Maaf Kyai, Honornya Berapa Kalau Ceramah?

Januari 14, 2008 pukul 8:58 am | Ditulis dalam Agama, Artikel, Celotehan, Dakwah, Humor, Islam, Komunikasi, Manhaj, Mimpi, Pendidikan, Pesantren Pondok Iqra', Public Speaking, Renungan, Umum | 77 Komentar

Sebelumnya saya mohon sedekahnya maaf kalau-kalau ada yang merasa kurang sreg dengan postingan ini. Insya Allah tidak ada sedikitpun hasrat seksual dan maksud untuk mencemooh, mendiskreditkan apalagi merendahkan para dai dan muballigh. Ini murni pengalaman pribadi, sekaligus kegelisahan yang menggelayuti hati saya bertahun-tahun, dan belum tercerahkan jua. *halah*

Masih sebagai pengantar dan catatan, mohon diingat baik-baik kalau saya bukan Kyai Slamet sungguhan dan juga tidak merasa Kyai. Hanya saja kadang ada orang iseng yang manggil saya Brad Pitt kyai. Saya juga bukan Dai kondang, cuma kebetulan saja, lagi-lagi suka ada orang iseng yang mengundang saya untuk sedikit berakting bicara agama.

Biasanya pertanyaan seperti pada judul postingan di atas diungkapkan oleh “utusan panitia” dengan penuh hati-hati, sambil masam-mesem dan diringi permohonan maaf, takut kalau pertanyaan seperti ini menyinggung atau setidaknya dianggap tidak pantas oleh saya. Mereka yang mengundang, sebenarnya juga maklum kalau pertanyaan seperti ini kurang sopan untuk diajukan. Tapi toh akhirnya mereka memaksakan diri juga untuk bertanya, daripada nantinya jadi serba salah ketika memberikan sekedar 10 juta ongkos transportasi; singkatnya takut kekecilan atau mungkin juga takut kebesaran :mrgreen:

Saya masih bisa memaklumi pertanyaan seperti ini, sekalipun saya sendiri sebenarnya tidak pernah merasa siap ketika diberi pertanyaan macam beginian. Namun, jauh di dalam lubuk hati saya yang paling dalam *halah*, saya merasa ada sesuatu yang salah dengan semua ini dan cukup mengganjal. Inilah yang saya maksud dengan kegelisahan yang menggelayuti hati saya bertahun-tahun, dan belum tercerahkan jua.

Ada beberapa point yang menjadi perenungan dan kegelisahan saya:

  1. Pertanyaan mengenai besaran honor sangat memancing timbulnya thoma atau mengharapkan balasan berupa materi atas perbuatannya (dalam hal memberikan ceramah agama). Ini tentu saja sangat mengganggu hati saya ketika berniat. Sebagai ilustrasi saja, pada suatu ketika, ada seorang muballig yang kebetulan tengah membutuhkan sejumlah uang untuk suatu keperluan. Karena sedang tidak memegang uang cash, akhirnya si muballig memberanikan diri untuk meminjam uang kepada temannya. Alhamdulillah, temannya memberikan pinjaman sejumlah yang dibutuhkan si muballig. Sewaktu ditanya kapan bisa mengembalikan uangnya, si muballig menjawab, “insya Allah, hari Senin besok.” Temannya bertanya kenapa yakin kalau hari senin sudah bisa mengembalikan, nah… si muballig menjawab dengan yakin, “Pan ana kebetulan ada jadwal ngasih ceramah hari minggunya…” :mrgreen: 
  2. Menerima imbalan berupa uang atau apapun setelah memberikan ceramah memang wajar, namun ketika yang muncul ke permukaan adalah bahwa ustadz anu “tarif”-nya segitu, kyai anu “ongkosnya” segini, muballig anu “uang dapur”nya sekian, yang terjadi seolah-olah komersialisasi agama. Bagi pengundang yang memiliki sumber dana besar, mungkin tidak masalah. Lha kalau yang ingin mengundangnya seret pendanaan, apa harus jadi tidak jadi menggelar pengajian atau tablig di tempatnya? 😥
  3. Saya seringkali merasa bahwa kita ummat Islam, saat ini cenderung lebih senang menjadi “kaum pendengar” daripada menjadi “kaum pelajar”. Ketika digelar tablig akbar, masyarakat akan datang berduyun-duyun. Namun pengajian rutinan untuk belajar agama dari dasar, sepertinya semua punya alasan untuk tidak datang. Mungkin, kalau mendengar ceramah nyaris tidak ada beban apa-apa selain duduk dan mendengarkan. Beda halnya dengan “belajar beneran”, terasa membosankan, cape, malu (karena takut disuruh sama gurunya), harus berfikir lebih ekstra dan tidak ramai seperti tablig akbar. Kalau kondisi seperti ini berlarut-larut, entah akan seperti apa wajah kita sebagai ummat.

Ah, sekali lagi… ini hanya kegelisahan saya saja…   

Kaitan Antara Iman, Ilmu, Akal, Lemahlembut dan Lunak

Desember 16, 2007 pukul 8:55 am | Ditulis dalam Agama, Artikel, Humor, Islam, Komunikasi, Pendidikan, Pesantren Pondok Iqra' | 10 Komentar

Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baiknya pembantu iman adalah ilmu. Sebaik-baiknya pembantu ilmu adalah akal. Sebaik-baiknya pembantu akal adalah kelemahlembutan, dan sebaik-baiknya pembantu kelemahlembutan adalah kelunakan.

Hadist di atas merupakan sebuah nasihat sekaligus jawaban mengenai pertanyaan yang sering kali muncul dalam benak kita, yaitu tentang bagaimana cara memperoleh keimanan, menjaganya agar tetap bersemayam bahkan semakin kuat mengakar dalam hati. Selain itu, sabda Rasulullah SAW tersebut menjadi pijakan dasar bagi setiap muslim untuk memperoleh kenikmatan iman berupa keridloan Allah SWT di dunia dan di akhirat kelak.

Keterkaitan Antara Iman dan Ilmu 

Pada bagian pertama, Rasulullah SAW menyatakan bahwa sebaik-baiknya pembantu iman adalah ilmu (pengetahuan). Maksudnya adalah, ketika seseorang berhasrat meneguhkan imannya maka jalannya adalah ilmu, bahkan dengan sebab ilmu pulalah sebenarnya seseorang dapat menemukan Tuhannya. Singkatnya, ilmu merupakan modalitas utama menggapai keimanan yang sempurna atau haqqul yakin, karena  tidak akan tercipta keyakinan dalam iman jika tidak disertai ilmu.

Pembahasan mengenai iman secara langsung akan terkait dengan masalah yakin (ketidakraguan), tidak lain karena iman merupakan perbuatan hati yang dibangun atas dasar ilmu pengetahuan yang telah diperoleh seseorang sehingga tertutup baginya kemungkinan terasuki oleh keraguan. Iman dituntut untuk berdiri di atas keyakinan yang kuat dan tidak boleh setengah-setengah, karena iman yang berdiri di atas keyakinan akan memberikan ketentraman batiniyah dan melahirkan tindakan (amal) yang spontan serta tidak disertai dengan keragu-raguan. Keyakinan adalah ketetapan ilmu yang tidak berputar-putar, tidak terombang-ambing dan tidak berubah-ubah dalam hati. Dalam pembahasan ilmu kalam, keyakinan biasa disebut pula dengan akidah, akidah sendiri didefinisikan sebagai keimanan yang kokoh di dalam hati dan dipilih menjadi jalan hidup.

Sepintas di atas telah diulas mengenai keterkaitan antara iman iman -yang mencapai taraf yakin- dengan ilmu. Selanjutnya, dengan memahami pengertian dan hakikat ilmu, kita dengan mudah akan menemukan keterkaitan antara keduanya.

