Setelah Hiatus Panjang…

April 5, 2008 pukul 2:48 am | Ditulis dalam Agama, Akhlak, Celotehan, Cerita, Curhat, Dakwah, Islam, Kisah Hikmah, Manhaj, Pendidikan, Renungan, Umum | 28 Komentar

Setelah hiatus panjang selama hampir 3 bulan, akhirnya saya berkesempatan kembali untuk bercengkrama dengan blog Aula Hikmah. Banyak pelajaran yang saya peroleh selama hiatus. Dari sekian banyak pelajaran tersebut, yang paling kuat menghujam dalam hati saya adalah mengenai penghargaan terhadap hidup. Betapa selama ini saya ternyata tidak mampu menghargai dengan layak atas apa-apa yang telah Tuhan berikan kepada saya. Insya Allah, oleh-oleh berupa catatan perjalanan akan saya post lebih lanjut.

Saya juga ingin menyampaikan terimakasih atas kunjungan dan komen yang ditinggalkan selama saya hiatus… Salam hormat saya, Ram-Ram Muhammad. ūüėÄ

Kelaparan… (H-3 Bertapa)

Januari 23, 2008 pukul 3:15 am | Ditulis dalam Agama, Akhlak, Artikel, Celotehan, Cerita, Cerita Pesantren, Curhat, Dakwah, Humor, Islam, Kisah Hikmah, Manhaj, Mimpi, Pendidikan, Renungan, Umum | 56 Komentar

Selepas menyelesaikan pendidikan dasar di SD al-Ma’arif Bandung, bapak¬†“memaksa” saya untuk masuk Pondok Pesantren Perguruan KHZ. Musthofa Sukahideng Tasikmalaya. Sebagai anak kecil, saya tentu saja tidak kuasa menolak perintah orangtua. Dengan perasaan dongkol tidak sepenuh hati -karena nyantren berarti jauh dari orangtua dan meninggalkan teman-teman sepermainan di Bandung-, pada tanggal 1 Juli 1989 saya berangkat menuju pondok diantar oleh kedua orangtua dan saudara.

Saya ingat betul, uang saku satu bulanan yang pertama kali saya terima dari ibu sebesar 10 juta 25.000 rupiah. Uang sebesar itu harus cukup untuk bekal satu bulan, termasuk untuk dugem, karaokean  makan sehari-hari, iuran pesantren, SPP sekolah dan keperluan mandi-cuci. Prakteknya, uang 25.000 rupiah tidak cukup untuk sampai ke bulan berikutnya. Untuk sekali makan saja harus mengeluarkan 500 rupiah (nasi 150 rupiah, selebihnya untuk lauk pauk, biasanya sayur, kerupuk, ikan asin, tahu tempe). Menu ini saya nikmati hampir setiap hari! Alhasil, dalam sehari saya biasanya hanya makan satu kali saja. Jika memaksakan makan 2 kali sehari, maka pertengahan bulan uang bekal sudah amblas tanpa bekas.

Sebenarnya orangtua saya masih mampu memberikan uang bekal lebih dari itu. Karena kedua orangtua saya, selain kedua-duanya PNS di Departemen Agama, bapak juga memiliki usaha sampingan di bidang transportasi alias angkutan kota. Sampai hari ini pun saya tidak pernah menanyakan soal bekal bulanan yang irit itu, karena saya yakin ada tujuan baik di balik semua kepelitan keputusan bapak. 

Masih soal akibat uang bekal yang cekak, tidak jarang pada saat kehabisan uang, saya nyaris tidak bisa makan. Untung saja, saya¬†orang yang¬†cukup sabar untuk duduk di¬†samping teman-teman santri yang tengah khusyuk menyantap makanan bertabur lauk pauk, berharap ada sisa makanan yang tidak dihabiskan…¬† :mrgreen: Satu dua suap nasi sisa sudah cukup untuk menghibur perut saya yang terus bernyanyi.

Benar kata orang, bahwa saat kesulitan menimpa akan muncul kreatifitas dan upaya-upaya inovatif. Karena jika disikapi secara positif, kesulitan sesungguhnya adalah pendorong potensi-potensi diri dan kecerdasan manusia yang terpendam *halah*. Tidak mau terus menerus “kelaparan” setiap tengah bulan, akhirnya saya memutuskan untuk tidak lagi membeli KFC, McDonald makanan “siap saji”. Saya fikir, jika memasak sendiri akan bisa lebih hemat.

