Maaf Kyai, Honornya Berapa Kalau Ceramah?

Januari 14, 2008 pukul 8:58 am | Ditulis dalam Agama, Artikel, Celotehan, Dakwah, Humor, Islam, Komunikasi, Manhaj, Mimpi, Pendidikan, Pesantren Pondok Iqra', Public Speaking, Renungan, Umum | 77 Komentar

Sebelumnya saya mohon sedekahnya maaf kalau-kalau ada yang merasa kurang sreg dengan postingan ini. Insya Allah tidak ada sedikitpun hasrat seksual dan maksud untuk mencemooh, mendiskreditkan apalagi merendahkan para dai dan muballigh. Ini murni pengalaman pribadi, sekaligus kegelisahan yang menggelayuti hati saya bertahun-tahun, dan belum tercerahkan jua. *halah*

Masih sebagai pengantar dan catatan, mohon diingat baik-baik kalau saya bukan Kyai Slamet sungguhan dan juga tidak merasa Kyai. Hanya saja kadang ada orang iseng yang manggil saya Brad Pitt kyai. Saya juga bukan Dai kondang, cuma kebetulan saja, lagi-lagi suka ada orang iseng yang mengundang saya untuk sedikit berakting bicara agama.

Biasanya pertanyaan seperti pada judul postingan di atas diungkapkan oleh “utusan panitia” dengan penuh hati-hati, sambil masam-mesem dan diringi permohonan maaf, takut kalau pertanyaan seperti ini menyinggung atau setidaknya dianggap tidak pantas oleh saya. Mereka yang mengundang, sebenarnya juga maklum kalau pertanyaan seperti ini kurang sopan untuk diajukan. Tapi toh akhirnya mereka memaksakan diri juga untuk bertanya, daripada nantinya jadi serba salah ketika memberikan sekedar 10 juta ongkos transportasi; singkatnya takut kekecilan atau mungkin juga takut kebesaran :mrgreen:

Saya masih bisa memaklumi pertanyaan seperti ini, sekalipun saya sendiri sebenarnya tidak pernah merasa siap ketika diberi pertanyaan macam beginian. Namun, jauh di dalam lubuk hati saya yang paling dalam *halah*, saya merasa ada sesuatu yang salah dengan semua ini dan cukup mengganjal. Inilah yang saya maksud dengan kegelisahan yang menggelayuti hati saya bertahun-tahun, dan belum tercerahkan jua.

Ada beberapa point yang menjadi perenungan dan kegelisahan saya:

  1. Pertanyaan mengenai besaran honor sangat memancing timbulnya thoma atau mengharapkan balasan berupa materi atas perbuatannya (dalam hal memberikan ceramah agama). Ini tentu saja sangat mengganggu hati saya ketika berniat. Sebagai ilustrasi saja, pada suatu ketika, ada seorang muballig yang kebetulan tengah membutuhkan sejumlah uang untuk suatu keperluan. Karena sedang tidak memegang uang cash, akhirnya si muballig memberanikan diri untuk meminjam uang kepada temannya. Alhamdulillah, temannya memberikan pinjaman sejumlah yang dibutuhkan si muballig. Sewaktu ditanya kapan bisa mengembalikan uangnya, si muballig menjawab, “insya Allah, hari Senin besok.” Temannya bertanya kenapa yakin kalau hari senin sudah bisa mengembalikan, nah… si muballig menjawab dengan yakin, “Pan ana kebetulan ada jadwal ngasih ceramah hari minggunya…” :mrgreen: 
  2. Menerima imbalan berupa uang atau apapun setelah memberikan ceramah memang wajar, namun ketika yang muncul ke permukaan adalah bahwa ustadz anu “tarif”-nya segitu, kyai anu “ongkosnya” segini, muballig anu “uang dapur”nya sekian, yang terjadi seolah-olah komersialisasi agama. Bagi pengundang yang memiliki sumber dana besar, mungkin tidak masalah. Lha kalau yang ingin mengundangnya seret pendanaan, apa harus jadi tidak jadi menggelar pengajian atau tablig di tempatnya? 😥
  3. Saya seringkali merasa bahwa kita ummat Islam, saat ini cenderung lebih senang menjadi “kaum pendengar” daripada menjadi “kaum pelajar”. Ketika digelar tablig akbar, masyarakat akan datang berduyun-duyun. Namun pengajian rutinan untuk belajar agama dari dasar, sepertinya semua punya alasan untuk tidak datang. Mungkin, kalau mendengar ceramah nyaris tidak ada beban apa-apa selain duduk dan mendengarkan. Beda halnya dengan “belajar beneran”, terasa membosankan, cape, malu (karena takut disuruh sama gurunya), harus berfikir lebih ekstra dan tidak ramai seperti tablig akbar. Kalau kondisi seperti ini berlarut-larut, entah akan seperti apa wajah kita sebagai ummat.

