TUHAN MEMBERI APA YANG KITA BUTUHKAN

Januari 20, 2008 pukul 11:08 am | Ditulis dalam Agama, Akhlak, Artikel, Celotehan, Cerita, Curhat, Dakwah, Humor, Islam, Kisah Hikmah, Komunikasi, Manhaj, Pendidikan, Renungan, Umum | 46 Komentar

Kyai sepuh (KH. Irfan Hilmi)  pernah memberikan nasihat kepada kami para santrinya, bahwa dalam mengkabulkan doa hamba-Nya yang saleh dan dicintai-Nya, Allah akan memberikan apa yang dibutuhkan olehnya, bukan apa yang diinginkannya. Masih kata kyai sepuh, Allah mengetahui apa yang sebenarnya dibutuhkan manusia, sedangkan manusia hanya memiiki segudang keinginan tanpa tahu pasti apa sebenarnya yang dibutuhkan olehnya dalam hidup di dunia.

Oleh karena itu, apapun bentuk jawaban Allah terhadap doa-doa yang kita mohonkan kepada-Nya, selayaknya disyukuri dan diiringi prasangka baik terhadap-Nya. Sekali lagi, jika Allah tidak mengkabulkan doa persis seperti apa yang kita minta minta, hal tersebut bukan berarti Allah tidak menjawabnya. Allah menjawab setiap doa, namun dalam jawaban yang bentuknya “lain”.

Sebagai bahan perenungan, ada baiknya kita menyimak kisah di bawah ini.  *halah*  

Diriwayatkan bahwa nabi Musa AS memiliki ummat yang rata-rata berumur panjang dan  jumlah ummatnya sangat banyak. Sebagaimana layaknya sebuah bangsa, di antara ummat nabi Musa as. ada yang hidupnya berkecukupan, bahkan lebih, ada pula yang miskin.

Pada suatu ketika Nabi Musa didatangi oleh seseorang yang miskin. Saking begitu miskinnya,  ia mengenakan pakain yang lusuh dan compang-camping. Si miskin itu kemudian berkata kepada Nabi Musa AS, “Wahai Nabiyullah Musa, tolong sampaikan kepada Allah SWT permohonanku ini agar Allah SWT menjadikan aku orang yang kaya.”

Nabi Musa AS tersenyum mendengar permintaan si miskin, kemudian berkata kepada orang tersebut, “saudaraku, perbanyaklah bersyukur kepada Allah SWT.” Si miskin tentu saja terkejut dengan jawaban Nabi Musa yang pendek itu. Dengan kesal ia berkata, ”Bagaimana aku bisa banyak bersyukur, sedangkan untuk sekedar makan saja aku kesulitan,  pakaian yang aku gunakan pun hanya satu lembar ini saja!”. Akhirnya si miskin itu pulang tanpa mendapatkan apa yang diinginkannya.

Beberapa saat kemudian seorang kaya datang menghadap Nabi Musa AS. Orang tersebut bersih badannya juga rapi pakaiannya. Ia berkata kepada Nabi Musa AS, “Wahai Nabiyullah, tolong sampaikan kepada Allah SWT permohonanku ini agar aku dijadikannya sebagai orang yang miskin, terkadang aku merasa terganggu dengan hartaku itu”.

Nabi Musa AS pun tersenyum, lalu ia berkata, “wahai saudaraku, mulai saat ini engkau jangan bersyukur kepada Allah SWT”.

“Wahai Nabiyullah Musa, bagaimana aku tidak bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla telah memberiku mata yang dengannya aku dapat melihat. Telinga yang dengannya aku dapat mendengar. Allah SWT telah memberiku tangan yang dengannya aku dapat bekerja dan telah memberiku kaki yang dengannya aku dapat berjalan. Jadi bagaimana mungkin aku tidak mensyukurinya” jawab si kaya itu.

Akhirnya si kaya itu pun pulang ke rumahnya. Selanjutnya apa yang terjadi? Yang kemudian terjadi adalah si kaya menjadi semakin kaya karena ditambahkan kenikmatannya oleh Allah SWT karena ia selalu bersyukur. Sedangkan  si miskin menjadi bertambah miskin. Allah SWT mengambil semua kenikmatan-Nya sehingga si miskin itu tidak memiliki selembar pakaianpun yang melekat di tubuhnya. Ini semua karena ia tidak mau bersyukur kepada Allah SWT.

Hikmah dari kisah ini adalah, seseorang yang mampu mensyukuri setiap nikmat yang telah Allah berikan kepada dirinya akan menjadikan dirinya sebagai orang yang dapat menikmati hidup. Sebaliknya, seseorang yang tidak mau bersyukur sama halnya dengan orang yang telah menjerumuskan dirinya kepada keadaan yang serba sulit dan menutup pintu rahmat Allah, lebih dari itu orang yang tidak pandai bersyukur akan menjadi orang yang sulit menikmati hidup, sekaya atau semiskin apapun hidupnya.

Wallahul muwaffiq ila aqwamiththoriq.

Tulisan ini saya dedikasikan *halah* untuk sahabat sekaligus guru saya:

  1. Prof. KH. Irfan Hilmi, pengasuh Pondok Pesantren  Darussalam Ciamis
  2. Semua yang tidak dapat saya sebutkan di sini karena keterbatasan ruang…

Ini mungkin postingan terakhir saya untuk sementara waktu. Beberapa minggu ini saya harus menunaikan tugas negara *halah* di sebuah pedalaman yang jauh dari peradaban; tidak ada listrik, telepon apalagi sambungan internet. Terimakasih sudah mau berbagi ilmu dan menjadi sahabat.

 

Resep Nasi Goreng Ala Saya

Januari 17, 2008 pukul 12:10 pm | Ditulis dalam Agama, Artikel, Celotehan, Curhat, Dakwah, Demokrasi, Humor, Islam, Kesehatan, Komunikasi, Manhaj, Mimpi, Pendidikan, Politik, Renungan, Resep Masakan Santri, Umum | 50 Komentar

2 mingguan ini, setiap kali saya membuka statistik tulisan, di kolom mesin pencari selalu ada tag “Resep Nasi Goreng”. Malah sempat dalam satu hari jumlahnya sampai 10 ekor buah. Saya baru sadar, hal ini kemungkinan besar karena saya pernah membuat postingan dengan judul “Resep Nasi Goreng Barokah, Insya Allah Mak Nyuus!”. Jadi, kalau ada Salafy Wahaby yang mencari resep nasi goreng di Google, oleh beliau diberikan alamat ke sini. Yah, Jadi merasa bersalah juga… 😯

Nah, untuk menebus rasa bersalah tersebut, serta mengobati penyakit wasir, kutil, panu, kadas, kurap, rorombeheun, ketombean rasa kecewa para pencari  resep nasi goreng tersebut, kali ini saya akan benar-benar menulis resep nasi goreng, tentunya nasi goreng ala Brad Pitt saya. Tapi sebelumnya, supaya lebih mudah memahami dan mudah mempraktekkannya, anda saya sarankan untuk  membaca pengantarnya terlebih dahulu.

