Sudah Rendah Hatikah kita?

Desember 26, 2007 pukul 2:19 pm | Ditulis dalam Agama, Artikel, Dakwah, Humor, Islam, Manhaj, Pendidikan, Renungan, Umum | 18 Komentar

Sewaktu akan berangkat untuk mondok di pesantren 18 tahun yang lalu, bapak saya memberikan secarik daftar berisi “sifat-sifat buruk” saya. Ada 23 sifat buruk yang menurut bapak ada pada diri saya. Maksud beliau memberikan daftar itu tidak lain adalah agar menjadi bahan introspeksi buat saya pribadi, tentunya dengan harapan agar setelahnya mondok, ke 23 sifat buruk itu bisa hilang. Urutan pertama dari 23 sifat itu adalah: Takabbur atau tinggi hati. Orang biasa menyebutnya dengan sombong. 

Alhamdulillah, sepulangnya mondok di pesantren selama 8 tahun, dari 23 sifat buruk tersebut, kata bapak yang tersisa hanya 23 saja! :mrgreen:

Pada suatu ketika, dalam kesempatan pengajian rutin bersama Kyai Sepuh, saya memberanikan diri untuk bertanya kepada Kyai Sepuh mengenai ciri orang yang terhinggapi penyakit sombong ini. Beliau memberikan jawaban kurang lebihnya seperti ini:

“Ketika seseorang merasa bahwa pembantunya tidak layak untuk makan satu meja bersama-sama dirinya, atau juga menganggap bahwa air dalam gelas bekas minumnya pantas untuk diminum pembantunya, namun air bekas minum pembantunya tidak layak bahkan menjijikkan untuk diminum oleh dirinya, maka orang seperti itu hatinya masih dihinggapi penyakit sombong”

Kemudian Kyai sepuh melanjutkan:

“Sebaliknya rendah hati itu adalah ketika kamu tunduk pada apa-apa yang haq dan benar, kamu ikuti itu, sekalipun kamu mendengarnya dari seorang anak kecil, maka terimalah nasihatnya. Bahkan sekalipun nasihat tentang kebenaran dan haq itu kamu dengar dari manusia yang paling bodoh, kamu harus menyimak dan memperhatikannya.”

Dari penuturan Kyai, saya dapat mengambil beberapa intisari dari makna tawadlhu (rendah hati, lawan dari takabbur atau sombong).

Pertama, tawadlu’ adalah sikap atau kondisi hati kita yang tunduk pada segala sesuatu yang hak dan benar menurut ajaran dan perintah Allah.

Kedua, tawadlu’ mewujud dalam perilaku keseharian kita dalam bergaul dengan sesama manusia, yaitu tidak mendiskriminasi orang lain, dan memperlakukannya secara adil dan manusiawi.

Ketiga, tawadlu’ bermakna lapangnya hati dan kesediaan dalam menerima nasihat, dari siapapun, tanpa memandang siapa yang berbicara, selama nasihatnya adalah kebenaran dan hak. Dalam kata lain, hati dan akalnya senantiasa dibuka untuk menerima ajaran, nasihat dan ilmu yang dapat menuntunnya kepada kebenaran, dari manapun dan dari siapapun.

Begitu kira-kira… Hanya Allah Yang lebih Maha Mengetahui

Astaghfirullah! Menuntut Ilmu Selain “Ilmu Syar’i” Saja Sampai Dianggap Berdosa

Desember 23, 2007 pukul 2:55 pm | Ditulis dalam Agama, Artikel, Dakwah, Islam, Komunikasi, Manhaj, Pendidikan | 42 Komentar

Bismillaahirrahmaanirrahim.

Ketika Dora Emon CS “disesatkan” dalam banyak postingan sekubu, saya masih agak bisa memaklumi pandangan tersebut, paling tidak dalam tinjauan manfaat dan madarat, sekalipun secara pribadi saya menilainya sebagai sesuatu yang sangat relatif.

Akan tetapi, beberapa menit sebelum menuliskan postingan ini saya menemukan iftitah (pembukaan atau pengantar) dalam beberapa “blog” yang membuat kening saya berkerut sampai kepala saya tidak berbentuk kepala sebagaimana mestinya, karena yang terlihat hanya kerutannya saja.  

Saya membaca kata pengantar yang isinya kurang lebih menyatakan jika yang bersangkutan bertaubat kepada Allah SWT karena “MENUNTUT ILMU YANG GHOIRU SYAR’I DI SEBUAH PERGURUAN TINGGI…”. Pernyataan “bertaubat” atas illat “menuntut ilmu yang ghoiru syar’i” itulah yang saya persoalkan. Karena ketika seseorang mentaubati sesuatu yang telah dikerjakannya, maka ia menyadari bahwa perbuatannya tersebut salah, berdosa dan dibenci oleh Allah Azza Wajalla, sehingga ia merasa harus bertaubat.

Pertanyaan saya adalah, “Ilmu Ghoiru Syar’i” atau ilmu yang selain syariat itu apa saja, dan mengapa dihukumi sebagai ilmu yang mengakibatkan dosa jika mempelajarinya? Saya juga mempertanyakan hal ini kepada yang bersangkutan (bukan hanya satu orang, namun 3 situs), sayang semuanya dimoderasi.

Saya khawatir jika yang dimaksud dengan ilmu ghoiru syar’i itu adalah ilmu yang selain kajian ilmu agama (syariat), seperti halnya biologi, fisika, kimia, matematika, sospol, komunikasi, perpajakan, keuangan dan lain sebagainya. Kalau yang dimaksud adalah ilmu santet, teluh, sihir dan perdukunan saya setuju, tapi setahu saya tidak ada perguruan tinggi apalagi yang ‘ikatan dinas” yang membuka fakutas Dukunologi Jurusan Sihirulogi dan Teluhulogi!

Pantas pula jika saya sering mendengar ungkapan dari sebagian “mereka” bahwa belajar dengan sistem strata lalu mendapatkan gelar kesarjanaan termasuk hal yang bid’ah.  Astagfirullaahal ‘adziim, sebegitu jumudkah akal fikirannya? Saudara bisa terbang menuntut ilmu ke Arab Saudi juga berkat ‘jasa” para ilmuwan yang mempelajari fisika, matematika dan cabang ilmu yang lainnya.

Saya cuma mengelus dada dan bergumam pelan… “keterlaluan..”

Ulama Bijak Versus Ulama Busuk

Desember 23, 2007 pukul 9:38 am | Ditulis dalam Agama, Artikel, Dakwah, Humor, Islam, Komunikasi, Manhaj, Pendidikan, Renungan, Umum | 13 Komentar

Hatim al-Asham bukan nama asing dalam khazanah tasawuf. Konon, gelar al-Asham (orang tuli) yang disandangnya melekat akibat peristiwa dalam salahsatu majelisnya, dimana seorang wanita -maaf- buang angin di depannya tanpa sengaja. Hatim yang bijak berpura-pura tidak mendengar dan melanjutkan ceramahnya. Hatim adalah ulama yang amat disegani. Wibawanya memancar karena kezuhudan, ketekunan ibadah dan pembelaannya terhadap rakyat kecil.

