta istrinya.

Pada suatu malam, ketika pasangan muda ini bersiap untuk tidur diperaduan, sang jutawan bertanya kepada istrinya, “Sayangku, sekiranya aku meninggal besok atau entah kapan, apakah engkau akan tetap mencintaiku?”. Istrinya menjawab dengan wajah bersemburat mesra, “Tentu suamiku, aku akan mencintaimu sampai kapanpun, bahkan ketika ajal memisahkan kita. Aku hanya milikmu seorang, istrimu di dunia dan di akhirat”. Tenanglah hati sang jutawan demi mendengar jawaban ini. Kemudian terlelaplah keduanya dibuai oleh mimpi indah tentang cinta sejati dan kasih sehidup semati.

Keesokan paginya, dengan sangat berat hati sang jutawan berpamitan kepada istrinya untuk menyelesaikan urusan bisnis di luar kota.

Untung tak bisa diraih, malang tak dapat ditolak. Di tengah perjalanan sang suami mengalami kecelakaan fatal sampai merenggut nyawanya. Kendaraannya bertabrakan dengan bus dalam kecepatan tinggi.  

Remuk redamlah hati sang istri ketika mendengar kabar kecelakaan yang menimpa suaminya. Seakan tidak percaya, jika suami yang amat ia cintai telah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya. Padahal semalam ia masih bercengkrama mesra dengan pria yang telah menikahinya selama bertahun-tahun. Ia tidak menyangka jika pertanyaan yang diajukan suaminya adalah pertanyaan terakhir sekaligus sebagai sebuah salam perpisahan untuknya.

Sekian lama dirinya dirundung dalam kesedihan, hanyut oleh perasaan kehilangan yang tidak terperikan. Dirinya tenggelam dalam duka yang teramat sangat. Ia menjadi lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam rumah sambil membuka album foto saat masih bersama suami tercinta.

Syukurlah, pada suatu hari dirinya tersadarkan untuk tidak terus larut dalam kesedihan tak berkesudahan. Ia memutuskan untuk kembali aktif dalam kegiatan agama. Dirinya berharap, kesibukan dalam majelis taklim dan kegiatan yang lain dapat memberinya ketenangan dan tidak terus menerus tenggelam dalam derai air mata karena teringat mendiang suaminya.

Rupanya Tuhan memiliki rencana. Aktifitasnya di majelis taklim secara tidak langsung mempertemukan dirinya dengan seorang pria yang tidak lain adalah ustadz yang secara rutin memberikan materi. Berawal dari maksud untuk meminta nasihat sang ustadz sekaligus meminta didoakan agar diberikan ketabahan dan kesabaran oleh Allah SWT, kemudian berlanjut menjadi komunikasi yang intensif. Tanpa terasa, dalam hatinya mulai tumbuh benih-benih cinta yang baru…. Singkat cerita (kepanjangan sih!) Beberapa bulan kemudian ia telah resmi menjadi istri sang ustadz yang kebetulan masih sendiri…. :mrgreen:

Ia lupa dengan jawaban yang pernah disampaikan kepada suaminya waktu malam itu…

Nah, sekarang saya mau tanya sekali lagi. Anda akan menjawab apa jika ditanya oleh pasangan anda, “Kalau saya mati duluan, apa kamu akan kawin lagi?”

 

 

 

Kaitan Antara Iman, Ilmu, Akal, Lemahlembut dan Lunak

Desember 16, 2007 pukul 8:55 am | Ditulis dalam Agama, Artikel, Humor, Islam, Komunikasi, Pendidikan, Pesantren Pondok Iqra' | 10 Komentar

Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baiknya pembantu iman adalah ilmu. Sebaik-baiknya pembantu ilmu adalah akal. Sebaik-baiknya pembantu akal adalah kelemahlembutan, dan sebaik-baiknya pembantu kelemahlembutan adalah kelunakan.

Hadist di atas merupakan sebuah nasihat sekaligus jawaban mengenai pertanyaan yang sering kali muncul dalam benak kita, yaitu tentang bagaimana cara memperoleh keimanan, menjaganya agar tetap bersemayam bahkan semakin kuat mengakar dalam hati. Selain itu, sabda Rasulullah SAW tersebut menjadi pijakan dasar bagi setiap muslim untuk memperoleh kenikmatan iman berupa keridloan Allah SWT di dunia dan di akhirat kelak.