Ilmu secara harfiah diartikan sebagai pengetahuan, ia merupakan lawan kata dari jahlun yang berarti ketidaktahuan atau kebodohan. Ilmu bersepadan dengan kata bahasa arab lainnya, yaitu makrifat (pengetahuan), fiqh (pemahaman) hikmah (kebijaksanaan) dan syu’ur (perasaan).

Al-Ilmu itu sendiri dikenal sebagai sifat utama Allah SWT. Dalam bentuk kata yang berbeda, Allah SWT disebut juga sebagai al-‘Alim dan ‘Aliim, yang artinya: “Yang Mengetahui” atau “Yang Maha Tahu”.

Secara umum, ilmu atau pengetahuan terbagi ke dalam dua kelompok: pengetahuan biasa (knowledge) dan pengetahuan ilmiah (science). “Pengetahuan biasa” dapat diperoleh melalui pengupayaan dari keseluruhan potensi kemanusiaan seperti perasaan, fikiran, pengalaman, pancaindera, dan intuisi untuk mengetahui sesuatu tanpa memperhatikan objek, cara dan kegunaannya. “Pengetahuan ilmiah” hakikatnya merupakan keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan untuk mengetahui sesuatu, tetapi dengan cara memperhatikan objek yang ditelah, cara yang digunakan, dan kegunaan pengetahuan tersebut, dengan kata lain pengetahuan ilmiah memperhatikan objek ontologis, landasan epistimologis, dan landasan aksiologis dari pengetahuan itu sendiri. Dalam pembahasan ini, ilmu yang dimaksudkan di sini adalah pengetahuan jenis kedua.

Dalam kajian Islam, ilmu pada awalnya lahir dari keinginan untuk memahami wahyu yang terkandung dalam alquran dan bimbingan Nabi Muhammad SAW mengenai wahyu tersebut. Al-quran sendiri banyak berbicara mengenai pentingnya ilmu dan kedudukannya yang teramat tinggi bagi siapapun yang mencari dan memilikinya.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwasanya Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sekiranya aku bertemu dengan hari baru, yang ilmuku tidak bertambah pada hari itu, yaitu ilmu yang membuatku semakin dekat dengan Allah ‘Azza wa Jalla, maka tidak ada keberkahan apa-apa bagiku dalam terbitnya matahari pada hari tersebut.” (HR. Ibnu Hibban)

Ilmu dan Akal

Pada bagian kedua, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa sebaik-baiknya pembantu ilmu adalah akal. Ketika seseorang menginginkan ilmu, ia harus mengupayakannya dengan cara mempelajarinya. Dan alat utama untuk mempelajari ilmu adalah akal.

Secara bahasa, akal berarti daya atau kekuatan fikiran (quwwatu al-idrak) atau pemahaman (al-fahmu). Juga terdapat istilah lain dari akal, yaitu  an-nazr (berfikir secara mendalam) dan al-fikr atau logika.

Akal merupakan daya atau kekuatan yang dianugerahkan oleh Allah SWT kepada manusia sebagai alat berfikir dan alat untuk mempertimbangkan serta memikirkan baik buruknya sesuatu. Akal adalah potensi yang diberikan Allah SWT kepada manusia di samping nafsu. Kedua unsur ini (akal dan nafsu) termasuk dalam alam rohani (nonfisik).

Akal merupakan potensi ruhani yang dipersiapkan untuk menerima ilmu pengetahuan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam al-Quran:

 “Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu“. (QS:29:43)

Adapun bagi mereka yang dikaruniai akal, namun kemudian tidak mempergunakannya untuk memperoleh cahaya ilahi (dalam bentuk ilmu), Allah SWT sangat mencela orang-orang yang demikian bahkan mengancamnya dengan azab neraka jahannam. Kita perhatikan firman Allah SWT berikut ini:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan (Kami ciptakan) untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami ayat-ayat Allah (yakni perkara hak) dan mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah (yaitu bukti-bukti yang menunjukkan kekuasaan Allah dengan penglihatan yang disertai pemikiran) dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar ayat-ayat Allah (ayat-ayat Allah dan nasihat-nasihat-Nya dengan pendengaran yang disertai pemikiran dan ketaatan), mereka itu bagai binatang ternak (dalam hal tidak mau mengetahui, melihat dan mendengar) bahkan mereka lebih sesat (dari hewan ternak itu, sebab hewan ternak akan mencari hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya dan ia akan lari dari hal-hal yang membahayakan dirinya tetapi mereka itu berani menyuguhkan dirinya ke dalam neraka dengan menentang) mereka itulah orang-orang yang lalai“.

Orang yang tuli, bisu dan buta dalam ayat di atas merupakan suatu perumpamaan yang merujuk kepada “orang-orang yang tidak menggunakan akalnya”, padahal mereka sebenarnya memiliki akal. Orang yang berakal adalah orang yang sadar, bisa berfikir, tidak gila, dan termasuk dalam kriteria mukallaf yaitu orang yang terikat kewajiban untuk  melaksanakan perintah Allah SWT. Akal -termasuk di dalamnya perasaan-yang telah di anugerahkan Allah SWT kepada mereka ternyata tidak dipergunakan untuk memahami keesaan dan kebesaran Allah SWT, padahal kepercayaan pada keesaan Allah SWT itu akan membersihkan jiwa mereka dari segala macam was-was dan dari sifat hina serta rendah diri serta menanamkan pada diri mereka rasa percaya terhadap dirinya sendiri.

Golongan ini mempunyai mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat bukti kebenaran dan keesaan Allah SWT. Segala kejadian yang terekam dalam sejarah manusia, segala peristiwa yang terjadi dalam kehidupan manusia setiap hari, yang terlihat dan yang terdengar tidak menjadi bahan pemikiran dan perenungan untuk dianalisa kemudian dijadikan sebagai pelajaran yang dapat dipetik manfaatnya.

Oleh Allah SWT mereka disejajarkan dengan binatang, bahkan lebih buruk, sebab binatang tidak mempunyai daya pikir untuk mengolah hasil penglihatan dan pendengaran mereka. Binatang memberikan tanggapan atau reaksi terhadap dunia luar secara instinctif dan bertujuan hanya untuk mempertahankan hidup. Itu sebabnya kenapa hewan makan dan minum serta memenuhi kebutuhannya, tidak melampaui dari batas kebutuhan biologis hewaninya. Berbeda dengan manusia yang acapkali berperilaku secara berlebihan disebabkan akalnya telah dikalahkan oleh hawa nafsu.

Bersambung… Kepanjangan sih, insya Allah diupdate!

Menikmati Perbedaan Membuang Fanatisme Sempit

Desember 14, 2007 pukul 6:36 pm | Ditulis dalam Agama, Artikel, Islam, Komunikasi, Pendidikan, Pesantren Pondok Iqra' | 13 Komentar

Sebelumnya mohon maaf, postingan ini miskin dalil karena saya fakir dalil. Postingan ini lebih sebagai bahan perenungan untuk kita yang masih gemar bertengkar, saling memaki, saling mengkafirkan, saling membid’ahkan bahkan unjuk kekerasan dengan orang lain yang kita anggap “berbeda”.

Bahwa perbedaan itu sunnatullah dan manusia hidup dalam keriuhan perbedaan, semua orang telah tahu. Namun, bahwa manusia bisa menghargai dan menerima perbedaan? Nah, yang terakhir ini banyak orang yang tidak mampu atau pura-pura kurang memahaminya.

Padahal, kita sendiri lahir dan besar dalam atmosfir perbedaan. Ayah dan ibu kita jelas saling berbeda: jenis kelamin, watak, emosi, perilaku, hobi, dan lain-lain. Lalu, semua perbedaan keduanya berkumpul di dalam diri kita. Sehingga kalau kita marah ada orang berkata, “kamu mirip ayahmu“. Ketika sedang tertawa terkadang orang berkata, “senyummu itu mengingatkanku pada ibumu“.