Suatu ketika ia dikabari tentang adanya seorang ulama masyhur yang hidup bergelimang kemewahan. Sudah rahasia umum, kekayaan dan kemewahan ulama tersebut diperolehnya karena “pengabdiannya” pada raja. Sang ulama tidak pernah sekalipun mengingatkan rajanya, sekalipun sang raja telah nyata-nyata berlaku zalim dan menyalahi aturan-aturan Allah SWT. Hatim lalu merasa tergugah untuk meluruskannya.

Sesampainya di rumah megah sang ulama, ia bergumam, “Inikah sosok pewaris Nabi?” Lalu diketuknya pintu rumah dan meminta izin bertemu dengan sang ulama. Dilihatnya isi rumah dipenuhi dengan perabotan mahal dan sang ulama sendiri tengah berbaring di atas ranjang empuk, dikipasi bujang-bujangnya.

Guru, ajarkan saya cara wudhunya Rasulullah“, pinta Hakim kemudian.

Di atas ranjang, sang ulama lalu mencontohkan cara berwudhu. Hatim menirunya dengan sedikit perbedaan. Sang ulama menegur, “Basuhlah sebanyak tiga kali, jangan lebih karena itu merupakan tabdzir (pemborosan)“.

Beroleh kesempatan, Hatim menukas lantang, “Guru, anda beroleh ilmu ini dari tabi’in, tabi’in dari sahabat, dan sahabat dari Rasulullah. Pernahkah beliau mengajarkan hidup boros dan mewah seperti ini? Jika Guru  berkata kelebihan satu basuhan saja dianggap tabdzir, lalu bagaimana dengan semua kemewahan ini?

Hujjatul-Islam Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin membagi ulama dalam dua kelompok: ulama al-akhirah (ulama baik) dan ulama al-suu’ (ulama busuk). Menurut beliau, salahsatu ciri yang membedakan keduanya adalah kedekatan dan pengabdian buta pada penguasa dan kekuasaan.

Nabi SAW bersabda, “Ulama adalah kepercayaan para Rasul selama tidak bercampur dengan penguasa dan larut dalam kehidupan duniawi. Jika mereka bercampur dengan penguasa dan larut dalam dunia, sungguh mereka telah mengkhianati para Rasul. Jauhi dan berhati-hatilah dengan mereka”.

GENERASI OPTIMIS DAN KEWIRAUSAHAAN

Desember 22, 2007 pukul 8:48 am | Ditulis dalam Agama, Artikel, Dakwah, Islam, Komunikasi, Manhaj, Pendidikan, Renungan, Umum | 10 Komentar

Berbeda dengan rekan-rekan semasa kuliahnya yang berebut posisi di perusahaan-perusahaan multinasional di Jakarta, ada seorang gadis -sebut saja Lia Rozenesia :mrgreen: – memilih pekerjaan bergaji “minim” di sebuah perusahaan menengah di Bandung. Hal ini tentu sangat disayangkan oleh teman-temannya, juga keluarganya.

Pekerjaan bergengsi dan bergaji besar di Bandung memang langka. Cabang perusahaan multinasional yang berada di Bandung biasanya menempatkan para manager atas kebijakan dari pusat di Jakarta. Apakah ada alasan-alasan irrasional di balik keputusannya itu?

“Mungkin juga”, katanya suatu ketika saat berbincang dengan temannya, “dari dulu saya ingin sekali tinggal di Bandung. Sayang, sulit sekali meminta penempatan di Bandung”. “Jadi hanya karena alasan sederhana itu?” Tanya temannya keheranan. “Coba lihat koran lokal ini. Bisa tidak kamu temukan iklan lowongan pekerjaan yang menawarkan posisi manager ke atas?”

“Jumlah iklannya memang banyak sekali. Hanya saja, hampir semuanya menawarkan posisi-posisi menengah dan gaji yang minim. Ini menandakan bahwa lapangan kerja di Bandung memang sempit sekali, seharusnya kamu tidak memilih bekerja di Bandung” Lanjut temannya menyarankan.

Pembaca yang budiman, dicecar pertanyaan dan argumentasi temannya, Nona Rozenesia menjawab sambil memandang dengan mimik serius. “Pandanganmu kok sempit begitu? Buatku, lapangan kerja sempit berarti lahan bisnis yang luas. Itulah alasan sebenarnya aku ingin tinggal di Bandung. Sambil bekerja, aku sekalian mempelajari potensi bisnis yang bisa dilakukan di Bandung”. Bravo!

Entrepreneurship (kewirausahaan) memang sesuatu yang masih jarang dimiliki oleh generasi muda kita. Cara berpikir muda-mudi kita masih sangat pragmatis; segera mendapat karier yang baik dan bergaji besar, menabung untuk biaya menikah, rumah dan kendaraan, menabung lagi untuk sekolah anak, dan akhirnya, menabung lagi untuk hari pensiun yang santai.

Jelas, hal itu menunjukkan bahwa visi generasi muda kita dalam bekerja bekerja agar bisa pensiun. Berbeda dengan para entrepreneur (wirausahawan). Bagi mereka, kelangsungan hidup perusahaan adalah hal yang paling utama, bahkan lebih penting dari profit. Di zaman baru ini, tujuan perusahaan adalah berusaha tetap exist dan tumbuh terus. Itulah yang membedakan mereka dengan para pekerjanya. Pebisnis bekerja agar bisa terus bekerja.

Dari banyak diskusi yang saya lakukan dengan para sarjana, saya melihat satu hal. Orang kita cenderung malas untuk memulai sesuatu dari nol. Lebih mudah memang, meneruskan apa yang sudah mapan ketimbang mendesain produk, menciptakan pasar, menjalin jaringan, mengumpulkan relasi dan mencari sumber pendanaan.

Satu lagi yang sering terlewatkan oleh banyak analis dan pengamat ekonomi, adalah keengganan kita untuk berbeda. Jujur saja, kita sering merasa minder bila memulai sesuatu bisnis, setelah menyerah dalam usaha mencari kerja. Ketika seorang sarjana membuka toko kelontong, misalnya, kepada teman-teman sealmamater ia akan mengaku masih menganggur.

Memang, rasanya seperti “telanjang” bila kita tidak memiliki label ‘sudah bekerja’. Kita lebih suka bekerja part time dengan gaji di bawah UMR ketimbang itikurih merintis bisnis sendiri. Paling tidak, terkesan keren sekali ketika mengaku sebagai ‘karyawan di PT anu’ kepada calon mertua.