Ok, langsung saja simak resep berikut ini baik-baik… *halah*.

Resep ini untuk porsi 4 orang yang kalau makan secukupnya, tidak gembul dan tidak rakus. :mrgreen: Oh ya, barangkali ada yang bertanya, kenapa hanya untuk porsi 4 orang? Bukan 5 atau kalau bisa buat 100 orang? Jawabnya tidak lain adalah, karena dalam Islam berpoligami hanya dibatasi sampai 4 orang istri saja.  Jika lebih maka hukumnya haram, status pernikahannya -yang kelima- fasakh dan tentu saja dilaknat. Maka apabila dirasa tidak akan mampu berlaku adil, maka cukuplah bagimu satu istri saja!

*benerin kopyah, plintir tasbeh*

Bahan-bahan dasar dan bumbu yang harus dipersiapkan:

  1. Nasi putih secukupnya untuk 4 orang
  2. 2 sendok makan margarin, kalau bisa mereknya Blueband :mrgreen:
  3. Minyak jelantah kelapa bebas kolesterol secukupnya
  4. 2 sendok makan gula dilarutkan dengan air (untuk penguat rasa, pengganti MSG)
  5. 4 butir telur buaya ayam
  6. Kecap secukupnya, kalau bisa mereknya Cap Bango :mrgreen:
  7. 200 gram daging ayam yang telah matang, diiris atau potong dadu
  8. 60 gr kacang polong yang sudah dimasak
  9. 100 gram udang air tawar ukuran kecil, dikupas kulitnya dan dipotong kecil
  10. 1 buah tomat ukuran sedang
  11. 4 siung bawang merah
  12. 2 siung bawang putih
  13. 5 biji muncang
  14. 2 Cabe merah
  15. 1 “buku” Kunyit
  16. JIka suka pedas, tambahkan cabe rawit satu kilo sesuai selera

Cara Membuat:

  1. Bumbu-bumbu (bawang merah, bawang putih, kunyit, tomat, cabe merah, muncang) diulek -direndos, sunda pen.- sampai halus. Sekedar tips sederhana saja: Dengan cara diulek -bukan ditumis seperti biasanya- bumbu akan bercampur secara lebih sempurna sehingga menciptakan citarasa yang sempurna pula.
  2. Panaskan -dengan api sedang- minyak kelapa dan margarin bersamaan, setelah cukup panas masukkan bumbu yang telah diulek sampai warnanya menua dan tercium aroma harum. Masukkan telur kemudian aduk hingga mengembang sampai setengah matang
  3. Masukkan nasi putih, aduk sampai bumbunya merata. Agar nasi goreng tidak terasa keras, beri air putih secukupnya. Tidak perlu khawatir, air tidak akan membuat nasi menjadi lembek, karena akan menguap dengan sendirinya.
  4. Masukan daging ayam, udang, kacang polong. Beri garam secukupnya, dan jangan lupa gula cairnya. Campuran gula putih, garam dan bawang akan menghasilkan citarasa kuat seperti MSG. Terakhir, beri kecap secukupnya.
  5. Sesaat sebelum diangkat, tambahkan daun bawang, aduk rata. Angkat, dan silahkan disajikan!

Mix fruit juice cukup pantas disandingkan sebagai minuman segar penutup. Oke saudara, tetap sehat, tetap semangat, agar kita bisa jalan-jalan terus di… Wisata Kuli WordPress. Yang penting… Semua Blogger Basodara.!

Maaf Kyai, Honornya Berapa Kalau Ceramah?

Januari 14, 2008 pukul 8:58 am | Ditulis dalam Agama, Artikel, Celotehan, Dakwah, Humor, Islam, Komunikasi, Manhaj, Mimpi, Pendidikan, Pesantren Pondok Iqra', Public Speaking, Renungan, Umum | 77 Komentar

Sebelumnya saya mohon sedekahnya maaf kalau-kalau ada yang merasa kurang sreg dengan postingan ini. Insya Allah tidak ada sedikitpun hasrat seksual dan maksud untuk mencemooh, mendiskreditkan apalagi merendahkan para dai dan muballigh. Ini murni pengalaman pribadi, sekaligus kegelisahan yang menggelayuti hati saya bertahun-tahun, dan belum tercerahkan jua. *halah*

Masih sebagai pengantar dan catatan, mohon diingat baik-baik kalau saya bukan Kyai Slamet sungguhan dan juga tidak merasa Kyai. Hanya saja kadang ada orang iseng yang manggil saya Brad Pitt kyai. Saya juga bukan Dai kondang, cuma kebetulan saja, lagi-lagi suka ada orang iseng yang mengundang saya untuk sedikit berakting bicara agama.

Biasanya pertanyaan seperti pada judul postingan di atas diungkapkan oleh “utusan panitia” dengan penuh hati-hati, sambil masam-mesem dan diringi permohonan maaf, takut kalau pertanyaan seperti ini menyinggung atau setidaknya dianggap tidak pantas oleh saya. Mereka yang mengundang, sebenarnya juga maklum kalau pertanyaan seperti ini kurang sopan untuk diajukan. Tapi toh akhirnya mereka memaksakan diri juga untuk bertanya, daripada nantinya jadi serba salah ketika memberikan sekedar 10 juta ongkos transportasi; singkatnya takut kekecilan atau mungkin juga takut kebesaran :mrgreen:

Saya masih bisa memaklumi pertanyaan seperti ini, sekalipun saya sendiri sebenarnya tidak pernah merasa siap ketika diberi pertanyaan macam beginian. Namun, jauh di dalam lubuk hati saya yang paling dalam *halah*, saya merasa ada sesuatu yang salah dengan semua ini dan cukup mengganjal. Inilah yang saya maksud dengan kegelisahan yang menggelayuti hati saya bertahun-tahun, dan belum tercerahkan jua.

Ada beberapa point yang menjadi perenungan dan kegelisahan saya:

  1. Pertanyaan mengenai besaran honor sangat memancing timbulnya thoma atau mengharapkan balasan berupa materi atas perbuatannya (dalam hal memberikan ceramah agama). Ini tentu saja sangat mengganggu hati saya ketika berniat. Sebagai ilustrasi saja, pada suatu ketika, ada seorang muballig yang kebetulan tengah membutuhkan sejumlah uang untuk suatu keperluan. Karena sedang tidak memegang uang cash, akhirnya si muballig memberanikan diri untuk meminjam uang kepada temannya. Alhamdulillah, temannya memberikan pinjaman sejumlah yang dibutuhkan si muballig. Sewaktu ditanya kapan bisa mengembalikan uangnya, si muballig menjawab, “insya Allah, hari Senin besok.” Temannya bertanya kenapa yakin kalau hari senin sudah bisa mengembalikan, nah… si muballig menjawab dengan yakin, “Pan ana kebetulan ada jadwal ngasih ceramah hari minggunya…” :mrgreen: 
  2. Menerima imbalan berupa uang atau apapun setelah memberikan ceramah memang wajar, namun ketika yang muncul ke permukaan adalah bahwa ustadz anu “tarif”-nya segitu, kyai anu “ongkosnya” segini, muballig anu “uang dapur”nya sekian, yang terjadi seolah-olah komersialisasi agama. Bagi pengundang yang memiliki sumber dana besar, mungkin tidak masalah. Lha kalau yang ingin mengundangnya seret pendanaan, apa harus jadi tidak jadi menggelar pengajian atau tablig di tempatnya? 😥
  3. Saya seringkali merasa bahwa kita ummat Islam, saat ini cenderung lebih senang menjadi “kaum pendengar” daripada menjadi “kaum pelajar”. Ketika digelar tablig akbar, masyarakat akan datang berduyun-duyun. Namun pengajian rutinan untuk belajar agama dari dasar, sepertinya semua punya alasan untuk tidak datang. Mungkin, kalau mendengar ceramah nyaris tidak ada beban apa-apa selain duduk dan mendengarkan. Beda halnya dengan “belajar beneran”, terasa membosankan, cape, malu (karena takut disuruh sama gurunya), harus berfikir lebih ekstra dan tidak ramai seperti tablig akbar. Kalau kondisi seperti ini berlarut-larut, entah akan seperti apa wajah kita sebagai ummat.

Ah, sekali lagi… ini hanya kegelisahan saya saja…   

Hasil Mukernas: Usung Suharto dan Gus Dur Sebagai Capres dan Cawapres 2009

Januari 6, 2008 pukul 12:04 pm | Ditulis dalam Agama, Artikel, Celotehan, Dakwah, Demokrasi, Islam, Komunikasi, Manhaj, Mimpi, Pendidikan, Politik, Renungan, Umum | 44 Komentar

Musyawarah Kerja Nasional I PBI baru saja usai malam tadi. Tepat pada pukul 23.00 mukernas partai yang berlangsung selama 3 hari di Hotel Melati 2 Bandung akhirnya resmi ditutup dengan tiga ketukan palu pimpinan sidang dan ucapan hamdallah. Raut muka puas terpancar dari wajah-wajah para peserta mukernas, sekalipun kelelahan tampak .

Salahsatu keputusan penting dari Mukernas I Partai Blog Indonesia (PBI) adalah rekomendasi untuk memperjuangkan H. Muhammad Suharto dan KH Abdurrahman Wahid sebagai calon presiden dan calon wakil presiden dalam pemilihan umum presiden 2009 mendatang.

Selain itu, Mukernas merekomendasikan DPP segera melakukan tindakan organisatoris kepada pengurus PBI di semua tingkatan, anggota-anggota F-BI (Fraksi Blog Indonesia) di DPR dan DPRD, serta pengurus badan otonom yang menolak hasil keputusan mukernas untuk mengusung dan memperjuang HM Suharto dan KH. Abdurrahman Wahid sebagai capres dan cawapres pada pemilihan presiden 2009 yang akan datangi. Tindakan organisatoris yang dimaksud dapat berupa teguran keras sampai pemecatan secara sangat tidak terhormat.

Keputusan mukernas untuk mengusung dan memperjuang HM Suharto dan KH. Abdurrahman Wahid sebagai capres dan cawapres ini bukan tanpa alasan. Dipilihnya kedua mantan presiden ini didasarkan pada penilaian objektif dan history.

HM Suharto dinilai masih sangat layak untuk memimpin bangsa ini. Pengalamannya menjadi presiden selama 32 tahun, di samping kharisma dan pengaruhnya yang mengakar di tubuh TNI, diyakini akan sangat berpengaruh baik serta membantu recovery ekonomi, sosial dan politik negeri ini. Pembawaannya yang kalem, tidak banyak bicara namun tegas dan simpatik merupakan kelebihan beliau di bandingkan para pemimpin lainnya di Indonesia.   

Sejarah perjalanan bangsa ini ketika dipimpin HM Suharto juga membuktikan bahwa beliau adalah pemimpin yang mumpuni. Pertumbuhan ekonomi di awal era Orde Baru, sebetulnya patut diacungi jempol. Jika toh sekarang rezim Soeharto dituding hanya mewariskan utang bertumpuk-tumpuk atau sisa kebobrokan sistem ekonomi mikro dan makro yang menyesakkan, pemerintah Orde Baru ternyata pernah menyelamatkan bangsa ini dari gelombang kehancuran.

Laju inflasi menjelang peristiwa G-30-S/PKI contohnya, bisa dibilang edan. Jangan kaget, indeks biaya hidup tahun 1960 sampai tahun 1966, naik 438 kali! Harga beras naik 824 kali! Harga tekstil naik 717 kali! Nah, sementara harga-harga itu mengganas, nilai rupiah sekarat dari Rp.160 saja menjadi Rp.120 ribu!

Itu semua agaknya menjadi bukti ilustratif betapa malapetaka yang menghantam bangsa Indonesia saat itu demikian dahsyat. Belum lagi persoalan ekonomi yang mencabuti satu per satu ajal rakyat Indonesia ini masih harus dipinggirkan oleh drama pergulatan politik nasional. Selepas pecahnya gerakan 30 September, panggung politik nasional memang diwarnai intrik-intrik dahsyat merebut tampuk kekuasaan pemerintah.

Di tengah pergulatan elit politik nasional, penanganan masalah ekonomi terpaksa menempuh cara-cara politis. Maklum dua kekuatan besar — kelompak komunis dan anti-komunis (digalang ABRI) — sama-sama bertarung menunggu tongkat estafet kekuasaan dari Presiden Soekarno. 

Pada awal-awalnya, menurut ekonom Emil Salim dan Frans Seda, pemerintahan Orde Baru diakui cukup progresif. Pemerintahan yang dikomandoi Pak Harto ini mampu memadukan semua komponen masyarakat dalam mengatasi persoalan bangsa. Di bidang ekonomi, para ekonom dari FE-UI di antaranya, dapat dirangkul dalam menyumbangkan konsep alternatif untuk memulihkan perekonomian nasional.

Misalnya saja sanering rupiah atau menghapus tiga nol di balik angka ribuan tanpa mengusahakan rencana pengendalian defisit anggaran. Meski dinilai konyol, langkah politis-ekonomis ini efektif menerapkan tujuan ganda: memulihkan ekonomi sekaligus mengurangi kontrol kelompok PKI yang menggondol kantung-kantung rupiah. Kecuali itu, upaya lain yang sempat digalang kelompok ekonom adalah membuat alternatif seperti menaikkan harga bensin atau tarif angkutan umum, serta menaikkan gaji pegawai negeri.

Jurus para ekonom yang diakomodir pemerintahan Orde Baru itu, paling tidak mampu menyusun program rehabilitasi dan stabilisasi ekonomi yang cukup komprehensif. Ada lima jurus yang dianggap manjur. Pertama, pengendalian inflasi melalui kebijakan anggaran berimbang, dan kebijakan moneter ketat. Kedua, pencukupan kebutuhan pangan. Ketiga, pencukupan kebutuhan sandang. Keempat, rehabilitasi berbagai sarana dan prasarana ekonomi. Kelima, peningkatan ekspor dengan mengembalikan share sepenuhnya pada eksportir.