Oleh karena itu sungguh aneh, bila ternyata banyak orang yang tidak mampu menghargai perbedaan dan tidak mau menerimanya. Betapa banyak orang yang menderita dan mengalami kepahitan hidup karena hal tersebut.

Fanatisme Sempit

Mengapa orang tidak bisa menerima dan menghargai perbedaan? Salah satu sebabnya adalah sempitnya ilmu dan pengetahuan. Sehingga seseorang melihat lalu menghakimi orang lain berdasarkan keterbatasan ilmu yang dimilikinya. Selain sempitnya ilmu dan wawasan, yang paling berbahaya -dan menjadi sebab utama orang tidak menghargai serta menerima perbedaan- adalah kuatnya sikap fanatisme.

Fanatisme adalah satu keyakinan merasa diri atau pendapatnya paling benar, sehingga ketika melihat orang lain tidak sesuai dengan pendapatnya, ia akan menganggapnya sebagai orang yang salah dan keliru. Sebenarnya menganggap orang lain salah dan keliru bukanlah hal yang terlalu buruk, selama kita tidak menganggap orang yang salah dan keliru itu sebagai musuh. Celakanya, orang fanatik biasanya akan menganggap orang yang salah atau keliru sebagai musuh yang halal darahnya dan tidak lagi dianggap sebagai manusia yang memiliki hak asasi.

Saya masih ingat ketika dalam sebuah kesempatan pengajian harian, guru di pesantren mengajarkan bahwa orang yang tidak wudlu tidak boleh menyentuh Al-Qur’an. Alasannya, firman Allah, “Al-Qur’an tidak disentuh kecuali oleh orang-orang suci“. Ketika kemudian mendiskusikannya bersama teman-teman di kobong (kamar santri di asrama), ternyata seorang teman tidak sependapat. Katanya, orang-orang suci dalam ayat itu artinya umat Islam. Jadi, orang Islam baik memiliki wudlu atau tidak boleh menyentuhnya. Kata teman yang lain lagi, maksud orang-orang suci itu adalah para malaikat, karena hanya malaikat yang suci dari dosa. Semakin lama berdiskusi semakin banyak pendapat yang mengemuka, tentu saja masing-masing yang mengemukakan pendapatnya menyertakan argumentasi berdasarkan ulumul quran, ulumul hadist, ilmu alat dan sebagainya.

Pada suatu kesempatan Rasulullah pernah menyatakan bahwa Islam akan hancur karena umara (penguasa) dan fuqaha (ahli fiqh) yang kurang ilmu dan tidak bijak. Lalu apakah orang berilmu dan berwawasan luas serta merta bisa menerima dan menghargai perbedaan? Belum tentu juga. Mungkin kita pernah bertemu sejumlah kyai atau dosen yang tidak suka bahkan boleh jadi sangat benci jika ada santri atau mahasiswanya berani mempertanyakan, mendebat dan membantah pendapatnya. Padahal semua orang tahu mereka memiliki segudang ilmu.

Ketidaksiapan menerima pendapat yang berbeda dari orang lain biasanya berasal dari fanatisme sempit. Bila diselidiki lebih lanjut, fanatisme itu sendiri muncul dari sifat egosentris yang berlebihan, dalam istilah akhlak dinamakan sebagai sifat ananiyah. Pada akhirnya, sifat ini hanya akan mengarahkan kita pada keangkuhan yang membawa bencana -jangan lupa bahwa Allah mengutuk siapa saja yang berjalan di muka bumi ini dengan penuh keangkuhan-.

Orang yang awam tapi tidak memiliki sifat fanatik, masih mungkin untuk menerima perbedaan. Lain halnya dengan orang fanatik, sekalipun ia berilmu. Bagi siapapun yang berbeda pendapat dengannya, tidak tanggung-tanggung label yang meluncur keluar dari mulutnya : ingkar sunnah, bid’ah, sesat, kafir, musyrik, dan sebagainya.

 

Orang buta dan Gajah

Barangkali pembaca masih ingat kisah 3 orang buta dengan seekor gajah. Konon, salah seorang dari mereka mengajak yang lain untuk mengenali bentuk gajah. Orang buta pertama maju dan memegang kaki gajah. Dia bilang, “gajah itu bulat dan keras seperti batang pohon”. Orang kedua maju dan memegang belalainya. Dia sampaikan, “gajah itu bulat dan panjang seperti ular”. Lalu, orang ketiga maju dan memegang kupingnya. Ia berteriak, “gajah itu tipis seperti kipas!

Tentu saja, bagi orang kebanyakan ketiga pandangan mereka itu ‘keliru’ (sebenarnya lebih tepat bila disebut tidak lengkap). Hanya saja, haruskah mereka disalahkan? Kita hanya harus memaklumi karena sebatas itulah kemampuan mereka untuk melakukan exposure (persentuhan atau perkenalan). Jika saja mereka bisa melihat, tentu pendapat mereka tidak seperti itu. Akan tetapi, bayangkan bila 3 orang buta itu kemudian duduk bersama dan mendiskusikan temuan masing-masing dalam suasana keterbukaan. Saya yakin akhirnya mereka sanggup mendeskripsikan bentuk gajah secara tepat. Justeru dengan adanya perbedaaan persepsi, ilmu dan pengetahuan akan terus berkembang.

 

Mencontoh Pasar dan Pedagang

Ironisnya, perbedaan justeru paling sering dipermasalahkan di bait Allah dan forum-forum agama. Sedemikian kerasnya resistensi terhadap perbedaan, hingga samasekali mengabaikan nilai-nilai akhlaqulkarimah yang sebenarnya merupakan ciri Islam.

Di Pakistan, pernah terjadi seorang jemaah yang telunjuknya dipatahkan hanya karena Ketua Dewan Masjid meyakini bahwa menggerakkan telunjuk diwaktu tasyahud itu bid’ah. Bahkan pernah, orang yang berdoa di hadapan makam nabi di mesjid Nabawi Madinah, babak belur dipukuli oleh ‘Asykar’ setempat. Bila bait Allah yang notabene adalah suaka perlindungan semua umat tidak bisa menjamin keselamatan seseorang yang kebetulan berbeda, lalu kemana lagi kita berpaling mencari jawaban?

Konon, tempat yang paling bisa menerima perbedaan adalah pasar, dan orangnya adalah pedagang. Di pasar, semua orang tumpah ruah. Jenis kelamin, agama, organisasi, bangsa apapun bisa saling bertemu dan akrab. Para pedagang juga tidak pernah memilah antara uang suku ini atau suku itu. Mereka juga tidak pernah bertanya lebih dulu tentang identitas pembelinya. Kita tidak pernah mendengar seorang pedagang berkata, “saya enggak terima uang dari penyanyi dangdut!” (Mungkinkah ini sebabnya Allah membuka pintu rizqi paling banyak di sektor perdagangan?). Dalam sebuah hadist dikabarkan bahwa Rasulullah berkata, “Allah membuka 20 pintu rizqi dan 19 di antaranya dari perdagangan”.

Semua itu terjadi karena semua agent (pelaku) pasar menempatkan tujuan yang lebih besar dalam skala prioritasnya, yaitu memperoleh laba (pedagang) dan memperoleh barang yang dibutuhkan (pembeli). Hal-hal lain di luar itu tidak dianggap sebagai sesuatu yang penting. Tidak pernah saya menemukan pedagang dan pembeli berkelahi karena tidak sepakat dalam menentukan harga. Bila harga memang tidak bisa cocok, berarti tidak ada transaksi dan masing-masing akan berlalu dengan urusannya masing-masing.