Jangan dibayangkan kalau memasak sendiri berarti menanak nasi, menggoreng ikan asin atau bikin sayur sendiri, tidak. Memasak sendiri berarti ngaliwet. Masaknya di mana? Karena pesantren tidak menyediakan tempat memasak untuk para santri, saya akhirnya membuat semacam bunker di hutan pinggir sungai. Untuk sampai ke bunker saya harus berjalan menyusuri hutan sekitar 10 menit.

Lauk pauknya? Cukup dengan memberikan sedikit bumbu saat ngaliwet, biasanya daun salam, sereh, minyak kelapa, garam, oncom dan ikan teri. Biasa saya sebut liwet comri, alias liwet oncom dan teri. Kalau sedang beruntung, saya bisa mendapatkan ikan di sungai dekat pesantren. Terlebih jika malam harinya turun hujan, karena biasanya ada caah (permukaan sungai naik). Pagi-pagi sekali sebelum berangkat sekolah, saya segera berangkat ke sungai untuk memeriksa genangan air di pinggir sungai yang membentuk kubangan-kubangan kecil. Biasanya ada ikan atau udang kecil, lumayan buat “memperindah”¬†wajah ¬†liwet comri saya di dalam kastrol (tempat membuat liwet).

Alhamdulillah, keputusan ini berbuah manfaat. Akhirnya dari 25.000 rupiah uang bekal bulanan, saya bisa menyisihkan hampir 5 ribu rupiah lebih setiap bulannya. Uang itu saya simpan dalam sebuah bambu besar, dan pada tahun ketiga saat saya belah bambu celengan, uang tabungan saya berjumlah 207.625 rupiah. Uang itu saya pergunakan untuk membeli sebuah mesik tik bekas, karena kebetulan saya punya hobi menulis. Mesin tik itu pulalah yang kemudian menjadi sumber penghasilan tambahan saya ketika melanjutkan pendidikan di Darussalam Ciamis.

Allah ya Kariim, saya bersyukur mengalami semua ini. Paling tidak, ketika sekarang dewasa *halah*, saya merasa lebih siap menghadapi ujian hidup yang lebih dari sekedar susah makan. Bukankah salahsatu ujian dan ketakutan dari persoalan hidup adalah kekurangan pangan?

Saya teringat sabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa tidak dikalahkan oleh tuntutan perut, maka ia akan mampu menghadapi ujian yang lebih berat. Sebalknya, jika seseorang dikalahkan oleh perutnya, ia tidak siap menghadapi ujian apapun.”
  
Wallahul muwaffiq ilaa aqwamiththoriq

TUHAN MEMBERI APA YANG KITA BUTUHKAN

Januari 20, 2008 pukul 11:08 am | Ditulis dalam Agama, Akhlak, Artikel, Celotehan, Cerita, Curhat, Dakwah, Humor, Islam, Kisah Hikmah, Komunikasi, Manhaj, Pendidikan, Renungan, Umum | 46 Komentar

Kyai sepuh (KH. Irfan Hilmi)  pernah memberikan nasihat kepada kami para santrinya, bahwa dalam mengkabulkan doa hamba-Nya yang saleh dan dicintai-Nya, Allah akan memberikan apa yang dibutuhkan olehnya, bukan apa yang diinginkannya. Masih kata kyai sepuh, Allah mengetahui apa yang sebenarnya dibutuhkan manusia, sedangkan manusia hanya memiiki segudang keinginan tanpa tahu pasti apa sebenarnya yang dibutuhkan olehnya dalam hidup di dunia.

Oleh karena itu, apapun bentuk jawaban Allah terhadap doa-doa yang kita mohonkan kepada-Nya, selayaknya disyukuri dan diiringi prasangka baik terhadap-Nya. Sekali lagi, jika¬†Allah tidak mengkabulkan doa persis seperti apa yang kita minta¬†minta, hal tersebut bukan berarti Allah tidak menjawabnya. Allah menjawab setiap doa, namun dalam jawaban yang bentuknya ‚Äúlain‚ÄĚ.

Sebagai bahan perenungan, ada baiknya kita menyimak kisah di bawah ini.  *halah*  

Diriwayatkan bahwa nabi Musa AS memiliki ummat yang rata-rata berumur panjang dan  jumlah ummatnya sangat banyak. Sebagaimana layaknya sebuah bangsa, di antara ummat nabi Musa as. ada yang hidupnya berkecukupan, bahkan lebih, ada pula yang miskin.