Apa yang dipikirkan oleh kebanyakan kita orang Indonesia? Kita rela membayar agar bisa bekerja, seakan tenaga dan kemampuan kita tidak ada nilainya. Orang tua para sarjana kita rela memberikan uang Rp. 30-40 juta agar anaknya bisa bekerja di instansi-instansi tertentu. Ironis, resiko tertipu oknum tidak dianggap sebagai sesuatu yang perlu diperhitungkan. Lain cerita ketika sang anak meminta pinjaman beberapa juta rupiah untuk modal usaha. Kening orang tua biasanya akan langsung berkerut! 😥

Saya teringat akan satu ungkapan di satu edisi National Geographic, yang mencerminkan optimisme bangsa Amerika terhadap masa depan ekonomi mereka. Thank God we still have one inexhaustible resource, the spirit of enterprise. Sampai semangat itu berhasil kita hayati, saya khawatir kita akan terus terpuruk sebagai bangsa pesimis.

Begitu kira-kira…

Kalau Saya Mati Duluan, Apa Kamu Akan Kawin Lagi?

Desember 16, 2007 pukul 12:40 pm | Ditulis dalam Agama, Artikel, Humor, Islam, Komunikasi, Pendidikan | 49 Komentar

Begitu kira-kira pertanyaan yang terkadang disampaikan -sebagian- suami kepada istrinya. Sebaliknya juga demikian, pertanyaan serupa mungkin diajukan seorang istri kepada suaminya tercinta. Terlebih mereka yang sedang dimabuk kasmaran dan dibuai oleh sensasi cinta. Apakah anda juga pernah iseng menanyakan hal yang sama kepada pasangan anda? 

Jawaban yang ingin anda dengar tentu adalah “tidak”, atau setidaknya gelengan kepala sebagai bahasa tubuh yang mengisyarakan komitmen untuk tidak mencintai, dicintai, dimiliki dan memiliki orang lain selain anda seorang, bahkan ketika anda terlebih dahulu meninggalkan alam fana ini. Bayangkan kalau jawaban yang meluncur dari bibir pasangan anda adalah “gak tahu..” atau hanya diam tidak menjawab? Alih-alih mendengar jawaban selain tidak, sekiranya jawaban “tidak akan…” diiringi dengan kalimat “insya Allah”, itu sudah cukup membuat anda tidak senang. lalu terbakarlah hati anda dengan buncahan api cemburu….

Pertanyaan macam ini sangat lumrah. Saya menilainya sebagai sebuah refleksi yang lahir dari hasrat untuk mencintai, dicintai dan memiliki pasangannya, tidak hanya ketika di dunia, namun sampai di akhirat kelak. Ya, kurang lebihnya seperti lantunan Rita Sugiarto dalam senandung dangdut berjudul Pacar Dunia Akhirat.

Lalu, apakah salah jika kita memiliki hasrat untuk memiliki pasangan kita selama-lamanya? Agama tidak memandangnya sebagai sesuatu yang salah. Bukankah Allah SWT telah memberikan gambaran bahwa pasangan-pasangan suami istri yang beriman akan masuk ke dalam surga dan bercengkrama di dalamnya bersama-sama.

Hanya saja, yang harus difahami adalah bahwa realita hidup tidak selamanya memberikan apa yang kita ingingkan. Untuk memahaminya, saya mencoba menceritakan sebuah kisah.

Ada seorang pria sukses. Selain tampan ia juga dikenal sebagai seorang jutawan dengan beragam jenis perusahaan yang dimilikinya. Rumah bagus, mobil mewah, pakaian mahal, tanah yang luas dan deposito di Bank semuanya ada.

Pada suatu ketika, ia bertemu dengan seorang gadis berkerudung nan cantik rupawan, cerdas, keibuan dan berkepribadian mulia dalam sebuah kesempatan acara pemberian santunan untuk fakir miskin dan yatim piatu di sebuah yayasan. Lalu jatuh hatilah ia kepada gadis tersebut. Lagi pula, pria mana yang tidak akan tertikam oleh pesona perempuan seperti itu?

Rupanya, cinta sang jutawan tidak bertepuk sebelah tangan. Sang gadis pun menerima dan membalas cintanya. Selang satu bulan kemudian, digelarlah acara pernikahan yang meriah. Keduanya mengikatkan diri dalam sebuah mahligai rumah tangga. Akhirnya, resmilah mereka berdua sebagai pasangan suami istri.

Begitu besarnya cinta sang jutawan kepada istrinya, sedetikpun ia tidak mau jauh dari sang istri.

Hari berganti hari, malam berganti malam. Bulan dan tahun tidak terasa berjalan…. 

Hari-hari yang dilaluinya menjadi semakin penuh warna dan indah. Tidak hanya bertabur gemerlap harta dan kekayaan, namun juga dipenuhi dengan cinta istrinya.

Pada suatu malam, ketika pasangan muda ini bersiap untuk tidur diperaduan, sang jutawan bertanya kepada istrinya, “Sayangku, sekiranya aku meninggal besok atau entah kapan, apakah engkau akan tetap mencintaiku?”. Istrinya menjawab dengan wajah bersemburat mesra, “Tentu suamiku, aku akan mencintaimu sampai kapanpun, bahkan ketika ajal memisahkan kita. Aku hanya milikmu seorang, istrimu di dunia dan di akhirat”. Tenanglah hati sang jutawan demi mendengar jawaban ini. Kemudian terlelaplah keduanya dibuai oleh mimpi indah tentang cinta sejati dan kasih sehidup semati.

Keesokan paginya, dengan sangat berat hati sang jutawan berpamitan kepada istrinya untuk menyelesaikan urusan bisnis di luar kota.

Untung tak bisa diraih, malang tak dapat ditolak. Di tengah perjalanan sang suami mengalami kecelakaan fatal sampai merenggut nyawanya. Kendaraannya bertabrakan dengan bus dalam kecepatan tinggi.  

Remuk redamlah hati sang istri ketika mendengar kabar kecelakaan yang menimpa suaminya. Seakan tidak percaya, jika suami yang amat ia cintai telah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya. Padahal semalam ia masih bercengkrama mesra dengan pria yang telah menikahinya selama bertahun-tahun. Ia tidak menyangka jika pertanyaan yang diajukan suaminya adalah pertanyaan terakhir sekaligus sebagai sebuah salam perpisahan untuknya.

Sekian lama dirinya dirundung dalam kesedihan, hanyut oleh perasaan kehilangan yang tidak terperikan. Dirinya tenggelam dalam duka yang teramat sangat. Ia menjadi lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam rumah sambil membuka album foto saat masih bersama suami tercinta.

Syukurlah, pada suatu hari dirinya tersadarkan untuk tidak terus larut dalam kesedihan tak berkesudahan. Ia memutuskan untuk kembali aktif dalam kegiatan agama. Dirinya berharap, kesibukan dalam majelis taklim dan kegiatan yang lain dapat memberinya ketenangan dan tidak terus menerus tenggelam dalam derai air mata karena teringat mendiang suaminya.