Kebijakan jitu lainnya yang digulirkan pemerintah saat itu adalah deregulasi dan debirokratisasi (Paket 10 Februari dan 28 Juli 1967, dan seterusnya). Pemerintah juga membuka diri untuk penanaman modal asing, meski dilakukan secara bertahap.

Hasilnya, laju inflasi mulai jinak. Dari kisaran angka 650 persen (tahun 1966), melunak jadi 100 persen (1967), turun lagi 50 persen (1968), bahkan terkendali di bilangan 13 persen (1969). Ini prestasi yang diraih pemerintah pada saat itu.

Adapun KH Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal Gus Dur dinilai paling pas untuk mendampingi HM Suharto sebagai wakil presiden. Inipun bukan tanpa alasan.

Gus Dur adalah presiden Indonesia pertama yang terpilih secara demokratis. Gus Dur berhasil menunjukkan contoh pemerintahan yang mendengarkan rakyat, Istana yang terbuka, dan presiden yang demokratis. Itu terbukti dengan kasus Imlek bagi masyarakat Cina di Indonesia. Sementara, di Dili Gus Dur sempat meminta maaf atas segala kengerian yang terjadi di sana.

Di balik kelemahan fisiknya -kemampuan penglihatan yang kurang serta penyakit stroke yang membahayakan- Gus Dur adalah sosok yang punya banyak daya tarik. Dalam pemikirannya ia mampu menggabungkan dunia Islam yang tradisional dengan dunia modern, bahkan dunia Barat. Pemikiran semacam itu disebut sebagai: Merambah jalan menuju masa depan.

*wekker berbunyi nyaring….!* Ternyata sudah jam 05.30….! Terpaksa salat subuh kesiangan… Mimpi rupanya… sekali lagi, maaf ternyata cuma mimpi buruk tho! :mrgreen:

Selesai salat subuh kesiangan, saya masih menyempatkan diri untuk membaca surat Yaa Siin dan berdoa untuk pak Harto. Semoga beliau segera diberikan kesembuhan atas sakitnya. Kalau sembuh? Ya biar beliau bisa menjalani proses pengadilan secara baik dan fair. Agar tidak terombang-ambing seperti sekarang… Kasihan beliau, kasihan keluarganya, kasihan juga bangsa ini…

:mrgreen:

 

Suami Bakhil bin Kikir?

Januari 3, 2008 pukul 1:39 pm | Ditulis dalam Agama, Artikel, Dakwah, Islam, Komunikasi, Manhaj, Pendidikan, Renungan, Umum | 22 Komentar

Siapapun tidak akan suka jika disebut sebagai orang bakhil atau kikir. Bahkan ” si mbahnya” bakhil atau yang sudah nyata-nyata bakhil juga akan tersinggung bila disebut orang bakhil atau kikir. Kalaupun ada orang yang menyentil sikapnya yang bakhil, ia akan berujar, “saya bukan kikir, tapi hemat. Bukan perhitungan kalau mengeluarkan harta, tapi cermat.” 8)

Ungkapan bakhil biasanya identik dengan masalah harta dan kekayaan. Kebanyakan yang berperilaku bakhil adalah mereka yang memiliki harta atau kekayaan. Adapun orang miskin, bisa dibilang tidak mungkin bersikap bakhil, karena memang tidak ada yang perlu dibakhilkan :mrgreen:

Secara bahasa, bakhil bisa berarti kikir, pelit. Menurut al-Jahiz, bakhil pada dasarnya adalah sifat yang disandangkan kepada orang dewasa yang waras alias tidak gila dan memiliki harta. Anak-anak, orang gila dan orang miskin tidak dapat disebut sebagai orang yang bakhil.

Ada ulama yang mendefinisikan bakhil sebagai sifat atau perbuatan seseorang yang tidak mau mengeluarkan atau menyisihkan sebagian harta yang dimilikinya untuk orang lain.

Saya pribadi mendefinisikan bakhil sebagai suatu perbuatan di mana seseorang tidak mau mengeluarkan atau membelanjakan (menafkahkan) hartanya untuk nafkah yang bersifat wajib dan atau sunnah. Yang saya maksudkan dengan nafkah wajib itu adalah; (1)mencukupi kebutuhan dirinya sendiri dan keluarga baik yang bersifat primer (sandang, pangan, papan, pendidikan dan kesehatan), sekunder maupun tersier (bagi yang mampu), (2)  memenuhi  kewajiban agama yang bersifat khusus seperti zakat, infak, sedekah, qurban, menunaikan ibadah haji dan bentuk-bentuk ibadah yang di dalamnya terdapat nilai biaya untuk menunaikannya.

Tulisan kali ini akan difokuskan pada persoalan sifat bakhil pada seorang suami atau kepala rumah tangga. Dari definisi bakhil di atas, maka jelas jika seorang suami tidak mau (bukan tidak mampu) menafkahi istrinya, ia pantas menyandang gelar bakhil karena dipandang enggan mengeluarkan nafkah yang bersifat wajib (karena menafkahi istri hukumnya wajib). Adapun suami yang tidak mampu menafkahi istrinya karena satu dan lain hal, ia tidak dikategorikan sebagai suami yang bakhil.

Secara garis besar, nafkah kepada istri terbagi kepada dua bentuk; Nafkah lahir dan nafkah batin.

Nafkah lahir adalah nafkah dalam bentuk materi seperti yang diulas sedikit di atas, yaitu pembelanjaan harta untuk memenuhi kebutukan akan sandang, pangan, papan, pendidikan dan kesehatan. Bahkan menurut imam Hanafi, bagi seorang suami yang memiliki kemampuan secara materi atau katakanlah berkelebihan harta, ia juga diwajibkan memenuhi kebutuhan istrinya yang bersifat tersier seperti membelikan perhiasan, pakaian yang bagus, makanan yang lezat serta buah-buahan (catatan: di jazirah Arab, dahulu buah-buahan termasuk dalam kategori makanan mewah) dan rekreasi.

Adapun bentuk nafkah batin kepada istri di antaranya adalah memberikan kepuasan secara seksual, menyenangkan hatinya dengan sikap yang baik, menghormati dan menghargainya serta memberikan ketenangan secara kejiwaan. Membimbing, mendidik agama dan mensalehkan istri juga termasuk ke dalam bentuk nafkah batin.

Ternyata, kebakhilan suami bukan saja dalam bentuk lahir atau materi. Suami yang mahal senyum, tidak mau bercanda, enggan memanjakan istri, tidak mau mengajari agama dan menyenangkan hati istrinya adalah suami yang bakhil secara batin.

 

Untuk para istri: Nah, kira-kira suami anda bakhil bin kikir tidak?