Mengapa kita tidak bisa menerapkan cara yang sama di bait Allah? Marilah kita mulai menempatkan kita pada tujuan yang lebih besar dalam skala prioritas kita. Islam diturunkan kepada umat manusia dengan tujuan menebarkan rahmat keselamatan dan kedamaian ke seluruh penjuru bumi. Ini berarti, selain dari itu tidaklah penting artinya. Ketidaksukaan kita kepada praktek-praktek ibadah tertentu tidak perlu memancing perdebatan “berdarah-darah”. Perbedaan latar belakang seseorang tidak sepantasnya menghilangkan akses orang itu terhadap bait Allah. Kenyataan yang terjadi, mesjid-mesjid seringkali diberi label organisasi-organisasi atau mazhab-mazhab tertentu yang menghalangi akses orang luar. Dalam kasus-kasus ekstrim, sepetak kecil lantai bekas shalat orang luar itu sampai perlu dipel!

Orang memang mudah melupakan tujuan yang lebih besar dan sibuk dengan hal-hal remeh. Tujuan mesjid didirikan jelas bukan untuk prestise, tetapi dengan tujuan memakmurkannya. Ia menjadi makmur dengan ibadah yang dilaksanakan di dalamnya. Mengapa perlu memberi label pada mesjid bila kita Lillahi ta’ala memperuntukannya sebagai bait Allah? Bukankah arti kata wakaf adalah terputus? Artinya, hak seseorang untuk mengklaim sesuatu sebagai miliknya menjadi terputus ketika ia mewakafkan asetnya (tanah, bangunan, uang) untuk Allah. Jadi, pantaskah bila menyebut satu mesjid sebagai mesjidnya anu, atau masjid apa?

Mari kita mengingat kembali hadist Rasulullah, “Perbedaan di kalangan ummatku adalah rahmat”. Tidak layak bukan, bila rahmat tidak disyukuri? Alih-alih, kita malah menolaknya sambil berharap macam-macam perbedaan itu hilang.

Akhir kata, sebenarnya kita telah menemukan penyebab umat Islam selalu menjadi umat yang terpuruk kondisinya. Ingat, Allah telah wanti-wanti memperingatkan apa yang terjadi bila kita kufur terhadap nikmat-nya. Wallahu a’lam.

Rencana Tayangan “My Hope Indonesia” (Misi Gerejakah?)

Desember 11, 2007 pukul 1:48 pm | Ditulis dalam Agama, Artikel, Humor, Islam, Komunikasi, Pendidikan, Pesantren Pondok Iqra' | 66 Komentar

Sebenarnya saya tidak mau mem-posting hal ini, karena khawatir berujung menjadi fitnah dan memperkeruh kerukunan antar ummat beragama. Akan tetapi, 2 hari terakhir ini saya banyak mendapat sms juga telepon dari para jamaah Majelis Aula Hikmah yang mengiformasikan perihal adanya rencana tayangan di televisi secara serentak bertajuk “My Hope Indonesia” yang telah dirubah judulnya menjadi “Sebuah Penantian”. Menurut informasi yang saya terima, tayangan ini adalah sebuah selubung program kristenisasi sebagai salahsatu misi gereja.

Secara pribadi sebenarnya saya sudah mendengar mengenai hal ini sejak 2 minggu yang lalu, bukan melalui sms atau telepon dari sesama muslim melainkan langsung dari para pendeta dan aktivis gereja. Lho kok bisa?

Begini ceritanya. Sekitar dua minggu yang lalu, kalau tidak salah hari senin siang, saya ditelepon salahseorang petinggi gereja kristen diminta untuk datang ke Cihampelas Walk, tepatnya di StarBuck Cafe. Tadinya saya mengira akan diundang untuk berdiskusi mengenai theologi seperti biasanya. Ternyata bukan.

Ketika saya sampai di tempat di mana kami akan bertemu, ternyata yang berkumpul bukan hanya satu dua orang. Ada cukup banyak yang telah berkumpul dan semuanya adalah aktivis gereja, pendeta dan seorang petinggi gereja.  Hanya saya seorang yang muslim.

Pembicaraan pun dimulai langsung kepada intinya. Mereka menyampaikan sebuah informasi kepada saya mengenai rencana tayangan My Hope Indonesia di RCTI (tidak serentak di beberapa stasiun televisi sebagaimana kabar yang beredar melalui sms) pada tanggal 15 Desember 2007 mendatang. Acara ini konon disponsori oleh sinode-sinode gereja di Indonesia. Acaranya pun akan tampil penuh selama 1 jam tanpa iklan, karena pihak sponsor telah membloking penuh jam siar.

Mereka tidak memungkiri bahwa tayangan ini merupakan salahsatu misi gereja. Pendeta yang hadir juga menyatakan bahwa ini merupakan misi kristenisasi yang disponsori oleh William Graham Ministry, kristen fundamentalis yang tidak lain merupakan penasihat spiritual presiden Amerika George W Bush Jr. Ia memang dikenal sebagai pendeta beraliran keras yang memiliki cita-cita mengkristenkan dunia. Sekali lagi, informasi ini saya terima bukan dari seorang muslim, tapi dari seorang pendeta.

Lalu apa hubungannya dengan mengundang saya untuk membicarakan masalah ini?

Saya diundang oleh mereka untuk dimintai pandangan mengenai hal ini, mengingat mereka yang hadir secara sepakat tidak menyetujui rencana tayangan My Hope Indonesia yang dinilai sebagai bentuk-bentuk fundamentalisme Kristen yang basi, sesuatu yang mereka anggap sudah tidak sepatutnya dilakukan karena akan memperkeruh keadaan di komunitas bangsa Indonesia yang heterogen.

Pada kesempatan itu pula mereka meminta saya untuk mencari link ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) agar dapat menyampaikan keberatan terhadap rencana tersebut. Mereka bermaksud mendesak KPI untuk melakukan re-chek ke RCTI sekaligus membatalkan tayangan yang dikhawatirkan dapat berekses negatif terhadap kerukunan antar ummat beragama di Indonesia.

Pada kesempatan itu pula saya menyampaikan kepada teman-teman aktifis gereja dan pendeta untuk dapat sesegera mungkin melakukan langkah-langkah yang efektif dan memungkinkan. Salahseorang sekretaris Klasis (semacam DPW yng menaungi gereja-gereja) menyanggupi untuk membuat pernyataan keberatan sekalipun resikonya yang bersangkutan harus dicopot dari jabatannya. Langkah lain yang akan ditempuh adalah mengirimkan surat pernyataan keberatan kepada KPI dan induk-induk gereja.

Saya bersyukur, ternyata masih banyak yang peduli terhadap kerukunan beragama. Kawan-kawan saya yang jelas-jelas nasrani tulen, masih dapat berfikir luwes dan berpandangan ke depan. Mereka bereaksi karena menganggap upaya-upaya kristenisasi terselubung semacam ini tidak akan menguntungkan siapapun, bahkan ummat kristen sekalipun. Mereka bilang, “memangnya kalau ummat kristen bertambah, kita beruntung? Tidak kok”. Mereka jauh lebih peduli terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara ketimbang berdagang agama.

Masih banyak sebenarnya yang ingin saya sampaikan dari hasil pertemuan itu. Namun mengingat keterbatasan ruang, saya tidak dapat mengungkapnya lebih jauh.

Lalu bagaimana dengan sikap kita? Anda lebih tahu jawabannya. Saya hanya berpesan jangan sampai hal ini disikapi dengan kepala panas apalagi berujung pada kekerasan. Sebagai muslim yang cerdas, seyogyanya kita bertindak secara cerdas pula, bukan dengan otot.

Hal semacam ini jangan membuat kita repot… Begitu kira-kira

 

Untuk Walikota Bandung Tentang Bandung Kota Agama

Desember 9, 2007 pukul 4:16 pm | Ditulis dalam Agama, Komunikasi, Pendidikan, Pesantren Pondok Iqra' | 1 Komentar

Yth : Bapak Walikota Bandung

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Berkenaan dengan dibukakannya kesempatan bagi elemen-elemen masyarakat beragama guna menyatakan aspirasinya dalam forum Jaring Aspirasi Masyarakat Agama, khususnya dalam mewujudkan visi Bandung 2008 sebagai Kota Agama, kami merasakan keprihatinan yang sangat mendalam, yang muncul dari kepedulian akan masa depan warga Kota Bandung serta bangsa Indonesia pada umumnya.