Rupanya Tuhan memiliki rencana. Aktifitasnya di majelis taklim secara tidak langsung mempertemukan dirinya dengan seorang pria yang tidak lain adalah ustadz yang secara rutin memberikan materi. Berawal dari maksud untuk meminta nasihat sang ustadz sekaligus meminta didoakan agar diberikan ketabahan dan kesabaran oleh Allah SWT, kemudian berlanjut menjadi komunikasi yang intensif. Tanpa terasa, dalam hatinya mulai tumbuh benih-benih cinta yang baru…. Singkat cerita (kepanjangan sih!) Beberapa bulan kemudian ia telah resmi menjadi istri sang ustadz yang kebetulan masih sendiri…. :mrgreen:

Ia lupa dengan jawaban yang pernah disampaikan kepada suaminya waktu malam itu…

Nah, sekarang saya mau tanya sekali lagi. Anda akan menjawab apa jika ditanya oleh pasangan anda, “Kalau saya mati duluan, apa kamu akan kawin lagi?”

 

 

 

Kaitan Antara Iman, Ilmu, Akal, Lemahlembut dan Lunak

Desember 16, 2007 pukul 8:55 am | Ditulis dalam Agama, Artikel, Humor, Islam, Komunikasi, Pendidikan, Pesantren Pondok Iqra' | 10 Komentar

Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baiknya pembantu iman adalah ilmu. Sebaik-baiknya pembantu ilmu adalah akal. Sebaik-baiknya pembantu akal adalah kelemahlembutan, dan sebaik-baiknya pembantu kelemahlembutan adalah kelunakan.

Hadist di atas merupakan sebuah nasihat sekaligus jawaban mengenai pertanyaan yang sering kali muncul dalam benak kita, yaitu tentang bagaimana cara memperoleh keimanan, menjaganya agar tetap bersemayam bahkan semakin kuat mengakar dalam hati. Selain itu, sabda Rasulullah SAW tersebut menjadi pijakan dasar bagi setiap muslim untuk memperoleh kenikmatan iman berupa keridloan Allah SWT di dunia dan di akhirat kelak.

Keterkaitan Antara Iman dan Ilmu 

Pada bagian pertama, Rasulullah SAW menyatakan bahwa sebaik-baiknya pembantu iman adalah ilmu (pengetahuan). Maksudnya adalah, ketika seseorang berhasrat meneguhkan imannya maka jalannya adalah ilmu, bahkan dengan sebab ilmu pulalah sebenarnya seseorang dapat menemukan Tuhannya. Singkatnya, ilmu merupakan modalitas utama menggapai keimanan yang sempurna atau haqqul yakin, karena  tidak akan tercipta keyakinan dalam iman jika tidak disertai ilmu.

Pembahasan mengenai iman secara langsung akan terkait dengan masalah yakin (ketidakraguan), tidak lain karena iman merupakan perbuatan hati yang dibangun atas dasar ilmu pengetahuan yang telah diperoleh seseorang sehingga tertutup baginya kemungkinan terasuki oleh keraguan. Iman dituntut untuk berdiri di atas keyakinan yang kuat dan tidak boleh setengah-setengah, karena iman yang berdiri di atas keyakinan akan memberikan ketentraman batiniyah dan melahirkan tindakan (amal) yang spontan serta tidak disertai dengan keragu-raguan. Keyakinan adalah ketetapan ilmu yang tidak berputar-putar, tidak terombang-ambing dan tidak berubah-ubah dalam hati. Dalam pembahasan ilmu kalam, keyakinan biasa disebut pula dengan akidah, akidah sendiri didefinisikan sebagai keimanan yang kokoh di dalam hati dan dipilih menjadi jalan hidup.

Sepintas di atas telah diulas mengenai keterkaitan antara iman iman -yang mencapai taraf yakin- dengan ilmu. Selanjutnya, dengan memahami pengertian dan hakikat ilmu, kita dengan mudah akan menemukan keterkaitan antara keduanya.

Ilmu secara harfiah diartikan sebagai pengetahuan, ia merupakan lawan kata dari jahlun yang berarti ketidaktahuan atau kebodohan. Ilmu bersepadan dengan kata bahasa arab lainnya, yaitu makrifat (pengetahuan), fiqh (pemahaman) hikmah (kebijaksanaan) dan syu’ur (perasaan).

Al-Ilmu itu sendiri dikenal sebagai sifat utama Allah SWT. Dalam bentuk kata yang berbeda, Allah SWT disebut juga sebagai al-‘Alim dan ‘Aliim, yang artinya: “Yang Mengetahui” atau “Yang Maha Tahu”.

Secara umum, ilmu atau pengetahuan terbagi ke dalam dua kelompok: pengetahuan biasa (knowledge) dan pengetahuan ilmiah (science). “Pengetahuan biasa” dapat diperoleh melalui pengupayaan dari keseluruhan potensi kemanusiaan seperti perasaan, fikiran, pengalaman, pancaindera, dan intuisi untuk mengetahui sesuatu tanpa memperhatikan objek, cara dan kegunaannya. “Pengetahuan ilmiah” hakikatnya merupakan keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan untuk mengetahui sesuatu, tetapi dengan cara memperhatikan objek yang ditelah, cara yang digunakan, dan kegunaan pengetahuan tersebut, dengan kata lain pengetahuan ilmiah memperhatikan objek ontologis, landasan epistimologis, dan landasan aksiologis dari pengetahuan itu sendiri. Dalam pembahasan ini, ilmu yang dimaksudkan di sini adalah pengetahuan jenis kedua.

Dalam kajian Islam, ilmu pada awalnya lahir dari keinginan untuk memahami wahyu yang terkandung dalam alquran dan bimbingan Nabi Muhammad SAW mengenai wahyu tersebut. Al-quran sendiri banyak berbicara mengenai pentingnya ilmu dan kedudukannya yang teramat tinggi bagi siapapun yang mencari dan memilikinya.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwasanya Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sekiranya aku bertemu dengan hari baru, yang ilmuku tidak bertambah pada hari itu, yaitu ilmu yang membuatku semakin dekat dengan Allah ‘Azza wa Jalla, maka tidak ada keberkahan apa-apa bagiku dalam terbitnya matahari pada hari tersebut.” (HR. Ibnu Hibban)

Ilmu dan Akal

Pada bagian kedua, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa sebaik-baiknya pembantu ilmu adalah akal. Ketika seseorang menginginkan ilmu, ia harus mengupayakannya dengan cara mempelajarinya. Dan alat utama untuk mempelajari ilmu adalah akal.

Secara bahasa, akal berarti daya atau kekuatan fikiran (quwwatu al-idrak) atau pemahaman (al-fahmu). Juga terdapat istilah lain dari akal, yaitu  an-nazr (berfikir secara mendalam) dan al-fikr atau logika.

Akal merupakan daya atau kekuatan yang dianugerahkan oleh Allah SWT kepada manusia sebagai alat berfikir dan alat untuk mempertimbangkan serta memikirkan baik buruknya sesuatu. Akal adalah potensi yang diberikan Allah SWT kepada manusia di samping nafsu. Kedua unsur ini (akal dan nafsu) termasuk dalam alam rohani (nonfisik).