Untuk para suami: Kita (karena saya juga seorang suami :mrgreen: ) sudah menafkahi istri kita secara baik atau belum? kalau belum, jangan-jangan kita termasuk orang yang bergelar S.BK, alias suami bakhil bin kikir…

*halah… kok bikin postingan beginian*

*bersiap dilempar durian*

*ngumpet*

8)

Wassalam

 

Astaghfirullah! Menuntut Ilmu Selain “Ilmu Syar’i” Saja Sampai Dianggap Berdosa

Desember 23, 2007 pukul 2:55 pm | Ditulis dalam Agama, Artikel, Dakwah, Islam, Komunikasi, Manhaj, Pendidikan | 42 Komentar

Bismillaahirrahmaanirrahim.

Ketika Dora Emon CS “disesatkan” dalam banyak postingan sekubu, saya masih agak bisa memaklumi pandangan tersebut, paling tidak dalam tinjauan manfaat dan madarat, sekalipun secara pribadi saya menilainya sebagai sesuatu yang sangat relatif.

Akan tetapi, beberapa menit sebelum menuliskan postingan ini saya menemukan iftitah (pembukaan atau pengantar) dalam beberapa “blog” yang membuat kening saya berkerut sampai kepala saya tidak berbentuk kepala sebagaimana mestinya, karena yang terlihat hanya kerutannya saja.  

Saya membaca kata pengantar yang isinya kurang lebih menyatakan jika yang bersangkutan bertaubat kepada Allah SWT karena “MENUNTUT ILMU YANG GHOIRU SYAR’I DI SEBUAH PERGURUAN TINGGI…”. Pernyataan “bertaubat” atas illat “menuntut ilmu yang ghoiru syar’i” itulah yang saya persoalkan. Karena ketika seseorang mentaubati sesuatu yang telah dikerjakannya, maka ia menyadari bahwa perbuatannya tersebut salah, berdosa dan dibenci oleh Allah Azza Wajalla, sehingga ia merasa harus bertaubat.

Pertanyaan saya adalah, “Ilmu Ghoiru Syar’i” atau ilmu yang selain syariat itu apa saja, dan mengapa dihukumi sebagai ilmu yang mengakibatkan dosa jika mempelajarinya? Saya juga mempertanyakan hal ini kepada yang bersangkutan (bukan hanya satu orang, namun 3 situs), sayang semuanya dimoderasi.

Saya khawatir jika yang dimaksud dengan ilmu ghoiru syar’i itu adalah ilmu yang selain kajian ilmu agama (syariat), seperti halnya biologi, fisika, kimia, matematika, sospol, komunikasi, perpajakan, keuangan dan lain sebagainya. Kalau yang dimaksud adalah ilmu santet, teluh, sihir dan perdukunan saya setuju, tapi setahu saya tidak ada perguruan tinggi apalagi yang ‘ikatan dinas” yang membuka fakutas Dukunologi Jurusan Sihirulogi dan Teluhulogi!

Pantas pula jika saya sering mendengar ungkapan dari sebagian “mereka” bahwa belajar dengan sistem strata lalu mendapatkan gelar kesarjanaan termasuk hal yang bid’ah.  Astagfirullaahal ‘adziim, sebegitu jumudkah akal fikirannya? Saudara bisa terbang menuntut ilmu ke Arab Saudi juga berkat ‘jasa” para ilmuwan yang mempelajari fisika, matematika dan cabang ilmu yang lainnya.

Saya cuma mengelus dada dan bergumam pelan… “keterlaluan..”

Ulama Bijak Versus Ulama Busuk

Desember 23, 2007 pukul 9:38 am | Ditulis dalam Agama, Artikel, Dakwah, Humor, Islam, Komunikasi, Manhaj, Pendidikan, Renungan, Umum | 13 Komentar

Hatim al-Asham bukan nama asing dalam khazanah tasawuf. Konon, gelar al-Asham (orang tuli) yang disandangnya melekat akibat peristiwa dalam salahsatu majelisnya, dimana seorang wanita -maaf- buang angin di depannya tanpa sengaja. Hatim yang bijak berpura-pura tidak mendengar dan melanjutkan ceramahnya. Hatim adalah ulama yang amat disegani. Wibawanya memancar karena kezuhudan, ketekunan ibadah dan pembelaannya terhadap rakyat kecil.

Suatu ketika ia dikabari tentang adanya seorang ulama masyhur yang hidup bergelimang kemewahan. Sudah rahasia umum, kekayaan dan kemewahan ulama tersebut diperolehnya karena “pengabdiannya” pada raja. Sang ulama tidak pernah sekalipun mengingatkan rajanya, sekalipun sang raja telah nyata-nyata berlaku zalim dan menyalahi aturan-aturan Allah SWT. Hatim lalu merasa tergugah untuk meluruskannya.

Sesampainya di rumah megah sang ulama, ia bergumam, “Inikah sosok pewaris Nabi?” Lalu diketuknya pintu rumah dan meminta izin bertemu dengan sang ulama. Dilihatnya isi rumah dipenuhi dengan perabotan mahal dan sang ulama sendiri tengah berbaring di atas ranjang empuk, dikipasi bujang-bujangnya.

Guru, ajarkan saya cara wudhunya Rasulullah“, pinta Hakim kemudian.

Di atas ranjang, sang ulama lalu mencontohkan cara berwudhu. Hatim menirunya dengan sedikit perbedaan. Sang ulama menegur, “Basuhlah sebanyak tiga kali, jangan lebih karena itu merupakan tabdzir (pemborosan)“.

Beroleh kesempatan, Hatim menukas lantang, “Guru, anda beroleh ilmu ini dari tabi’in, tabi’in dari sahabat, dan sahabat dari Rasulullah. Pernahkah beliau mengajarkan hidup boros dan mewah seperti ini? Jika Guru  berkata kelebihan satu basuhan saja dianggap tabdzir, lalu bagaimana dengan semua kemewahan ini?

Hujjatul-Islam Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin membagi ulama dalam dua kelompok: ulama al-akhirah (ulama baik) dan ulama al-suu’ (ulama busuk). Menurut beliau, salahsatu ciri yang membedakan keduanya adalah kedekatan dan pengabdian buta pada penguasa dan kekuasaan.

Nabi SAW bersabda, “Ulama adalah kepercayaan para Rasul selama tidak bercampur dengan penguasa dan larut dalam kehidupan duniawi. Jika mereka bercampur dengan penguasa dan larut dalam dunia, sungguh mereka telah mengkhianati para Rasul. Jauhi dan berhati-hatilah dengan mereka”.

GENERASI OPTIMIS DAN KEWIRAUSAHAAN

Desember 22, 2007 pukul 8:48 am | Ditulis dalam Agama, Artikel, Dakwah, Islam, Komunikasi, Manhaj, Pendidikan, Renungan, Umum | 10 Komentar

Berbeda dengan rekan-rekan semasa kuliahnya yang berebut posisi di perusahaan-perusahaan multinasional di Jakarta, ada seorang gadis -sebut saja Lia Rozenesia :mrgreen: – memilih pekerjaan bergaji “minim” di sebuah perusahaan menengah di Bandung. Hal ini tentu sangat disayangkan oleh teman-temannya, juga keluarganya.