Kota Bandung tengah menghadapi masalah-masalah berat yang menuntut diambilnya langkah-langkah cepat dan tegas, terutama pada bidang-bidang sebagai berikut di bawah ini:

  1. Perbaikan dan Pembenahan Birokrasi Pemerintahan, terutama yang menyangkut pembinaan kehidupan beragama.

  2. Sosialisasi Program Pemerintah, di mana selayaknya terjadi di semua tingkatan dari tertinggi hingga ke akar rumput.

  3. Lingkungan Hidup, berkenaan dengan kerusakannya yang semakin parah sebagai dampak pembangunan yang kurang berwawasan lingkungan maupun kelalaian dan pola hidup yang tidak berimbang.

  4. Kesehatan, yang diindikasikan pada rendahnya mutu hidup masyarakat hingga pada tingkat yang sangat memprihatinkan.

  5. Pergaulan Bebas, sebagai dampak dari kelengahan semua lapisan masyarakat terhadap pengaruh-pengaruh negatif dari budaya asing.

  6. Gender, berkenaan dengan kedudukan perempuan yang masih belum ditempatkan pada tempat yang semestinya, di mana mereka masih menjadi objek eksploitasi baik secara terselubung maupun terang-terangan.

  7. Kenakalan Remaja, yang masih belum teratasi sejak lahirnya istilah tersebut pada dekade-dekade sebelum ini.

  8. Fungsionalisasi Zakat, yang masih mengandung kerancuan serta kesimpang-siuran dalam prakteknya, baik karena ketidakjelasan perundangan yang melandasinya, maupun akibat dari ketidaksiapan sumberdaya manusia yang menanganinya.

  9. Gelandangan dan Pengemis, yang merupakan efek langsung urbanisasi sejak dimulainya era pembangunan hingga sekarang, tapi tidak pernah benar-benar ditangani secara serius.

Semua point-point di atas hanyalah contoh dari beberapa masalah yang selama ini tidak pernah benar-benar diatasi secara integral baik oleh pemerintah maupun oleh lembaga-lembaga kemasyarakatan sebagai mitra pemerintah. Masalah-masalah di atas telah menjadi klise dan hanya menjadi konsumsi politik dari waktu ke waktu. Membahasnya lagi pada kesempatan sekarang ini hanya akan mengulang-ulang apa yang telah jelas dan tidak membantu sama sekali pada proses perbaikannya.

Hal yang perlu kita renungkan bersama adalah fakta bahwa selama ini ternyata lembaga-lembaga pemerintahan dan kemasyarakatan yang telah ada selama ini telah gagal untuk berfungsi dan difungsikan seseuai dengan peruntukannya semula. Fakta bahwa mitra pemerintah dari tingkat DPRD hingga LPM (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat) sebagai wakil rakyat gagal memberikan masukan-masukan yang berarti bagi Pemerintah Kota Bandung dalam membangun visi Bandung Kota Agama sangat memprihatinkan. Bahwa Wali Kota masih mengadakan forum semacam Aspirasi Jaringan Masyarakat Beragama menunjukkan adanya kegagalan komunikasi maupun fungsi dari elemen-elemen perwakilan rakyat yang sebetulnya telah jelas fungsi dan tujuannya.

Lembaga-lembaga mitra pemerintah seperti MUI, organisasi-organisasi masyarakat seperti NU, Muhammadiyah, Persis dan lain sebagainya, FKPP, BKPRMI, serta banyak lagi yang lainnya ternyata telah jelas diabaikan atau dipandang tidak dengan selayaknya. Jalur konsultasi dan koordinasi yang seharusnya dipelihara, dikembangkan serta dimanfaatkan ternyata malah diabaikan, sehingga menimbulkan keprihatinan yang sangat mendalam bagi kita semua.

Selama ini, masyarakat beragama tidak pernah lebih dari alat politik dan alat APBN/APBD semata, yang dimanfaatkan sewaktu-waktu bilamana perlu, dan diabaikan saat agenda-agenda mereka yang berkepentingan telah tercapai. Ini harus segera dihentikan, dengan kesadaran sepenuhnya akan tujuan-tujuan yang lebih besar dan mulia sesuai amanat konstitusi. Oleh karena itu, kami menghimbau: sebelum kita mulai menciptakan lagi slogan-slogan kosong tambahan yang hanya menambah beban kita semua di masa kini maupun mendatang, atau program-program yang tidak benar-benar mengakar pada kepentingan rakyat yang lebih mendesak, marilah kita kembalikan lembaga-lembaga pemerintahan dan lembaga-lembaga kemasyarakatan yang telah ada selama ini kepada fungsi dan peruntukannya yang semula.

dengan semangat membangun, mencanangkan Bandung Kota Agama, sedianya kita memiliki pemimpin yang bijak, bersemangat, ikhlas, sekaligus memiliki program-program yang matang.

Kami mengapresiasi Walikota Bandung akan cita-citanya untuk membangun masyarakat yang cageur, bageur, bener pinter, masyarakat yang aman, damai, sepi paling towong rampog, ngeunah nyandang ngeunah nyanding, pamingpin ngaping ngajaring, iceus deudeuh ka masyarakatna. Didalam kerangka asah asih asuh yang Insyaallah Bandung Bermartabat bukan hanya sekedar wacana dan slogan kosong, genah merenah tumaninah dalam menyelesaikan segala masalah.

Semoga Bandung gemah gemuh riduh, gemah ripah repeh rapih, bari aya dina rido Allah SWT. Terima kasih Wallohul Muwafiq Ilaa Aqwamithoriq

Ram-Ram Muhammad

 

(Pengasuh Pesantren Pondok Iqro )

 

 

Saudaraku -Kristen-, Maafkan Saya

Desember 4, 2007 pukul 12:45 pm | Ditulis dalam Agama, Artikel, Komunikasi, Pendidikan, Pesantren Pondok Iqra' | 4 Komentar

Saya masih ingat hari dan tanggal persisnya, minggu 25 november 2007. Hari itu kebetulan saya harus berangkat ke Jakarta untuk memenuhi undangan ceramah pada pukul 10.00, lalu secepatnya kembali ke Bandung guna mengisi acara silaturahmi dengan seluruh keluarga besar Hotel Sheraton & Towers di Dago.

Sekitar jam 05.30, saya diberitahu bahwa di bawah (kamar saya kebetulan di lantai dua) ada saudara Amin Syafari, kawan karib saya yang menjabat ketua DKM Sabilul Huda di daerah Kawaluyaan Bandung. Saya segera bergegas menemuinya, “tumben, pagi-pagi sudah di sini.” Begitu gumam saya dalam hati.

Kawan saya bela-belain datang pagi-pagi ke rumah ternyata untuk memberitahukan bahwa pada pukul 08.00 akan ada aksi damai -demonstrasi- warga terhadap keberadaan gereja yang dianggap liar alias tidak berizin di daerahnya. kalau tidak salah, gereja tersebut adalah tempat beribadat kelompok Gereja Batak Karo Protestan(GBKP).

Sebenarnya saya sudah mendengar keberadaan gereja yang meresahkan warga ini hampir satu tahun yang lalu, karena kebetulan setiap hari minggu saya memberikan pengajian rutin di masjid yang letaknya sekitar 400 meter dari gereja tersebut. Gereja tersebut dinilai liar karena belum mengantongi izin resmi sesuai prosedur formal, di samping tempatnya sendiri memanfaatkan sebuah GOR (Gelanggang Olah Raga) bulu tangkis.