Akal merupakan potensi ruhani yang dipersiapkan untuk menerima ilmu pengetahuan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam al-Quran:

 “Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu“. (QS:29:43)

Adapun bagi mereka yang dikaruniai akal, namun kemudian tidak mempergunakannya untuk memperoleh cahaya ilahi (dalam bentuk ilmu), Allah SWT sangat mencela orang-orang yang demikian bahkan mengancamnya dengan azab neraka jahannam. Kita perhatikan firman Allah SWT berikut ini:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan (Kami ciptakan) untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami ayat-ayat Allah (yakni perkara hak) dan mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah (yaitu bukti-bukti yang menunjukkan kekuasaan Allah dengan penglihatan yang disertai pemikiran) dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar ayat-ayat Allah (ayat-ayat Allah dan nasihat-nasihat-Nya dengan pendengaran yang disertai pemikiran dan ketaatan), mereka itu bagai binatang ternak (dalam hal tidak mau mengetahui, melihat dan mendengar) bahkan mereka lebih sesat (dari hewan ternak itu, sebab hewan ternak akan mencari hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya dan ia akan lari dari hal-hal yang membahayakan dirinya tetapi mereka itu berani menyuguhkan dirinya ke dalam neraka dengan menentang) mereka itulah orang-orang yang lalai“.

Orang yang tuli, bisu dan buta dalam ayat di atas merupakan suatu perumpamaan yang merujuk kepada “orang-orang yang tidak menggunakan akalnya”, padahal mereka sebenarnya memiliki akal. Orang yang berakal adalah orang yang sadar, bisa berfikir, tidak gila, dan termasuk dalam kriteria mukallaf yaitu orang yang terikat kewajiban untuk  melaksanakan perintah Allah SWT. Akal -termasuk di dalamnya perasaan-yang telah di anugerahkan Allah SWT kepada mereka ternyata tidak dipergunakan untuk memahami keesaan dan kebesaran Allah SWT, padahal kepercayaan pada keesaan Allah SWT itu akan membersihkan jiwa mereka dari segala macam was-was dan dari sifat hina serta rendah diri serta menanamkan pada diri mereka rasa percaya terhadap dirinya sendiri.

Golongan ini mempunyai mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat bukti kebenaran dan keesaan Allah SWT. Segala kejadian yang terekam dalam sejarah manusia, segala peristiwa yang terjadi dalam kehidupan manusia setiap hari, yang terlihat dan yang terdengar tidak menjadi bahan pemikiran dan perenungan untuk dianalisa kemudian dijadikan sebagai pelajaran yang dapat dipetik manfaatnya.

Oleh Allah SWT mereka disejajarkan dengan binatang, bahkan lebih buruk, sebab binatang tidak mempunyai daya pikir untuk mengolah hasil penglihatan dan pendengaran mereka. Binatang memberikan tanggapan atau reaksi terhadap dunia luar secara instinctif dan bertujuan hanya untuk mempertahankan hidup. Itu sebabnya kenapa hewan makan dan minum serta memenuhi kebutuhannya, tidak melampaui dari batas kebutuhan biologis hewaninya. Berbeda dengan manusia yang acapkali berperilaku secara berlebihan disebabkan akalnya telah dikalahkan oleh hawa nafsu.

Bersambung… Kepanjangan sih, insya Allah diupdate!

Menikmati Perbedaan Membuang Fanatisme Sempit

Desember 14, 2007 pukul 6:36 pm | Ditulis dalam Agama, Artikel, Islam, Komunikasi, Pendidikan, Pesantren Pondok Iqra' | 13 Komentar

Sebelumnya mohon maaf, postingan ini miskin dalil karena saya fakir dalil. Postingan ini lebih sebagai bahan perenungan untuk kita yang masih gemar bertengkar, saling memaki, saling mengkafirkan, saling membid’ahkan bahkan unjuk kekerasan dengan orang lain yang kita anggap “berbeda”.

Bahwa perbedaan itu sunnatullah dan manusia hidup dalam keriuhan perbedaan, semua orang telah tahu. Namun, bahwa manusia bisa menghargai dan menerima perbedaan? Nah, yang terakhir ini banyak orang yang tidak mampu atau pura-pura kurang memahaminya.

Padahal, kita sendiri lahir dan besar dalam atmosfir perbedaan. Ayah dan ibu kita jelas saling berbeda: jenis kelamin, watak, emosi, perilaku, hobi, dan lain-lain. Lalu, semua perbedaan keduanya berkumpul di dalam diri kita. Sehingga kalau kita marah ada orang berkata, “kamu mirip ayahmu“. Ketika sedang tertawa terkadang orang berkata, “senyummu itu mengingatkanku pada ibumu“.

Oleh karena itu sungguh aneh, bila ternyata banyak orang yang tidak mampu menghargai perbedaan dan tidak mau menerimanya. Betapa banyak orang yang menderita dan mengalami kepahitan hidup karena hal tersebut.

Fanatisme Sempit

Mengapa orang tidak bisa menerima dan menghargai perbedaan? Salah satu sebabnya adalah sempitnya ilmu dan pengetahuan. Sehingga seseorang melihat lalu menghakimi orang lain berdasarkan keterbatasan ilmu yang dimilikinya. Selain sempitnya ilmu dan wawasan, yang paling berbahaya -dan menjadi sebab utama orang tidak menghargai serta menerima perbedaan- adalah kuatnya sikap fanatisme.

Fanatisme adalah satu keyakinan merasa diri atau pendapatnya paling benar, sehingga ketika melihat orang lain tidak sesuai dengan pendapatnya, ia akan menganggapnya sebagai orang yang salah dan keliru. Sebenarnya menganggap orang lain salah dan keliru bukanlah hal yang terlalu buruk, selama kita tidak menganggap orang yang salah dan keliru itu sebagai musuh. Celakanya, orang fanatik biasanya akan menganggap orang yang salah atau keliru sebagai musuh yang halal darahnya dan tidak lagi dianggap sebagai manusia yang memiliki hak asasi.

Saya masih ingat ketika dalam sebuah kesempatan pengajian harian, guru di pesantren mengajarkan bahwa orang yang tidak wudlu tidak boleh menyentuh Al-Qur’an. Alasannya, firman Allah, “Al-Qur’an tidak disentuh kecuali oleh orang-orang suci“. Ketika kemudian mendiskusikannya bersama teman-teman di kobong (kamar santri di asrama), ternyata seorang teman tidak sependapat. Katanya, orang-orang suci dalam ayat itu artinya umat Islam. Jadi, orang Islam baik memiliki wudlu atau tidak boleh menyentuhnya. Kata teman yang lain lagi, maksud orang-orang suci itu adalah para malaikat, karena hanya malaikat yang suci dari dosa. Semakin lama berdiskusi semakin banyak pendapat yang mengemuka, tentu saja masing-masing yang mengemukakan pendapatnya menyertakan argumentasi berdasarkan ulumul quran, ulumul hadist, ilmu alat dan sebagainya.