Pekerjaan bergengsi dan bergaji besar di Bandung memang langka. Cabang perusahaan multinasional yang berada di Bandung biasanya menempatkan para manager atas kebijakan dari pusat di Jakarta. Apakah ada alasan-alasan irrasional di balik keputusannya itu?

“Mungkin juga”, katanya suatu ketika saat berbincang dengan temannya, “dari dulu saya ingin sekali tinggal di Bandung. Sayang, sulit sekali meminta penempatan di Bandung”. “Jadi hanya karena alasan sederhana itu?” Tanya temannya keheranan. “Coba lihat koran lokal ini. Bisa tidak kamu temukan iklan lowongan pekerjaan yang menawarkan posisi manager ke atas?”

“Jumlah iklannya memang banyak sekali. Hanya saja, hampir semuanya menawarkan posisi-posisi menengah dan gaji yang minim. Ini menandakan bahwa lapangan kerja di Bandung memang sempit sekali, seharusnya kamu tidak memilih bekerja di Bandung” Lanjut temannya menyarankan.

Pembaca yang budiman, dicecar pertanyaan dan argumentasi temannya, Nona Rozenesia menjawab sambil memandang dengan mimik serius. “Pandanganmu kok sempit begitu? Buatku, lapangan kerja sempit berarti lahan bisnis yang luas. Itulah alasan sebenarnya aku ingin tinggal di Bandung. Sambil bekerja, aku sekalian mempelajari potensi bisnis yang bisa dilakukan di Bandung”. Bravo!

Entrepreneurship (kewirausahaan) memang sesuatu yang masih jarang dimiliki oleh generasi muda kita. Cara berpikir muda-mudi kita masih sangat pragmatis; segera mendapat karier yang baik dan bergaji besar, menabung untuk biaya menikah, rumah dan kendaraan, menabung lagi untuk sekolah anak, dan akhirnya, menabung lagi untuk hari pensiun yang santai.

Jelas, hal itu menunjukkan bahwa visi generasi muda kita dalam bekerja bekerja agar bisa pensiun. Berbeda dengan para entrepreneur (wirausahawan). Bagi mereka, kelangsungan hidup perusahaan adalah hal yang paling utama, bahkan lebih penting dari profit. Di zaman baru ini, tujuan perusahaan adalah berusaha tetap exist dan tumbuh terus. Itulah yang membedakan mereka dengan para pekerjanya. Pebisnis bekerja agar bisa terus bekerja.

Dari banyak diskusi yang saya lakukan dengan para sarjana, saya melihat satu hal. Orang kita cenderung malas untuk memulai sesuatu dari nol. Lebih mudah memang, meneruskan apa yang sudah mapan ketimbang mendesain produk, menciptakan pasar, menjalin jaringan, mengumpulkan relasi dan mencari sumber pendanaan.

Satu lagi yang sering terlewatkan oleh banyak analis dan pengamat ekonomi, adalah keengganan kita untuk berbeda. Jujur saja, kita sering merasa minder bila memulai sesuatu bisnis, setelah menyerah dalam usaha mencari kerja. Ketika seorang sarjana membuka toko kelontong, misalnya, kepada teman-teman sealmamater ia akan mengaku masih menganggur.

Memang, rasanya seperti “telanjang” bila kita tidak memiliki label ‘sudah bekerja’. Kita lebih suka bekerja part time dengan gaji di bawah UMR ketimbang itikurih merintis bisnis sendiri. Paling tidak, terkesan keren sekali ketika mengaku sebagai ‘karyawan di PT anu’ kepada calon mertua.

Apa yang dipikirkan oleh kebanyakan kita orang Indonesia? Kita rela membayar agar bisa bekerja, seakan tenaga dan kemampuan kita tidak ada nilainya. Orang tua para sarjana kita rela memberikan uang Rp. 30-40 juta agar anaknya bisa bekerja di instansi-instansi tertentu. Ironis, resiko tertipu oknum tidak dianggap sebagai sesuatu yang perlu diperhitungkan. Lain cerita ketika sang anak meminta pinjaman beberapa juta rupiah untuk modal usaha. Kening orang tua biasanya akan langsung berkerut! 😥

Saya teringat akan satu ungkapan di satu edisi National Geographic, yang mencerminkan optimisme bangsa Amerika terhadap masa depan ekonomi mereka. Thank God we still have one inexhaustible resource, the spirit of enterprise. Sampai semangat itu berhasil kita hayati, saya khawatir kita akan terus terpuruk sebagai bangsa pesimis.

Begitu kira-kira…

Kalau Saya Mati Duluan, Apa Kamu Akan Kawin Lagi?

Desember 16, 2007 pukul 12:40 pm | Ditulis dalam Agama, Artikel, Humor, Islam, Komunikasi, Pendidikan | 47 Komentar

Begitu kira-kira pertanyaan yang terkadang disampaikan -sebagian- suami kepada istrinya. Sebaliknya juga demikian, pertanyaan serupa mungkin diajukan seorang istri kepada suaminya tercinta. Terlebih mereka yang sedang dimabuk kasmaran dan dibuai oleh sensasi cinta. Apakah anda juga pernah iseng menanyakan hal yang sama kepada pasangan anda? 

Jawaban yang ingin anda dengar tentu adalah “tidak”, atau setidaknya gelengan kepala sebagai bahasa tubuh yang mengisyarakan komitmen untuk tidak mencintai, dicintai, dimiliki dan memiliki orang lain selain anda seorang, bahkan ketika anda terlebih dahulu meninggalkan alam fana ini. Bayangkan kalau jawaban yang meluncur dari bibir pasangan anda adalah “gak tahu..” atau hanya diam tidak menjawab? Alih-alih mendengar jawaban selain tidak, sekiranya jawaban “tidak akan…” diiringi dengan kalimat “insya Allah”, itu sudah cukup membuat anda tidak senang. lalu terbakarlah hati anda dengan buncahan api cemburu….

Pertanyaan macam ini sangat lumrah. Saya menilainya sebagai sebuah refleksi yang lahir dari hasrat untuk mencintai, dicintai dan memiliki pasangannya, tidak hanya ketika di dunia, namun sampai di akhirat kelak. Ya, kurang lebihnya seperti lantunan Rita Sugiarto dalam senandung dangdut berjudul Pacar Dunia Akhirat.

Lalu, apakah salah jika kita memiliki hasrat untuk memiliki pasangan kita selama-lamanya? Agama tidak memandangnya sebagai sesuatu yang salah. Bukankah Allah SWT telah memberikan gambaran bahwa pasangan-pasangan suami istri yang beriman akan masuk ke dalam surga dan bercengkrama di dalamnya bersama-sama.

Hanya saja, yang harus difahami adalah bahwa realita hidup tidak selamanya memberikan apa yang kita ingingkan. Untuk memahaminya, saya mencoba menceritakan sebuah kisah.

Ada seorang pria sukses. Selain tampan ia juga dikenal sebagai seorang jutawan dengan beragam jenis perusahaan yang dimilikinya. Rumah bagus, mobil mewah, pakaian mahal, tanah yang luas dan deposito di Bank semuanya ada.