Ayah saya yang kebetulan turut dalam perbincangan pagi itu, mewanti-wanti agar penanggungjawab aksi memperhatikan dan mewaspadai kemungkinan timbulnya anarkisme saat pelaksanaan demo. Saudara Amin menyanggupi dan menjamin bahwa aksi ini tidak akan berujung pada perusakan dan tindakan-tindakan anarkis. Sebelum pulang, saya menyatakan akan datang ke lokasi untuk ikut membantu menjaga hal-hal yang tidak diinginkan. Jujur saja, saya agak khawatir karena menurut informasi yang saya terima, aksi ini juga melibatkan beberapa ormas islam. Andai saja peserta aksinya hanya warga kawaluyaan, saya tidak akan terlalu khawatir, karena saya insya Allah hafal dengan karakter masyarakat setempat yang nyunda dan nyantri, santun dan tidak suka kekerasan.

Sekitar jam 7 pagi saya segera berangkat ke Kawaluyaan dengan mengendarai sepeda motor. Di lokasi, puluhan personil kepolisian dari polsek dibantu Dalmas dari Polres bandung timur sudah bersiap. Adapun massa pada saat itu masih terkonsentrasi di depan mulut gang menuju masjid Sabilul Huda, sekitar 400 meter dari GOR. Kordinator aksi memang telah memberitahukan secara resmi kepada kepolisian perihal rencana aksi pada hari itu.

Baru saja saya hendak memarkirkan motor di pinggir jalan,  saya dihampiri oleh Lurah setempat dan diajak masuk ke dalam rumah salah seorang warga (kalau tidak salah, beliah mantan pejabat RW setempat). Kami berbincang-bincang cukup lama. Intinya, Pak Lurah mencoba menggali informasi dari saya mengenai latar belakang dan hal-hal lainnya, terkait aksi warga. Tidak lupa Pak Lurah secara pribadi meminta saya untuk ikut menjaga serta menenangkan warga guna menghindari anarkisme.

Selesai bertukar fikiran, saya segera menuju ke GOR untuk mendahului massa yang sudah mulai berjalan pelan namun pasti dan rapi mendekati GOR, tentunya sambil membawa puluhan tulisan di atas kertas besar dan spanduk.

Di depan gerbang GOR yang terkunci, saya mendapati beberapa orang sedang berdiri menunggu warga. Saya terlebih dahulu mengenalkan diri kepada mereka. Salahsatunya kemudian mengenalkan diri sebagai intel dari Kodim, adapun yang satunya lagi ternyata penanggungjawab atau koordinator gereja bernama Sembiring.

Kami kemudian terlibat perbincangan. Satu hal yang saya tanyakan adalah mengenai kebenaran berita bahwa gereja tersebut menggunakan jasa pengamanan dari salahsatu ormas pemuda di Bandung. Mereka mengklarifikasi bahwa hal tersebut tidak benar. Saya kemudian menyarankan agar jemaat yang tengah beribadah dan para pengurus agar tetap tenang, tidak panik dan menyelesaikan ibadahnya. Saya juga menyempatkan diri untuk masuk kedalam GOR, dan di dalam saya melihat jemaat sedang khusyuk berdoa dipimpin oleh pendeta. Jelas sekali nampak dari wajah-wajah mereka pancaran ketakutan dan kecemasan yang luar biasa. Perasaan yang saya kira sangat wajar, dan akan hinggap dalam benak siapapun yang berada pada posisi seperti mereka.

Akhirnya, sampailah massa di depan GOR. Subhanallah, saya acungkan dua jempol! Kekhawatiran saya sirna seketika ketika melihat ternyata massa tidak menampakkan wajah-wajah beringas, apalagi berteriak-teriak kasar dan intimidatif. Hanya sesekali terdengar yel-yel dan teriakan takbir. Orasi lebih didominasi oleh koordinator aksi, dan massa sama sekali tidak diberikan kesempatan untuk bersikap konfrontatif. Bahkan massa kemudian duduk rapi di depan gerbang GOR.

Tuntutan massa hanya satu, yaitu penghentian kegiatan keagamaan di GOR mengingat hal tersebut dinilai menyalahi aturan dan berpotensi menimbulkan konflik dengan warga setempat. Camat yang juga kebetulan hadir kemudian didaulat untuk mengeluarkan surat keputusan atau setidaknya mendesak agar pihak GBKP pada hari itu juga menyatakan akan menghentikan kegiatan keagamaan di GOR tersebut, dengan membuat pernyataan di atas materai.

Singkat cerita, berakhirlah aksi damai warga sejalan dengan disepakatinya sebuah keputusan dari pihak GBKP untuk tidak lagi menyelenggarakan kegiatan peribadatan di GOR.

Saya yang berada di lokasi aksi -bukan dalam kapasitas sebagai apapun melainkan hanya sekedar “peninjau”- ikut menarik nafas lega karena semuanya berakhir tanpa kekerasan. Selama aksi berlangsung, berbagai perasaan berkecamuk dalam hati saya. Rasa iba, kasihan sekaligus sedih bercampur aduk. Namun saya juga tidak bisa menyalahkan sikap warga yang menolak keberadaan gereja di wilayahnya. Dari sisi hukum saja, pengalihfungsian sarana umum (GOR) menjadi rumah ibadah tanpa izin adalah tidak dibenarkan.

Namun saya juga ikut iba dan bersedih melihat wajah-wajah saudara-saudaraku yang kebetulan kristen. Wajah-wajah yang menampakkan ketakutan, kegelisahan juga kebingungan. Bingung karena mungkin mereka berfikir di mana minggu besok mereka akan menyelenggarakan peribadatan.

Saya hanya membayangkan, andai saja kita ummat Islam yang berada pada posisi sebaliknya. Kita yang minoritas, mereka yang mayoritas. Kita yang didemo dan mereka yang mendemo  kita saat tengah melaksanakan salat jum’at (misalnya) di sebuah GOR dengan terpaksa, karena kita belum memiliki masjid yang representatif.

Dalam catatan ini, pertama saya ingin mengucapkan penghargaan kepada warga kawaluyaan yang telah dapat menjaga ketertiban dan keamanan selam aksi berlangsung. Insya Allah, apa yang anda sekalian lakukan itu muncul dari dorongan niat karena Allah. Semoga Allah membalasnya.

Untuk saudara-saudaraku umat kristen, khususnya GBKP Kawaluyaan, saya atas nama pribadi mengucapkan permohonan maaf atas ketidaknyamanan dan hujan kegelisahan yang anda rasakan saat aksi berlangsung. Semoga anda menemukan tempat lain yang lebih baik.

Sebagai penutup catatan ini, saya tegaskan bahwa saya tidak dalam posisi membela siapapun atau memberikan pembenaran kepada pihak manapun. Saya hanya seorang muslim Indonesia yang memiliki sejuta mimpi, agar di bumi pertiwi ini tidak ada satupun anak bangsa yang merasa tersakiti, diperlakukan tidak adil atau merasa dipinggirkan. Andai saja saya presidennya… hehehehe…

Kami Diteror 60 Hari

Desember 1, 2007 pukul 1:00 pm | Ditulis dalam Agama, Artikel, Pendidikan, Pesantren Pondok Iqra' | 6 Komentar

Saya ingin berbagi pengalaman dengan semua pengunjung/pembaca yang budiman. Semoga cerita ini bisa memberikan manfaat dan bahan perenungan bagi kita semua.

Kejadiaannya bermula pada saat pesantren kami, yakni Pesantren Pondok Iqro bermaksud menyelenggarakan sebuah kegiatan bertajuk “Pengajian Kebangsaan” untuk yang kedua kalinya, pada tanggal 16 Juli 2005. Acara ini digagas bersama PAKUAN (Paguyuban Anti Diskriminasi untuk Agama Adat dan Kepercayaan).