Pada suatu kesempatan Rasulullah pernah menyatakan bahwa Islam akan hancur karena umara (penguasa) dan fuqaha (ahli fiqh) yang kurang ilmu dan tidak bijak. Lalu apakah orang berilmu dan berwawasan luas serta merta bisa menerima dan menghargai perbedaan? Belum tentu juga. Mungkin kita pernah bertemu sejumlah kyai atau dosen yang tidak suka bahkan boleh jadi sangat benci jika ada santri atau mahasiswanya berani mempertanyakan, mendebat dan membantah pendapatnya. Padahal semua orang tahu mereka memiliki segudang ilmu.

Ketidaksiapan menerima pendapat yang berbeda dari orang lain biasanya berasal dari fanatisme sempit. Bila diselidiki lebih lanjut, fanatisme itu sendiri muncul dari sifat egosentris yang berlebihan, dalam istilah akhlak dinamakan sebagai sifat ananiyah. Pada akhirnya, sifat ini hanya akan mengarahkan kita pada keangkuhan yang membawa bencana -jangan lupa bahwa Allah mengutuk siapa saja yang berjalan di muka bumi ini dengan penuh keangkuhan-.

Orang yang awam tapi tidak memiliki sifat fanatik, masih mungkin untuk menerima perbedaan. Lain halnya dengan orang fanatik, sekalipun ia berilmu. Bagi siapapun yang berbeda pendapat dengannya, tidak tanggung-tanggung label yang meluncur keluar dari mulutnya : ingkar sunnah, bid’ah, sesat, kafir, musyrik, dan sebagainya.

 

Orang buta dan Gajah

Barangkali pembaca masih ingat kisah 3 orang buta dengan seekor gajah. Konon, salah seorang dari mereka mengajak yang lain untuk mengenali bentuk gajah. Orang buta pertama maju dan memegang kaki gajah. Dia bilang, “gajah itu bulat dan keras seperti batang pohon”. Orang kedua maju dan memegang belalainya. Dia sampaikan, “gajah itu bulat dan panjang seperti ular”. Lalu, orang ketiga maju dan memegang kupingnya. Ia berteriak, “gajah itu tipis seperti kipas!

Tentu saja, bagi orang kebanyakan ketiga pandangan mereka itu ‘keliru’ (sebenarnya lebih tepat bila disebut tidak lengkap). Hanya saja, haruskah mereka disalahkan? Kita hanya harus memaklumi karena sebatas itulah kemampuan mereka untuk melakukan exposure (persentuhan atau perkenalan). Jika saja mereka bisa melihat, tentu pendapat mereka tidak seperti itu. Akan tetapi, bayangkan bila 3 orang buta itu kemudian duduk bersama dan mendiskusikan temuan masing-masing dalam suasana keterbukaan. Saya yakin akhirnya mereka sanggup mendeskripsikan bentuk gajah secara tepat. Justeru dengan adanya perbedaaan persepsi, ilmu dan pengetahuan akan terus berkembang.

 

Mencontoh Pasar dan Pedagang

Ironisnya, perbedaan justeru paling sering dipermasalahkan di bait Allah dan forum-forum agama. Sedemikian kerasnya resistensi terhadap perbedaan, hingga samasekali mengabaikan nilai-nilai akhlaqulkarimah yang sebenarnya merupakan ciri Islam.

Di Pakistan, pernah terjadi seorang jemaah yang telunjuknya dipatahkan hanya karena Ketua Dewan Masjid meyakini bahwa menggerakkan telunjuk diwaktu tasyahud itu bid’ah. Bahkan pernah, orang yang berdoa di hadapan makam nabi di mesjid Nabawi Madinah, babak belur dipukuli oleh ‘Asykar’ setempat. Bila bait Allah yang notabene adalah suaka perlindungan semua umat tidak bisa menjamin keselamatan seseorang yang kebetulan berbeda, lalu kemana lagi kita berpaling mencari jawaban?

Konon, tempat yang paling bisa menerima perbedaan adalah pasar, dan orangnya adalah pedagang. Di pasar, semua orang tumpah ruah. Jenis kelamin, agama, organisasi, bangsa apapun bisa saling bertemu dan akrab. Para pedagang juga tidak pernah memilah antara uang suku ini atau suku itu. Mereka juga tidak pernah bertanya lebih dulu tentang identitas pembelinya. Kita tidak pernah mendengar seorang pedagang berkata, “saya enggak terima uang dari penyanyi dangdut!” (Mungkinkah ini sebabnya Allah membuka pintu rizqi paling banyak di sektor perdagangan?). Dalam sebuah hadist dikabarkan bahwa Rasulullah berkata, “Allah membuka 20 pintu rizqi dan 19 di antaranya dari perdagangan”.

Semua itu terjadi karena semua agent (pelaku) pasar menempatkan tujuan yang lebih besar dalam skala prioritasnya, yaitu memperoleh laba (pedagang) dan memperoleh barang yang dibutuhkan (pembeli). Hal-hal lain di luar itu tidak dianggap sebagai sesuatu yang penting. Tidak pernah saya menemukan pedagang dan pembeli berkelahi karena tidak sepakat dalam menentukan harga. Bila harga memang tidak bisa cocok, berarti tidak ada transaksi dan masing-masing akan berlalu dengan urusannya masing-masing.

Mengapa kita tidak bisa menerapkan cara yang sama di bait Allah? Marilah kita mulai menempatkan kita pada tujuan yang lebih besar dalam skala prioritas kita. Islam diturunkan kepada umat manusia dengan tujuan menebarkan rahmat keselamatan dan kedamaian ke seluruh penjuru bumi. Ini berarti, selain dari itu tidaklah penting artinya. Ketidaksukaan kita kepada praktek-praktek ibadah tertentu tidak perlu memancing perdebatan “berdarah-darah”. Perbedaan latar belakang seseorang tidak sepantasnya menghilangkan akses orang itu terhadap bait Allah. Kenyataan yang terjadi, mesjid-mesjid seringkali diberi label organisasi-organisasi atau mazhab-mazhab tertentu yang menghalangi akses orang luar. Dalam kasus-kasus ekstrim, sepetak kecil lantai bekas shalat orang luar itu sampai perlu dipel!

Orang memang mudah melupakan tujuan yang lebih besar dan sibuk dengan hal-hal remeh. Tujuan mesjid didirikan jelas bukan untuk prestise, tetapi dengan tujuan memakmurkannya. Ia menjadi makmur dengan ibadah yang dilaksanakan di dalamnya. Mengapa perlu memberi label pada mesjid bila kita Lillahi ta’ala memperuntukannya sebagai bait Allah? Bukankah arti kata wakaf adalah terputus? Artinya, hak seseorang untuk mengklaim sesuatu sebagai miliknya menjadi terputus ketika ia mewakafkan asetnya (tanah, bangunan, uang) untuk Allah. Jadi, pantaskah bila menyebut satu mesjid sebagai mesjidnya anu, atau masjid apa?