Keterkaitan Antara Iman dan Ilmu 

Pada bagian pertama, Rasulullah SAW menyatakan bahwa sebaik-baiknya pembantu iman adalah ilmu (pengetahuan). Maksudnya adalah, ketika seseorang berhasrat meneguhkan imannya maka jalannya adalah ilmu, bahkan dengan sebab ilmu pulalah sebenarnya seseorang dapat menemukan Tuhannya. Singkatnya, ilmu merupakan modalitas utama menggapai keimanan yang sempurna atau haqqul yakin, karena  tidak akan tercipta keyakinan dalam iman jika tidak disertai ilmu.

Pembahasan mengenai iman secara langsung akan terkait dengan masalah yakin (ketidakraguan), tidak lain karena iman merupakan perbuatan hati yang dibangun atas dasar ilmu pengetahuan yang telah diperoleh seseorang sehingga tertutup baginya kemungkinan terasuki oleh keraguan. Iman dituntut untuk berdiri di atas keyakinan yang kuat dan tidak boleh setengah-setengah, karena iman yang berdiri di atas keyakinan akan memberikan ketentraman batiniyah dan melahirkan tindakan (amal) yang spontan serta tidak disertai dengan keragu-raguan. Keyakinan adalah ketetapan ilmu yang tidak berputar-putar, tidak terombang-ambing dan tidak berubah-ubah dalam hati. Dalam pembahasan ilmu kalam, keyakinan biasa disebut pula dengan akidah, akidah sendiri didefinisikan sebagai keimanan yang kokoh di dalam hati dan dipilih menjadi jalan hidup.

Sepintas di atas telah diulas mengenai keterkaitan antara iman iman -yang mencapai taraf yakin- dengan ilmu. Selanjutnya, dengan memahami pengertian dan hakikat ilmu, kita dengan mudah akan menemukan keterkaitan antara keduanya.

Ilmu secara harfiah diartikan sebagai pengetahuan, ia merupakan lawan kata dari jahlun yang berarti ketidaktahuan atau kebodohan. Ilmu bersepadan dengan kata bahasa arab lainnya, yaitu makrifat (pengetahuan), fiqh (pemahaman) hikmah (kebijaksanaan) dan syu’ur (perasaan).

Al-Ilmu itu sendiri dikenal sebagai sifat utama Allah SWT. Dalam bentuk kata yang berbeda, Allah SWT disebut juga sebagai al-‘Alim dan ‘Aliim, yang artinya: “Yang Mengetahui” atau “Yang Maha Tahu”.

Secara umum, ilmu atau pengetahuan terbagi ke dalam dua kelompok: pengetahuan biasa (knowledge) dan pengetahuan ilmiah (science). “Pengetahuan biasa” dapat diperoleh melalui pengupayaan dari keseluruhan potensi kemanusiaan seperti perasaan, fikiran, pengalaman, pancaindera, dan intuisi untuk mengetahui sesuatu tanpa memperhatikan objek, cara dan kegunaannya. “Pengetahuan ilmiah” hakikatnya merupakan keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan untuk mengetahui sesuatu, tetapi dengan cara memperhatikan objek yang ditelah, cara yang digunakan, dan kegunaan pengetahuan tersebut, dengan kata lain pengetahuan ilmiah memperhatikan objek ontologis, landasan epistimologis, dan landasan aksiologis dari pengetahuan itu sendiri. Dalam pembahasan ini, ilmu yang dimaksudkan di sini adalah pengetahuan jenis kedua.

Dalam kajian Islam, ilmu pada awalnya lahir dari keinginan untuk memahami wahyu yang terkandung dalam alquran dan bimbingan Nabi Muhammad SAW mengenai wahyu tersebut. Al-quran sendiri banyak berbicara mengenai pentingnya ilmu dan kedudukannya yang teramat tinggi bagi siapapun yang mencari dan memilikinya.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwasanya Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sekiranya aku bertemu dengan hari baru, yang ilmuku tidak bertambah pada hari itu, yaitu ilmu yang membuatku semakin dekat dengan Allah ‘Azza wa Jalla, maka tidak ada keberkahan apa-apa bagiku dalam terbitnya matahari pada hari tersebut.” (HR. Ibnu Hibban)

Ilmu dan Akal

Pada bagian kedua, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa sebaik-baiknya pembantu ilmu adalah akal. Ketika seseorang menginginkan ilmu, ia harus mengupayakannya dengan cara mempelajarinya. Dan alat utama untuk mempelajari ilmu adalah akal.

Secara bahasa, akal berarti daya atau kekuatan fikiran (quwwatu al-idrak) atau pemahaman (al-fahmu). Juga terdapat istilah lain dari akal, yaitu  an-nazr (berfikir secara mendalam) dan al-fikr atau logika.