Adapun latar belakang menggagas Pengajian Kebangsaan itu: pertama, konflik atas nama agama, etnis dan golongan sudah cukup melelahkan dan merugikan secara materi dan immateri; kedua, konflik atas nama agama, etnis dan golongan seringkali dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu demi kepentingan tertentu. Dan ketiga, persoalan bangsa ini cukup rumit dan banyak: pendidikan, kemiskinan, moralitas dan seabrek masalah lainnya.

Dengan latar belakang diatas, Pengajian Kebangsaan bertujuan untuk menciptakan media dan ruang dimana semua pihak, tokoh dan jamaah serta warganya, bisa bertemu, duduk bersama, berbagi pengalaman dan menciptakan kesepahaman dan pengertian. Sehingga kecurigaan-kecurigaan atas orang lain yang berbeda akan terhapuskan, dan akan terbangun suasana hangat, akrab, saling percaya dan penuh cinta.

Panitia kemudian mengundang para tokoh dan umat dari berbagai agama seperti Islam, Kristen, Hindu, Penghayat Kepercayaan, Konghucu dan Baha’i. Tidak lupa, pihak pesantren juga telah melayangkan undangan dan surat pemberitahuan kepada instansi pemerintah seperti kelurahan, kecamatan, departemen agama kota Bandung dan kepolisian. Bahkan, pihak kepolisian membeikan apresiasi positif dan menyatakan bahwa acara seperti baik dan tidak perlu izin, cukup pemberitahuan saja.

Sayangnya, acara ini dikemudian dipelintir oleh segelintir oknum dengan diisukan sebagai acara pengajian bersama yang mencampuradukkan berbagai agama menjadi satu, kurang lebih seperti ajaran komunitas Eden atau Salamullah. Yang lebih parah, isunya kemudian berkembang menjadi seolah-olah Pesantren Pondok Iqro akan berubah fungsinya menjadi gereja, diiringi dengan isu-isu fitnah lainnya yang menjadi bumbu pembakar emosi warga yang tidak tahu apa-apa.

Alhasil, berkumpullah sekelompok massa yang menuntut dibatalkannya acara tersebut. Tuntutan massa tidak hanya terbatas pada penghentian acara, namun berkembang menjadi upaya pengusiran dan tuntutan agar pesantren dibubarkan serta seluruh asetnya diserahkan kepada mereka. Yang aneh, jauh sebelum acara itu akan diselenggarakan telah terbentuk kepengurusan baru yang akan mengakuisisi pesantren, lengkap dari mulai sesepuh pesantren sampai pelaksana teknis. Padahal aset-aset pesantren berupa tanah dan bangunan beserta seluruh fasilitas yang ada adalah murni milik pesantren. Singkatnya semua yang ada bahkan termasuk properti pribadi harus diserahkan secara cuma-cuma. (Sebagai catatan, harga tanah di daerah kami bisa mencapai 1 juta per meternya.)

Karena tuntutan tersebut tidak mungkin kami penuhi, dan dari aspek manapun tidak akan ada pembenaran terhadap tuntutan tersebut, akhirnya massa membubarkan diri. Tapi ternyata tidak sampai disitu rupanya. Geram karena tuntutannya tidak membuahkan hasil, akhirnya segelintir oknum penggerak massa membuat strategi lain, yaitu melakukan teror secara membabi buta baik dengan melakukan pelemparan ke rumah tinggal sesepuh, mencorat-coret dinding dan membubarkan setiap kali anak-anak santri mengaji. Tujuannya adalah agar kami akhirnya ketakutan dan meninggalkan pesantren dengan “suka rela”.

Saudara pembaca, ini mungkin pengalaman paling mengesankan bagi saya dan para asaatidz yang lain. Bagaimana tidak, setiap menjelang isya kami dengan setengah bercanda bermain tebak-tebakan. Pertanyaannya adalah “jam berapa batu pertama membentur genting rumah?” Lemparan batu rutin menimpa atap genting rumah dan pesantren setiap malam dari jam 19-an sampai menjelang subuh, selama 60 hari lebih!

Pernah pada suatu malam, saya akhirnya menghubungi kepolisian agar membubarkan para pemuda di bawah setengah sadar yang melempari kami. Sayangnya kedatangan patroli polisi selalu diketahui oleh mereka, sehingga dengan cepat mereka menghilang bak ditelan bumi. Saking bosannya, polisi sampai pernah berprasangka kalau kami membuat laporan palsu. Untungnya, pimpinan polsek berinisiatif menempatkan intel yang bertugas memantau kebenaran laporan kami.

Alhamdulillah, pada suatu malam ketika sang intel (hanya sendirian) sedang bersembunyi di salah satu ruangan pesantren, lemparan batunya tepat menimpa di atas kepalanya… tanpa berfikir dua kali sang intel keluar dari “prsembunyiannya” sambil memuntahkan peluru ke atas sebanyak 2 kali. Maka tunggang langganglah para “atlit lempar batu”…

Pihak kepolisian berulangkali mendesak kepada kami agar memberikan laporan resmi tertulis ke polres agar bisa ditindaklanjuti (soal yang satu ini saya tidak faham, karena saya menilai kejadian ini bukan delik aduan, melain pro yustisia. Maaf kalau saya keliru). Tapi sesuai perintah sesepuh, kami tidak akan membuat laporan, alasannya sangat sederhana. Para pelaku teror adalah warga sekitar yang notabene merupakan “alumni” santri. Bahkan (mungkin anda tidak akan percaya) jika pada malam harinya mereka melempari kami, namun pada pagi dan sore harinya mereka mengantarkan anak-anaknya untuk tetap mengaji. Pada saat itu kami merasa tidak mungkin memperkarakan santri -orangtua atau keluarganya- sendiri.

Seperti kata pepatah sepandai-pandainya tupai melompat, akan jatuh juga. Pada suatu malam sekitar pukul 21.00, seperti biasa pelemparan batu kembali terjadi. Namun malang tak dapat ditolak, pada malam itu nyaris saja ada korban jiwa akibat pelemparan tersebut. Calon korbannya tidak lain adalah tokoh warga -mantan RW dan jagoan paling disegani di kampung kami- beserta istrinya. Kontan saja pak Haji -yang biasa memakai celana dalam saja atau berpakaian ala baduy- naik pitam. Saat itu juga beliau menghubungi anak buahnya. Malam itu menjadi malam paling menegangkan karena hampir saja terjadi konflik antar masyarakat, bukan lagi dengan pesantren. Tapi warga dengan warga, yang pro dengan yang kontra.

Polisi akhirnya turun tangan malam itu juga. Sebagian besar oknum digiring ke Polres dan diproses secara hukum sampai dijatuhi hukuman penjara. Akhirnya, selesailah malam-malam panjang kami yang penuh teror dan horor.

Kami tidak pernah menyesali kejadian tersebut, bahkan sekarang kami justeru merasakan hikmah dan manfaat yang luar biasa. Ambil contoh, jumlah santri TKA/TPA naik tajam. Siswa baru di TK, SD dan mahasiswa PGTK/SD dan peserta wajar dikdas juga mengalami kenaikan. Bahkan untuk SD, jauh hari sebelum tahun ajaran baru, kami harus menutup pendaftaran karena keterbatasan kelas. Yang lucu, kebanyakan dari siswa baru SD kami orangtuanya adalah perwira polisi atau tentara! Hehehe…

Pesantren akhirnya dapat membangun fasilitas gedung baru, laboratorium komputer dan WC baru! Alhamdulillahirobbil ‘alamiin.