Pada suatu ketika¬†Nabi Musa didatangi oleh seseorang yang miskin. Saking begitu miskinnya,¬† ia mengenakan pakain yang lusuh¬†dan compang-camping. Si miskin itu kemudian berkata kepada¬†Nabi Musa AS, ‚ÄúWahai¬†Nabiyullah Musa,¬†tolong sampaikan kepada Allah SWT permohonanku ini agar Allah SWT menjadikan aku orang yang kaya.‚ÄĚ

Nabi Musa AS tersenyum mendengar permintaan si miskin, kemudian berkata kepada orang tersebut, ‚Äúsaudaraku, perbanyaklah¬†bersyukur kepada Allah SWT.‚ÄĚ Si miskin tentu saja terkejut dengan jawaban Nabi Musa yang pendek itu. Dengan kesal ia berkata,¬†‚ÄĚBagaimana aku bisa¬†banyak bersyukur, sedangkan untuk sekedar makan saja aku kesulitan,¬† pakaian yang aku gunakan pun hanya satu lembar ini saja!‚ÄĚ. Akhirnya si miskin itu pulang tanpa mendapatkan apa yang diinginkannya.

Beberapa saat kemudian seorang kaya datang menghadap Nabi Musa AS. Orang tersebut bersih badannya juga rapi pakaiannya. Ia berkata kepada Nabi Musa AS, ‚ÄúWahai Nabiyullah, tolong sampaikan kepada Allah SWT permohonanku ini agar aku dijadikannya sebagai orang yang miskin, terkadang aku merasa terganggu dengan hartaku itu‚ÄĚ.

Nabi Musa AS pun tersenyum, lalu ia berkata, ‚Äúwahai saudaraku, mulai saat ini engkau jangan bersyukur kepada Allah SWT‚ÄĚ.

‚ÄúWahai Nabiyullah Musa,¬†bagaimana aku tidak bersyukur kepada Allah ‚ÄėAzza wa Jalla¬†telah memberiku mata yang dengannya aku dapat melihat. Telinga yang dengannya aku dapat mendengar. Allah SWT telah memberiku tangan yang dengannya aku dapat bekerja dan telah memberiku kaki yang dengannya aku dapat berjalan. Jadi bagaimana mungkin aku tidak mensyukurinya‚ÄĚ jawab si kaya itu.

Akhirnya si kaya itu pun pulang ke rumahnya. Selanjutnya apa yang terjadi? Yang kemudian terjadi adalah si kaya menjadi semakin kaya karena ditambahkan kenikmatannya oleh Allah SWT karena ia selalu bersyukur. Sedangkan  si miskin menjadi bertambah miskin. Allah SWT mengambil semua kenikmatan-Nya sehingga si miskin itu tidak memiliki selembar pakaianpun yang melekat di tubuhnya. Ini semua karena ia tidak mau bersyukur kepada Allah SWT.

Hikmah dari kisah ini adalah, seseorang yang mampu mensyukuri setiap nikmat yang telah Allah berikan kepada dirinya akan menjadikan dirinya sebagai orang yang dapat menikmati hidup. Sebaliknya, seseorang yang tidak mau bersyukur sama halnya dengan orang yang telah menjerumuskan dirinya kepada keadaan yang serba sulit dan menutup pintu rahmat Allah, lebih dari itu orang yang tidak pandai bersyukur akan menjadi orang yang sulit menikmati hidup, sekaya atau semiskin apapun hidupnya.

Wallahul muwaffiq ila aqwamiththoriq.

Tulisan ini saya dedikasikan *halah* untuk sahabat sekaligus guru saya:

  1. Prof. KH. Irfan Hilmi, pengasuh Pondok Pesantren  Darussalam Ciamis
  2. Semua yang tidak dapat saya sebutkan di sini karena keterbatasan ruang…

Ini mungkin postingan terakhir saya untuk sementara waktu. Beberapa minggu ini saya harus menunaikan tugas negara *halah* di sebuah pedalaman yang jauh dari peradaban; tidak ada listrik, telepon apalagi sambungan internet. Terimakasih sudah mau berbagi ilmu dan menjadi sahabat.

 

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.