Akal merupakan daya atau kekuatan yang dianugerahkan oleh Allah SWT kepada manusia sebagai alat berfikir dan alat untuk mempertimbangkan serta memikirkan baik buruknya sesuatu. Akal adalah potensi yang diberikan Allah SWT kepada manusia di samping nafsu. Kedua unsur ini (akal dan nafsu) termasuk dalam alam rohani (nonfisik).

Akal merupakan potensi ruhani yang dipersiapkan untuk menerima ilmu pengetahuan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam al-Quran:

 “Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu“. (QS:29:43)

Adapun bagi mereka yang dikaruniai akal, namun kemudian tidak mempergunakannya untuk memperoleh cahaya ilahi (dalam bentuk ilmu), Allah SWT sangat mencela orang-orang yang demikian bahkan mengancamnya dengan azab neraka jahannam. Kita perhatikan firman Allah SWT berikut ini:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan (Kami ciptakan) untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami ayat-ayat Allah (yakni perkara hak) dan mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah (yaitu bukti-bukti yang menunjukkan kekuasaan Allah dengan penglihatan yang disertai pemikiran) dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar ayat-ayat Allah (ayat-ayat Allah dan nasihat-nasihat-Nya dengan pendengaran yang disertai pemikiran dan ketaatan), mereka itu bagai binatang ternak (dalam hal tidak mau mengetahui, melihat dan mendengar) bahkan mereka lebih sesat (dari hewan ternak itu, sebab hewan ternak akan mencari hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya dan ia akan lari dari hal-hal yang membahayakan dirinya tetapi mereka itu berani menyuguhkan dirinya ke dalam neraka dengan menentang) mereka itulah orang-orang yang lalai“.

Orang yang tuli, bisu dan buta dalam ayat di atas merupakan suatu perumpamaan yang merujuk kepada “orang-orang yang tidak menggunakan akalnya”, padahal mereka sebenarnya memiliki akal. Orang yang berakal adalah orang yang sadar, bisa berfikir, tidak gila, dan termasuk dalam kriteria mukallaf yaitu orang yang terikat kewajiban untuk  melaksanakan perintah Allah SWT. Akal -termasuk di dalamnya perasaan-yang telah di anugerahkan Allah SWT kepada mereka ternyata tidak dipergunakan untuk memahami keesaan dan kebesaran Allah SWT, padahal kepercayaan pada keesaan Allah SWT itu akan membersihkan jiwa mereka dari segala macam was-was dan dari sifat hina serta rendah diri serta menanamkan pada diri mereka rasa percaya terhadap dirinya sendiri.

Golongan ini mempunyai mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat bukti kebenaran dan keesaan Allah SWT. Segala kejadian yang terekam dalam sejarah manusia, segala peristiwa yang terjadi dalam kehidupan manusia setiap hari, yang terlihat dan yang terdengar tidak menjadi bahan pemikiran dan perenungan untuk dianalisa kemudian dijadikan sebagai pelajaran yang dapat dipetik manfaatnya.

Oleh Allah SWT mereka disejajarkan dengan binatang, bahkan lebih buruk, sebab binatang tidak mempunyai daya pikir untuk mengolah hasil penglihatan dan pendengaran mereka. Binatang memberikan tanggapan atau reaksi terhadap dunia luar secara instinctif dan bertujuan hanya untuk mempertahankan hidup. Itu sebabnya kenapa hewan makan dan minum serta memenuhi kebutuhannya, tidak melampaui dari batas kebutuhan biologis hewaninya. Berbeda dengan manusia yang acapkali berperilaku secara berlebihan disebabkan akalnya telah dikalahkan oleh hawa nafsu.

Bersambung… Kepanjangan sih, insya Allah diupdate!

Resep Nasi Goreng Barokah, Insya Allah Mak Nyuus!

Desember 13, 2007 pukul 11:07 am | Ditulis dalam Agama, Artikel, Humor, Islam, Komunikasi, Pendidikan | 41 Komentar

Biar barokah, saya awali postingan ini dengan membaca basmallah. Mengamalkan nasihatnya Kyai Kurt, saya coba belajar nulis yang gak berat-berat, tapi mudah-mudahan tetap bermanfaat.

Dasar Pemikiran

Kali ini saya mencoba menyajikan tulisan ringan tentang resep nasi goreng yang barokah dan lezat. Lha kok nasi goreng? Bukan soto Bandung? Pertama, karena nasi goreng saya anggap paling digemari banyak orang, praktis, lebih dari cukup buat mengganjal perut, murah meriah, cukup lezat (bergantung siapa yang masaknya juga) dan insya Allah tetep barokah, asal sebelum masaknya baca basmallah, selesai masak baca hamdallah, ketika mau makan nasi gorengnya jangan lupa basmallah lagi dan kalau bisa ditambah doa sebelum makan, selesai makan hamdallah lagi, terus tutup pake doa selesai makan. Hafal kan doanya? Kedua, karena kalau soto Bandung saya tidak tahu resep dan cara masaknya!