 

 

 

Saya Sangsi Allah Maha Penyayang

Desember 1, 2007 pukul 4:51 am | Ditulis dalam Agama, Pendidikan, Pesantren Pondok Iqra', Radio Broadcast | 14 Komentar

Pada suatu kesempatan ketika siaran Aula Hikmah, saya mendapat pertanyaan dari salah seorang pendengar melalui SMS. Pertanyaan lengkapnya sebagai berikut:  

Kang, apa maksudnya Allah tidak akan memberi cobaan di luar kemampuan ummat-Nya? Apa maksudnya juga Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Maha Bijaksana dan tidak pernah mengecewakan umat-Nya, Kalau Allah tidak kasih jawaban atas usaha dan doaku untuk mendapatkan kerja, malahan Allah memberikan saya cobaan penyakit kanker, saya tidak mampu mengobati penyakit ini dan Allah malah menjauhkan saya dari teman dekatku? Dosa tidak jika saya berdoa untuk minta dipercepat ajalnya?

Saya tidak terburu-buru menjawab pertanyaan ini, karena menjawab pertanyaan seperti ini -yang pada intinya muncul dari prasangka dan “kekecewaan” kepada Allah akibat “merasa tidak diperhatikan” oleh Allah- harus ekstra hati-hati agar penanya dapat terpuaskan dengan jawaban yang diberikan, sehingga prasangkanya terluruskan kembali dan kekecewaannya kepada Allah teredakan.

Saya kira perasaan seperti yang dirasakan oleh penanya di atas terkadang menghinggapi hati kita. Terlebih pada saat kita merasa bahwa penghambaan kita kepada Allah –dengan salat, puasa, sodaqah, berdoa dan bentuk-bentuk ibadah lainnya– sepertinya tidak membuat hidup kita menjadi lebih mudah dan tercerahkan. Alih-alih, kita justeru merasakan kesempitan, kesulitan, dan ketidakberdayaan yang bertubi-tubi. Maka kemudian yang muncul adalah prasangka buruk terhadap Allah yang berujung pada kekecewaan terhadap-Nya. Lebih dari itu, bahkan ada yang kemudian mengambil keputusan untuk tidak lagi berdoa, meninggalkan salat, berhenti sodaqah dan tidak lagi berharap kepada Allah SWT.  Alasannya, “Toh ternyata Allah tidak menyayangi makhluknya.” Atau, “Percuma saya beribadah.”

Benarkah Allah Maha Pengasih & Penyayang?

Kata “Ar-Rahman” terambil dari “Ar-Rahmah” yang berarti “belas kasihan“, yaitu suatu sifat yang menimbulkan perbuatan memberi nikmat dan karunia. Jadi kata “Ar-Rahman” bermakna: Yang berbuat (memberi) nikmat dan karunia yang banyak.

Kata “Ar-Rahim” juga terambil dari “Ar-Rahmah“, dan arti “Rahim” ialah: Yang mempunyai sifat belas kasihan, dan sifat itu “tetap” padanya selama-lamanya.

Jika disatukan (seperti dalam surat al-Faatihah atau Basmallah), maka Ar-Rahman Ar-Rahim (Arrahmanirrahim) itu berarti: Tuhan itu telah memberi nikmat yang banyak dengan murah-Nya dan telah melimpahkan karunia yang tidak terhingga, karena Dia memiliki sifat belas kasihan kepada makhluk-Nya, dan oleh karena sifat belas kasihan itu adalah suatu sifat yang tetap pada-Nya maka nikmat dan karunia Allah itu tidak ada putus-putusnya. Kata-kata “Ar-Rahman” dan “Ar-Rahim” itu kedua-duanya diperlukan dalam susunan ini, karena masing-masing mempunyai arti yang khusus.

Apbila seseorang mendengar orang mensifati Allah dengan Ar-Rahman, maka terpahamlah olehnya bahwa Allah itu telah melimpahkan nikmat dan karunia-Nya dengan banyak dan berlimpah-limpah. Tetapi bahwa limpahan nikmat dan karunia yang banyak itu tetap, tidak putus-putus tidak dapat dipahami dari lafaz Ar-Rahman itu saja. Karena itu perlu diikuti dengan Ar-Rahim, agar orang mengambil pengertian bahwa limpahan nikmat dan karunia serta kemurahan Allah itu tidak ada putus-putusnya.

Jika Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, kenapa Dia memberikan kesulitan, menurunkan musibah dan azab kepada makhluk-Nya?

Sebagian dari kita kerap kali memahami bahwa bentuk kasih sayang Allah hanya berupa kesenangan, kebahagiaan, karunia, pertolongan, nikmat dan hidayah. Pdahal jika kita renungkan, musibah dengan beragam bentuknya (sakit, bangkrut, miskin, kekurangan pangan, kematian) pada hakikatnya merupakan bagian dari kasih sayang Allah bagi Makhluk-Nya. Bukankah bagi orang yang beriman kepada-Nya, musibah merupakan ujian atas keimanannya kepada Allah? Jika seorang hamba lulus dari ujian-Nya, maka derajatnya akan ditinggikan oleh Allah. Dengan musibah, seseorang akan tersadarkan dari kelalaiannya. Bahkan dengan musibah pula, potensi-potensi “diam” dalam diri manusia kerap kali muncul ke permukaan menjadi sebuah inovasi, kreatifitas dan semangat baru.

Musibah adalah kejadian yang datang atas ketentuan Allah dan tidak bisa ditolak kedatangannya. Musibah datang dan menimpa siapapun tanpa membeda-bedakan sasarannya. Musibah dapat menimpa orang-orang yang saleh juga orang yang biasa berbuat dosa. Musibah bisa menghampiri orang-orang yang ahli ibadah, juga yang ahli maksiat.

Meski pada dasarnya musibah adalah sesuatu yang tidak menyenangkan dan tidak diharapkan kedatangannya, namun bagi seorang mukmin musibah secara hakikat akan dipandang sebagai ujian dan jalan untuk meningkatkan derajat keimanannya terhadap Allah SWT. Hal ini dijelaskan di dalam surah Al ‘Ankabuut 2-3:

(Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan) mengenai ucapan mereka yang mengatakan, (“Kami telah beriman”, sedangkan mereka tidak diuji lagi?) diuji lebih dulu dengan hal-hal yang akan menampakkan hakikat keimanan mereka. Ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang yang masuk Islam, kemudian mereka disiksa oleh orang-orang musyrik.

(Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka. Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar) di dalam keimanan mereka dengan pengetahuan yang menyaksikan (dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta) di dalam keimanannya.

Akan tetapi, manakala musibah menimpa orang-orang yang bermaksiat, maka musibah tersebut dapat dipastikan sebagai siksaan atau pembalasan atas perbuatan dosanya. Hal ini ditegaskan Allah dalam Surah Muhammad ayat 10:

(Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka; Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka) atas diri mereka, dan anak-anak serta harta benda mereka (dan orang-orang kafir akan menerima hal yang seperti itu) yaitu mereka akan menerima akibat-akibat yang sama dengan apa yang telah diterima oleh orang-orang kafir sebelum mereka.

Artinya, musibah yang menimpa orang-orang kafir adalah bentuk pembalasan atas kekafiran mereka.

Musibah juga bisa berarti peringatan dari Allah atas kelalaian dan kezaliman yang dilakukan oleh orang-orang mukmin, dengan maksud agar dengan musibah yang menimpanya, seorang mukmin yang tengah asyik masyuk bergelimang dengan dosa dapat segera kembali ke jalan Allah dan menghentikan perbuatan maksiatnya

Menurut pandangan saya, azab sekalipun hakikatnya merupakan bentuk kasih sayang Allah selama azab itu diturunkan di dunia. Karena azab atau siksaan bukan hanya sekedar balasan terhadap kejahatan yang diperbuat oleh manusia, melainkan juga berfungsi sebagai pengingat agar manusia tidak terlena dalam kubangan kemunkaran, supaya manusia kembali kepada kebenaran dan terhindar dari azab yang jauh lebih pedih, yaitu siksa neraka.

Karenanya, adalah sangat tidak beralasan jika kemudian kita menyangsikan ke-Maha Rahman dan Rahiiman-Nya.  Wallahu a’lam

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.