Ah, sekali lagi… ini hanya kegelisahan saya saja…   

Jadi Penyiar Radio, Honornya….?

November 29, 2007 pukul 12:26 pm | Ditulis dalam Jurnalistik, Komunikasi, Public Speaking, Radio Broadcast | 29 Komentar

Mungkin pernah terlintas dalam benak anda bahwa profesi penyiar di radio lumayan menjanjikan, selain beken, keren, gaul, kenal banyak orang, juga “menggiurkan” honornya. Benar apa gak sih? Soal bahwa profesi penyiar radio itu beken, keren, gaul, dan kenal banyak orang, saya tidak menyangsikannya. Tapi soal honorarium alias gajinya? Tunggu dulu…. Soalnya gak semua radio bisa memberikan penghargaan yang “layak” buat penyiarnya, bahkan buat semua karyawannya. Kamu barangkali gak bakalan percaya kalau di Bandung saja,  mayoritas radio masih menetapkan honor siaran di bawah 5.000 perak, itu rate honor siaran buat penyiar yang senior. Rata-rata penyiar bertugas antara 50-100 jam siaran per bulannya, jadi rata-rata pendapatan mereka antara 150.000 s/d 500.000. Bayangkan buat penyiar baru yang masih training….! Kadang-kadang gak dibayar lho… sumpeeeh!

Tapi, gak semua kok. Beberapa radio “Jawara” seperti Grup Ardan (Ardan FM, B-Radio FM, Cosmo FM), Dahlia FM, Prambors FM, dan beberapa Radio “makmur” lainnya -cuma beberapa- masih menghargai jam siar dengan angka cukup lumayan, bisa sampai 25.000 per jamnya, bahkan lebih. Jadi rata-rata penghasilan mereka (yang cuap-cuap di radio di atas) bisa punya pendapatan di atas 1 juta perak, bahkan ada yang nyampe 2,5 juta perak. 

Jomplang ya? Memang begitu faktanya. Ini karena banyak radio -bukan hanya di Bandung- punya kesulitan dalam soal pembiayaan. Intinya lebih banyak radio kembang kempis ketimbang radio “gemuk”. Di Bandung ada radio -tidak saya sebutkan karena perimbangan etika- yang slot iklannya terjual penuh, hingga bisa punya pendapatan sampai 400.000.000 perak per bulan…. Tapi pada saat yang sama ada radio yang dapet 10 juta per bulan juga udah syukuran.

Radio emang cuma ngandelin pendapatan dari spot iklan, adlibs dan off air. Selain itu nyaris gak ada sumber pendapatan lain yang bisa diandalkan. Beberapa radio pernah berinovasi dengan mencoba menjadi sub penjualan produk dari klien yang memasang iklan, misalnya bikin tim spreading, jual susu kuda liar, menerima bimbingan haji, bikin BPIH, de el el. Tapi rata-rata tidak bisa bertahan lama.

Saya mengiformasikan ini tidak dengan tujuan buruk, alias buka kartu kantongnya penyiar atau nakut-nakutin mereka yang ingin jadi penyiar radio. Melainkan karena saya menganggap informasi ini juga cukup perlu untuk diketahui. Buat apa? Ya buat apa aja… hehehe, tergantung kepentingan yang membaca.

Masih mau jadi penyiar? Tentu saja, kenapa harus takut duluan!

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.