Mari kita mengingat kembali hadist Rasulullah, “Perbedaan di kalangan ummatku adalah rahmat”. Tidak layak bukan, bila rahmat tidak disyukuri? Alih-alih, kita malah menolaknya sambil berharap macam-macam perbedaan itu hilang.

Akhir kata, sebenarnya kita telah menemukan penyebab umat Islam selalu menjadi umat yang terpuruk kondisinya. Ingat, Allah telah wanti-wanti memperingatkan apa yang terjadi bila kita kufur terhadap nikmat-nya. Wallahu a’lam.

Model Tukang Kritik Ala Sepakbola

Desember 14, 2007 pukul 12:33 pm | Ditulis dalam Agama | 13 Komentar

Anda pernah dikritik? Suka Mengkritik? Saya yakin kedua-duanya pernah. Nah, berikut ini penggambaran mengenai model-model tukang kritik ala sepakbola. 4 model di bawah ini punya kesamaan, yaitu mengkritik.

  1. Penonton dan Supporter: Teriakannya paling keras, bahasanya cenderung bebas tanpa tedeng aling-aling, provokatif, gampang mencaci dan kalau perlu siap adu jotos. Paling pintar kalau soal mengomentari dan mengkritik para pemain/tim. Kalau timnya kalah, yang disalahkan: wasit (tidak adil), pemain (jelek), pelatih (gak jitu strateginya), tim (gak kompak), tim lawan (pake pake dukun kali). Tapi kalau ia sendiri diminta bermain di lapangan, jangankan main bola secara profesional, lari setengah lapangan saja bisa keburu pingsan duluan.

  2. Komentator: Merasa paling banyak tahu, merasa ahli dalam soal prediksi, merasa paling tahu soal taktik, pokoknya merasa paling tahu soal sepakbola. Kalau mengkritik tajam sekali. Kalau memprediksi hasil pertandingan yakin sekali, kalau ditanya soal sepakbola fasih sekali. Kalau diminta main bola? Sama seperti nomor satu, gak bisa. Kalaupun bisa, ya pas-pasan lah. Itu juga kalau komentatornya mantan pemain bola. Kalau prediksinya meleset, biasanya berujar, “bola itu bundar…”.

  3. Pemain Cadangan: Biasanya hanya duduk, sekali-sekali ikut teriak, ngedumel, ngomentarin temannya sendiri di lapangan. Kalau diminta main? Siap! Sekalipun belum tentu mainnya lebih bagus dari teman-temannya.

  4. Pelatih: Ahli strategi, bisa membangun tim, hafal sekali soal sepakbola, punya kekuasaan untuk mengambil keputusan. Kalau diminta main? Ok, siap! Asal jangan 2×45 menit saja!

Silahkan tafsirkan sendiri arti dari 4 model tukang kritik ala sepakbola di atas. Kemudian tanyakan kepada diri sendiri, kira-kira kita masuk kategori yang mana ya?

 

 

Resep Nasi Goreng Barokah, Insya Allah Mak Nyuus!

Desember 13, 2007 pukul 11:07 am | Ditulis dalam Agama, Artikel, Humor, Islam, Komunikasi, Pendidikan | 41 Komentar

Biar barokah, saya awali postingan ini dengan membaca basmallah. Mengamalkan nasihatnya Kyai Kurt, saya coba belajar nulis yang gak berat-berat, tapi mudah-mudahan tetap bermanfaat.

Dasar Pemikiran

Kali ini saya mencoba menyajikan tulisan ringan tentang resep nasi goreng yang barokah dan lezat. Lha kok nasi goreng? Bukan soto Bandung? Pertama, karena nasi goreng saya anggap paling digemari banyak orang, praktis, lebih dari cukup buat mengganjal perut, murah meriah, cukup lezat (bergantung siapa yang masaknya juga) dan insya Allah tetep barokah, asal sebelum masaknya baca basmallah, selesai masak baca hamdallah, ketika mau makan nasi gorengnya jangan lupa basmallah lagi dan kalau bisa ditambah doa sebelum makan, selesai makan hamdallah lagi, terus tutup pake doa selesai makan. Hafal kan doanya? Kedua, karena kalau soto Bandung saya tidak tahu resep dan cara masaknya!

Analisa & Kritik Terhadap Nasi Goreng Pada Umumnya

Sebelum menjelaskan mengenai resep dan cara memasak nasi goreng yang barokah dan lezat, terlebih dahulu saya paparkan hasil kajian ilmiah saya mengenai nasi goreng yang banyak beredar di masyarakat pada umumnya.

Setelah mengamati beragam nasi goreng melalui observasi langsung, saya menemukan pada kenyataannya banyak hal yang sebenarnya jauh dari nilai-nilai ilmiah, tidak baku bahkan ada yang keluar dari mainstream nasi goreng sesungguhnya.

Yang tidak ilmiah misalnya, adanya anggapan bahwa nasi goreng “sebaiknya” dibuat dari nasi sisa, yang sudah dingin dan berkesan “daripada dibuang…”. Mazhab ini biasanya dianut oleh para ibu rumah tangga. Kemudian terdapat pula kekeliruan dalam memahami kata Nasi Goreng itu sendiri. Orang sunda suka dikenal agak malu-malu menyantap makanan yang satu ini, karena dinilai sebagai nasi kelas dua. Karena kata “Goreng” dalam bahasa sunda berarti “jelek”, seperti kalimat “dasar goreng patut” yang artinya “dasar muka jelek”. Sekiranya harus menyantap nasi goreng, orang sunda biasanya karena merasa terpaksa. Bahkan ketika nambah satu piring lagipun masih disertai rasa terpaksa.

Sedang di kalangan pedagang nasi goreng, berkembang sebuah keyakinan “sesat” bahwa beras untuk bahan nasi goreng jangan memakai beras super cianjur, pandan wangi, dan setra wangi. Cukup beras Dolog atau IR 36 untuk kualitas paling bagus. Kalau bisa beras Vietnam selundupan. Bahkan yang lebih afdlol adalah beras raskin. Kalangan pedagang nasi goreng memegang kuat mitos bahwa jika membuat nasi goreng dengan nasi dari beras Cianjur, Pandan Wangi dan Setra Wangi bisa berakibat tidak baik. Misalnya, kurang “bati” atau berkurang laba.