Pada suatu ketika, ia bertemu dengan seorang gadis berkerudung nan cantik rupawan, cerdas, keibuan dan berkepribadian mulia dalam sebuah kesempatan acara pemberian santunan untuk fakir miskin dan yatim piatu di sebuah yayasan. Lalu jatuh hatilah ia kepada gadis tersebut. Lagi pula, pria mana yang tidak akan tertikam oleh pesona perempuan seperti itu?

Rupanya, cinta sang jutawan tidak bertepuk sebelah tangan. Sang gadis pun menerima dan membalas cintanya. Selang satu bulan kemudian, digelarlah acara pernikahan yang meriah. Keduanya mengikatkan diri dalam sebuah mahligai rumah tangga. Akhirnya, resmilah mereka berdua sebagai pasangan suami istri.

Begitu besarnya cinta sang jutawan kepada istrinya, sedetikpun ia tidak mau jauh dari sang istri.

Hari berganti hari, malam berganti malam. Bulan dan tahun tidak terasa berjalan…. 

Hari-hari yang dilaluinya menjadi semakin penuh warna dan indah. Tidak hanya bertabur gemerlap harta dan kekayaan, namun juga dipenuhi dengan cinta istrinya.

Pada suatu malam, ketika pasangan muda ini bersiap untuk tidur diperaduan, sang jutawan bertanya kepada istrinya, “Sayangku, sekiranya aku meninggal besok atau entah kapan, apakah engkau akan tetap mencintaiku?”. Istrinya menjawab dengan wajah bersemburat mesra, “Tentu suamiku, aku akan mencintaimu sampai kapanpun, bahkan ketika ajal memisahkan kita. Aku hanya milikmu seorang, istrimu di dunia dan di akhirat”. Tenanglah hati sang jutawan demi mendengar jawaban ini. Kemudian terlelaplah keduanya dibuai oleh mimpi indah tentang cinta sejati dan kasih sehidup semati.

Keesokan paginya, dengan sangat berat hati sang jutawan berpamitan kepada istrinya untuk menyelesaikan urusan bisnis di luar kota.

Untung tak bisa diraih, malang tak dapat ditolak. Di tengah perjalanan sang suami mengalami kecelakaan fatal sampai merenggut nyawanya. Kendaraannya bertabrakan dengan bus dalam kecepatan tinggi.  

Remuk redamlah hati sang istri ketika mendengar kabar kecelakaan yang menimpa suaminya. Seakan tidak percaya, jika suami yang amat ia cintai telah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya. Padahal semalam ia masih bercengkrama mesra dengan pria yang telah menikahinya selama bertahun-tahun. Ia tidak menyangka jika pertanyaan yang diajukan suaminya adalah pertanyaan terakhir sekaligus sebagai sebuah salam perpisahan untuknya.

Sekian lama dirinya dirundung dalam kesedihan, hanyut oleh perasaan kehilangan yang tidak terperikan. Dirinya tenggelam dalam duka yang teramat sangat. Ia menjadi lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam rumah sambil membuka album foto saat masih bersama suami tercinta.

Syukurlah, pada suatu hari dirinya tersadarkan untuk tidak terus larut dalam kesedihan tak berkesudahan. Ia memutuskan untuk kembali aktif dalam kegiatan agama. Dirinya berharap, kesibukan dalam majelis taklim dan kegiatan yang lain dapat memberinya ketenangan dan tidak terus menerus tenggelam dalam derai air mata karena teringat mendiang suaminya.

Rupanya Tuhan memiliki rencana. Aktifitasnya di majelis taklim secara tidak langsung mempertemukan dirinya dengan seorang pria yang tidak lain adalah ustadz yang secara rutin memberikan materi. Berawal dari maksud untuk meminta nasihat sang ustadz sekaligus meminta didoakan agar diberikan ketabahan dan kesabaran oleh Allah SWT, kemudian berlanjut menjadi komunikasi yang intensif. Tanpa terasa, dalam hatinya mulai tumbuh benih-benih cinta yang baru…. Singkat cerita (kepanjangan sih!) Beberapa bulan kemudian ia telah resmi menjadi istri sang ustadz yang kebetulan masih sendiri…. :mrgreen:

Ia lupa dengan jawaban yang pernah disampaikan kepada suaminya waktu malam itu…

Nah, sekarang saya mau tanya sekali lagi. Anda akan menjawab apa jika ditanya oleh pasangan anda, “Kalau saya mati duluan, apa kamu akan kawin lagi?”

 

 

 

Kaitan Antara Iman, Ilmu, Akal, Lemahlembut dan Lunak

Desember 16, 2007 pukul 8:55 am | Ditulis dalam Agama, Artikel, Humor, Islam, Komunikasi, Pendidikan, Pesantren Pondok Iqra' | 10 Komentar

Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baiknya pembantu iman adalah ilmu. Sebaik-baiknya pembantu ilmu adalah akal. Sebaik-baiknya pembantu akal adalah kelemahlembutan, dan sebaik-baiknya pembantu kelemahlembutan adalah kelunakan.

Hadist di atas merupakan sebuah nasihat sekaligus jawaban mengenai pertanyaan yang sering kali muncul dalam benak kita, yaitu tentang bagaimana cara memperoleh keimanan, menjaganya agar tetap bersemayam bahkan semakin kuat mengakar dalam hati. Selain itu, sabda Rasulullah SAW tersebut menjadi pijakan dasar bagi setiap muslim untuk memperoleh kenikmatan iman berupa keridloan Allah SWT di dunia dan di akhirat kelak.

Keterkaitan Antara Iman dan Ilmu 

Pada bagian pertama, Rasulullah SAW menyatakan bahwa sebaik-baiknya pembantu iman adalah ilmu (pengetahuan). Maksudnya adalah, ketika seseorang berhasrat meneguhkan imannya maka jalannya adalah ilmu, bahkan dengan sebab ilmu pulalah sebenarnya seseorang dapat menemukan Tuhannya. Singkatnya, ilmu merupakan modalitas utama menggapai keimanan yang sempurna atau haqqul yakin, karena  tidak akan tercipta keyakinan dalam iman jika tidak disertai ilmu.

Pembahasan mengenai iman secara langsung akan terkait dengan masalah yakin (ketidakraguan), tidak lain karena iman merupakan perbuatan hati yang dibangun atas dasar ilmu pengetahuan yang telah diperoleh seseorang sehingga tertutup baginya kemungkinan terasuki oleh keraguan. Iman dituntut untuk berdiri di atas keyakinan yang kuat dan tidak boleh setengah-setengah, karena iman yang berdiri di atas keyakinan akan memberikan ketentraman batiniyah dan melahirkan tindakan (amal) yang spontan serta tidak disertai dengan keragu-raguan. Keyakinan adalah ketetapan ilmu yang tidak berputar-putar, tidak terombang-ambing dan tidak berubah-ubah dalam hati. Dalam pembahasan ilmu kalam, keyakinan biasa disebut pula dengan akidah, akidah sendiri didefinisikan sebagai keimanan yang kokoh di dalam hati dan dipilih menjadi jalan hidup.