Analisa & Kritik Terhadap Nasi Goreng Pada Umumnya

Sebelum menjelaskan mengenai resep dan cara memasak nasi goreng yang barokah dan lezat, terlebih dahulu saya paparkan hasil kajian ilmiah saya mengenai nasi goreng yang banyak beredar di masyarakat pada umumnya.

Setelah mengamati beragam nasi goreng melalui observasi langsung, saya menemukan pada kenyataannya banyak hal yang sebenarnya jauh dari nilai-nilai ilmiah, tidak baku bahkan ada yang keluar dari mainstream nasi goreng sesungguhnya.

Yang tidak ilmiah misalnya, adanya anggapan bahwa nasi goreng “sebaiknya” dibuat dari nasi sisa, yang sudah dingin dan berkesan “daripada dibuang…”. Mazhab ini biasanya dianut oleh para ibu rumah tangga. Kemudian terdapat pula kekeliruan dalam memahami kata Nasi Goreng itu sendiri. Orang sunda suka dikenal agak malu-malu menyantap makanan yang satu ini, karena dinilai sebagai nasi kelas dua. Karena kata “Goreng” dalam bahasa sunda berarti “jelek”, seperti kalimat “dasar goreng patut” yang artinya “dasar muka jelek”. Sekiranya harus menyantap nasi goreng, orang sunda biasanya karena merasa terpaksa. Bahkan ketika nambah satu piring lagipun masih disertai rasa terpaksa.

Sedang di kalangan pedagang nasi goreng, berkembang sebuah keyakinan “sesat” bahwa beras untuk bahan nasi goreng jangan memakai beras super cianjur, pandan wangi, dan setra wangi. Cukup beras Dolog atau IR 36 untuk kualitas paling bagus. Kalau bisa beras Vietnam selundupan. Bahkan yang lebih afdlol adalah beras raskin. Kalangan pedagang nasi goreng memegang kuat mitos bahwa jika membuat nasi goreng dengan nasi dari beras Cianjur, Pandan Wangi dan Setra Wangi bisa berakibat tidak baik. Misalnya, kurang “bati” atau berkurang laba.

Kesimpulan
Dari hasil pengamatan tersebut saya dapat mengambil 2 kesimpulan besar yaitu:

  1. Adanya kecenderungan untuk memodifikasi nasi goreng secara berlebihan (isrof) dari para pelaku (baca: tukang buat nasi goreng) yang mengakibatkan orang menjadi bingung untuk menentukan pilihan terhadap ragam nasi goreng yang tersedia. Perilaku seperti ini sesungguhnya telah keluar dari hakikat awal nasi goreng, sehingga saya menilainya bahwa modifikasi apalagi secara berlebihan dapat dikategorikan sebagai nasi goreng bid’ah (sesuatu yang baru) bahkan dapat dihukumi kafir (ingkar) dari hukum nasi goreng yang telah dirumuskan dan biasa dipraktekkan oleh pembuat nasi goreng terdahulu (salaf)

  2. Maraknya gerakan pemikiran dan aliran baru dalam nasi goreng ini mendorong terjadinya perpecahan di antara pelaku usaha nasi goreng maupun nasi goreng rumahan. Hal ini tidak lain karena masing-masing kerap mengklaim bahwa nasi gorengnyalah yang paling lezat dan sesuai dengan kaidah nasi goreng yang sesungguhnya. Hal ini dibuktikan fenomena munculnya kebiasaan saling menjelekkan, fitnah, menggibah, mendakwa sesat dan bid’ah antar sesama pembuat nasi goreng, khususnya di kalangan tukang nasi goreng. Dalam sebuah kesempatan interview dengan seorang pedagang, objek riset saya tersebut mengatakan agar saya tidak membeli nasi goreng dari si A, yang jaraknya kurang lebih hanya 20 meter dari tempatnya berdagang. Ketika saya tanya alasannya, ia menjawab dengan bahasa sunda, “ulah geuleuh pak, si eta mah sok make calana mun ngabumbuan sangu goreng”.

Demikian barangkali sekilas mengenai apa yang melatarbelakangi saya membuat tulisan mengenai resep nasi goreng yang sesungguhnya, lezat lagi barokah.

bersambung (posting selanjutnya mengenai resep dan cara membuat nasi goreng)

 

 

Laman Berikutnya »

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.