Kesimpulan
Dari hasil pengamatan tersebut saya dapat mengambil 2 kesimpulan besar yaitu:

  1. Adanya kecenderungan untuk memodifikasi nasi goreng secara berlebihan (isrof) dari para pelaku (baca: tukang buat nasi goreng) yang mengakibatkan orang menjadi bingung untuk menentukan pilihan terhadap ragam nasi goreng yang tersedia. Perilaku seperti ini sesungguhnya telah keluar dari hakikat awal nasi goreng, sehingga saya menilainya bahwa modifikasi apalagi secara berlebihan dapat dikategorikan sebagai nasi goreng bid’ah (sesuatu yang baru) bahkan dapat dihukumi kafir (ingkar) dari hukum nasi goreng yang telah dirumuskan dan biasa dipraktekkan oleh pembuat nasi goreng terdahulu (salaf)

  2. Maraknya gerakan pemikiran dan aliran baru dalam nasi goreng ini mendorong terjadinya perpecahan di antara pelaku usaha nasi goreng maupun nasi goreng rumahan. Hal ini tidak lain karena masing-masing kerap mengklaim bahwa nasi gorengnyalah yang paling lezat dan sesuai dengan kaidah nasi goreng yang sesungguhnya. Hal ini dibuktikan fenomena munculnya kebiasaan saling menjelekkan, fitnah, menggibah, mendakwa sesat dan bid’ah antar sesama pembuat nasi goreng, khususnya di kalangan tukang nasi goreng. Dalam sebuah kesempatan interview dengan seorang pedagang, objek riset saya tersebut mengatakan agar saya tidak membeli nasi goreng dari si A, yang jaraknya kurang lebih hanya 20 meter dari tempatnya berdagang. Ketika saya tanya alasannya, ia menjawab dengan bahasa sunda, “ulah geuleuh pak, si eta mah sok make calana mun ngabumbuan sangu goreng”.

Demikian barangkali sekilas mengenai apa yang melatarbelakangi saya membuat tulisan mengenai resep nasi goreng yang sesungguhnya, lezat lagi barokah.

bersambung (posting selanjutnya mengenai resep dan cara membuat nasi goreng)

 

 

Rencana Tayangan “My Hope Indonesia” (Misi Gerejakah?)

Desember 11, 2007 pukul 1:48 pm | Ditulis dalam Agama, Artikel, Humor, Islam, Komunikasi, Pendidikan, Pesantren Pondok Iqra' | 66 Komentar

Sebenarnya saya tidak mau mem-posting hal ini, karena khawatir berujung menjadi fitnah dan memperkeruh kerukunan antar ummat beragama. Akan tetapi, 2 hari terakhir ini saya banyak mendapat sms juga telepon dari para jamaah Majelis Aula Hikmah yang mengiformasikan perihal adanya rencana tayangan di televisi secara serentak bertajuk “My Hope Indonesia” yang telah dirubah judulnya menjadi “Sebuah Penantian”. Menurut informasi yang saya terima, tayangan ini adalah sebuah selubung program kristenisasi sebagai salahsatu misi gereja.

Secara pribadi sebenarnya saya sudah mendengar mengenai hal ini sejak 2 minggu yang lalu, bukan melalui sms atau telepon dari sesama muslim melainkan langsung dari para pendeta dan aktivis gereja. Lho kok bisa?

Begini ceritanya. Sekitar dua minggu yang lalu, kalau tidak salah hari senin siang, saya ditelepon salahseorang petinggi gereja kristen diminta untuk datang ke Cihampelas Walk, tepatnya di StarBuck Cafe. Tadinya saya mengira akan diundang untuk berdiskusi mengenai theologi seperti biasanya. Ternyata bukan.

Ketika saya sampai di tempat di mana kami akan bertemu, ternyata yang berkumpul bukan hanya satu dua orang. Ada cukup banyak yang telah berkumpul dan semuanya adalah aktivis gereja, pendeta dan seorang petinggi gereja.  Hanya saya seorang yang muslim.

Pembicaraan pun dimulai langsung kepada intinya. Mereka menyampaikan sebuah informasi kepada saya mengenai rencana tayangan My Hope Indonesia di RCTI (tidak serentak di beberapa stasiun televisi sebagaimana kabar yang beredar melalui sms) pada tanggal 15 Desember 2007 mendatang. Acara ini konon disponsori oleh sinode-sinode gereja di Indonesia. Acaranya pun akan tampil penuh selama 1 jam tanpa iklan, karena pihak sponsor telah membloking penuh jam siar.

Mereka tidak memungkiri bahwa tayangan ini merupakan salahsatu misi gereja. Pendeta yang hadir juga menyatakan bahwa ini merupakan misi kristenisasi yang disponsori oleh William Graham Ministry, kristen fundamentalis yang tidak lain merupakan penasihat spiritual presiden Amerika George W Bush Jr. Ia memang dikenal sebagai pendeta beraliran keras yang memiliki cita-cita mengkristenkan dunia. Sekali lagi, informasi ini saya terima bukan dari seorang muslim, tapi dari seorang pendeta.

Lalu apa hubungannya dengan mengundang saya untuk membicarakan masalah ini?

Saya diundang oleh mereka untuk dimintai pandangan mengenai hal ini, mengingat mereka yang hadir secara sepakat tidak menyetujui rencana tayangan My Hope Indonesia yang dinilai sebagai bentuk-bentuk fundamentalisme Kristen yang basi, sesuatu yang mereka anggap sudah tidak sepatutnya dilakukan karena akan memperkeruh keadaan di komunitas bangsa Indonesia yang heterogen.

Pada kesempatan itu pula mereka meminta saya untuk mencari link ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) agar dapat menyampaikan keberatan terhadap rencana tersebut. Mereka bermaksud mendesak KPI untuk melakukan re-chek ke RCTI sekaligus membatalkan tayangan yang dikhawatirkan dapat berekses negatif terhadap kerukunan antar ummat beragama di Indonesia.

Pada kesempatan itu pula saya menyampaikan kepada teman-teman aktifis gereja dan pendeta untuk dapat sesegera mungkin melakukan langkah-langkah yang efektif dan memungkinkan. Salahseorang sekretaris Klasis (semacam DPW yng menaungi gereja-gereja) menyanggupi untuk membuat pernyataan keberatan sekalipun resikonya yang bersangkutan harus dicopot dari jabatannya. Langkah lain yang akan ditempuh adalah mengirimkan surat pernyataan keberatan kepada KPI dan induk-induk gereja.

Saya bersyukur, ternyata masih banyak yang peduli terhadap kerukunan beragama. Kawan-kawan saya yang jelas-jelas nasrani tulen, masih dapat berfikir luwes dan berpandangan ke depan. Mereka bereaksi karena menganggap upaya-upaya kristenisasi terselubung semacam ini tidak akan menguntungkan siapapun, bahkan ummat kristen sekalipun. Mereka bilang, “memangnya kalau ummat kristen bertambah, kita beruntung? Tidak kok”. Mereka jauh lebih peduli terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara ketimbang berdagang agama.

Masih banyak sebenarnya yang ingin saya sampaikan dari hasil pertemuan itu. Namun mengingat keterbatasan ruang, saya tidak dapat mengungkapnya lebih jauh.

Lalu bagaimana dengan sikap kita? Anda lebih tahu jawabannya. Saya hanya berpesan jangan sampai hal ini disikapi dengan kepala panas apalagi berujung pada kekerasan. Sebagai muslim yang cerdas, seyogyanya kita bertindak secara cerdas pula, bukan dengan otot.

Hal semacam ini jangan membuat kita repot… Begitu kira-kira

 

« Laman SebelumnyaLaman Berikutnya »

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.