Sepintas di atas telah diulas mengenai keterkaitan antara iman iman -yang mencapai taraf yakin- dengan ilmu. Selanjutnya, dengan memahami pengertian dan hakikat ilmu, kita dengan mudah akan menemukan keterkaitan antara keduanya.

Ilmu secara harfiah diartikan sebagai pengetahuan, ia merupakan lawan kata dari jahlun yang berarti ketidaktahuan atau kebodohan. Ilmu bersepadan dengan kata bahasa arab lainnya, yaitu makrifat (pengetahuan), fiqh (pemahaman) hikmah (kebijaksanaan) dan syu’ur (perasaan).

Al-Ilmu itu sendiri dikenal sebagai sifat utama Allah SWT. Dalam bentuk kata yang berbeda, Allah SWT disebut juga sebagai al-‘Alim dan ‘Aliim, yang artinya: “Yang Mengetahui” atau “Yang Maha Tahu”.

Secara umum, ilmu atau pengetahuan terbagi ke dalam dua kelompok: pengetahuan biasa (knowledge) dan pengetahuan ilmiah (science). “Pengetahuan biasa” dapat diperoleh melalui pengupayaan dari keseluruhan potensi kemanusiaan seperti perasaan, fikiran, pengalaman, pancaindera, dan intuisi untuk mengetahui sesuatu tanpa memperhatikan objek, cara dan kegunaannya. “Pengetahuan ilmiah” hakikatnya merupakan keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan untuk mengetahui sesuatu, tetapi dengan cara memperhatikan objek yang ditelah, cara yang digunakan, dan kegunaan pengetahuan tersebut, dengan kata lain pengetahuan ilmiah memperhatikan objek ontologis, landasan epistimologis, dan landasan aksiologis dari pengetahuan itu sendiri. Dalam pembahasan ini, ilmu yang dimaksudkan di sini adalah pengetahuan jenis kedua.

Dalam kajian Islam, ilmu pada awalnya lahir dari keinginan untuk memahami wahyu yang terkandung dalam alquran dan bimbingan Nabi Muhammad SAW mengenai wahyu tersebut. Al-quran sendiri banyak berbicara mengenai pentingnya ilmu dan kedudukannya yang teramat tinggi bagi siapapun yang mencari dan memilikinya.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwasanya Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sekiranya aku bertemu dengan hari baru, yang ilmuku tidak bertambah pada hari itu, yaitu ilmu yang membuatku semakin dekat dengan Allah ‘Azza wa Jalla, maka tidak ada keberkahan apa-apa bagiku dalam terbitnya matahari pada hari tersebut.” (HR. Ibnu Hibban)

Ilmu dan Akal

Pada bagian kedua, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa sebaik-baiknya pembantu ilmu adalah akal. Ketika seseorang menginginkan ilmu, ia harus mengupayakannya dengan cara mempelajarinya. Dan alat utama untuk mempelajari ilmu adalah akal.

Secara bahasa, akal berarti daya atau kekuatan fikiran (quwwatu al-idrak) atau pemahaman (al-fahmu). Juga terdapat istilah lain dari akal, yaitu  an-nazr (berfikir secara mendalam) dan al-fikr atau logika.

Akal merupakan daya atau kekuatan yang dianugerahkan oleh Allah SWT kepada manusia sebagai alat berfikir dan alat untuk mempertimbangkan serta memikirkan baik buruknya sesuatu. Akal adalah potensi yang diberikan Allah SWT kepada manusia di samping nafsu. Kedua unsur ini (akal dan nafsu) termasuk dalam alam rohani (nonfisik).

Akal merupakan potensi ruhani yang dipersiapkan untuk menerima ilmu pengetahuan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam al-Quran:

 “Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu“. (QS:29:43)

Adapun bagi mereka yang dikaruniai akal, namun kemudian tidak mempergunakannya untuk memperoleh cahaya ilahi (dalam bentuk ilmu), Allah SWT sangat mencela orang-orang yang demikian bahkan mengancamnya dengan azab neraka jahannam. Kita perhatikan firman Allah SWT berikut ini:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan (Kami ciptakan) untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami ayat-ayat Allah (yakni perkara hak) dan mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah (yaitu bukti-bukti yang menunjukkan kekuasaan Allah dengan penglihatan yang disertai pemikiran) dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar ayat-ayat Allah (ayat-ayat Allah dan nasihat-nasihat-Nya dengan pendengaran yang disertai pemikiran dan ketaatan), mereka itu bagai binatang ternak (dalam hal tidak mau mengetahui, melihat dan mendengar) bahkan mereka lebih sesat (dari hewan ternak itu, sebab hewan ternak akan mencari hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya dan ia akan lari dari hal-hal yang membahayakan dirinya tetapi mereka itu berani menyuguhkan dirinya ke dalam neraka dengan menentang) mereka itulah orang-orang yang lalai“.

Orang yang tuli, bisu dan buta dalam ayat di atas merupakan suatu perumpamaan yang merujuk kepada “orang-orang yang tidak menggunakan akalnya”, padahal mereka sebenarnya memiliki akal. Orang yang berakal adalah orang yang sadar, bisa berfikir, tidak gila, dan termasuk dalam kriteria mukallaf yaitu orang yang terikat kewajiban untuk  melaksanakan perintah Allah SWT. Akal -termasuk di dalamnya perasaan-yang telah di anugerahkan Allah SWT kepada mereka ternyata tidak dipergunakan untuk memahami keesaan dan kebesaran Allah SWT, padahal kepercayaan pada keesaan Allah SWT itu akan membersihkan jiwa mereka dari segala macam was-was dan dari sifat hina serta rendah diri serta menanamkan pada diri mereka rasa percaya terhadap dirinya sendiri.

Golongan ini mempunyai mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat bukti kebenaran dan keesaan Allah SWT. Segala kejadian yang terekam dalam sejarah manusia, segala peristiwa yang terjadi dalam kehidupan manusia setiap hari, yang terlihat dan yang terdengar tidak menjadi bahan pemikiran dan perenungan untuk dianalisa kemudian dijadikan sebagai pelajaran yang dapat dipetik manfaatnya.

Oleh Allah SWT mereka disejajarkan dengan binatang, bahkan lebih buruk, sebab binatang tidak mempunyai daya pikir untuk mengolah hasil penglihatan dan pendengaran mereka. Binatang memberikan tanggapan atau reaksi terhadap dunia luar secara instinctif dan bertujuan hanya untuk mempertahankan hidup. Itu sebabnya kenapa hewan makan dan minum serta memenuhi kebutuhannya, tidak melampaui dari batas kebutuhan biologis hewaninya. Berbeda dengan manusia yang acapkali berperilaku secara berlebihan disebabkan akalnya telah dikalahkan oleh hawa nafsu.

Bersambung… Kepanjangan sih, insya Allah diupdate!

Laman Berikutnya »

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.